
‘Memarahimu sangat berat bagiku Mark Sebastian! Apalagi sudah tahu kalau kau adalah adikku. Jadi lbih baik aku menghindari perdebatan denganmu dengan memperdengarkan rekaman itu. Biarlah kau yang menilai sendiri!’ gumam Dante dalam hatinya.
“Dia memang bukan pria yang baik. Aku sudah tahu tentang hal itu Dante!” Anthony memandang Dante dengan marah setelah dia mendengarkan rekaman suara itu.
“Lalu apa masalahmu?” tanya Dante setelah dia mematikan rekaman suara itu. ‘Terbuat dari apa hatimu Anthony? Kau terus saja memaafkan seseorang! Fuuuh! Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?’ bisik hati Dante yang meragukan sikap adikny itu.
“Tentu saja masalahku, aku tidak mau kau melakukan itu padanya! Perbuatanmu itu terlalu kejam Dante! Aku tidak suka itu!”
Anthony menyahuti Dante dengan menunjukkan kekesalannya. Walaupun sudah tidak terlalu menggebu-gebu seperti sebelumnya.
“Lalu apa yang kau inginkan sekarang Mark Sebastian? Jangan salahkan aku jika aku memanggilmu seperti itu! Karena inilah caraku untuk mengenalimu sebagai salah satu anggota keluarga kita.” tanya Dante menegaskan apa yang ada dipikiran Anthony saat ini.
Apa kau tidak bisa berpikir?” tanya Anthony mendengus kesal.
“Apa yang harus aku lakukan menurutmu? Kau sudah mendengar semua yang dia katakan! Aku hanya melawannya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Kau membelanya untuk apa?” Dante bicara dengan intonasi tinggi, tapi itu justru mebuat Anthony menyugar rabutnya. Lalu dia mempossikan dirinya duduk ditangga dengan kepala menunduk.
“Apa yang kau pikirkan sekarang, Anthony?” Dante kembali bertanya sambil mendekat kepada adiknya yang masih menundukkan kepala setelah beberapa menit kedua tangan yang masih ada dibelakang kepalanya.
“Entahlah Dante! Tapi setidaknya aku tida mau melihat itu.” Anthony mencoba menjelaskan pada Dante dengan bahasa yang mudah dimengerti.
“Bagaimanapun aku sudah menganggapnya sebagai ayahku sendiri.”
“Aku tidak pernah menilai buruk, aku merasa bahwa dia adalah orang yang sangat mencintaiKu! Aku hanya ingin tetap menjaga citra baiknya didalam pikiranku karena aku tidak mau membenci siapapun! Tapi kalau sudah begini kejadiannya seperti ini aku bisa berbuat apa?” Anthony bicara sambil menundukkan wajahnya dan dia enggan menatap wajah Dante.
“Sikapmu yang seperti inilah yang akan melemahkanmu Anthony!”
“Aku tahu!” Anthony bicara dengan tegas.
__ADS_1
“Lalu apa mau Anthony?” tanya Dante lagi agak kesal. Dia merasa sangat kesal dengan sikap Anthony yang terus-terusan membela Robert Kane. Dante pun jadi meradang sehingga dia mninggikan intonasi suaranya saat bicara dengan adiknya itu.
“Aku hanya ingin hidup dengan damai! Kalau memang dia sudah berbuat jahat padaku, maka lepaskan saja dia. Aku sudah memaafkannya dan biarkan dia menebus dosa-dosanya pada Tuhan.”
“Tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi Anthony! Selagi dia bisa berbuat seperti itu maka dia akan tetap melakukan hal yang buruk lagi! Dia tidak akan pernah berubah.”
“Sekali dia sudah melakukannya maka dia akan terus melakukannya dan akan mengulanginya selagi dia punya kesempatan! Ibarat seperti orang yang sudah kecanduan ambisi! Maka orang seperti itu tidak akan pernah berhenti sampai dia mendapatkan ambisinya! Dia tidak akan pernah peduli dengan perasaan dan hidup orang lain! Karena dia hanya peduli pada dirinya saja.”
“Dante, tidak bisakah kau berpikir sedikit baik tentang seseorang? Setiap orang punya sisik baik dan sisi buruknya dan bukan berarti mereka tidak bisa berubah!”
“Yang aku lihat adalah orang-orang yang memang tidak akan pernah menjadi baik. Au bertemu engan banyak orang yang bersikap sama buruknya seperti Robert Kane!”
“Dan kau tidak bisa melihat orang-orang seperti mereka ini tulus! Kenapa kau tidak tahu itu?”
Anthony mengangguk dan menatap Dante. “Aku tahu maksudmu. Sudahlah jangan dibahas lagi masalah ini! Semuanya sudah terlanjur terjadi dan tidak mungkin kembali.” Anthony pun berdiri dan menatap Dante.
“Aku mendengar kata-katamu akan membaginya menjadi seratus bagian! Tapi sekarang aku memohon padamu sebagai adikmu, hentikanlah! Sudah cukup sampai disni saja, jangan menodai lagi tanganmu dengan memotong-motong tubuhnya. Itu sangat mengerikan Dante! Dan aku tidak mau mengingat dirimu yang seburuk itu didalam pikiranku!”
“Aku sudah membuangnya, aku tidak akan memotong tubuhnya lagi. Aku sudah puas sekarang?”
“Kalau ditanya puas, ya tentu saja tidak akan pernah puas. Aku ingin dia tetap hidup! Tapi setidaknya kau mnghargaiku untuk tidak memotong-motongnya, itu lebih manusiawi dan aku berterimakasih padamu karena kau mendengarkan ucapanku!”
“Kau ini!” Dante tak banyak bicara, dia justru melangkahkan kakinya menuju keatas, tapi----
“Dante bisakah kau ganti pakaianmu dulu sebelum kau naik keatas?”
“Jangan meprotesku! Aku bisa pergi kemanapun aku mau! Kenapa kau takut dengan darah yang ada ditubuhku?” tanya Dante yang bajunya berlumuran darah.
__ADS_1
“Setidaknya jangan membuat semua orang mengalami mimpi buruk karena melihatmu berpenampilan seperti itu.” ucap Anthony lagi.
“Dimana kau meletakkan pakaianmu? Biar aku ambilkan pakaian ganti untukmu.” kata Anthony.
Dante meletakkan kedua tangan di pinggangnya menatap Anthony. “Kenapa sikapmu sama sekali tidak mirip dengan daddy? Kau cerewet sekali seperti mommy.” protes Dante yang kesal.
“Begitukah? Aku hanya tidak mau kau bersikap seperti itu! Cobalah sedikit lembut.”
Anthony bicara sambil terkekeh melihat Dante yang tampak semakin kesal.
‘Kalau kau sudah seperti ini, sulit bagiku untuk berkata tidak! Kau benar-benar mirip seperti mommy! Bagaimana aku mengatakan tidak padamu?’ bisik hati Dante yang setiap kali melihat mata Anthony, dia merasa terganggu dan sering teringat dengan wanita yang melahirkannya.
“Seperti inilah aku! Kau tidak bisa merubah menjadi lembut atau apapun itu!” akhirnya Dante pun menjawab denga ketus.
“Tapi setidaknya kalau kau memberikan kelembutan dan bersikap dengan lebih baik lagi, itu akan membuat orang-orang disekitarmu tidak mengalami shock therapy!”
“Baiklah. Ambilkan pakaianku! Kau tahu dimana letaknya bukan?”
“Apa pakaianmu ada diruang tidurmu?” tanya Anthony mengangkat bahunya.
“Ya benar. Ambilkan disana.” Dante mengangguk.
“Baiklah akan kuambilkan! Tunggu sebentar.” ucap Anthony yang berjalan menaiki tangga. Tapi saat dia hendak membuka pintu, dia terdiam sejenak lalu menoleh kearah Dante.
“Kita sudah sampai dirumahmu?” tanya Anthony kemudian dia merasakan pesawat yang baru saja landing.
“Iya.” Dante tersenyum padanya. "Kenapa memangnya?"
__ADS_1
“Kalau begitu aku tidak perlu mengambilkan pakaian gantimu! Kau ganti saja pakaianmu didalam rumahmu. Bikin aku repot saja.” ucap Anthony mencibir.
“Sudah tahu, kau malah bertanya! Perjalanan ini tidak terlalu lama bodoh!” ujar Dante terkekeh.