
“Diam ditempat!” Dante mencegah tubuh Noel agar mundur dan mereka bersembunyi sejenak. Dante terus memperhatikan gerakan dihadapannya. Jangan sampai mereka ketahuan menyusup kedalam sini.
“Ada pasukan, Dante?” ucap Noel yang melihat ada penjaga yang berpatroli memeriksa.
Dante memperhatikan arah penjaga itu berpatroli, dalam situasi seperti ini memang hal yang wajar para penjaga semakin was-was.
“Aku tahu.” ujar Dante yang fokus. “Jangan sampai mereka curiga ada penyusup. Mereka sekarang khawatir karena listrik padam. Tapi lihatlah gerbang itu kita harus segera masuk kedalam sana.
Karena setelah listrik menyala maka kita butuh tanda pengenal untuk masuk kesana dan kita akan terekam CCTV! Ini sangat riskan karena pintu utama seperti itu akan menjadi tempat pertama yang diperhatikan oleh penjaga!” Dante menjelaskan panjang lebar pada Noel.
‘Apa yang dikatakan Dante memang benar! Orang-orang seperti itu selalu memperhatikan pintu masuk apabila ada masalah seperti ini.’ Noel adalah seorang sekuriti yang dulu bekerja dibagian CCTV sehingga dia tahu betul tentang itu.
“Sekarang kita ada waktu berapa menit lagi, Dante?” tanya Noel.
“Lima puluh sembilan detik lagi.” jawab Dante.
“Kurang dari satu detik!” tiba-tiba Noel menegang sesudah mengucapkan itu. Dia mencoba untuk berpikir tapi otaknya buntu karena dia mulai merasa cemas dan khawatir.
“Ayo, sekarang kau ikuti aku! Jangan lengah!” ujar Dante tiba-tiba.
Noel pun segera mengikuti Dante setelah petugas patroli berlalu, dante berjalan cepat menuju kearah pintu utama. “Fuuuhhh! Kita sudah selamat Dante!” ujar Noel bernapas lega setelah mereka berhasil tiba di pintu utama.
“Justru ini adalah gerbang kematian kalau kau tidak bisa melewati tempat ini secepat mungkin!”
GLEK!
Kata-kata Dante itu sungguh mengganggu kewarasan Noel. Sejenak dia hanya bisa menelan salivanya sambil mengumpulkan tenaga. “Apa maksudnya?” tanyanya lagi pada Dante.
“Coba kau lihat keatas! Setiap sudut ada CCTVnya, kau selalu berjaga bukan? Masa kau tidak paham?” Dante bicara sambil berjalan melalui koridor belakang dan dia sudah mengeluarkan sebuah alat berbentuk persegi panjang yang bisa digunakan untuk menyetrum.
“Sembunyi sebentar.” bisik Dante.
Bug Dzeeeetttttttt!
“Dante, kau baru saja membunuhnya? Kau menyentrum lehernya begitu?” Noel membelalakkan mata.
“Kita butuh tanda pengenalnya.” jawab Dante sekenanya. Dia tak mengubris pertanyaan Noel dan dengan santainya dia menggeledah untuk mengambil amunisi dan tanda pengenal dari orang itu.
__ADS_1
Setelah melemparkan jasad itu disudut gelap yang tidak bisa terlihat siapapun.
“Apa aman meletakkan jasadnya disana?” Noel bertanya karena dia ingin menghilangkan rasa frustasi atas apa yang baru saja terjadi dihadapannya.
‘Dia membunuh nyawa seseorang dengan wajah dingin tanpa menunjukkan rasa belas kasihan?’ gumam hati Noel mencoba memikirkan tentang apa yang baru saja dilakukan oleh Dante.
“Sementara kita harus bergerak cepat! Kita harus segera sampai diruang bawah tanah. Ayo ikuti aku!”
‘Sepertinya dia sudah mengetahui denah tempat ini. Dia bisa bergerak seolah dia sudah menghapalnya. Darimana dia mempelajari denah penjara ini?’ gumam hati Noel yang merasa kagum pada Dante.
Bug Dzeeettttt!
“Hhkkkkk!” Noel tersentak kaget.
Bug Dzeeetttt!
Beberapa kali mereka membunuh untuk menuju keruang bawah tanah karena tidak mungkin mereka tidak membunuh dan membiarkan para penjaga itu melihat aksi mereka dan melaporkan pada atasan mereka. Lagipula Dante memang membutuhkan sesuatu dari para penjaga itu sehingga dia terpaksa harus membunuh mereka.
“Apa yang kau pikirkan hah? Cepat pakai!” ucap Dante pada Noel.
“Baik...baik.” Noel mengikuti Dante dengan mengganti pakaian mereka dengan pakaian petugas setelah berhasil melumpuhkan beberapa petugas tadi.
“Baiklah. Aku mengerti,” jawab Noel sambil menganggukkan kepalanya.
“Ingat ya! Kau jangan terlihat gugup! Bersikaplah seperti biasa dan tenang.”
Keduanya sudah mengenakan pakaian petugas dan kini berjalan menuju kearah koridor dengan Noel yang masih panik.
‘Dalam waktu beberapa menit Dante sudah menggunakan penyetrum dan membunuh beberapa orang! Ya Tuhan! Apa aku berdosa? Maafkan aku Tuhan! Aku juga bekerja sebagai sekuriti tapi sekarang kondisinya aku harus menyelamatkan ayahku. Mungkin ada informasi penting dari ayahku yang bisa digunakan untuk menyelamatkan dunia.’ gumam Noel yang merasa tidak enak pada orang-orang yang telah dibunuh Dante.
Karena Noel belum pernah membunuh siapapun, dia hanya melihat dan tidak punya pilihan lain. Dia tahu Dante menginginkan sesuatu dari ayahnya dan mungkin itu bisa menegakkan keadilan sehingga dia terpaksa harus berdamai dengan jiwanya sendiri yang sebenarnya merasa tersiksa melihat pembunuhan itu.
“Masukkan tanda pengenalnya!”
Tiiit!
__ADS_1
Tanpa bicara Noel melakukan apa yang diperintahkan oleh Dante hingga pintu pun terbuka dan setiap pintu berhasil mereka lewati dengan aman. “Kita akan masuk keruang tahanan. Disana kita tidak mungkin masuk seaman dan semudah ini!” kata Dante sambil berjalan.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Noel.
“Aku tidak tahu ada berapa banyak penjaga didalam sana. Tapi aku sudah mengirim pesan pada Nick.” Dante tadi sudah menghubungi Nick melalui ponselnya sebelum mereka masuk dan kini dia sedang menunggu Nick beraksi.
‘Apa yang akan dilakukan oleh Nick? Tanya hati Noel yang tidak paham.
KRIIIINNNGGG!
“Hhhh? Itu suara sirine kebakaran!”
“Aku tahu Noel! Kau tenang saja!” Dante terus berjalan kearah yang berlawanan dengan orang-orang yang berlarian dengan panik. Dante melangkah dengan tenangnya dan pandangan mata yang fokus kedepan.
‘Untunglah Nick beraksi cepat. Ini akan mempermudah gerakan kami.’ gumam Dante didalam hatinya dan dia melihat banyak narapidana yang dikeluarkan setelah bunyi sirine kebakaran berbunyi.
“Kami disini untuk membantu anda.” kata Dante pada para penjaga.
“Oh iya! Bagus! Tolong amankan mereka semua. Ini benar-benar kacau!” ujar petugas itu.
Suasana sedang kacau dan semua orang kalang kabut dan petugas yang hanya berjumlah sepuluh orang tidak bisa menanggulangi kekacauan yang sedang berlangsung. “Noel! Ayo jalan!” Dante mengingatkan Noel yang tadi seperti tidak fokus.
“Apa kita tetap masuk kesana?” Noel bertanya dan tidak berani melangkah lebih jauh tapi saat dia melihat keyakinan Dante, dia pun percaya dan mengikuti.
“Tapi sirine itu? Apa kita ketahuan sekarang?” Noel mengerutkan alisnya.
“Tenanglah!” Dante melirik pada Noel.
“Ehm, jadi aku harus tetap tenang saja?”
Dante mengangguk dan melirik Noel lagi sembari tersenyum.
“Apa kita memang tidak ketahuan?” Noel masih ngeri tapi dia melihat Dante mengangguk.
“Lalu itu tadi bunyi apa?” tanya Noel berjalan mengikuti Dante.
“Sabotase! Nick yang melakukannya.” jawab Dante singkat. ‘Fuuuhh! Dia masih saja panik. Dia belum pernah melakukan ini sebelumnya. Jadi wajar saja dia seperti itu. Tapi dia tidak menggangguku, dia hanya bertanya jadi aku masih bisa memakluminya.’
__ADS_1
Dante memaklumi sikap Noel dan tidak mempermasalahkannya karena kini mereka sudah berjalan semakin jauh hingga sampai di tempat tahanan khusus.
“Itu latihan atau sungguhan? Apa ada kebakaran benaran? Apa karena listrik konslet?” tanya seorang penjaga yang mengira bahwa Dante adalah perwakilan dari gedung depan dan dia terlihat bersikap hormat pada Dante.