PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 192. TATIANA MINTA DIJEMPUT


__ADS_3

“Fokus saja pada kegiatanmu disana, tidak perlu merindukanku! Aku akan mengurus semuanya disini sendiri sehingga saat kau kembali nanti semua sudah selesai dan tuntas!”


‘Ha? Apa maksud Dante yang sudah selesai dan tuntas? Apa dia akan membunuh Bella? Aku meneleponnya sebenarnya ingin menanyakan soal itu. Dia tidak boleh membunuh Bella atau rencanaku dan Lorenzo akan gagal! Aku harus mendapatkan Bella dan memberikannya pada Lorenzo untuk dijual!’ gumam Tatiana dihatinya.


“Ehm….Dante bolehkah aku memohon sesuatu padamu?” dengan sengaja dia bicara dengan suara manja tapi Dante yang mendengar suara manjanya bukannya senang tapi malah merasa jijik.


“Apa yang kau inginkan?”


Henry yang masih berdiri disana mendengarkan pembicaraan dan memperhatikan ekspresi wajah Dante sudah bisa menebak apa yang akan terjadi saat Tatiana pulang nanti. ‘Tuan Dante sangat marah saat ini dan dia benar-benar kecewa pada istrinya! Apa aku salah karena baru memberitahunya sekarang? Tapi kalau aku memberitahunya waktu itu juga tidak ada gunanya, saat itu dia masih percaya pada istrinya.


“Sebenarnya aku tidak mau menyusahkanmu Dante sayang! Tapi aku harus mengatakan hal ini padamu, aku tidak tega jika kau menghukum Bella!


Dante mengeryitkan keningnya mendengar ucapan istrinya, ‘Ha? Apa lagi maksudnya ini. Yang dikatakannya waktu itu sangat berbeda dengan sekarang. Apa dia berpura-pura lagi? Apa sebenarnya yang sedang direncanakannya? Tatiana, aku sungguh tidak bisa memahamimu lagi!’


“Dante, apa kau mendengarku?” Tatiana bertanya karena Dante tidak meresponnya.


“Bicaralah, aku mendengarkanmu! Coba jelaskan padaku apa alasannya kau tidak ingin aku menghukum Bella? Apa yang sedang kau rencanakan?” ucap Dante dengan intonasi tinggi.


“Ehm...ada beberapa alasan, tapi alasan utamanya sih aku tidakingin kau mengotori tanganmu dengan darah. Aku ingin kita hidup lama bersama, aku tidak ingin terkena masalah hukum.” jawab Tatiana.


“Perhatian sekali kau padanya ya!”


“Aku ini istrimu tentu saja aku sangat perhatian Dante! Kenapa kau bicara padaku seperti itu?”


“Tapi aku ingin menghukumnya Tatiana! Karena dia sudah menyakiti putraku dengan bermain cinta dengan Lorenzo dihadapan putraku! Jadi jangan salahkan aku jika aku melenyapkan wanita itu!”


Tatiana terkejut dan tak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir suaminya, dia tidak ingin Bella mati. “Dante! Aku mohon padamu jangan lakukan itu!”


Kata-kata permohonan Tatiana mempengaruhi pria itu yang membuatnya semakin mencurigai Tatiana, Dante memicingkan matanya. Tatiana sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi setelah dia mengucapkan kalimat itu. Dia mengira akan bisa membuat Dante menuruti keinginannya lagi.

__ADS_1


“Kau tidak tega pada Bella ya?”


“Sangat….sangat tidak tega Dante! Aku sudah memikirkannya berulang kali dan selama mengikuti acara disini aku berpikir dan aku rasa itu bukan perbuatan yang baik untuknya dengan cara menghukum dan membunuhnya.”


“Apa kau yakin Tatiana? Bukankah kau yang mengatakan sendiri bahwa dia tidak boleh diampuni?”


“Itu mungkin karena aku sedang emosi saat itu. Tapi sekarang aku sudah berpikiran jernih dan berpikir mungkin dia mencintai Lorenzo tapi caranya slaah tapi mungkin kita bisa memberinya pengarahan atau mungkin kita pecat saja dia!”


Tatiana bicara gelagapan dan suaranya terdengar berbeda dari biasanya. Kali ini membuat Dante semakin tidak yakin pada Tatiana dan semakin memicingkan matanya.


“Tatiana, kau sangat berbeda!” ujar Dante. Seharusnya Tatiana paham apa maksud kalimat itu.


“Masa sih? Aku rasa aku biasa-biasa saja, tidak ada yang berubah dariku, Dante.”


“Kalau begitu, sekarang juga aku akan mengembalikan wanita itu ke tempatnya supaya dia tidak mengganggu dirumah kita lagi!”


“Jangan!” teriak Tatiana panik.


“Kenapa kau meninggikan suaramu Tatiana?”


“Ehm...maksudku kalau kau ingin mengembalikannya ketempat asalnya, sebaiknya tunggu aku pulang. Karena aku ingin melihatnya dan bicara sebentar dengannya sebelum dia pergi.”


“Jadi kau mau bertemu dengannya? Bukankah kau tidak menyukainya? Dia sudah memberikan dampak yang sangat buruk pada Alex, iyakan?”


“Aku tahu Dante! Tapi bisakah kau menunggu sampai aku pulang? Kita bisa menyelesaikannya berdua karena saat kau ingin mempekerjakannya kau juga berbicara denganku.”


“Baiklah kalau itu maumu.” jawab Dante.


“Terimakasih Dante sayang, oh iya bisakah kau menjemputku besok? Aku ingin kau menjemputku pulang! Aku merindukanmu.”

__ADS_1


“Apa kau tidak bisa pulang sendiri? Tumben sekali kau minta aku menjemputmu padahal biasanya setiap ada acara kau tidak ingin aku mengantar jemputmu.”


‘Apalagi yang kau rencanakan Tatiana? Sampai-sampai kau ingin aku menjemputmu. Apa yang ingin kau lakukan hingga kau meminta Bella tetap tinggal disini?’ gumam hati Dante sambil mengepalkan tangannya menahan kemarahan.


“Aku lelah sekali, Dante! Mungkin kalau kau menjemputku kita bisa jalan-jalan dulu atau keluar? Sudah lama sekali kita tidak keluar bersama, iyakan?”


“Bukankah katamu kau tidak suka pergi keluar? Kau tidak suka keramaian?”


“Eeehh, bukan begitu. Tapi mungkin aku ingin suasana baru saja, Dante! Tempat ramaipun tidak masalah selagi ada kau ehm…..setiap orang kan bisa berubah dan aku jenuh dirumah.” jawab Tatiana.


‘Aduh, bahaya nggak ya? Sepertinya aku terlalu mabuk tapi ahh….tidak kok. Semoga saja Dante tidak curiga dan mau percaya pada kata-kataku,’ bisik hati Tatiana.


“Kalau begitu maumu, katakan saja dimana aku harus menjemputmu. Jam berapa, supaya aku bisa mengatur rencana pergi kesana.” ucap Dante. ‘Benar-benar aneh. Tapi lebih baik kuikuti saja permainan Tatiana agar aku bisa mendapat jawabannya jadi aku berpura-pura tidak tahu dulu.’


“Terimakasih ya Dante. Aku tidak menyangka kau mau menurutki kemauanku.” ucap Tatiana senang. ‘Fuhhh! Syukurlah dia tidak curiga padaku. Bagus juga padahal tadi aku sudah ketakutan sekali kalau dia mencurigaiku dan berpikir macam-macam,’


“Bukankah dari dulu aku selalu melakukan itu? Menuruti semua kemauanmu?” ujar Dante datar. Tapi Tatiana menganggap Dante tidak marah padanya padahal sebenarnya kalimat yang diucapkan Dante itu adalah sindiran pada Tatiana. ‘Aku sangat mempercayai semuanya kepadamu Tatiana! Aku menolak segalanya untukmu tapi kenapa kau harus melakukan ini padaku? Bahkan kau berterimakasih pada Lorenzo atas apa yang dilakukannya.’ Dante benar-benar sudah tak sabar lagi ingin membongkar topeng kemunafikan Tatiana selama ini.


“Dante, kau memang yang terbaik.”


“Hem….tak perlu memujiku terus-terusan Tatiana!”


“Ah ya….aku titip pesan pada Alex. Aku sangat merindukannya, aku akan bawa mainan baru untuknya.” kembali Tatiana berpura-pura berperan sebagai ibu yang baik.


“Hem! Dia pasti senang sekali dengan mainan baru itu Tatiana. Berikan saja alamat dimana aku harus menjemputmu dan jam berapa.”


‘Lebih cepat lebih baik dan pasti seru, aku ingin membongkar kebenarannya,’ bisiknya dalam hati. Dante benar-benar terluka ‘Dua puluh delapan tahun kita sudah mengenal, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan padamu jika aku tahu kau sudah mengkhianatiku Tatiana!’ sakit sekali hati Dante saat ini namun dia berusaha untuk menahan diri.


“Oh iya, akan aku kirimkan alamatnya. Selamat beraktifitas ya sayang!” lalu Tatiana memutuskan panggilan lebih dulu.

__ADS_1


Tak ada senyum dan ekspresi apapun diwajah pria itu, tangannya lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Lalu dia menatap Henry, “Terimakasih untuk informasinya Henry.”


“Sama-sama, Tuan.” ucap Henry tak banyak lagi bicara. Dia segera menutup pintu kamar tidurnya lalu melangkahkan kakinya ke kamar Alex dengan perasaan bercampur aduk.


__ADS_2