PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 273. BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

“Anthony….” hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Bella membuat Anthony tersenyum menatap wanita itu.


“Kenapa kau memanggilku seperti itu? Apa kau sedih karena akan berpisah denganku, Bella?” tanya Anthony menggodanya.


“Anthony…..aku gugup!” bukannya merespon godaan Anthony, dia memberikan pernyataan lain.


“Heeh? Apa maksudmu Bella?” tanya Anthony merasa aneh dengan ucapan yang saja dikatakan Bella.


‘Gugup? Kenapa gugup? Bukankah mereka sudah saling mengenal? Mereka sudah tidur bersama dan juga sudah mempunyai anak bersama! Bukankah seharusnya kalau sepasang kekasih yang saling mencintai bertemu justru mereka akan semakin antusias dan langsung berlari menemui kekasihnya kan? Ini kenapa malah gugup?’ pertanyaan yang muncul dihati Anthony yang tidak memahami Bella.


“Anthony! Lihatlah aku baik-baik! Apakah aku terlihat cantik? Bagaimana penampilanku Anthony?” tanya Bella cepat dan dia benar-benar menunggu respon Anthony dengan kecemasan yang semakin tidak bisa dia tuutpi. Pikirannya berlarian pada Dante, apa dia terlihat manis didepan Dante? Itu yang menjadi ganjalan dihati Bella sekarang.


“Oh Bella! Jadi kau mengkhawatirkan pakaian dan make up? Hehehe….” Anthony tak habis pikir mendengar ucapan wanita itu dan tak tahu harus bagaimana meresponnya. ‘Bagaimana mungkin Dante bisa menyukai wanita macam ini? Dia terlalu polos untuk Dante. Aku kasihan sekali padanya.’ bisik di hati Anthony sambil melirik Bella lagi.


“Anthony ayo bicaralah padaku! Jangan membuatku tambah gugup.”


“Ehm...aku rasa sekarang yang dibutuhkan Dante bukan make up dan juga pakaianmu tapi dia hanya butuh kau cepat-cepat keluar dari mobil dan pindah ke mobilnya.” Anthony melirik Bella.


“Hemm…..benarkah?”


“Iya benar begitu.” Anthony menganggukkan kepala sambilnetranya memindai Bella sejenak sebelum kembali menatap ke jalan.


“Terimakasih Anthony! Kau telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan Dante lagi. Anthony! Sebenarnya melihat wajahmu kadang aku merasa kau sangat mirip dengan Dante. Entah dimana yang mirip tapi aku benar-benar seperti melihat Dante setiap kali aku melihatmu.” Bella tersenyum pada Anthony seperti perpisahan.

__ADS_1


“Aku mirip dengan Dante? Hahahaha.” Anthony menggelengkan kepalanya. “Aku tidak seperti dia. Jangan pernah bilang akku mirip dengannya, Bella.” ucap Anthony memarkirkan mobilnya tepat disamping mobil Dante lalu menatap Bella.


“Sudah waktunya kau turun. Persiapkan dirimu setelah aku bicara dengannya aku akan membiarkanmu turun bertemu dengannya. Tunggulah sebentar karena ada yang harus aku pinta dari Dante.” jawab Anthony masih dengan senyum diwajahnya menatap Bella lalu tangannya membuka seat beltnya.


“Iya Anthony! Aduh…..tanganku dingin sekali anthony. Aku ingin sekali bertemu dengan Dante. Dia adalah orang yang aku cari selama ini…..” ucap Bella yang sudah menengok kearaj pintu mobil Dante yang terbuka. Senyum diwajah mereka dan ingin sekali cepat-cepat turun.


“Anthony! Kenapa kau mengunci pintu? Aku mau turun!” teriak Bella.


“Seperti kubilang tadi kalau aku harus bicara dulu dengan Dante. Setelah aku mendapatkan jawaban darinya baru aku berani melepaskanmu.” kata Anthony menunjuk kearah dante dengan dagunya. Dante baru saja turun dari mobilnya sehingga Bella segera menatapnya Anthony lalu merubah pandangannya dan mengamati wajah yang selama ini sudah dirindukannya.


“Dante!” kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Bella sambil memandang ke kaca jendela tapi Bella dan Anthony belum ada yang turun dari mobil. ‘Dia terlihat bahagia. Yah wajah itu membuatnya bahagia. Ah! Entah kenapa berat sekali melepaskan Bella! Aku ingin Bella bersama denganku tapi mau bagaimana lagi? Kau sudah mengandung anak Dante, kau harus dikembalikan padanya dan aku melihat kebahagiaan dimatamu. Kau memang ingin bersamanya iyakan Bella? Tapi mudah-mudahan dia tidak memasukkanmu kedalam ruangan itu lagi.’ Anthony bicara dalam hatinya.


Ada rasa tak tenang yang dirasakannya, dia tak ingin Bella disakiti lagi tapi ada juga kegalauan jika Bella tidak dikembalikan pada Dante, apakah wanita itu akan bertahan dan mau melanjutkan hidup tanpa Dante? Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya? Semua itu menjadi pertimbangan Anthony sehingga dia keluar dari dalam mobil dan memandang serius pada Dante. Tak ada senyum diwajah Anthony dan dia pun tidak ada niat untuk bercanda seperti biasa dia lakukan pada Dante ditelepon.


Tapi Anthony malah menggelengkan kepala dan tersenyum getir menatap pria dihadapannya sambil menutup pintu mobilnya dan berjalan mendekati Dante.


“Aku tidak akan mengeluarkannya sebelum aku mendapatkan perjanjian darimu.” ucap Anthony lagi sambil berjalan memutar dan berdiri disamping pintu Bella, berhadapan dengan Dante yang berdiri didepan mobilnya.


“Kau ingin perjanjian apa lagi?” tanya Dante.


“Sesuatu yang sederhana.” jawab Anthony sambil tersenyum.


“Katakanlah!” Dante bicara langsung tanpa mau basa basi lebih lama lagi.

__ADS_1


“Masalah ruang bawah tanahmu itu Dante!” Anthony bicara dengan tegas langsung pada intinya.


“Ah! Kau takut aku memasukkannya kedalam sana lagi?” Dante langsung paham apa yang dimaksud oleh pria yang lebih muda tujuh tahun darinya itu sambil menatapnya lekat-lekat.


“Aku khawatir padanya. Karena aku melihat sendiri bagaimana tersiksanya dia didalam sana. Dia hampir mati! Kalau aku tidak membawanya pergi. Keadaan Bella sungguh tak bisa aku bayangkan saat itu, luka dipunggungnya, bau anyir darah diseluruh tubuhnya, bibirnya kering karena dehidrasi dan pandangannya kosong seperti orang sekarat Dante! Kau menyiksa Bella sampai demikian parahnya. Itu yang menyebabkan aku tidak yakin menyerahkan Bella padamu!”


Anthony menggelengkan kepalanya dan bisa melihat raut wajahnya sedang menahan emosi pada Dante. “Jadi aku baru melepaskan Bella jika hal seperti itu tidak akan kau lakukan lagi!” tegas Anthony sambil menodongkan senjatanya pada Dante, dia sudah berjaga-jaga sebelum pergi tadi. “Kau tidak takut dengan ini?”


“Bahkan sebelum aku menarik pelatuknya aku yakin kau pasti sudah melakukan perlawanan dan tembakanku sudah pasti meleset. Aku hanya berjaga-jaga Dante!” Anthony menambahkan lagi kalimatnya tanpa menarik pelatuk senjatanya yang sudah mengarah kepada Dante.


‘Cih! Dia pikir aku tidak tahu? Dia menyerangku bukan pada senjata itu tapi dia menyisipkan pisau di sepatunya, dia juga menyisipkan didekat sabuknya. Kapanpun dia bisa memakainya, dia sengaja membuka sedikit jaketnya supaya aku bisa melihat apa yang ada disana? Hah! Dia benar-benar ingin mengunciku?’ bisik Dante dihatinya yang mulai mengukur kemungkinan serangan yang akan dilakukan oleh Anthony.


“Bagaimana aku harus berjanji padamu untuk menyakinkanmu?” Dante bertanya ulang.


“Aku bisa memulai dengan kata-katamu.”


“Hah! Bagaimana mungkin kau yakin kata-kataku bisa dipegang?” Dante menyuguhkan senyuman sinis sambil memegang dagunya,


“Dan satu hal lagi setelah dia keluar dari mobilmu, aku membawanya pergi dan apa yang aku lakukan jika aku sudah membawanya pergi? Apa kau bisa membayangkan? Aku bisa melakukan apapun padanya karena dia tidak ada hubungan lagi denganmu! Apapun yang terjadi padanya tidak akan pernah kau lihat lagi!” pelan, tapi kalimat itu memberikan penekanan.


Dante sudah berjalan maju hingga ujung senjata Anthony menempel ditubuhnya saat menarik pelatuk itu maka timah panas bisa bersarang ditubuh Dante.


“Kau mau cari mati?”

__ADS_1


“Mati itu adalah teman hidupku!” celetuk Dante sambil menodongkan sesuatu juga ke bagian terpenting seorang pria yang membuat Anthony sangat terkejut.


__ADS_2