
"Aku senang kau sudah kembali Dante." tatapan mata Bella melirik pria itu yang berjalan menghadap kedepan. Saat ini mereka sudah kembali ke kamar.
'Aku tak pernah merasa jemu memandang dante. Selalu saja ada cinta yang ku tunggu ketika aku menatapnya. Ada rasa terpuaskan saat aku berada disampingnya. Aku tidak bisa menahannya, dia benar-benar tampan sekali. Dia suamiku kan?' Bella berbisik didalam hatinya.
Dia merasa gemas melihat wajah Dante yang dipenuhi bulu-bulu tipis.
"Kau sudah mengatakannya berkali-kali Bella!" ujar dante menatap Bella. Dia merapikan rambut Bella yang menutup dahinya.
'Wanita ini bodoh dan kadang-kadang tidak berguna. Pikirannya tidak pernah lepas dari hal-hal semacam itu. Tapi kenapa dia justru malah membuat duniaku semakin tak bisa beralih darinya? Apakah orang pintar itu memang harus bersama orang bodoh ya? Supaya mereka bisa saling melengkapi?' bisik hati dante.
'Sssh atau jangan-jangan dia lebih pintar dariku? Sehingga dia bisa membuatku bertekuk lutut dihadapannya?' Dante tidak mengerti tentang hal itu. Tapi saat ini dia merasa terganggu sekali dengan Bella. Lelah? Tentu saja dia merasa sangat lelah.
Selama berada di pesawat bersama teman-temannya tidak ada yang bisa membuatnya beristirahat. Dia harus berperang habis-habisan. Saat ini dia malah merasa menginginkan Bella yang membuatnya tak bisa menolak pesona istrinya itu.
Sebenarnya apa yang membuat Dante tertarik pada Bella? Pertanyaan itu sering kali ditanyakannya pada dirinya sendiri. Namun dia tidak pernah mendapatkan jawabannya. Hingga saat Dante memegangi pipi Bella dan menggerakkan kepalanya mendekat untuk mencium bibir ranum itu.
"Daddy! Kenapa kau tidak melihat kearahku? Daddy mau buat apa sama mommy?" suara anak kecil itu langsung membuat Dante menelan salivanya.
Mereka tidak menyadari ada jagoan kecil yang tangannya sedang digandeng Dante. Alex mendongak menatap ayahnya.
"Alex, maafkan aku. Bukannya akau tidak memperhatikanmu." ujar Dante.
"Daddy dari tadi melihat kearah mommy saja. Daddy tidak menatapku." protes Alex.
"Oh, itu tidak benar. Aku sangat peduli padamu." tukas Dante. 'Isss anak kecil ini lama-lama semakin pintar saja. Apa dia tidak tahu kebutuhan orang dewasa? Ahhh Alex!' keluh Dante yang ingin rasanya memarahi anaknya itu.
"Kenapa daddy tidak melihatku?" tanya Alex yang menggangu Dante.
Dia sudah sangat menginginakn itu tapi karena suara pekikan anaknya dia harus meredam semuanya.
"Aku sangat peduli padamu Alex." dante jongkok sejajar dengan Alex.
"Kau adalah anakku. Mana mungkin aku tidak mempedulikanmu. Kau sudah menjaga momm-mu dengan baik tadi saat aku pergi, bukan?" ujar Dante berusaha merayu anaknya.
"Iya. Aku menjaga mommy, aku memeluk mommy." jawab Alex dengan nada bangga.
"Wah kau hebat sekali. Kau tidak merepotkan mommy kan?" tanya Dante.
Alex menggelengkan kepalanya. Dia sangat percaya diri. "Aku menjaga mommy dan adikku. Aku selalu bersama mommy."
__ADS_1
"Bagus!" Dante tersenyum bangga pada putranya itu. Dia mengecup dahi Alex meskipun dia melirik Bella yang tertawa melihat itu.
'Apa-apaan kau bilang kau menjagaku Alex? Selama daddy-mu pergi kau selalu duduk diatas pangkuanku sampai kakiku kram! Lalu kau tidur diatas pangkuanku. Saat aku meletakkanmu di tempat tidur, kau langsung bangun. Kau merepotkan sekali Alex! Kau meminta susu setiap setengah jam, lalu kau bolak balik ke kamar mandi. Itu yang kau bilang menjagaku?' bisik hati Bella.
"Mungkin kau harus memberikan hadiah pada Alex. Alex anak yang pintar." puji Bella.
"Benarkah Alex?"
"Iya, aku menjaga mommy dan aku juga menjaga adikku. Aku harus dapat hadiah kan? Aku sudah jadi anak baik dan melindungi mommy dan adikku."
"Apa kau menjaga mommy dan adikmu hanya untuk hadiah?" Dante menyipitkan matanya.
"Apa aku tidak boleh minta hadiah?" tanya Alex dengan wajah penuh harap.
"Ehhmmm aku sedang mempertimbangkannya." jawab Dante.
"Benarkah daddy? Yesss! Daddy, hadiah apa untukku?" Alex kembali bertanya pada ayahnya dengan antusias.
"Aku pikirkan dulu hadiahnya." Dante mengelus rambut Alex dan merapikannya.
"Apa kalau daddy berpikir itu lama?" Alex kembali cerewet.
"No, mungkin kau bisa mengatakan padaku hadiah apa yang kau inginkan Alex?"
"Tidak ada apapun yang kau mau?" tanya Dante ulang.
Alex tampak berpikir dengan serius tapi dia bingung dan tak mengerti apa yang diinginkannya.
"Kau masih belum tahu apa yang kau inginkan Alex?" Dante bertanya ulang.
"Sudah daddy." Alex mengangguk.
"Apa?"
"Aku tidak tahu apa yang aku inginkan daddy!"
Jawaban Alex membuat Dante dan Bella tersenyum. "Apa kau mau mainan baru?"
Alex menggelengkan kepalanya, "Aku kan sudah besar. Aku tidak mau mainan lagi."
__ADS_1
"Jadi kau merasa sudah besar dan tidak membutuhkan mainan lagi?" tanya Dante.
"Kata Sarah kalau sudah besar tidak usah main lagi! Aku bisa main diluar saja. Main bola, main mobil-mobilan. Tidak perlu main didalam rumah lagi." jawab Alex penuh percaya diri.
'Bocah itu! Apa yang dikatakannya pada anakku? Alex masih empat tahun dan sangat lucu! Berani-beraninya dia mengatakan kalau Alex sudah besar. Aku kan masih ingin bermain dengannya? Kami masih harus membangun jalan kereta api kami. Awas kau Sarah! Kalau aku bertemu denganmu nanti.' pekik hati Dante yang sudah ingin segera menemui adik iparnya yang cerewet itu.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan beli mainan untuk diliar saa, bagaimana? Atau kau mau permainan lainnya? Bola basket? Atau main tembak-tembakan atau mobil-mobilan?" Dante menawarkan beberapa pilihan mainan untuk putra kesayangannya itu.
"Ya itu lebih baik daddy." Alex mengangguk.
"Bagaimana kalau kita mainnya besok? Selama rumah kita diperbaiki, kita akan tinggal dirumah kakekmu." bujuk Dante.
"Aku mau!" sahut Alex.
"Kalau begitu bagaimana kalau kau tidur sekarang? Kan sudah malam?" dante kembali membujuk putranya.
"Aku belum mengantuk daddy!" Alex menggelengkan kepalanya.
"Tapi, kalau kau tidak tidur sekarang, besok pagi kau tidak bisa bangun Alex! Bukankah kau mau bermain dari pagi?" kali ini Bella yang membujuk Alex.
"Aku boleh main pagi, siang dan sore?"
"Mulai hari ini kau bebas melakukan apapun Alex. Kau boleh main sepuasnya. Bagaimana menurutmu?" tanya Bella.
Alex tersenyum sumringah dan dia pun mengikuti saran Bella untuk segera tidur. "Ayo Alex kita tidur." Bella bicara sambil menggendong putranya.
"Bella!" panggil Dante pelan.
"Aku tahu yang kau inginkan Dante. Sabar sebentar ya biar aku tidurkan dia dulu." ujar Bella.
"Kau bisa melakukannya?" tanya Dante lagi.
"Tentu saja bisa. Tadi malam juga begitu. Dia mau tidur denganku." jawab Bella. Mereka bicara tanpa mengeluarkan suara.
'Oh Alex, cepatlah tidur! Aku dan daddy mu mau melakukan sesuatu. Kamu sudah rindu seali, kalau kau masih belum tidur begini, kami tidak mungkin bisa melakukannya.' bisik hati Bella.
Dia mencoba menidurkan anaknya dengan mengecup dahi Alex dan mengelus rambutnya.
"Bella."
__ADS_1
"Mommy! Alex, panggil mommy Bella." Dante membenarkan kalimat anaknya.
"Iya daddy." Alex menatap Dante lalu dia berbalik menatap Bella sambilmemunggungi Dante yang sudah memasang wajah cemberut.