
“Jangan main-main kau Anthony! Jangan berani-beraninya kau menyentuhnya! Aku akan benar-benar memotong tanganmu itu jika kau berani menyentuhnya!”teriak Dante marah.
“Hei tenang….tenang. Kenapa kau harus mengancamku dengan kata-kata mengerikan itu? Kau tidak lupa kan kalau dia bersamaku sekarang? Aku lebih dekat dengannya dan aku bisa melakukan apapun padanya!”
“Anthony! Aku masih membiarkanmu hidup waktu itu! Jadi sebaiknya kau berterimakasih padaku karena kau masih bernapas sampai sekarang! Jangan kau pikir keberadaannya disana, aku tidak bisa membawanya pergi!”
“Kenapa kau tidak menjaga cara bicaramu padaku? Kau ingin aku membiarkan Bella bicara dengan Sky? Kalau kau mau, dia sudah siap bicara. Dia ada dibelakangku.”
Sambil bicara Anthony menggerakkan handphonenya menunjukkan wanita yang ada dibelakangnya dan menaruh handphone itu agak jauh sehingga Dante bisa melihat jelas apa yang sedang dipakai oleh Anthony dan dia duduk dimana.
“Berdiri kau dari sana1” ujar dante.
“Kejam sekali kau! Ini rumahku akau bisa melakukan apapun yang ku mau. Aku juga bisa duduk dimanapun aku suka!”
“Anthony!” geram Dante.
“Bella! Kau ingin bicara dengan Sky?” tanya Anthony pada Bella tanpa mempedulikan kemarahan Dante dan dia membalikkan wajahnya menatap Bella.
“Dimana Sky? Izinkan aku bicara dengannya!” Bella mulai tak sabar.
“Dante! Kau dengar sendiri kan kalau dia mau bicara dengan Sky! Kau sudah menyiapkan Sky didekatmu belum?”
Dante belum menjawab pertanyaan Anthony, dia sedang mengatur napas dan berusaha menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi.
“Anthony dimana Sky-ku?” suara keras terdengar lagi oleh Dante.
“Sebentar aku akan membawa handphone ini padanya.”
“Tenang saja Dante, aku tidak terburu-buru. Pergilah panggil Sky dan menyiapkannya sementara aku harus menyelesaikan urusanku dengan Bella. Jika dia mau bicara dengan Sky.” Anthony berusaha setngah mati menahan dirinya untuk tidak tertawa karena saat ini dia sedang berpikir tentang bagaimana mengerjai Dante.
“Apa maksudmu? Menyelesaikan urusan apa?” mendengar ucapan Anthony membuat dante langsung bertanya dan memandang serius ke layar ponselnya sedangkan Anthony tertawa kecil kepada Dante lalu memalingkan wajahnya pada Bella.
“Bella kau mau bicara dengan Sky?”
“Iya Anthony! Tolong pinjamkan aku teleponya sebentar.” ucap Bella bersemangat sekali.
__ADS_1
“Tenang saja, aku pasti akan memberikan ponselnya. Tapi bisakah kau mengecupku dulu Bella?”
“ANTHONYYYYY! Jangan berani-berani kau menyentuh Bella dan melakukan itu!”
“Hahahaha….easy! Aku hanya bercanda saja. Jangan marah begitu, nanti kau cepat tua!”
“Tidak lucu! Aku bukan orang yang suka becanda dan supaya kau tahu, wajahku tidak akan pernah tua! Aku akan selalu tampan.” ujar Dante penuh percaya diri.
“Kendalikan amarahmu itu dante! Hahaha aku orangnya suka becanda jadi jangan terlalu kau masukkan kedalam hatimu.”
“ANTHONYYYY! Kau benar-benar cari mati ya?”
“Aduh….aku takut sekali! Seram sekali ancamanmu Dante! Aku tidak akan melakukan hal itu walaupun aku mau, jadi kau tenang saja. Aku tidak ingin membuat Bella tambah sakit disini!”
“Sakit?” Dante mengeryitkan dahinya.
“Hmmm! Aku tidak ingin Bella sakit. Waktu aku menyelamatkannya dari tempatmu dan membawanya kesini, dia sangat terguncang. Aku sudah menceritakan semua tentang itu padamu kan? Dia ingin bicara dengan anakmu, dia mencarimu.”
“Jangan banyak bicara lagi. Cepat berikan handphonenya pada Bella!”
“Oke! Aku akan berikan handphonenya pada Bella!”
Ucapan Anthony kembali membuat Dante tersadar, Anthony tidak berbohong, dia memberikan handphone pada Bella. Saat handphone sudah berpindah tangan pada Bella.
“Kenapa kau masih belum kesini juga? Aku ingin bertemu denganmu Dante?” Bella menatap wajah Dante dengan sendu.
“Kau lihat aku masih didalam pesawat? Aku butuh waktu untuk kesana. Tunggulah dulu! Lagipula kau ini aneh-aneh saja, kenapa kau pergi bersamanya kalau kau menginginkanku? Menyusahkan saja.”
“Aku tidak mau pergi! Maafkan aku. Mana Sky-ku?”
“Kau tidak bisa memanggilnya Sky! Dia akan kaget nanti kalau kau memanggilnya begitu. Tetap memanggilnya dengan nama Alex, kau mengerti?”
“Aku mengerti. Apakah Alex akan memanggilku mama? Anakku ternyata masih hidup? Aku merindukannya selama ini.”
“Fuuhh! Nanti, aku harus bicara dulu dengannya. Jangan banyak permintaan padaku! Mengerti?”
__ADS_1
“Tapi aku ingin dia memanggilku mama!”
“Iya nanti Belinda Alexandra Amani!”
“Waaah, namamu Belinda? Bukan Bella?” celetukan Anthony yang masih terdengar oleh Dante.
“Anthony! Kau jangan ikut-ikutan memanggilnya sepeti itu! Aku akan mencincangmu.” ucap Dante.
“Weiiss galak sekali! Hahahaha...” tawa Anthony juga masih terdengar oleh Dante dan dia berusaha mengalihkan pikirannya dari Anthony.
‘Ehm...aku akan mengumpulkan tenagaku untuk menghabisi laki-laki itu! Kalau aku memang tidak sanggup melakukannya, aku akan menyuruh teman-temanku! Anthony, kurang ajar kau! Kau selalu membayangiku dengan ibuku sekarang! Kenapa wajahmu harus mirip dengan ibuku? Keisenganmu dan bahkan tawamu pun persis sama seperti ibuku!’ bisik hati Dante.
Memang wajah Anthony mirip bahkan sangat mirip dengan ibu Dante, cara bicara dan cara menggodanya pun mirip dengan ibu Dante. Ayah Dante adalah orang yang serius kepribadiannya sangat mirip dengan Dante tapi ibunya yang selama ini dirindukannya adalah orang yang ceria dan suka bercanda sehingga suasana rumah selalu mencair. Dan semua itu dia lihat dalam diri Anthony, sejak kehadiran Anthony pun bayangan wajah ibunya selalu memenuhi kepala Dante. Itu yang membuatnya tidak bisa melukai Anthony.
“Sky!….ehm Alex, izinkan aku bicara dengannya Dante! Aku sangat merindukannya.”
“Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya.”
“Kenapa kau lama sekali datangnya? Kau tidak merindukanku?”
“Jangan bertanya macam-macam! Kalau kau ingin bicara dengan Alex, tunggu sebentar!”
“Tapi aku benar-benar merindukanmu!”
“Kau ingin bicara dengan Alex?” Dante menatap layar ponselnya lagi. Dia melihat Bella menganggukkan kepalanya dan tidak bicara apapun.
‘Wanita gila! Dia berani bilang merindukanku tapi dia meninggalkanku dengan Anthony! Arrggg….kalau dia tidak mengingat siapa aku dan dia tidak sedang mengandung anakku, aku tidak akan mau mengikuti semua yang dia inginkan ini!” ucap hati Dante.
Dia marah dan kesal pada Bella, tapi dia juga sangat merindukannya apalagi rasa cintanya kini semakin bertambah besar karena ada bayinya didalam kandungan Bella.
“Kalau kau memang ingin bertemu dengannya, jangan mengatakan hal-hal yang aneh.” ucap Dante sambil membuka pintu kamar Alex.
“Alex!”
“Dia baru saja tidur. Kenapa kau membangunkannya?” Sarah yang tidur disamping Alex terbangun.
__ADS_1
“Sarah? Itu adikku Sarah? Dante, benarkah itu suara Sarah?”