
“Kau ingin aku membukakannya?” Bella langsung bertanya dengan cepat tak ingin melewatkan kesempatan didepan mata yang sudah ditunggu-tunggunya sejak tadi.
“Bukankah itu yang selalu kau lakukan Bella?”
“Oh, sebentar!” ucapnya memilih membuka bagian bawah dulu sehingga dia sudah polosan baru dia memgang kemeja Dante.
“Apa yang ada di imajinasimu?” tanya Dante lagi.
“Tentu saja kotak-kotak ditubuhmu Dante! Bagaimana rasanya jika aku mengeluarkan cairan kepuasanku sambil meremas itu?” tanya Bella dengan sekenanya.
“Pffff! Bisakah kau bicara lebih sopan padaku? Bagaimanapun usiaku terpaut lebih sepuluh tahun.”
“Hihihi….aku wanita penggoda Dante! Aku tidak bisa sopan kalau sudah melihat yang kotak-kotak begini.” celetuk bella tanpa peduli raut wajah Dante yang mulai geram.
“Bisakah kau lebih sopan bicara padaku Belinda? Setidaknya hargai aku karena usiaku lebih tua darimu!” ujar dante menahan rasa geramnya.
“Hihihi…..”
“Kenapa kau malah tertawa? Apa ada yang lucu Bella?”
“Tidak apa-apa Dante! Apa kau harus memanggilmu sugar daddy karena usiamu?” Bella malah mengigit bibir bawahnya sehingga membuat Dante semakin gerah menahan gairahnya.
“Apa yang ada dalam pikiranmu? Tak bisakah kau berpikir sedikit menjauh dari pikiran seperti itu?”
Dante kembali merasa geram, rasa lapar dan gairah membuatnya kembali kehilangan akal sehatnya. ‘Dia sudah kembali menyebalkan seperti biasanya,’ gumamnya didalam hati.
“Entahlah Dante! Aku sebenarnya uhm….”
“Jangan membuatku menunggu, katakan apa yang mau kau katakan dan jauhkan tanganmu dari tempat itu Belinda!” ujar Dante karena Bella justru memutar-mutar jarinya di salah satu puncak dadanya yang kini semakin membusung membuat pria itu meneguk salivanya.
“Hmmm….melihat ini saja sudah membuatku tak waras Dante! Aku sudah kedutan, bagaimana nanti kalau aku sudah buka pakaian bawahmu? Aku tidak bisa berpikir kalau aku harus membuka celanamu. Pasti aku…...” Bella tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Diam! Aku tidak mau membuang waktuku lagi untuk memasak dan makan. Karena kau tidak mau membukanya! Ya sudah! Masak sop ikannya begini saja.”
“Eh jangan! Masa aku tidak bisa melihat itu? Aku mau membukanya!” Bella langsung menghadang Dante dengan penuh harap menggoda pria itu.
“Fuuuhhh! Lakukanlah kalau begitu. Jangan membuang waktuku lagi.” Dante bicara malas-malasan. ‘Cih! Tadi dia tidak mau aku apa-apakan! Tapi sekarang tiba-tiba dia bertingkah begini! Aku jadi heran, apa dia hanya pura-pura saja?’
‘Saat bersama Alex dan tadi saat aku mengambilnya dari Alex pun dia masih bersikap seprtti wanita dewasa yang lebih mengutamakan anak. Dia bahkan tidak mau kusentuh! Dia lebih senang tidur bersama anaknya. Tapi sekarang setelah sedikit saja rangsangan kuberikan, dia menyentuh bagian atas tubuhku lihatlah bagaimana dia bersikap genit dan menggodaku!’
Dante masih bingung dengan sikap ambigu wanita itu, cara Bella memperlakukannya dan semua yang telah Bella lakukan dalam satu jam terakhir ini belum bisa dimengerti oleh Dante.
“Ehm…...”
“Apa yang sedang kau pikirkan Belinda?” tanya Dante lagi ketika wanita itu hanya menyisakan kain segitiga yang menutup tubuh Dante.
“Aku tidak tahu! Ehm….itu kira-kira muat tidak ya masuk kedalam mulutku?” bella meringis menatap boxer Dante, untung saja liurnya tidak sampai menetes.
“Berapa lama lagi kau mau memperhatikan itu?” tanya Dante.
“Eeeh, apakah harus membuka yang ini juga?” ucap bella dengan tatapan mata penuh gairah.
“EH, iya aku mau!” reflesk Bella menaruh kedua tangannya dipangkal kaki pria itu.
“Lagi-lagi kau jual mahal dan memperlambat ku untuk memasak makanan untuk kita. Aku sudah kelaparan Belinda! Apa kau paham?”
“Aku tidak jual mahal!” mata Bella mengerjap sambil menarik turun perlahan boxer pria itu.’Aduh, makin kedutan, makin tidak jelas….duh….masih tidur! Dia mau bangun tidak ya kalau kusentuh?’
“Kau mau apa itu Belinda?”
“Eeehe…tidak!” ucap Bella gagap menggigit jari telunjuknya. ‘Uhhh padahal tadi sudah hampir menyentuh itu! Aduh, nanggung mau pegang saja tidak dikasih!’ omelnya dengan kesal didalam hati.
“Angkat tubuhmu dari posisimu berlutut itu! Kita masih banyak pekerjaan.”
__ADS_1
“Iya.”
‘Aduh nanggung! Masa aku pegang sedikit saja tidak boleh?’ Bella berdiri dengan perasaan tidak terima karena dia masih ingin berlutut dan memandangi sesuatu yang menggodanya. Sesuatu yang membuatnya melambung tinggi dan merasakan kepuasan.
“Ayo masak!”
‘Hah? Ayo masak? Haaaa! Apa dia tidak tahu kalau aku sudah basah? Kenapa yang dipikirannya hanya perutnya saja terus? Memangnya dia tidak tahu kalau aku sudah ingin itu?’ ocehnya dalam hati.
“Haaaa? Kau langsung mau masak? Kau tidak mau menengok bayimu dulu?” tanya Bella lagi.
“Memangnya kau tidak lapar? Anakmu tidak lapar?” tanya Dante lalu membuka kulkas.
“Waaaahhh!” teriak Bella dengan girang.”
Dante tidak jadi mengambil sesuatu dari kulkas ketika mendengar teriakan Bella, pandangannya menjurus pada wanita itu, awalnya dia khawatir kalau wanita itu kenapa-napa tapi kemudian dia memutar bola matanya. “Bella, apa kau tidak bisa berekspresi lebih normal?”
“Dante! Ini buah kesukaanku. Sudah satu bulan lebih aku tidak makan buah ini.” ujarnya ketika melihat buah pisang yang ditata rapi dengan buah-buahan lainnya diatas meja dapur.
“Anthony tidak memberimu makanan?”
“Hmmmm….aku tidak tahu! Aku tidak menyentuh makananku. Orang yang memaksaku makan itu dokter Anna.” jawabnya.
“Memaksa?” kata-kata itu sungguh menganggu ditelinga Dante. Namun Bella nampak biasa saja dan tersenyum menganggukkan kepalanya.
“Iya! Aku sudah bilang sama Anthony kalau aku mau makan masakanmu tapi….tidak ada makanan yang seperti buatanmu yang diberikannya padaku. Aku tidak selera makan dan perutku mual!” ucapnya dengan tangannya sudah membuka satu buah ingin memakannya, “Kau mau juga?”
“Tidak! Kalau kau memang suka, makanlah!” ucap Dante yang ingin mengambil barang dari dalam kulkas tapi…..”Bella! Kau makan dua pisang sekaligus?”
“Iya!” jawabnya menatap pria itu sambil tersenyum. “Aku suka kalau makan pisang ditangan kanan dan ditangan kiriku dua-duanya ada. Aku bisa gantian makan, aku pernah lihat kebiasaan ini dilakukan seekor monyet dikebun binatang! Lucu sekali! Apa benar yang dikatakan ilmuwan bahwa manusia adalah keturunan mereka? Kita punya beberapa sifat yang mirip mereka loh.”
“Cih! Keturunanmu saja! Aku tidak mau disamakan dengan monyet!” Dante tadi sudah mau mengambil bahan makanan untuk dimasaknya akhirnya kembali menutup pintu kulkas dan mendekat pada Bella yang duduk disebelah meja melihat bella makan dihadapannya.
__ADS_1
“Kau mau makan pisang?” tanya Bella yang sudah menghabiskan setengah pisang ditangan kanan dan kirinya.
“Tidak!” Dante bicara sambil menatap Bella dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya. Entah apa yang ada dalam pikirannya tapi sikap Dante ini membuat Bella mengeryitkan dahinya.