PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 98. AKU OBATI LUKAMU


__ADS_3

“Aku memintamu menjauhi mereka, jangan memberiku alasan apapun!” ucap Dante sambil tangannya memegang kancing baju Bella dan membukanya satu persatu.


“Apa mau membuka pakaianku lagi? Ingin memukuliku lagi? Masih belum puas?”


“Kau akan tahu sendiri nanti.” jawab Dante.


“Tapi tuan, ini dikamar anakmu. Kau membuka pakaianku didepan anakmu yang sedang tidur.”


“Aku bisa melakukan apapun, bahkan membuka semua pakaianmu didepan para pelayan!” jelas Dante.


“Aku benar-benar ya tidak mengerti denganmu, tuan.”


“Kau mau makan?” Dante malah tidak yambung.


“Tidak mau!”


“Kau masih marah padaku karena tadi pagi?” bujuk Dante.


“Apa perlu aku menjawabnya?”


Dante malah menatap Bella tanpa menjawab pertanyaannya.


“Iya aku sangat kesal padamu! Kau janji akan membuatkan sarapan untukku tapi kau sudah memasaknya tapi tidak memberikannya padaku eh malah kau memakannya sendiri.” kata Bella menatap Dante yang hanya diam tak bergeming. “Hei kenapa kau diam saja? Aku sudah menjelaskannya. Tidak ada tanggapan apa gitu?”


Bella menunggu beberapa saat tapi lagi-lagi Dante hanya bungkam menatapnya tanpa mengatakan sepatah katapun.


“Kau ini memang tidak jelas Tuan Dante! Tadi pagi kau mengambil Alex dariku saat dia sedang main sepeda denganku, pasti kau marah iyakan karena seharusnya dia mandi bukannya main sepeda. Aku berusaha mengambilnya darimu tapi kau masih marah padaku. Kau malah membawa Alex pergi denganmu dan mengacuhkanku meskipun aku memanggilmu berkali-kali kau tidak menjawabku. Aku bahkan menunggumu kembali hingga siang hari dikamar sendirian seperti orang bodoh!”


“Jadi itu alasanmu keluar kamar?” akhirnya Dante bersuara.


“Bukan gitu juga Tuan.” Bella menggelengkan kepalanya. “Karena tidak ada kabar dari Alex sampai waktu makan siang lalu seseorang mengetuk pintu kamarku dan dia mengajakku ke belakang bertemu dengan pelayan lainnya.”


“Lantas aku menerimanya begitu saja?” tanya Dante lagi.


“Iya Tuan. Setidaknya aku tidak stress sendirian dikamar, aku bisa bermain dengan mereka. Setelah sampai dikamar kau malah memukuliku dan sekarang kau bisa lihat sendiri bekas pukulanmu dan bekas tanganmu masih biru lebam ditubuhku. Belum lagi istrimu tiba-tiba datang memakiku didepan semua irang.” Bella berkata dengan napas menderu menunjukkan emosinya.


“Terus, apa lagi?”


Bella diam sejenak melihat tubuh bagian atasnya yang sudah polos lalu dia menatap Dante. “Setelah istrimu memukuliku didepan para pelayan, dia mengusirku dan dia mengatakan pada semua orang tidak boleh ada yang bicara denganku sampai tiga hari ke depan.”

__ADS_1


“Lalu?”


“Aku masuk ke kamarku, tak begitu lama aku mendengar Alex menangis saat aku membuka pintunya. Itu alasannya kenapa aku ada dikamar Alex.”


Keduanya sama-sama diam dan saling menatap mata masing-masing, keduanya seolah saling menyelami dan mencoba mencari sinar cahaya dimata masing-masing.


“Kenapa kau masih tidak mau bicara denganku? Aku sudah menjelaskan panjang lebar semuanya padamu, aku berkata jujur aku tidak berani berbohong padamu karena kebebasanku tergantung padamu! Kalau kau tidak menyukaiku dan istrimu juga tidak menyukaiku kenapa kalian tidak mengusirku pergi dari sini? Asingkan saja aku disuatu tempat selama satu tahun kedepan dan setelahitu kau bisa membebaskanku pergi.” kata Bella sambil berdoa menghadap Dante.


Dia memejamkan kedua matanya. “Kau masih tidak mau bicara padaku! Perbuatanmu jauh lebih buruk daripada dia.” Bella tertawa kecil dan masih tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Dante, Dia hanya diam mendengarkan Bella bicara.


“Dengar ya Tuan Dante….dia---pria yang menutup mataku, ayah anakku…..dia sangat kejam tapi dia tidak pernah menyakiti tubuhku! Dia membuatku tidak melihatnya, dia tak mau aku tahu wajahnya tapi apa yang kau lakukan padaku membuatku terus memikirkanmu! Kau menyakiti tubuhku Tuan! Kau menyakiti perasaanku Tuan! Kau menyakiti pikiranku Tuan!” ucap Bella hingga akhirnya dia benar-benar diam tak lagi bicara.


‘Yang penting aku sudah mengatakan semuanya, meluapkan isi hatiku padanya. Apa yang dipikirkannya tentang aku sekarang? Kenapa sih dia diam saja?’ bisik hati Bella agak kikuk karena Dante tidak bicara dengannya meskipun Bella sudah seelsai bicara, suasana diantara mereka pun semakin canggung.


“Tuan, apa kau akan diam saja melihatku begini? Apa aku salah bicara lagi dan kau ingin menghukumku?”


“Bangunlah!” ucap Dante.


“Ah syukurlah akhirnya kau bicara juga. Aku pikir kau sudah tidak bisa bicara lagi sekarang.” Bella pun berdiri mengikuti perintah Dante.


“Apa kau masih sering kedingingan?”


“Aku tidak suka kau berdekatan dengan laki-laki lain dirumahku!”


“Iya Tuan. Maaf kalau aku salah lagi.”


“Selama kau ada bersamaku, selama kau didekatku, selama kau dirumahku, tidak boleh bicara dengan siapapun. Kau tidak boleh dekat dengan laki-laki manapun!”


“Jadi maksudnya aku juga tidak boleh berteman dengan pelayan?”


“Hemmm….” jawab Dante menganggukkan kepalanya.


“Kau tidak sama seperti mereka, kau bukan pelayan.”


“Loh tapi katanya dulu aku ini pelayan? Aku jadi bingung, ini maksudnya bagaimana?” Bella masih ingat ucapan Dante, kini dia balik bertanya pada pria itu.


“Sudahlah jangan banyak tanya. Pokoknya kau tidak sama seperti mereka! Kau berbeda, kalau kau berdekatan dengan para pelayan nanti malah tambah masalah baru! Kalau kau menggoda mereka akan membuat keributan dirumahku.”


“Ohhh jadi itu maksudnya? Karena dulu aku adalah wanita penggoda, jadi sedikit banyaknya sikapku menggoda mereka gitu? Kau khawatir kalau mereka menyukaiku kalau aku dekat dengan Anthony dan Ricci dan ujung-ujungnya mereka berkelahi karena aku. Itu bisa membuat suasana kerja tidak nyaman, begitukah?”

__ADS_1


“Ya begitulah! Kau tidak boleh dekat dengan mereka.” ujar Dante lagi.


“Yaelah! Harusnya kau bilang dari dulu jadinya aku jelas! Baiklah kalau begitu aku tidak akan dekat-dekat mereka lagi.”


‘Bodoh! Kenapa kau bodoh sekali Bella? Aku hanya menipumu, apa gunanya coba aku menjauhkanmu dari para pria kalau bukan karena aku tidak suka. Kau milikku jadi kau tidak boleh dekat dengan pria manapun apalagi pelayan laki-laki dirumahku. Huh! Tapi baguslah daripada aku jujur bilang kalau aku cemburu?’ bisik hati Dante.


“Sekarang aku sudah paham, jadi sebaiknya aku tidak perlu keluar dari kamarku?”


“Kalau Alex tidak memintamu keluar kau tidak perlu keluar, bermain saja bersama Alex dikamarnya.”


“Baik, Tuan!”


“Buka pakaian bagian bawahmu!”


Bella pun menuruti perintah Dante. “Sudah.”


“Sekarang berbaliklah.”


“Iya, Tuan.” Bella pun memutar badannya membelakangi Dante.


“Ikut aku, biar aku mengobati lukamu!”


“Aneh! Kau yang menyakitiku sekarang malah kau yang mengobatiku. Maksudmu apa?”


“Jangan cerewet! Kau bawel sekali seperti Alex!”


“Habis kau menyakitiku terus, jujur ya Tuan tadi itu aku takut sekali bicara denganmu!” Bella bicara sambil berjalan mengikuti Dante ke kamar sebelah, lalu Dante mengambil obat di laci.


“Sini aku obati lukamu.” ujar Dante menepuk pangkuannya dengan telapak tangan.


“Kau mau aku duduk disitu?” tanya Bella heran dengan sikap pria itu.


“Tengkurap! Letakkan kepalamu di pangkuanku supaya aku bisa mengobati punggungmu.” jawab Dante.


“Bagaimana lukaku disana masih memar?” tanya Bella.


“Tadi aku tidak mengeluarkan semua tenagaku memukulmu. Aku hanya pakai sedikit.”


“Meskipun sedikit tapi sakit sekali Tuan Dante!” Bella mendongak menatap Dante.

__ADS_1


__ADS_2