PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 494. BIARKAN DIA HIDUP


__ADS_3

Anthony mengangkat kepalanya mendongak menatap keatas langit-langit peti kemas lalu dia menoleh kearah Dante lagi.


“Percayalah padaku, aku pun tahu dia ingin berniat buruk. Aku juga tahu kalau dia ingin membunuhku sekarang. Aku bisa merasakan dengan kehadiran helikopter itu yang terus mengikuti kami. Tapi aku tidak bisa membunuhnya begitu saja, aku berhutang budi padanya dan kalaupun dia jahat padaku tapi aku pernah mau melakukan hal buruk yang dia lakukan.”


“Jadi apa maumu sekarang?” Dante bertanya sambil mengerutkan dahinya meminta penegasan dari Anthony. Dia ingin mendengar apa yang akan dikatakan adiknya itu.


“Aku ingin bicara dulu dengannya Dante. Aku mau tahu alasannya kenapa dia melakukan ini semua! Memisahkanku dari keluargaku, mengambilku dan membunuh orang tuaku. Aku ingin dia menjelaskan semuanya padaku sampai aku tahu apa yang akan kulakukan padanya.”


“Lalu, bagaimana jika kau sudah mendapatkan penjelasan darinya dan kau tahu kalau dia adlaah orang yang sangat jahat?”


“Aku tidak tahu Dante! Aku tidak ingin membunuh. Bagaimana kalau kita menyerahkannya pada pihak militer saja untuk diproses hukum?”


“Hahahahaha! Mark Sebastian! Apa kau tidak tahu kalau di dunia ini tidak ada hukum yang adil? Siapa yang memiliki kekuatan maka dia bisa mengendalikan hukum!” ucap Danter tertawa.


“Dan siapa yang lemah dan tertindas harus berusaa keras agar dirinya bisa mendapatkan keadilan. Dan siapa yang kuat akan mendapatkan kesempatan lebih besar untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dimata hukum! Membawanya ke jalur hukum akan sia-sia saja.”


“Aku tahu tentang itu Dante! Kau tidak perlu memperjelas lagi padaku.”


“Dan temanku sudah merasakan hal yang sama seperti itu Dante! Tidak mendapatkan keadilan untuk dirinya. Baiklah kalau begitu, apa kau ingin aku memanggilmu kakak?” Anthony yang tadi bicara dengan nada serius pun mengalihkan pembicaraan. Tapi Dante hanya menatapnya seraya menggelengkan kepala dan menatap serius pada Anthony.


“Kalau kau tidak sanggup melihatku membunuhnya, sebaiknya kau pergi kedepan sana dan biarkan aku saja yang menyelesaikannya disini!”


“Kalau kau menganggapku sebagai adikmu, aku mohon padamu jangan lakukan itu! Aku menginginkan dia tetap hidup dan biarkan dia pergi dari sana. Setidaknya biarkan hukum yang mengurusnya.” Anthony masih berusaha tegas pada Dante.


Tapi, Dante malah sudah menunjukkan kekesalannya yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.


“Fuuuhhh!” Anthony memijat keningnya. Dia merasa pusing bicara dengan Dante apalagi saat membahas tentang keinginan Dante untuk membunuh Robert Kane.


“Percuma aku berdebat denganmu. Aku akan tetap kalah! Tapi aku memang tidak tega jika aku harus membunuhnya. Orang yang sudah kupanggil ayah selama bertahun-tahun.”


Anthony mulai berpikir apa yang akan dia lakukan sekarang.


“Dante! Begini saja, kau bawa saja dia pulang dan disana nanti kita lakukan apa yang terbaik untuknya. Aku akan mengikuti semua yang kau inginkan tapi sekarang bisakah kau membantuku dulu menyelesaikan urusanku?”


Dante memicingkan matanya, “Kau ingin aku menunda sampai kapan lagi?”


“Sampai kau menyelesaikan urusanku. Tolonglah, aku kan adikmu! Masa kau tidak mau membantuku menyelesaikan urusanku dulu?”

__ADS_1


“Katakan apa yang kau inginkan Anthony?” Dante memberikan penekanan pada kalimatnya.


“Tadi sudah kukatakan padamu kalau temanku tertangkap dan dibawa anak buah Jeff.”


“Lalu? Apa yang kau mau sekarang?”


“Bisakah kau membantuku untuk membawa temanku kembali? Setelah kita mengambilnya maka kita bisa putuskan apa yang akan kita lakukan pada Robert Kane? Bagaimana menurutmu Dante?” Anthony berusaha memberikan pendapatnya pada Dante.


“Apa kau yakin dan bisa memegang kata-katamu?” Dante menjawab setelah berpikir sejenak.


“Aku tidak pernah berbohong padamu. Kita akan membicarakan masalah ini setelah temanku ditemukan. Semakin cepat semakin baik.”


“Baiklah, selama kau tidak menipuku! Aku menyetujui permintaanmu!” sahut Dante.


“Syukurlah kalau begitu. Aku merasa lega sekarang.” Anthony tersenyum.


“Apa kau mencintai temanmu itu?” Dante meraa tergelitik untuk menggoda adiknya.


“Jangan menanyakanku tentang itu dulu. Aku ingin kau menyelamatkannya dulu, Dante.”


“Hahahaha baiklah! Aku akan mengurusnya. Tidak lama lagi mereka akan melepaskannya.”


“Ada apa lagi?” tanya Dante sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


“Aku mau menginformasikan bahwa salah satu anggota timmu, kalau tidak salah namanya Barack adalah anggotanya Jeff Amadeo.”


“Apakah Anna dibawa oleh Barack?” Dante tersenyum tipis sambil melirik Anthony.


“Ya dia yang membawanya! Apakah dia mengkhianatimu selama lama?”


“Kalau begitu masalahnya, ini akan menjadi persoalan yang mudah diatasi.” jawab Dante.


“Benarkah? Temanmu Barack itu dia menyusup kesana?” Anthony bertanya serius.


Dante kembali menganggukkan kepalanya. “Ya aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Tapi aku akan membantumu untuk menyelamatkan temanmu.”


“Terima kasih Dante.” Anthony kembali tersenyum dan bernapas lega.

__ADS_1


“Tapi ada syaratnya! Kau tidak bisa menyuruhku begitu saja.”


“Katakan saja apa yang kau inginkan?”


“Setelah semua masalah ini selesai, aku mau kau dan aku menyelesaikan urusan dengan Robert Kane! Aku tidak akan pernah bisa tenang sebelum aku mencincangnya menjadi ratusan potong!”


Sementara itu kondisi Barack setelah dia menembak Noel sebelumnya.


“Lepaskan tanganku! Aku harus melihat kondisi Noel!” Sarah tidak mau ditarik oleh Barack. Dia masih berusaha untuk pergi dan menemui Noel yang tadi ditembak Barack. Tapi tangan Barack begitu kuat mencengkeramnya. Lalu dia dimasukkan kedalam mobil.


“Kau yang menyetir! Aku duduk dibelakang.” kata seseorang yang sudah pindah ke jok belakang dan membiarkan barack yang mengemudi.


“Buka pintunya! Lepaskan aku!” teriak Sarah sambil mengetuk-ngetuk kaca dan tidak ikhlas untuk berada didalam mobil itu. Sikap Sarah itu langsung membuat Barack kesal dan cemburu.


“Kau menyukai pria itu?”


“Aku menyukainya atau tidak itu urusanku! Tidak ada hubungannya denganmu! Tapi kau baru saja menembaknya Barack! Aku marah! Aku membencimu seperti ini.”


“Sudah kukatakan padamu, aku bukan Barack!” Barack melirik wanita disampingnya dengan tatapan tak suka mendengar jawaban wanita itu.


“Percuma saja kau membuka pintu itu! Hanya aku yang bisa membukanya! Apa kau pikir bisa lolos dariku dan pergi menemui pria itu, hah?” Barack sudah tak tahan melihat Sarah yang terus saja berusaha mengetuk jendela mobil dan membuat kebisingan.


“Kalau begitu aku akan memecahkan kacanya! Lalu aku akan lompat keluar!”


“Lakukan saja! Maka jangan salahkan aku akan meledakkan kepalamu!”


Sarah langsung melirik Barack dan bergidik ngeri mendengar ancaman pria itu. Dia memang mengenal kalau suara itu adalah suara Barack tapi sepertinya pria itu tidak mengenal Sarah.


“Barack! Kenapa kau kejam sekali padaku? Kau tidak pernah bicara sekasar ini padaku. Apa salahku makanya kau memperlakukanku seperti ini?” Sarah menangis karena dia merasa sakit hati mendengar ucapan Barack yang kasar.


“Rodrigo, siapa wanita ini? Kenapa dia terus memanggilmu Barack! Dia bising sekali.” kata pria yang duduk di jok belakang yang sedari tadi hanya diam.


Sarah pun kaget karena dia tidak memperhatikan sedari tadi ada orang lain didalam mobil itu.


“Siapa kau?” tanya Sarah sambil mengerjapkan matanya saat menoleh ke belakang.


“Aku pacarnya Rodrigo! Memangnya kenapa? Kau berisik sekali dari tadi.” jawab wanita itu dengan tatapan tajam dan tidak suka pada Sarah. Lalu dia menatap pria disampingnya.

__ADS_1


“Manuel, lepaskan borgol ini! Aku mau mendekat Rodrigo dan suruh wanita itu duduk dibelakang denganmu! Aku tidak suka dia duduk disamping pacarku.”


“Maaf Nona Gabriella, tapi saya diperingatkan untuk tetap ada disamping anda oleh Tuan Jeff. Dan saya terpaksa memborgol tanganmu untuk keamanan. Karena Rodrigo sedang memimpin operasi untuk hari ini.”


__ADS_2