PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 394. SITUASI TAK MENYENANGKAN


__ADS_3

“Yang penting aku sudah bicara dengannya dan rasa rinduku sedikit terobati! Oh Barack! Kau akan cepat pulang kan? Aku benar-benar merindukanmu!” bisik hati Sarah dengan tatapannya tertuju pada Henry yang sudah bicara lagi dengan Barack.


 


“Ya, Tuan Barack.” kata Henry sopan.


“Maafkan aku karena aku merepotkanmu. Aku akan menutup teleponnya, terima kasih Henry!”


“Bukankah tadi kata Manuel kalau anda mau bicara dengan saya Tuan? Apa yang ingin anda bicarakan?” tanya Henry yang agak bingung.


 


Karena tadi saat dia bicara dengan Manuel, Barack tiba-tiba memberi isyarat pada Manuel kalau dia mau bicara dengan Henry, ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Tapi saat ini malah sebaliknya, Barack hendak memutuskan panggilan teleponnya.


 


“Aku sudah selesai, terima kasih Henry. Aku kembalikan ponselnya pada Manuel!” ucap Barack. Lalu pria itu pun memberikan ponsel itu kepada Manuel yang berada disampingnya.


“Kau sudah selesai Barack?” Manuel agak bingung seperti Henry juga.


Barack tersenyum dan pergi meninggalkan Manuel yang kembali bicara dengan Henry.


 


“Aku pergi dulu!” ujar Barack yang langsung melangkah pergi.


“Tunggu Barack! Kau lihatlah semua yang ada disana! Aku yakin Dante melakukan yang seharusnya!” ucap Manuel yang membuat Barack menoleh padanya. Setelah itu Barack segera pergi meninggalkan Manuel.


 


‘Sebenarnya tadi aku ingin bertanya tentang Sarah pada Henry. Setiap aku bertanya pada Hans, bukan jawaban yang menenangkanku yang dia katakan. Dia malah membuatku semakin stress! Apa-apaan dia berusaha mau merebut Sarah! Aku tidak akan membiarkan wanit itu bersama dengan laki-laki manapun. Hans….kau ini mengerjaiku saja!’ ucap Barack dihatinya.


 


Hans mengatakan pada Barack kalau Sarah sudah tidak mencintainya lagi. Sarah bahkan memberikan kalungnya pada Dante jadi sampai saat ini Barack itu masih hidup karena Dante yang memakai kalungnya! Ini benar-benar menyebalkan bagi Barack sehingga dia ingin menanyakan pada orang paling jujur dirumah itu yaitu Henry.


 


Kebetulan saat itu dia sedang membicarakan tentang Katarina dengan Manuel saat ingin menelepon Henry. Setelah mendengar ucapan Sarah tadi, Barack pun tak lagi uring-uringan karena sejak kemarin dia sudah tidak tenang selalu kepikiran Sarah dan semua kata-kata Hans padanya.


 


“Sarah! Aku ingin sekali menemuimu. Walaupun aku tidak mengatakan kalau kau akan menjadi kekasihku, tidak untuk sekarang. Aku tidak mau mengganggu masa depanmu tapi mungkin nanti kalau memang tidak ada laki-laki lain yang baik-baik singgah dihatimu maka aku akan datang dan memintamu menjadi kekasihku!’


 

__ADS_1


‘Aahh...asal kau ingat aku tidak akan membiarkan pria manapun mendekatimu dan kalau pun Tuhan memberimu jodoh lain, aku akan selalu mengawasi pria itu! Sekali dia menyakiti hatimu maka aku akan menghajarnya sampai mampus!’ bisik hati Barack yang mencoba mencintai Sarah dalam diam. Ini ada cinta pertamanya meskipun dia suka main perempuan tapi belum pernah ada wanita yang menyentuh hatinya.


 


Barack terus saja memikirkan tentang Sarah sambil berjalan menjauhi tempat itu. Hingga tiba-tiba dia mendengar ada yang memanggilnya. Panggilan itu membuat Barack terhenyak tapi dia tidak menoleh meskipun langkah kakinya berhenti.


Dia membiarkan orang yang memanggilnya datang sendiri.


“Barack!” wanita itu melangkah menghampiri dan kini berada di depan Barack dengan senyum kepalsuan diwajahnya.


“Kau mau apa?” tanya Barack sedikit angkuh dan nada suara yang tinggi.


“Aku sudah mengcopy ini di beberapa fileku. Jadi kalau benda ini rusah aku masih punya cadangan.” wanita itu menunjukkan sebuah rekaman ditangannya sambil tersenyum lebar.


 


“Lalu? Apa hubungannya denganku?” Barack menimpali.


“Kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai rekaman ini sampai di tangan kakakku Jeff? Setelah dia mendengar rekaman ini, apa yang akan terjadi padamu? Dia akan tahu kalau kau mengkhianatinya dibelakangnya dan ternyata kau tidak hilang ingatan! Kau pikir apa kau masih bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup?”


 


Sementara itu disaat bersamaan di mansion Dante. Saat semua teman-temannya sedang menunggu kedatangan Dante di ruang kerjanya.


“Kalau sudah berhubungan dengan Bella, mana mungkin dia sebentar! Pfffh!” jawab Eddie yang lebih memilih mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengusir rasa jenuh.


 


Dia membuka laman sosial media miliknya dan mulai surfing.


“Tapi sekarang situasi kita sedang terdesak!” Hans kembali mengomentari.


“Aku tidak peduli!” ucap Nick yang juga memainkan ponselnya dan sibuk main game online kesukaannya karena sempat tertunda menyelesaikan permainan game onlinenya.


 


“Hei! Kalian berdua ini tidak mempedulikanku? Kenapa kalian berdua hanya melihat ponsel kalin masing-masing?” tanya Hans mengeryitkan dahinya.


“Hans, carilah kesibukanmu kalau kau mau! Kita akan menunggu cukup lama sampai Dante datang kesini.” Eddie membalas ucapan Hans dan dengan santainya dia menaikkan kakinya keatas meja.


 


Eddie mencari posisi nyaman dan menikmati ponselnya sambil senyum-senyum sendirian.


“Apa yang sedang kau lihat di ponselmu?” Hans kembali bertanya dan mengintip ke ponsel Eddie.

__ADS_1


“Bukan urusanmu! Cari kesibukanmu sendiri dan jangan ganggu kami!” ujar Eddie memicingkan matanya dengan senyum dan kembali sibuk dengan ponselnya sehingga membuat Hans mencibir.


 


‘Cih hanya melihat profil wanita-wanita cantik saja dia sudah begitu! Dia pasti ingin sekali itu.’ omel Hans didalam hatinya.


“Eddie benar! Sebentar lagi kita akan menghadapi peristiwa besar jadi lebih baik kau menggunakan waktumu untuk menikmati hidup selagi kau bisa!” Nick menimpali.


 


“Ah, terserah kalianlah!” jawab Hans yang memilih menyandarkan tubuhnya dan berusaha untuk memejamkan matanya sekejap.


‘Aku sudah memberitahu mereka kalau Jeff akan menyerang ditambah lagi akan ada transaksi besar nanti malam! Kenapa mereka masih santai-santai saja?’ bisik hati Hans yang tidak mengerti pola pikir kedua temannya itu.


 


Tapi Hans mencoba untuk tidak mengganggu keduanya, dia berusaha tidur karena tadi malam dia memang kurang tidur. Saat dia baru saja memejamkan matanya dan hampir tertidur, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Suara ponsel itu mengganggu Hans sehingga dia kembali terbangun sambil memutar bola matanya dengan kesal.


 


Drrettttt  dreeeetttt dreeetttt


“Apa-apaan ini?” ujarnya sambil mengambil ponselnya dari saku celananya dan melihat layar ponselnya. Dia menghela napas panjang lalu meletakkan ponselnya ditelinga.


“Orang penting Hans?”


“Iya sepertinya begitu! Aku mengenal nomor ini.” ucap Hans. “Ada apa kau menghubungiku Barack?”


 


Mendengar Hans menyebutkan nama Barack, kedua temannya yang tadi sibuk dengan gadget masing-masing pun langsung meletakkannya dan menatap Hans dengan serius.


“Apa benar itu Barack? Pasang speaker!” pinta Eddie.


“Iya aku juga ingin bicara dengannya.” ucap Nick ikutan bicara.


 


“Barack, kau sudah mendengar bukan apa yang mereka inginkan? Aku speaker ya?”


“Lakukanlah apa yang kalian mau!” jawab Barack. Suaranya terdengar lemas mendengar ucapan teman-temannya, muncul senyum diwajahnya karena dia sangat merindukan sahabat-sahabatnya.


 


‘Apa yang sedang kalian lakukan disana? Sepertinya mereka sedang rapat! Pasti mereka menunggu Dante? Pria itu tidak akan cepat menghubungi kalian karena tadi dia baru saja selesai menghubungiku dan mungkin saja dia sedang sibuk dengan Bella! Hahahah.’ ujar Barack dihatinya tertawa pelan.

__ADS_1


__ADS_2