
“Kenapa kau bicara begitu Bella?” tanya Dante.
“Jeff mengatakan padaku kalau dia melakukan semua ini karena aku yang memintanya untuk mencariku dan menyelamatkanku darimu.”
Satu ingatan itu kembali tergiang dibenak Dante saat dia menemui Bella sedang menelepon Jeff.
“Justru itu hal yang terbaik Bella.” ucap Dante tersenyum tipis.
Dante tidak marah pada wanita itu yang membuat Bella menatap Dante dengan tatapan aneh.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Hmmmm….kenapa kau mengatakan itu hal yang baik?” tanya Bella heran.
“Bella, kalau aku tidak bertemu denganmu dan kau tidak menelepon Jeff maka sekarang dia tidak akan menggunakan senjata terbesar yang dia miliki untuk melawanku.”
“Jadi maksudmu kau senang kalau Jeff melawanmu sekarang?” Bella bertanya lagi. Dia tak mengerti dengan jalan pikiran Dante.
“Kau bisa bayangkan bagaimana jika dia tidak terpancing olehku? Dia tidak menggunakan senjata itu. Dia akan melakukan penelitian yang lebih baik dan menyempurnakan semua penelitiannya. Dan dia akan mendapatkan semua hasil penelitian yang sempurna. Itu akan sangat mengerikan, Bella.”
“Maksudmu, Dante? Aku tidak mengerti.” Bella mengerjapkan matanya menatap Dante.
“Maksudku adalah dia sudah bisa melihat kekurangan android-android itu lalu dia akan memperbaikinya. Ini akan buruk! Karena kita akan lebih sulit mengalahkannya.”
“Jadi sekarang kau bisa mengalahkannya?” Bella ingin memastikan. Karena sebenarnya dia juga ketakutan setelah melihat apa yang dilakukan Jeff.
“Ya, aku yakin! Aku tahu apa yang harus kulakukan. Apalagi kau sudah menceritakan padaku tentang remote itu. Aku akan memulainya dari sana.”
“Jadi itu bisa membantu?” tanya Bella menatap suaminya.
Dante tidak menjawab pertanyaan Bella, dia malah menarik istrinya kedalam pelukannya. Bella merasa sangat nyaman dan tersenyum memeluk Dante.
“Aku pikir aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi, Dante.” mata Bella sudah berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Dante.
“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja.”
‘Semua kata-katamu ini manis sekali Dante! Aku menikmatinya, membuatku melayang. Aku bersyukur bisa kembali padamu dan melihatmu lagi. Untunglah Dante bisa menyelamatkan Sarah. Aku khawatir sekali adikku tidak akan selamat.’ pikirnya.
Mengingat Sarah, membuat Bella mendongak menatap Dante. “Dante! Sarah didalam sana masih tidak keluar-keluar dari tadi.”
“Biarkan saja Bella.” jawab Dante dengan santai.
"Jangan ganggu mereka. Toh mereka saling mencintai."
“Apanya yang dibiarkan! Bagaimana kalau mereka melakukan sesuatu, Dante?” Bella sangat marah mendengar ucapan suaminya yang tak mempedulikan adiknya.
__ADS_1
“Maksudmu apa?” Dante memicingkan matanya menatap Bella.
“Adikku masih berusia enam belas tahun.” kata Bella. "Dia masih terlalu muda untuk cinta-cintaan!"
“Iya aku tahu itu, tapi adikmu menyukai Barack. Biarkan sajalah! Tidak ada yang salah!”
Bella melepaskan tangan Dante lalu dia bebralik menuju kearah kamar mandi.
BRAAKKKK!
“Kenapa kalian tidak kelaur-keluar? Oh Tuhan, apa yang kau lakukan pada adikku?” Bella melotot saat melihat pemandangan didepannya.
“Bella sudah kubilang jangan masuk kesana.” ucap Dante.
Bella yang sudah tidak tahan lagi tak mengindahkan ucapan Dante. Dia langsung membuka pintu yang belum ditutup dari dalam.
“Bella, kenapa kau mengganggu?” pekik Sarah yang kaget.
“Akkhhh! Apa yang kau lakukan pada adikku?” Bella menatap tajam pada Barack.
“Bella!” Dante meneriaki istrinya itu. Lalu dengan cepat dia menggendongnya.
“Dante! Turunkan aku! Apa yang dilakukannya pada adikku?”
“Sudah kukatakan padamu, ayo keluar.” ucap Dante yang menarik Bella keluar tanpa menatap kearah kamar mandi karena dia sudah tahu apa yang sedang terjadi didalam sana.
“Baiklah Dante.” sahut Barack.
“Tapi…..”
“Kita lanjutkan nanti! Kau sudah gila! Dia tidak bisa melihatmu dengan…..” Barack membawa Sarah kembali kebawah pancuran dan membersihkan tubuhnya lalu memakaikan bathrobe pada tubuh mereka masing-masing.
“Jangan lihat-lihat.” kata Barack.
“Kenapa memangnya? Tidak boleh?” ucap Sarah.
“Nanti pikiranmu kemana-mana. Kau sudah kuberikan tadi.” balas Barack.
Sarah dengan isengnya melihat kearah sesuatu ditubuh Barack. Tapi pria itu membalikkan tubuhnya tidak mau membiarkan Sarah melihat bagian bawahnya. Hal itu membuat Sarah mencembungkan pipinya saat Barack menarik tangannya.
“Apa yang kau lakukan dengan adikku?” tanya Bella marah saat dia melihat Barak dan Sarah keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe dengan warna yang sama.
“Aku akan menikah dengan adikmu,” jawab Barack.
“Tapi usia adikku masih enam belas tahun.” ucap Bella.
__ADS_1
“Bella, aku sudah mau tujuh belas tahun. Tidak lama lagi.” Sarah mengingatkan kakaknya.
“Kenapa kau kebelet sekali ingin menikah dengan Barack?” Bella mengomeli adiknya.
“Karena aku mencintainya. Kau tidak boleh melarangku Bella. Aku suka dengannya dan aku ingin menikah dengannya.” jawab Sarah.
“Sarah! Kau tidak tahu apa yang terjadi pada orang yang sudah menikah?”
“Paling punya anak! Tidak sulit kan?” Sarah menjawab sekenanya.
“Bukan itu saja Sarah! Masih banyak hal lainnya yang harus kau pikirkan sebelum menikah!”
“Lalu apa? Urusan ditempat tidur?” Sarah mencibir dan mendengus kesal.
“Ya Tuhan! Pikiranmu itu bukan hanya masalah urusan ditempat tidur dan punya anak saja.” pekik Bella menatap tajam adiknya.
“Sama dengan pikiranmu Bella.” Dante memotong sebelum Bella melanjutkan kalimatnya. Bella pun menatap suaminya dan ingin bicara lagi.
“Diam!” Dante menatapnya tajam dan menaruh jari telunjuknya dibibir wanita itu.
“Kau dan Sarah tunggu disini bersama Alex! Aku akan bicara dengan teman-temanku. Kami punya masalah yang lebih serius untuk diselesaikan Bella! Apa kau ingin masalah tak penting ini? Sehingga kejadian yang buruk bisa saja terjadi kapanpun?”
Bella menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau itu terjadi Dante. Aku tidak mau kau mati Dante.”
“Kalau kau tidak mau aku mati maka jangan ributkan masalah sepele seperti itu. Tunggu disini.”
Lalu Dante menatap Barack dan berkata, “Kau ikut aku. Kita selesaikan masalah kita.”
“Ayo Dante.” Barack melepaskan kalung yang dikenakan oleh Sarah.
“Dante, kau juga mengambil jammu?” tanya Bella.
Dante melirik Bella dan mengangguk.
“Oh, aku lupa. Aku akan melepasnya.” Bella pun melepaskan jam tangannya lalu memberikan pada Dante. “Ini jammu.”
“Kau masih harus tetap memakainya Dante.” ucap Barack membuat Dante menatapnya sambil meringis. “Tanganmu terluka?”
“Hmmmm!” Dante mengangguk.
“Ohhh itu tidak bagus Dante!” Barack melihat kearah tangan kanan Dante. “Kau tidak bisa memakainya Dante.” ucap Barack dengan tatapan serius.
“Lalu bagaimana?” tanya Dante.
“Aku juga tidak bisa memakainya. Hanya kau yang bisa memakainya.” Barack dan Dante tampak pusing dan jam itu belum dipakai Dante karena Barack sepertinya tidak yakin kalau jam itu masih bisa dipakai Dante atau tidak. Karena akan berbahaya baginya.
__ADS_1
“Aku saja yang pakai.” Bella mencoba memberikan solusi.