
Aku masak tom yam. Mau?" Santi menawarkan pada Lodi.
Aroma kaldu udang segar bersatu dengan bumbu sungguh menggoda.
"Jelas dong."
Lodi menarik kursi dengan bersemangat. Santi mengambil mangkok dan sendok.
"Hm, aromanya..." kata Lodi sambil terpejam. Hidungnya mengendus penuh gairah.
Santi tersenyum melihat antusias Lodi. Tidak sia-sia sesepagi sudah ke pasar mencari udang dan cumi segar.
Hoek ....
Hoek ....
Baru dua sendok kuah tom yang masuk, Lodi mual. Berlari meninggalkan tom yam. Lalu muntah di kamar mandi.
"Lod, kamu kenapa? Perasaan tom yam-ku baik-baik saja. Udang dan cumi yang kupakai segar semua."
Lodi menggeleng. Wajahnya pias. Tom yam yang tadi menggoda sekarang sangat mengerikan.
"Lod, jangan-jangan kamu ...."
Muka Lodi terlihat semakin pucat. Santi tak sampai hati menyelesaikan kalimatnya. Lodi mendongak. Wajahnya semakin pias.
"Kapan terakhir datang bulan?"
Lodi menelan ludah,"kupikir karena stress jadi nggak datang bulan."
"Jadi sejak kapan telat?"
Lodi menjambak rambutnya sendiri. Mencoba berpikir kapan terakhir datang bulan.
"Aku punya persediaan test pack. Kamu test ya?"
Lodi setuju. Tak lama kemudian ia melangkah lunglai keluar dari kamar mandi. Pias itu menetap di wajahnya.
"Kamu bener, San. Positif."
Lodi memperlihatkan hasil test pack yang bergaris biru dua. Santi ikut pucat.
"Aku mesti bagaimana?"
***
Nada muntah lagi. Sumbang memijit tengkuk istri barunya.
"Tidak usah banyak pikiran."
Nada mematung. Ayah melimpahkan akad ke wali hakim. Ibu mencium dengan kaku. Tidak ada yang memilihkan baju pengantin. Ibu mertua tidak datang. Bagaimana tidak pikiran?
"Kalau anak kita lahir, semua akan baik-baik saja," hibur Sumbang.
"Periksa yuk, Mas."
"Boleh."
"Ke siapa?"
"Dr. Rahma saja."
Bakda asar Nada dan sumbang periksa ke dokter Rahma, dokter spesialis kandungan perempuan satu-satunya di Pekalongan. Kliniknya selalu ramai.
Usai mendaftar, Nada masuk. Matanya menyapu ruangan mencari kursi kosong yang bisa diduduki. Retina Nada menangkap sosok yang sangat dia kenal.
"Mbak Lodi?"
***
"Serius, Lod?" tanya Santi dengan serius.
"Iya lah. Kau pikir aku halu?"
__ADS_1
"Lalu?"
"Kami saling menyapa seperti dua orang asing yang baru kenalan."
Lodi terdiam. Terbayang olehnya wajah kaget Nada. Seandainya tahu, dia pasti pilih hari lain untuk periksa.
"Mbak Lodi hamil juga?"
Lodi terdiam. Tadinya berniat menyembunyikan ini dari siapapun. Kecuali Santi dan Umay.
"Heeh."
Senyap menyergap. Lodi mencoba mencari majalah. Biasanya benda itu banyak di ruang tunggu dokter. Tapi zaman berubah. Bukan menyediakan buku tapi WiFi gratis.
"Be-ra-pa ming-gu?"
Nada bertanya dengan sangat terbata.
"Entahlah. Mungkin hampir sama denganmu."
Lodi menggeser duduknya ke tepi. Kursi sofa menjadi lebih longgar.
"Duduklah di sini. Kursimu keras."
Nada menurut. Matanya mendadak memanas. 'Mbak Lodi tidak berubah, selalu mencari yang terbaik untuk Nada.'
Klotak!
Kruk yang dipakai Nada terjatuh saat disandarkan ke pegangan kursi. Lodi bangkit dan menyandarkan ke tembok.
"Nad, jangan ngomong ke ibu ya. Maksudku, aku yang ngomong sendiri."
"Ngomong apa, Mbak?"
"Ngomong kalau aku hamil."
"Eh, iy ... iya Mbak."
***
Lodi menggeleng. "Aku nggak lihat dia."
"Kamu nggak nanya Nada dia di mana?"
"Nggak lah. Buat apa ...."
***
Tiga sohib Santi, Lodi dan Umay ngumpul lagi. Kali ini di rumah Umay. Ngerujak bareng.
"Kalau kamu rujuk aja gimana, Lod?" tanya Santi.
"Itu artinya Sumbang harus menceraikan Nada. Dia hanya bisa pilih satu. Kan mereka sodara," jawab Umay.
"O, gitu ya."
"Aku hanya bingung bagaimana mengatakan pada ibuku."
"Lod, kamu sendiri bagaimana perasaanmu dengan kehamilan ini?" tanya Umay.
"Jujur, aku kacau. Aku menunggu momen ini hampir tiga tahun. Tapi begitu hamil ...."
Umay merangkul Lodi.
"Pada saat menunggu itu, apa yang kau bayangkan dengan punya anak?"
"Banyak. Belanja pakaian anak. Ke pantai bertiga dengan Mas Sumbang. Kita hang out bertiga sambil bawa anak masing-masing."
"Kalau kau bayangkan lagi belanja pakaian anak. Juga hang out kita bertiga. Apakah masih berarti buatmu?"
"Jelas masih."
"Nah, Lod. Bayangkan hal yang itu. Agar hatimu juga bahagia. Baru, kausampaikan berita hamil itu ke ibu. Kalau kau sampaikan dengan bahagia, begitu juga ibumu."
__ADS_1
Lodi memeluk Umay. Santi nimbrung memeluk keduanya. Yang namanya sahabat, tak lekang oleh umur.
***
"Dik, kok tadi Mas lihat mobil mbakmu ada di klinik dr. Rahma?" tanya Sumbang.
"Oh, itu. Iya, anu," sahut Nada gugup.
"Dia periksa?"
"E, iya. Ngantar temannya periksa."
Sumbang diam. Nada menghela napas panjang.
'Mas, seandainya kau tahu mbak Lodi juga mengandung anakmu... Apa yang akan terjadi padaku?'
Nada bertanya dalam hati. Pertanyaan yang sangat mengganggu hatinya. Menerbitkan cemas.
'Mas, jangan pernah tinggalkan aku. Aku tak sekuat Mbak Lodi.'
***
Waktu itu uang, kata pedagang. Waktu itu pahala, kata ahli ibadah. Kapan waktu menjadi pedang?
"Maaf, suamiku di rumah. Tiga hari lagi dinas luar. Aku nggak bisa mengantarmu," kata Santi.
"Aku sekarang pagi ngajar quran," kata Umay.
"Oke, no problem."
Pada akhirnya Lodi memilih belanja pakaian bayi sendiri. Tetap berusaha menikmati meski hati kadang masih nyeri.
"Bergembiralah dengan setiap kehamilan yang kita dapat. Alloh mengamanahkan sebuah kehidupan pada rahim kita, para wanita. Bukankah itu tugas yang luar biasa?" Umay bertutur.
Lodi sengaja tidak bertanya tentang jenis kelamin anaknya saat USG. Biarlah jadi kejutan. Toh apapun jenisnya, Lodi tetap memilih warna hijau.
Lodi membeli selimut, kasur kecil, tas tenteng dan beberapa set baju bayi. Sampai di kasir petugas memberi kabar: "Sudah dibayar Bapak itu."
Lodi melihat bapak yang dimaksud. Sumbang.
Keduanya saling bertemu mata. Sesaat. Lodi segera menunduk. Tanpa sadar dia mengelus perutnya yang terlihat membesar. Tidak terlalu kentara juga sebetulnya.
"Maaf, aku baru tahu kalau kau juga hamil."
"Oh."
"Kapan kau tahu kalau hamil?" tanya Sumbang.
"Memang itu penting bagimu?" Lodi balik bertanya.
"Mestinya kau memberitahu sejak awal."
"Untuk apa?"
"Bagaimanapun aku ayahnya, kan?"
Sumbang mengatakan sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Lodi. Spontan Lodi menjauh sembari menyeringai sinis.
"Aku bisa mengurusnya sendiri. Jangan khawatir."
Sumbang tak menggubris protes Lodi. Dia mengambil semua barang yang sudah dibeli. Lalu membawa ke mobil.
Lodi membuka kunci mobil, membuka pintu dan masuk. Sumbang memasukkan barang ke bagasi lalu mendekat ke pintu sopir.
"Hati-hati, Dik." Badan Sumbang membungkuk sehingga wajahnya ada di samping jendela.
Lodi menoleh, menatap Sumbang tajam.
"Ingat, aku sekarang kakak iparmu. Panggil aku Mbak."
Sumbang menelan ludah. Menatap jendela yang perlahan menutup. Mobil itu segera melaju di bawah tatapan mata sendu.
'Ah, andai waktu bisa diputar ke masa lalu ...'
__ADS_1
-bersambung-