
“Dante! Aku bukan teman-temanmu! Kenapa kau harus bicara denganku disini? Kita punya kamar sendiri kenapa kita tidak bicara dikamar saja?” Tatiana sudah tidak bisa menahan diri akhirnya berteriak kencang pada Dante.
Kecewa? Tentu saja perasaan kecewa yang dirasakan oleh Tatiana saat ini. Ruang kerja adalah tempat sakral Dante bertemu dengan teman-temannya bukan tempat mereka berdua saling bercinta dan biasanya setiap masalah selalu mereka selesaikan ditempat tidur. Tapi ini pilihan Dante untuk bicara diruang kerja artinya kesempatan merayu sudah tidak ada. Apalagi Omero ada disana dan itu sangat menjengkelkan bagi Tatiana.
“Kamar itu bukan kamarmu Tatiana! Aku akan meminta Henry untuk mengemas barang-barangmu!”
“Apa? Apa maksudnya ini semua Dante? Mau apa kau?” Tatiana merasa terluka dengan ucapan Dante.
“Apa karena wanita yang baru itu? Wanita yang masih kecil itu kau mengusirku iya? Apa salahku dante? Apa kau mendengar kata-kata ayahku sehingga kau melakukan ini padaku? Kenapa kau tidak menanyakan dulu kebenarannya padaku?”
“Tatiana! Aku----.”
“Kau tidak mengerti Dante! Kau tidak tahu semua ini, kau bahkan belum bertanya padaku. Kau tidak bisa mengambil kesimpulan dari apa yang dikatakan oleh ayahku saja! Kau pergi meninggalkanku selama sebulan dan pulang-pulang kau seperti ini. Aku tidak bisa terima ini Dante. Ak---.”
PLAAAKKKK!
“Dante! Perhatikan tanganmu!” Omero tak sempat mencegah.
“Ini semua pasti ulahmu kan ayah? Kau senang sekarang ha? Dante tidak pernah memukulku! Tapi karena ulahmu sekarang kau lihat apa yang terjadi padaku? Apa kau merasa senang sekarang melihatku mendapat perlakuan seperti ini?” akting Tatiana saat ini sangat bagus.
“Tidak usah pura-pura tidak bersalah Tatiana! Kau memang sangat suka bukan dengan tamparan begitu? Kau suka tubuhmu disakiti bukan?” ujar Omero.
“Ayah! Dante ingin menceraikanku. Dia tidak bersamaku lagi. Kau kan ayahku bukankah seharusnya kau membelaku?” Tatiana kembali berteriak pada ayahnya, sebenarnya dia sengaja melakukan itu untuk menggertak Dante tapi---
“Masokis! Bukankah penderita penyakit itu sangat suka dikasari Tatiana?” ujar Dante sini. Gertakan Tatiana sangat tidak berguna setelah mendengar Dante mengatakan itu.
__ADS_1
“Dante?” bibir Tatiana bergetar ketika menyebut nama laki-laki yang selama bertahun-tahun ini sudah menemaninya. Lalu dia menatap Omero lagi dengan mata melotot marah merasa kalau ayahnya yang membongkar rahasianya pada Dante.
“Puas kau sekarang ayah? Kau puas melihat hubunganku hancur seperti ini dengan Dante? Apakah batinmu merasa senang sekarang, ha?” Tatiana mencecar Omero.
“Bukan aku yang memberitahu suamimu Tatiana,” Omero mencoba memberikan penjelasan.
“Apa kau ingin berbohong lagi padaku?” Tatiana masih saja menyalahkan ayahnya.
“Memang benar apa yang dikatakan ayahmu. Bukan dia yang mengatakannya padaku!” ucap Dante.
“Lalu apa maksudya? Apakah ini jebakan darimu Dante? Kau sudah bosan denganku sehingga kau menemukan wanita lain dan bersama wanita itu bukan? Kau ingin menjauhkanku bukan?”
“Cih! Jebakan katamu? Aku bermain-main menjebak wanita yang sudah aku kenal sejak usia tujuh tahun? Untuk apa aku melakukan itu hem?”
“Dante! Kenapa kau kasar sekali padaku?”
“Dante! Jaga bicaramu!” Tatiana meninggikan suaranya.
“Cih! Kau yang harusnya berhati-hati Tatiana, berapa lama kau bersamanya? Kau menyimpan kebusukan dibelakangku. Apa kau pikir aku tidak akan pernah mengetahui semua ini?”
“Dante! Kau...kenapa kau bicara ketus sekali padaku? Kau berprasangka buruk padaku Dante.”
“Sudahalah Tatiana! Tidak perlu berpura-pura lagi padaku. Aku sudah tahu semuanya.” ujar Dante berusaha menahan diri agar tangannya yang gatal tidak menampar Tatiana lagi.
“Dante! Dengarkan aku dulu, kau jangan percaya pada semua yang dikatakan ayahku. Dia bohong!”
__ADS_1
“Hemm! Aku sudah mengetahui semuanya dan ini bukan dari ayahmu yang mengatakan padaku. Dia tidak bicara apapun bahkan berusaha untuk membuatku tetap bersamamu. Dia baik sekali masih mau menutpi aibmu Tatiana!” kepalan tangan Dante semakin mengencang.
Dia bukanlah orang yang bisa menahan diri pada siapapun yang mengkhianatinya. Dia kembali mengingatkan dirinya pada ucapan Omero yang memintanya menahan diri.
“Aku tidak paham! Jadi kau menuduhku Dante?”
“Bukan menuduh. Kau pikir apa sekarang aku hanya berpura-pura mengatakan keinginanku untuk bercerai denganmu Tatiana?” Dante tersenyum getir, sudah tak ada lagi kata-kata manis yang dulu selalu dia ucapkan untuk wanita itu.
Dia sangat marah dan membenci perbuatan Tatiana.
“Setega itukah kau padaku Dante? Apa salahku padamu?” Tatiana masih berusaha merayu Dante, dia tidak terima kalau Dante mengacuhkannya dan tidak percaya lagi padanya. Ini pukulan yang sangat berat bagi Tatiana.
Pria yang dulu selalu berada disisinya dan selalu mendengarkan bahkan menuruti semua perkataannya kini berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi pria yang dingin dan bersiap seperti tidak pernah mengenalnya, wajahnya sama tapi sifatnya tak sama lagi seperti dulu.
“Arggggg! Apa kau tidak bisa berpikir pakai otakmu itu tatiana? Kau merendahkan dirimu sendiri dihadapan Lorenzo! Apa yang kau lakukan diatas piano, ha?”
Glek!
Tiba-tiba Tatiana terdiam tak bisa mengatakan apa-apa lagi dan sekejap dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan tak tahu harus bagaimana membela dirinya. ‘Apa yang terjadi sekarang ini? Kalau bukan karena ayahku, Dante tidak mungkin bicara seperti itu! Tapi ayahku tidak tahu masalah piano itu. Dan diruangan itu juga tidak ada CCTV. Bagaimana bisa Dante tahu tentang itu? Apalah selama ini dia menguntit Lorenzo? Tapi aku tidak yakin!’
Tatiana bergejolak didalam hati dan pikirannya berusaha mencari benang merah dari semua yang terjadi. Selama ini dia sudah main cantik sehingga Dante tidak pernah tahu apa yang dilakukannya diluar sana, apalagi saat Dante sedang pergi keluar negeri.
‘Tidak mungkin Dante mengejar Lorenzo! Kalau memang dia sudah tahu lama, seharusnya kan dia sudah melumpuhkan Lorenzo? Tiga hari lalu aku masih berpesta berpesta bersama Lorenzo dan teman-temannya! Darimana Dante bisa tahu ya?’ bisik hati Tatiana.
Dia tidak bisa berpikir dari mana Dante bisa mengetahui semuanya, dia sudah bermain rapi dan tidak ada satu kesalahanpun. Tidak seharusnya Dante tahu apa yang seharusnya tidak dia ketahui, ini membuat Tatiana merasa tertekan dan mulai lelah.
__ADS_1
“Apa kau sudah mengakui kesalahanmu sekarang?” Dante tersenyum melihat Tatiana yang terdiam tak bisa menjawabnya.
“Baiklah kalau memang itu yang kau pikirkan. Aku terima semua salahku Dante! Aku minta maaf, kau tahu penyakitku kan? Aku sangat malu sekalu padamu makanya aku berusaha memenuhi keinginanku dari kekurangan penyakitku dengan caraku sendiri. Aku tahu ini sepenuhnya adalah kesalahanku Dante! Aku tidak ingin mengganggumu dengan hal ini. Aku ingin terlihat baik-baik dihadapanmu. Seperti layaknya wnaita normal. Aku sangat mencintaimu dan selalu ingin berada didekatmu. Aku tidak mau kau pergi meninggalkanku.”