PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
Bab 6. Melahirkan Kenangan


__ADS_3

"Ibu pergi umroh saja. Ngapain ditunda?"


"Tapi kamu sudah hamil tua, Lodi."


"Ya memang. Tapi kesempatan ini juga langka. Percayalah, Lodi akan baik-baik saja."


Wanita tua itu memandang Lodi lekat. Dia memenangkan undian Pertamina. Umroh bersama suami. Tapi jadual itu datang saat kedua anaknya hamil tua. Yang satu janda pula. Hari perkiraan lahir sudah begitu dekat.


"Justru di sana Ibu bisa mendoakan aku. Juga Nada. Untuk keselamatan aku dan Nada. Kebahagiaan aku dan Nada."


Ibu memeluk Lodi. Anak tirinya yang sulung ini luar biasa. Meski si adik sudah menyakiti luar biasa, rasa sayang itu tetap ada. Meski secara lahir sikap Lodi ke Nada berubah, tapi ibu tahu betul hati sulungnya ini sulit berubah arah.


"Ya sudah, ibu berangkat. Nanti Ibu titipkan kamu ke Santi."


Lodi mengacungkan jempol kanan.


Syukuran kecil-kecilan berlangsung menjelang keberangkatan ibu dan bapak ke tanah suci. Nada dan Sumbang hadir. Ada mama juga.


"Lodi, kalau ada apa-apa hubungi Sumbang. Bagaimanapun, itu anaknya," bisik ibu.


Kali ini ekspresi Lodi datar. Sedikit manyun.


"Lodi, apa perlu mama menginap di rumah kamu?"


"Terima kasih, nggak usah, Mama. Ada Santi yang siap kurepoti."


Nada hanya menunduk diam mendengar semua percakapan itu. Mama masih belum mau menyapa dia.


"Mama pulang dulu. Ada apa-apa jangan ragu telpon Mama, ya?"


"Iya, makasih, Ma," kata Lodi sambil mencium tangan mama.


"Nada ... Mama mau pulang,"panggil Lodi tiba-tiba.


Mama spontan menoleh kaget ke arah Lodi. Ekspresi mendadak kaku. Lodi membalas dengan senyuman manis. Raut mama mendadak melunak.


Penuh ragu Nada mendekati mama, lalu mengulurkan tangan mengajak salaman. Tanpa kata satu pun mama membiarkan tangannya dicium Nada.


"Terima kasih, Mama,"ucap Lodi lirih.


Mama membalas dengan senyuman tipis. Sedangkan Nada tertunduk. Ada air mata yang sekuat tenaga ia tahan.


'Mbak Lodi ....' jerit Nada dalam hati.


Ini hari keempat ibu dan bapak berangkat ke tanah suci. Lodi di rumah sendiri.


"Selama ortumu pergi, aku takkan jauh dari gawaiku. Jadi begitu kamu telpon, aku respon," janji Santi.


Lodi tetap menyibukkan diri di kios. Mengepak barang. Melayani pembeli. Hari itu pembeli lumayan ramai.


"Zula, kok tiba-tiba perutku mules ya."


"Kecapean. Ibu duduk aja. Zula bisa kok, sendiri."


Lodi manut. Dia duduk di pojok toko. Mules itu hilang. Tapi hanya sebentar. Sepuluh menit kemudian, mules lagi.


"Bu, sakit banget ya?" tanya Zula khawatir.


Lodi hanya meringis.


"Mau lahiran mungkin. Ayo segera ke rumah sakit saja."


Lodi hanya mengangguk.


"Aku panggil Pak Sumbang?"


Lodi menggeleng kuat.


"Juki?"


Lodi mengangguk meski ragu.

__ADS_1


Zula ikut memucat. Tapi dia segera bertindak cepat.


"Juki, kamu di mana? Ke kios gih, cepet. Bu Lodi kayaknya mau lairan."


"Apa? Aku segera ke sana."


Lima belas menit kemudian Juki datang. Lalu segera memanggil taksi online. Menggandeng Lodi masuk mobil.


"Kita ke klinik bersalin dr. Rahma," perintah Lodi sambil memegang perutnya.


Klinik dr. Rahma tidak jauh. Hanya dua puluh menit sudah sampai. Tapi sepanjang jalan Lodi mengerang kesakitan.


"Pak, istrinya sambil ditenangkan. Dilap keringatnya," kata Pak Sopir memberi masukan.


"Tuh ada tisu," kata Pak Sopir lagi.


"Eh, iya," sahut Juki gugup.


Ia menarik tisu lalu mengelap kening Lodi yang penuh keringat. Saat itu juga kontraksi datang.


"Ya Alloh ...." rintih Lodi. Tanpa sadar tangannya mencengkeram erat tangan Juki.


Juki diam. Seumur-umur belum pernah menemani wanita mau melahirkan. Sepertinya memang sangat sakit. Lodi yang biasa tenang saja sampai segininya.


Sampai rumah sakit Juki segera mendaftarkan Lodi.


"Nama istri?"


"Melodi. Tapi dia bukan istri saya. Saya pegawainya."


"Yang tanda tangan persetujuan?"


"Saya tidak masalah," Juki menjawab mantap.


Lodi segera dibawa ke ruang bersalin. Juki setia menemani. Sambil telpon sana sini.


"Zula, titip motorku. Kios tetap buka."


"Mbak Santi, Mbak Lodi sudah di klinik. Tapi tidak bawa apa-apa. Baju bayi, baju ganti, dll."


Tiga puluh menit kemudian terdengar tangisan bayi. Santi belum sampai klinik.


"Pak, bayinya sehat. Tapi istri Bapak mengalami perdarahan. Bapak segera cari darah ya?"


Juki mengangguk. "Di mana?"


"Di PMI. Bapak membawa surat pengantar dan sampel darah."


"Saya tunggu, Bu Bidan. Cepet ya."


"Bapak tidak ingin melihat kondisi istrinya dulu?"


Juki menggeleng. Dia bukan siapa-siapa Lodi. Lagian orang melahirkan kan terbuka auratnya. Tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan bahwa Lodi bukan istrinya.


"Darah yang akan saya ambil, lebih bermanfaat daripada saya kan, Bu Bidan?"


Bu Bidan hanya melongo mendengar jawaban yang tak biasa.


***


Juki bergegas ke PMI. Ada tiga kantong darah yang harus diambil.


Tuttt


Tuttt


Tuttt


Nomor tak dikenal. Nomor telepon rumahan.


"Pak Marzuki, bagaimana darah di PMI. Apakah tersedia? Perdarahan istri Bapak sangat banyak."

__ADS_1


Ternyata nomor rumah sakit.


"Ada. Ini sedang dicocokkan."


"Segera kemari ya, Pak. Jangan mampir."


"O, ya."


'Ya Alloh, selamatkan Mbak Melodi,' doa Juki.


"Berapa lama saya menunggu? Pasien perdarahan, nih," seru Juki ke petugas PMI.


"Lima belas menit lagi, Pak."


Juki memanfaatkan 15 menit itu untuk salat. Salat hajat, mendoakan Lodi agar selamat. Juga si bayi.


"Pak, tadi belum sempat lihat bayinya ya? Cakep lo kayak Bapak."


Bidan memberi kabar setelah Juki menyerahkan tiga kantong darah ke rumah sakit. Juki tersenyum kecut.


'Ih, bu bidan ketahuan bohongnya. Gimana bisa mirip aku?'


"Anaknya belum diazani lo, Pak."


"Eh? Baiklah. Saya azani dulu."


Tangan Juki bergetar saat menerima bayi Lodi. Dia dulu terbiasa menggendong keponakan, anaknya Santi. Luwes memegang bayi.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar ..."


Aih, mestinya ini tugas ayah kandung. Juki sih tidak keberatan. Hanya kasihan.


"Ibu sudah rapi. Bapak nggak ingin masuk?"


Juki ragu. Tulisan 'hanya suami yang diizinkan masuk' terpampang nyata. Tapi dia juga ingin melihat kondisi Mbak Melodi. Bagaimana kondisinya? Mbak Santi nggak bisa datang. Anaknya tidur nggak ada yang bisa dititipkan.


Akhirnya Juki nekat masuk. Lodi terbaring lemah. Wajah pucatnya berhias keringat.


"Ini anakmu."


Juki menyodorkan bayi merah itu ke samping muka Lodi. Lodi menoleh. Ingin sekali memeluk tapi tak ada tenaga. Wajah pucat itu tersenyum. Ada air mengalir pelan dari kedua sudut mata.


'Duh Mbak Lodi, jangan menangis dong.'


"Di mana anak saya?"


Tiba-tiba terdengar kalimat tanya yang menggelegar. Yang direspon suara bu bidan saling bersahutan.


"Pak, tidak boleh masuk!"


Sumbang nekat menerobos. Seketika terpaku menatap Lodi yang sangat pucat. Lalu menatap tajam ke arah Juki. Keduanya saling menatap.


"Kamu ngapain kemari?" tanya Sumbang pada Juki. Suara kerasnya menarik perhatian.


"Maaf, Bapak berdua. Keluar!"


Seorang dokter dengan tegas menyuruh mereka berdua keluar.


Juki menyerahkan bayi ke tangan Sumbang.


"Aku sudah mengazaninya. Mau kau ulang?"


Tapi Dokter merebut bayi itu.


"Sekali lagi, kalian berdua keluar!"


Juki manut. Tetap tegap saat melangkah keluar. Sedang Sumbang, bergeming di dalam.


"Panggil satpam!" Sang Dokter berteriak lantang.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2