
Reuni Hati
Waktu itu penyembuh luka. Juga kelapangan rasa. Kedua hal itu, tak ada yang menjualnya.
Tangan ibu terkilir. Gara-gara jatuh tak sengaja menginjak kulit pisang. Pergelangan tangan bermasalah ketika mencoba menyangga beban tubuh.
"Nduk ... ibumu jatuh."
Bapak berteriak memanggil Lodi sambil mengangkat ibu.
"Ibu baik-baik saja," kata ibu.
"Baik-baik gimana, tangan ibu bengkak begini," kilah Lodi.
Bapak dan Lodi membawa ibu ke dokter. Hasil rontgen fix ada yang patah. Untungnya masih bisa pasang gips, tak harus operasi. Berita itu sampai ke telinga Nada.
"Kita menengok ibu, Mas. Ibu jatuh tangannya retak."
"Oke. Sekalian menengok Lodi," sahut Sumbang spontan.
Jawaban itu membuat Nada yang sedang mengaduk minum menghentikan gerakannya.
"Mas masih merindukan Mbak Lodi?"
Sumbang diam, mengeluh dalam hati. Dia menyesali ucapan sendiri.
"Dia juga sedang hamil, Nad."
"Mas sudah tahu? Kenapa nggak ngomong?"
"Beberapa waktu yang lalu aku melihat dia belanja baju bayi. Waktu kalian bertemu di tempat dr. Rahma, kau juga sudah tahu, kan?"
Nada menghela napas panjang, tetap menunduk.
"Jangan khawatir, istriku sekarang adalah kau," ujar Sumbang sambil menepuk bahu Nada.
Sumbang dan Nada akhirnya datang ke rumah. Kunjungan pertama setelah mereka menikah.
"Buatkan minum untuk suamimu, Nad." Ibu memberi perintah.
Masak ya Lodi yang bikin minuman. Nggak banget. Nada menuju dapur. Lodi sedang memotong sayur.
"Mbak Lodi sehat?"
"Alhamdulillah baik. Kamu?"
"Alhamdulillah."
Tangan Nada bergerak mengambil cangkir, gula dan teh celup.
"Mau bikin teh untuk suamimu?"
"Eh ... Iya."
"Dia tak suka teh celup. Maunya teh tubruk. Gulanya sedikit saja. Kalau ada gula batu, itu lebih baik."
Nada diam. Namun tangannya mencengkeram tutup gula.
"Dia tipe orang, yang sangat suka bila kita memahami selera lidahnya."
Muka Nada memerah.
"Kalau kamu kesulitan membangunkan dia di waktu subuh, bikinkan teh tubruk. Bau aromanya bikin bangun."
Nada mengaduk minuman dengan kasar. Tanpa membereskan wadah gula dia bergegas ke ruang tamu.
Lodi menghela napas sembari mengangkat bahu. "Apa yang terjadi padaku? Ah, sudahlah. Siapa pula suruh pakai barang second? Pemilik pertama pasti lebih paham."
Lodi tidak menemui Sumbang. Dia asyik berdiam di dapur. Mata Sumbang mencoba mencari sosok Lodi. Nihil.
"Aku ke belakang dulu," izin Sumbang.
Saat menuju kamar mandi ia menjumpai Lodi. Mantan istrinya itu sedang asyik memakan mangga. Tak sadar, Sumbang tersenyum melihat pemandangan itu.
"Kau dan anak kita sehat?" tanya Sumbang.
Pertanyaan itu membuat Lodi menghentikan kegiatan mengunyah mangga. Tanpa mempedulikan pertanyaan Sumbang, Lodi berdiri berniat masuk kamar.
"Terima kasih karena masih ingat cara membuat teh kesukaanku," kata Sumbang riang.
__ADS_1
Lodi berhenti sejenak, menatap mata Sumbang sepersekian detik, lalu kembali berjalan.
***
"Lod, reuni datang ya?" ajak Santi.
"Entahlah."
"Kok entah? Siapa tau ada temen yang duda juga. Bisa dong."
"Ih, Santi. Masa idahku kan belum lewat. Harus nunggu lahiran. Juga nifas."
Santi hanya cengar cengir usil. Semasa SMA Lodi tidak pacaran. Tidak ada teman lelaki khusus. Senang saja menggoda.
Lodi tetap datang saat reuni. Meski sebentar. Niatannya bisnis. Reuni SMA itu, niat tergantung reuni tahun keberapa.
Reuni setelah 5 tahun, cari jodoh. Reuni setelah 10 tahun, cari teman bisnis. Reuni setelah 30 tahun, cari menantu.
Doa Lodi memperluas bisnis pun tercapai.
"Hendar pesan kemeja. Nggak tanggung-tanggung. Empat ratus kodi."
Hendar seorang pengusaha. Ia tinggal di Kalimantan.
"Empat ratus kodi itu, harus tersedia dalam seminggu. Kelamaan, aku keduluan orang lain sedia stok."
Permintaannya membuat Lodi sibuk. Mendatangi beberapa pengrajin. Usaha untuk mendapatkan yang terbaik.
"Dia sudah transfer uang muka 5%."
Lodi mengirim barang sesuai uang yang sudah ditransfer.
[Ndar, kutunggu transferan berikutnya. Barang sudah siap kirim]
Hanya dua centang biru. Tak ada balasan. Sehari berlalu. Lodi masih menunggu. Hari kedua, Lodi menelpon.
[Nomer yang ada tuju tidak dapat dihubungi. Tunggulah beberapa saat lagi]
Lodi mengirim sms. Juga chat via WA. Hanya centang satu. Bahkan di WAG, nomor itu keluar. Lodi mulai panik.
"Apa maksudnya? Kemeja sebanyak 380 kodi menumpuk di tokoku."
"Mana uangnya?" tagih pengrajin.
"Dikembalikan? Enak saja! Bayar dong! Aku membuat barang itu khusus memenuhi pesananmu. Nggak bisa batal begitu saja!"
Para pengrajin mulai menagih.
[Ada yang tahu nomor baru Hendar?] Lodi bertanya di grup. No respon.
Tangan kanan Lodi memijit kepala. Tangan kiri mengelus janin di perut.
"Nak, kamu baik-baik saja di dalam. Cukup ibu yang mikir dan pusing."
"Lodi, berapa hutangmu? Biar kubantu." Sumbang menawarkan bantuan. Entah dari mana lelaki itu tahu. Lodi sudah berusaha menutupi. Bahkan tidak cerita ke bapak dan ibu.
"Aku bisa mengatasinya."
"Jangan sampai kehamilanmu bermasalah karenanya. Dia anakku juga."
Lodi memandang tajam mata suaminya.
"Mas, eh, maksudku Sumbang, tidak perlu khawatir. Aku lebih kuat daripada apa yang kaupikirkan."
***
Ada harap di ujung cita. Ada rindu di ujung cinta. Ada apa di ujung luka?
Mobil Lodi dijual. Laku 50 juta.
"Sebenarnya bisa laku 75."
"Iya sih, Bu. Tapi aku butuh uang cepat. Para pengrajin mengejarku."
"Ya sudah. Uang bisa dicari. Gampang dapatnya kalau memang rezeki. Tapi kepercayaan, beda."
Lodi tersenyum lalu memeluk ibunya. Pelukan ibunya hangat dan menenangkan. Ibu yang sudah membesarkan Lodi dan Nada. Meski tidak melahirkan mereka berdua.
Siang itu Lodi pulang dari keliling mengirim pesanan. Lumayan, terjual 2 kodi. Hutang belum sepenuhnya lunas. Dia harus bekerja keras.
__ADS_1
Blup blep
Pluk bek
Mesin motornya tiba-tiba mengeluarkan suara aneh. Kecepatan melambat padahal gas sudah pol.
"Ya Alloh, kenapa motorku? Bensin penuh."
Lodi menyetarter motornya. Sia-sia. No respon. Siang sangat terik di Pekalongan. Dan ini jalan desa. Kanan kiri sawah kering paska panen. Sekedar berteduh menepi tidak ada tempat yang tertutup bayangan. Kanan kiri hanya terik yang terpampang.
"Nak, kita tuntun motor ini pelan-pelan. Kuat ya," kata Lodi sambil mengelus jabang bayi di perut.
Lima menit, berhenti. Sekedar ambil napas dan mengelus tenggorokan.
"Kalaupun belum berjumpa bengkel, setidaknya warung yang jual air minum."
Lodi melanjutkan perjalanan.
"Motornya kenapa, Bu?"
Di menit ke-15 seseorang menyapa. Pemuda berkulit coklat dan bermata mutiara hitam.
"Entahlah. Mendadak mogok."
Pemuda itu turun dari motornya. Melongok bensin. Mencoba menyalakan mesin. Tapi sia-sia.
"Sepertinya busi," kata si pemuda sambil memandang Lodi. Matanya terbentur perut besar Lodi. Juga keringat di wajahnya.
"Sebaiknya Ibu berteduh dulu. Mari, Bu."
Lodi naik ke boncengan motor si pemuda. Ia menurunkan Lodi di sebuah warung kecil.
"Ibu minum-minum dulu."
Lodi mengangguk lemah. "Teh manis dan mie rebus."
Sementara si pemuda ngeloyor pergi.
Sepuluh menit.
Lima belas.
Tiga puluh
Empat puluh.
"Mengapa lama sekali? Apakah motorku dibawa lari?"
Keringat dingin Lodi mulai keluar.
"Tolong Tuhan, jangan kau uji aku dengan motor dibawa lari. Aku membutuhkan banget."
Lodi mengambil gawai.
"Mestinya aku tadi meminta nomor hp-nya."
Lodi sudah hendak memanggil Santi ketika suara motornya terdengar mendekat.
"Maaf ya, Bu. Lama."
Pemuda itu menyerahkan kunci motor ke Lodi. Tangannya belepotan oli.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Habis berapa?"
"Tidak usah. Tadi busi saya ganti. Tapi pakai yang bekas. Yang penting bisa jalan jadi Ibu bisa pulang. Permisi..."
Pemuda itu segera keluar warung setengah berlari.
Lodi terpana.
"Motor dia ada di mana? Harusnya aku tadi mengantar dia ke motornya. Dia baik sekali."
Lodi menghembuskan napas panjang.
"Siapapun dia, bagiku hari ini dia adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan."
__ADS_1
-bersambung-