
“Kenapa tidak mau makan masakan koki? Kau juga tidak mau makan masakan mommy.”
Alex hanya menggelengkan kepala tapi tak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya menatap Dante dengan tatapan matanya yang mengemaskan.
“Baiklah, Alex sayang. Ayo kita ke dapur, bagaimana kalau kita masak bersama. Apa kau mau?” dengan senang hati Alex menggangguk dan setuju dengan saran ayahnya.
“Tapi ada syaratnya!”
“Apa daddy?”
“Lain kali kalau daddy sedang bekerja atau tidak dirumah dan tidak bisa membuatkan makanan untukmu, kau harus makan masakan koki, maukan?” bujuk Dante pada putranya. Tampak bocah itu berpikir sejenak sebelum menjawab ayahnya.
“Hmmmm…..” akhirnya setelah beberapa detik Alex pun mengganggukkan kepalanya.
“Bagus! Itu baru putra daddy! Kau mau makan apa, sayang?” Dante selalu bersikap lembut pada putranya, dia selalu menanyakan terlebih dahulu apa yang diinginkan oleh putranya. Dante berjalan menuruni tangga menuju ke dapur dengan Alex di pelukannya.
“Aku mau smash avocado, smash potato, egg mayo dan grilled sausage.” ucap Alex yang ingin makan western food.
“Hem….kau ingin makan itu?”
“Iya daddy!” jawab Alex mengganggukkan kepalanya.
“Apa pelayan tidak membuatkan itu padamu tadi?” tanya Dante lagi saat mereka sudah berada didapur.
“Ada buat tapi tidak enak kalau bukan daddy yang masak.” kata Alex menyandarkan kepalanya dibahu Dante.
“Kau terlalu manja Alex! Anak laki-laki tidak boleh manja!”
“Jadi…..daddy mau aku harus bagaimana?”
“Saat usiamu lima tahun daddy ingin kau sudah bisa belajar mandiri. Merapikan barang-barangmu, mainanmu dan mandi sendiri. Belajarlah untuk tidak bergantung pada orang lain.”
“Bikin makan juga?” tanya Alex penasaran.
“Hemm…...kau harus membuat makananmu sendiri kalau kau menyukainya.” jawab Dante.
__ADS_1
“Bagaimana membuatnya? Aku kan tidak tahu memasak?” tanya Alex kemudian mencecar ayahnya dengan pertanyaan yang ada dalam pikirannya. “Apa daddy akan mengajariku atau mencarikan guru masak?”
“Itu mudah!” Dante mengelus rambut putranya. “Aku akan mengajarimu nanti saat kau sudah besar.” Dane bicara sambil mendudukkan Alex di kursi dan para koki di mansionnya langsung tahu kalau Dante masuk kedapur bersama Alex.
Pelayan selalu menyediakan kursi untuk Alex didapur karena bocah laki-laki itu sangat suka melihat ayahnya memasak untuknya.
“Perhatikan bagaimana aku membuatnya. Kalau kau sering membuatnya maka kau akan tahu cara membuatnya nanti setelah kau besar.”
“Aku membuatnya sendiri?”
Dante yang sedang menyiapkan smah avocado mengganggukkan kepala dan melirik putranya. “Saat kau sudah besar nanti, kau yang akan membuatkan untukku. Bagaimana?”
Alex sangat antusias memikirkan dia akan memasak untuk ayahnya saat dia sudah besar nanti. “Kapan aku besar, daddy?”
“Hem….mungkin sekitar dua belas sampai lima belas tahun lagi.” jawab Dante berpikir lalu tersenyum.
“Wah…..sepertinya itu masih lama.”
Dante menggangguk. “Masih lama dan masih banyak waktu bagimu untuk belajar membuat ini.”Dante bicara sambil mengambil kentang, telur rebus lalu mencampurnya dan menambahkan mayo sebagai campurannya.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Dante pada putranya yang tersenyum melihat kearah piring makanannya yang sudah siap.
“Berjanjilah kau akan menghabiskannya.” kata Dante pada putranya.
“Janji daddy!” Alex mengganggukkan kepala sangat antusias. Dia sudah tak sabar lagi menunggu menyantap makanannya. Bagia bocah itu, masakan ayahnya adalah yang terbaik.
“Ayo kita makan sekarang.” ajak Dante yang melebarkan tangannya untuk menggendong putranya dengan satu tangan dan memegang piring dengan tangan satunya.
Mereka berdua menuju ke meja makan diluar rumah. Dante memandangi wajah putranya yang menggemaskan. ‘Syukurlah ada kau yang selalu menemaniku disini. Kau yang selalu jadi penenang dan penyemangatku.’
Dante merasa nyaman ketika kedua tangan mungil Alex melingkar dilehernya. Senyum bocah itu sumringah dengan mata yang fokus pada makanan yang ada ditangan ayahnya.
“Daddy tidak makan?” tanya Alex yang merasa aneh melihat piring hanya ada satu.
“Aku sudah makan makanan yang sama tadi pagi!” kata Dante jujur lalu mendudukkan Alex dikursi.
__ADS_1
“Daddy, apa kita akan berlayar?” tanya Alex lagi ketika dia melihat kearah pemandangan dimana bocah itu bisa melihat kearah laut lepas dan ada beberapa kapal yang lalu lalang.
“Apa kau ingin berlayar, sayang?” tanya Dante sambl menyuapi putranya. Dia benar-benar sangat memanjakan Alex.
“Iya daddy. Aku mau naik kapal!” jawab Alex singkat dengan mata berbinar menatap kearah laut.
“Boleh tapi aku mau mendengarmu main piano dulu baru kita berlayar. Apa kau mau bermain piano denganku nanti?”
Alex memberikan senyum termanisnya pada sang ayah lalu menggangguk. “Aku belajar lagu baru!” ucap Alex ingin menceritakan apa yang sudah dipelajarinya hari ini. Tapi karena kosa katanya masih terbatas dia tidak tahu bagaimana mengucapkannya dengan rangkaian kalimat.
“Benarkah? Kau harus memainkannya nanti untukku.” Dante sangat antusias dan Alex mengganggukkan kepala dengan antusias sambil membuka mulut menerima suapan dari ayahnya. Bocah itu selalu ingin membuat ayahnya merasa bangga padanya.
“Aku senang melihatmu seperti ini. Kau harus makan yang banyak.”
“Apa kita akan makan steak nanti malam?” tanya Alex lagi.
“Kau ingin makan steak seperti tadi malam?”
Alex menjawab dengan anggukan. “Daddy, tadi malam daddy buat empat steak tapi kita hanya makan tiga saja! Satu lagi mana?” tanya Alex sambil melihat tangannya sendiri seolah dia menghitung berapa jumlah anggota keluarganya.
“Aku mengirimkan satu steak untuk temanku.” jawab Dante singkat.
“Teman?”
“Hmmm!” Dante tersenyum tapi kemudian menahan senyumnya lalu menatap putranya. “Tidak bisa juga dibilang teman, tapi dia adalah sebagian dari diriku. Bisa dibilang kalau dia adalah soulmate.”
Alex tidak mengerti maksud dari kalimat ayahnya, dia pun tidak terlalu memperdulikan terlalu jauh dan hanya fokus pada suapan yang diberikan ayahnya.
Sementara Dante tidak fokus, pikirannya kembali pada Bella. ‘Kau adalah separuh diriku yang sudah memuji laki-laki lain! Tuan Jeff, bahkan dia menyebut nama itu dengan kalimat mesra dan suara lembut!
Ada apa denganku, kenapa otakku selalu saja memutar kalimat itu dan mengingat itu berulang kali?’ ucap Dante kesal ketika ingatannya kembali lagi bagaimana cara Bella mengucapkan kata-kata itu. Tanpa sadar dia menggenggam garpu dan pisau dengan erat seakan ingin mematahkannya.
“Sayang, apa ada masalah denganmu?” suara yang muncul dihadapannya membuat Dante kaget dan membuyarkan semua bayangan itu.
“Kenapa kau bertanya seperti itu,sayang? Sudah berapa lama kau ada disini?” tanya Dante pada istrinya yang terlihat segar dan rapi dengan senyum manis dibibirnya.
__ADS_1
“Lihatlah kau menggenggam garpu dan pisau itu seolah keduanya adalah musuhmu! Apa ada yang mengganggu pikiranmu sampai kau bahkan tidak menyadari kehadiranku disini.” jawab Tatiana menghampiri Dante lalu mengecup kening suaminya lalu duduk diantara kedua pria favoritnya itu.
“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Tatiana sambil mengambil garpu dan pisau dari tangan Dante.