
Belum juga selesai menjelaskan apa saja yang dibutuhkannya, Dante bicara lagi sehingga Bella membalikkan badannya dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Dante.
‘Ssshhhh...masih sama seperti dulu! Ukurannya tidak berubah juga….jadi ayahnya Alex adalah orang yang memiliki tubuh itu? Jadi selama ini aku telah melakukannya dengan pria ini? Aku punya dua anak dari dia? Ahhhhh! Keren!
“Ehemmmm….ehem….! Belinda! Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau senyum-sneyum terus dan berkhayal saja? Kau tahu apa yang harus kau lakukan dengan bahan-bahan ditanganmu?”
“EH, maaf aku tidak tahu.” jawab Bella.
Dante memutar bola matanya, “Kau tidak mendengarkan semua yang aku katakan! Kau fokus dengan pikiranmu sendiri dan imajinasimu sendiri. Itulah yang menyebabkanmu tak tahu apa yang harus kau lakukan!”
“Maafkan aku Dante!” Bella tersenyum malu-malu, “Jangan galak-galak padaku! Kan aku lebih muda sepuluh tahun, aku masih kecil.” sindirnya.
‘Percuma aku berdebat dengannya! Yang ada aku bisa cepat kena sakit jantung! Aku masih harus mengurus masalah White, mendapatkan Barack kembali dan mengurus perceraianku. Aku juga harus mengawasi pengobatan Omero. Tapi wanita ini bukannya memberiku ketenangan, dia justru membuat otakku hampir meledak!’ omel hati Dante dengan geram.
Tapi entah mengapa hatinya merasa hangat padahal kemarin-kemarin sebelum dia bertemu dengan Bella, hatinya terasa dingin meskipun ada Tatiana yang menemaninya.
Dante akhirnya menyabarkan dirinya untuk terus memasak, walaupun sepanjang memasak ada saja gangguan yang diberikan Bella padanya.
Tapi Dante mencoba untuk tetap sabar pada wanita itu. Dia juga sudah ahli memasak jadi bukan kesulitan untuknya tetap memasak dengan kondisi banyak gangguan.
“Bella! Ambilkan mangkuk, aku sudah selesai memasak sup ikannya.”
“Yes! Akhirnya kita jadi makan sekarang?” ucap Bella dengan mata berbinar-binar.
“Kita tidak akan makan kalau kau tidak mau mengambilkan apa yang kusuruh!”
“Baiklah. Tunggu ya aku ambilkan dulu mangkuknya.”
Bella berlari mengambil mangkuk lalu berlari lagi untuk memberikan pada Dante. PRAANNNGGG
“Ahhh! Maaf Dante, kakiku tersandung.” ucap Bella meringis.
“Diam disana! Jangan bergerak!” Dante langsung mematikan stove terlebih dahulu lalu mendekatinya. “Kenapa kau tidak hati-hati? Aku sudah bilang jangan berlari!” Dante berdecak. “Perutmu sakit tidak?” tanyanya dokus pada kandungan Bella.
__ADS_1
“Tidak. Anaknya aman! Aku tidak terbentur. Aku menahan perutku dengan tangan.” ujar Bella yang sedikit agak khawatir juga dengan perutnya.
“Lihatlah sekarang tanganmu penuh luka begini.” ucapnya sambil menggendong Bella dan membawanya ke kursi.
“Duduk disini! Biar aku minta obat untukmu.”
“Aduh apa yang kupikirkan? Kenapa juga pakai tersandung segala! Padahal harusnya sekarang bisa makan sup ikan eh malah tanganku terluka dan dia malah harus mengobati tanganku lagi!” Bella mengoceh pelan sambil mengamati tangannya sendiri.
“Jangan disentuh! Nanti aku yang akan mengambil sisa-sisa beling yang menempel ditanganmu.” Dante bicara sambil mendepati Bella dan dia mengambil pinst lalu mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Bella. Satu-satunya pecahan beling yang ada disana diambilnya sebelum Dante membersihkannya dan menutup lukanya ditangannya.
Dante mengambil pinset untuk mengambil satu persatu pecahan beling yang ada ditangan wanita itu. Lalu membersihkan dengan alkohol dan menutup luka ditangan Bella dengan perban.
“Berikan tanganmu yang satu lagi.”
“Ini Dante!” Bella menyodorkan tangannya.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu lagi?” Dante bertanya lagi.
“Yang aku pikirkan?” Bella kembali tersenyum malu-malu, “Kau berbeda sekali dari Dante yang kukenal pertama kali. Kau masih sulit untuk aku taklukkan. Tapi sekarang kau sudah lebih peduli padaku. Kau juga makin tampan karena kau baik padaku hihihi…..”
“Sangat suka!” ucap Bella yang membuat Dante mengerlingkan matanya menatap wanita itu.
“Sudah! Jangan banyak bicara lagi dan jaga sikapmu. Aku akan ambilkan makanannya. Tunggu ya!”
“Terimakasih Dante!” ucap Bella sambil tersenyum manja sebelum Dante beranjak ke dapur. Dia membersihkan semua pecahan beling dan mengambil mangkuk baru untuk wanita itu.
“Apa yang kau bawa itu sup ikan?”
“Memangnya apa yang kita masak tadi kalau bukan sup ikan? Sup jamur?”
“Hehehe…..” Bella terkekeh mendengar jawaban Dante.
“Sudah jangan banyak bicara lagi. Makanlah.”
__ADS_1
“Hmmmm ini pasti enak sekali!” Bella sudah tak sabar menunggu makannya. “Berikan padaku aku mau makan sekarang.”
“Tanganmu terluka! Diamlah! Biar aku yang menyuapimu.” ujar Dante.
“Benarkah? Kau mau melakukan itu untukku?” Bella sangat senang, matanya berbinar bahagia.
“Hm….buka mulutmu.” ujar Dante tapi wanita itu bukannya membuka mulutnya, dia malah menatap Dante dengan tatapan serius. “Kenapa diam? Aku menyuruhmu membuka mulutmu. Lihatlah aku sudah menyodorkan makanmu.”
“Hehehe…..iya. Aku hanya menatapmu karena kau tampan sekali seperti anakku.”
“Buka mulutmu! Setelah selesai makan, kau harus mandi.”
“Iya.”
“Kalau kau mau makan, makanlah! Tapi tanganmu jangan kemana-mana. Sedang apa kau memegang tubuhku begitu? Tanganmu terluka Belinda!”
“Maafkan aku Dante! Tapi apa aku tidak boleh memegangnya sambil makan? Seperti waktu kita di apartemen di Jakarta.”
“Peganglah!” jawab Dante sambil memutar bola matanya. ‘Aku pernah dengar dulu kalau wanita hamil itu punya banyak keinginan yang aneh-aneh. Sebaiknya kuturuti saja! Aku tidak akan mengganggunya.’ Dante bergumam sambil menyuapi Bella yang terus bergerak-gerak tangannya.
Wanita itupun merasa terkejut karena Dante membiarkannya menyentuh tubuhnya sambil menyuapinya makan. “Katakan apa yang ada dalam pikiranmu lagi?” Dante yang merasa penasaran akhirnya bertanya kembali.
“Katakan padaku Dante, apa yang ada dalam pikiranmusaat kau melihatku pertama kali?”
Pertanyaan itu membuat Dante berhenti menyuapi Bella sebentar dan menatap wanita itu. “Apa benar kau adalah dia? Wanita yang melahirkan anakku?”
“Ah jadi maksudmu saat pertama kali bertemu denganku di VIP club ya? Kau menanyakan itu pada dirimu sendiri?”
“Hmmmm!” Dante menganggukkan kepalanya dan kembali menatap ke mangkuk ditangannya, lalu menyuapkan lagi pada Bella.
“Yang aku tanyakan bukan itu, tapi sebelumnya. Saat pertama kali kau melihatku waktu itu aku tidak bisa melihatmu karena mataku diikat kain hitam.” jawab Bella lagi.
“Apakah wanita sepertimu bisa mengandung anakku?” jawab Dante tak mau berlama-lama menceritakan apa yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
“Heeeh?” Bella langsung membulatkan matanya menatap Dante. “Jadi saat anak buahmu membawaku waktu itu kau sudah berpikir tentang mendapatkan bayi dariku? Kau ingin punya anak dariku begitu?”