
‘Hari ini aku berbaik hati membuatkan makanan untukmu karena kau sudah menemani anakku bermain piano. Mudah-mudahan kau suka makanan ini.’ ucap Dante dihatinya yang merasa hangat. Dengan langkah cepat dia meninggalkan dapur dengan membawa dua piring menuju ke lantai atas.
“Tuan Dante!” suara sapaan membuat Dante menoleh.
“Ada apa?”
“Bukankah tadi anda memanggil saya Tuan! Ada panggilan katanya saya harus keruangan anda.” tanya Henry sesuai dengan kenyataan.
“Aku tidak ada memanggilmu dan aku juga tidak menyuruhmu keruanganku.”
“Oh mungkin salah Tuan.”
“Kalau begitu, temani aku mengantar ini keatas.” Dante memberikan satu piring pada Henry.
“Baik, Tuan.” kata Henry yang masih merasa bingung. ‘Dia tidak memanggilku tapi dia menyuruhku membawa piring. Halaa….ada-ada saja, harusnya bilang saja kau menyuruhku membawa piring ini. Pakai alasan memanggilku.’ gumam Henry yang salah sangka.
Dia mengira Dante main-main padahal Dante tidak ada memanggil Henry untuk menemuinya diruang kerja. Entah apa yang menanti Henry diruang kerja seandainya dia masuk kesana sekarang. Lalu Dante membuka pintu ruang piano saat sudah tiba disana. Klek….
“Alex! Makananmu sudah….apa yang kalian lakukan?”
Flashback off
“Ah...Tu….Tuan Dante!”
‘Aduh mati aku! Dia pasti salah sangka dan marah padaku!’ ujar Bella yang langsung merapikan pakaiannya setelah dilepaskan oleh Lorenzo yang terkejut dengan kedatangan Dante. Tangan Bella gemetaran melihat Dante berdiri dipintu dengan tatapan tajam penuh amarah.
“Tuan maafkan saya, tadi saya sudah menolak Bella dan memintanya untuk tidak melakukan itu. Tapi dia terus saja merayu dan menggodaku. Tidak mungkin saya tolak! Saya ini laki-laki normal Tuan Dante. Maafkan saya terpaksa bermaind engan pelayan anda.” ujar Lorenzo menyelamatkan diri.
“Ha? Apa kau bilang?” belum sempat Bella menjawab dan menyanggah ucapan Lorenzo.
“Memberikan bujuk rayu?” suara Dante sudah membuat Bella terhenyak dan langsung berdiri.
“Tu—tunggu dulu. Dengarkan penjelasanku!” Bella ingin bicara.
__ADS_1
“Henry! Bawa Bella ke dalam ruangan dibelakang tapi bukan diruang dua wanita yang kemarin. Tempatkan dia disebelahnya!” ujar Dante memberi perintah dengan penuh amarah.
“Anda serius Tuan? Wanita ini tidak akan kuat Tuan!”
“Jangan banyak bertanya! Lakukan saja perintahku!”
“Daddy!” panggil Alex. Suara itu langsung membuyarkan pikiran Dante sejenak.
“Alex, makanlah makananmu di meja itu.” Dante menunjuk ke meja pojok sebelah kanan dengan jari telunjuknya. “Habiskan makananmu. Setelah itu kau kembali ke kamarmu!” lalu dia memberikan satu piring yang ada ditangannya pada Henry.
“Ayo kemari Tuan Alex, makan dulu.” Henry berusaha mengalihkan Alexh kesebuah meja disudut.
“Iya aku makan!” Alex bersemangat dan dia tidak tahu apa yang sedang terjadi disana. Karena sudah lapar dia pun buru-buru menuju meja, sedangkan Dante tetap fokus menatap tajam dua orang dihadapannya.
“Ayo ikut denganku Bella.”
“Ikut kemana Tuan Henry?” tanya Bella khawatir.
“Saya tidak bisa menjelaskan! Mari kita keluar dulu.” kata Henry tanpa menoleh pada Bella.
“Maaf Nona Bella, jangan membuat masalah baru. Silahkan ikut dan tidak perlu banyak bertanya, ini demi kebaikan anda.” jawab Henry.
Ucapan henry membuat Bella tak berani mengatakan sepatah katapun dan dia mengikuti Henry, meninggalkan Dante yang masih menatap orang dihadapannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
‘Baru pertama kali aku melihat Tuan Dante memandangku begini! Dia hanya menatapku, tapi jujur aku tidak berani berkata apa-apa. Seakan yang aku lakukan barusan adalah meniduri istrinya! Padahal aku sedang bersama pembantunya. Kenapa dengannya?’ didalam hati Lorenzo tidak memahami situasinya.
“Mohon maaf Tuan Dante! Saya telah membuat kesalahan, seharusnya saya tidak tergoda dengan bujuk rayu wanita itu.” Lorenzo berusaha keras menyalahkan Bella.
‘Aku sudah bicara tapi kenapa dia masih diam saja? Aduh aku jadi ngeri.’ bisik hati Lorenzzo. Sudah lima menit berlalu tapi Dante masih belum bicara, dia hanya berdiri mematung menatap orang dihadapannya, hal itu membuat Lorenzo merasa sangat tidak nyaman. “Tuan, ada yang ingin anda katakan? Sebaiknya anda bicara saja karena saya tidak mengerti alasan anda diam memandang saya.” ujar Lorenzo memberanikan diri untuk bicara namun Dante masih saja diam dan menjawab.
“Ehm...kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, saya ingin pergi dari sini Tuan. Mohon maaf! Kesalahan seperti ini tidak akan pernah terulang lagi!” ucap Lorenzo melangkah mendekat kearah Dante yang berdiri didekat pintu.
“Apa aku sudah menyuruhmu pergi?”
__ADS_1
“Daddy! Aku sudah habis dua piring semuanya.” ucapan Alex bersamaan dengan suara Dante yang memegang lengan Lorenzo.
“Kembali ke kamarmu sekarang Alex. Kau tahu kan arah ke kamarmu?”
“Tahu daddy!” Alex turun dari kursinya dan langsung melangkah keluar meninggalkan Dante bersama Lorenzo didalam ruangan itu.
“Tadi saya bertanya pada anda, apa ada yang ingin anda katakan Tuan, tapi anda tidak menjawab.”
“Apa kau pikir aku harus menjawab semua pertanyaanmu?” Dante memicingkan mata menatap Lorenzo dengan tangan Dante yang masih memegang lengan kiri Lorenzo.
“Tidak Tuan! Tapi saya juga butuh kejelasan, saya minta maaf karena kesalahan saya telah mengganggu dirumah anda. Tapi saya tidak akan melakukan perbuatan itu jika pelayan anda tidak menggoda saya. Dia sangat cantik dan seksi, anda bisa melihat sendiri bagaimana kecantikannya! Anda mungkin tidak akan tergoda karena anda memiliki istri yang cantik. Sedangkan saya masih belum menikah, Tuan.”
“Jadi kau menyalahkannya?” suara dante meninggi.
“Tidak ada laki-laki yang tidak akan tergoda dengan wanita, Tuan.” tiba-tiba dia meringis setelah mengatakan itu. ‘Apa-apaan dia ini? Kenapa dia mencengkeram tanganku kuat sekali.’ gumam hatinya.
“Maaf Tuan, anda memegang tangan saya, Tuan.”
“Apa tadi yang kuperintahkan padamu disini?” ujar Dante penuh amarah.
“Anda meminta saya untuk mengajari anak anda dan pengasuhnya untuk belajar piano.”
“Lalu apa yang kau ajarkan padanya?” suara Dante pelan tapi sangat menyiksa bagi orang yang mendengarnya karena suara itu penuh intimidasi.
“Ehm...kan tadi sudah saya jelaskan Tuan.” ujar Lorenzo dengan suara terbata-bata.
“Kau pikir aku percaya? Dia memang menggodamu tapi kalau kau juga tidak mau tergoda, kau tidak akan tergoda bukan?”
“Tidak ada laki-laki yang bisa menahan godaan, Tuan.”
BUUKKKK
Dante melayangkan bogem mentah pada Lorenzo. “Tidak ada laki-laki yang bisa menahan godaan? Kau saja yang tidak mau melakukannya!” Dante kesal dan ucapan Lorenzo membuatnya semakin marah membara.
__ADS_1
‘Aku bahkan sudah pernah menahan berhari-hari, aku bisa menahan diri saat melihat wanita itu polosan bahkan wanita itu memegang milikku sambil tidur saat aku ingin. Tapi aku masih bisa menahannya! Bisa-bisanya dia bilang tidak ada laki-laki yang bisa menahan godaan?’