
“Hei darimana kau mendapatkan jam tangan itu?” tanya Omero terkejut melihat jam tangan Sarah.
“Jam tangan ini? Ini punyaku.” jawab Sarah lalu mendekap erat jam tangannya karena merasa khawatir kalau jam tangannya diambil oleh Omero.
“Iya aku tahu jam tangan itu milikmu. Tapi darimana kau mendapatkan jam tangan itu?”
Omero tak terima dengan jawaban Sarah yang tak menyenangkannya, dia pun sudah melemparkan pertanyaan baru. Jam tangan itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi Omero bahkan pandangan mata Omero tak lepas dari jam tangan yang sedang didekap oleh Sarah.
“Ah, kau jangan khawatir aku mendapatkan jam tangan ini dengan cara yang benar kok! Aku tidak mencurinya!” ucap Sarah memberi penegasan.
“Jelaskan padaku darimana kau dapatkan jam tangan itu!” wajah Omero sangat seerius membuat Dante bertanya-tanya ada apa sebenarnya.
“Ayah?” panggil Dante.
“Nanti aku jelaskan padamu Dante! Tapi tidak sekarang!” Omero bicara dengan bahasa Inggris pada Dante lalu dia kembali mengalihkan pandangannya lagi pada Sarah. “Katakan darimana kau dapatkan jam tangan itu!”
“Jam tangan ini milik mamaku!” ucap Sarah sambil memegang jam tangan tuanya, dia mendekapnya erat masih ragu pada Omero.
“Mamamu….jadi benar kau….tunggu! Berapa usiamu sekarang?”
“Aku lima belas tahun.” jawab Sarah.
“Ah baiklah!” sebenarnya masih ada yang ingin dibicarakan oleh Omero tapi sejenak dia kehilangan kata-kata dan masih memandang jam tangan itu.
“Kenapa denganmu? Apa kau menyukai jam tangan ini? Atau kau pasti mengenali jam tangan ini karena kau mengenali mamaku bukan?” tanya Sarah.
“Apa mamamu pernah bercerita sesuatu tentang jam tangan itu?”
“Jam tangan ini selalu disimpannya. Aku menemukannya setelah mama meninggal.” kata Sarah.
“Meninggal? Jadi dia sudah pergi?” terlihat jelas kepiluan diwajah Omero ketika dia mendengar ucapan Sarah. Lalu dia mencoba menyegarkan diri menatap Sarah, “Katakan kenapa mamamu meninggal?”
“Ehm….itu semua karena ayahku! Ayah bangkrut dan dia mulai merongrong mamaku padahal sebelumnya ayah juga tidak pernah kembali. Mama menghidupi kami dan setelah ayah kehilangan semuanya dia kembali pada kami tapi justru malah menyusahkan mamaku setiap hari. Setiap hari ayah hanyaminum dan berjudi padahal uang yang didapatkan mamaku tidaklah mudah.”
“Siapa nama ayahmu?” tanya Omero.
“Darius!”
__ADS_1
“Apa? Mamamu menikah dengannya?” ada wajah geram ketika mendengar kenyataan itu dari Sarah. “Apakah kau anak Darius?”
“Hmmm….iya kali! Mamaku tidak bilang apa-apa! Memangnya kenapa? Apa kau ayahku?”
“Kurasa bukan! Karena usiamu baru lima belas tahun, seharusnya usiamu sudah diatas dua puluh tahun.” kata Omero.
“Jadi kalau usiaku diatas dua puluh tahun berarti kau ayahku?” tanya Sarah lagi.
“Bisa jadi begitu! Kalau kau ingin tahu kau harus melakukan cek DNA dulu denganku.”
“Isss….kau lihatlah aku benar-benar lokal Indonesia asli! Sedangkan papaku Darius dia blasteran. Aku rasa ayahku bukan Darius karena dia kejam sekali pada mamaku! Jadi aku rasa dia bukanlah ayahku.”
“Apa? Lalu bagaimana mamamu bisa bersama dengannya?” Omero semakin gusar.
“Aku juga tidak tahu karena waktu aku dilahirkan aku belum tahu apa-apa.” jawab Sarah sekenanya.
“Ehm...aku tahu itu! Baiklah tidak perlu memperpanjang itu lagi. Fuhh!” Omero merasa geram sekali bicara dengan Sarah, sejenak dia menarik napas panjang dan pandangan matanya lurus kembali menatap Sarah tanpa bicara apapun.
‘Caranya bicara dan cara dia memprotesku sama persis seperti ibunya! Harusnya aku menyadarinya kalau dia adalah anakmu!’ bisik didalam hati omero kembali menatap jam tangan dilengan Sarah.
“Tidak mau!” Sarah menggelengkan kepalanya lalu memeluk erat lagi jam tangannya.
“Berikan padaku. Aku hanya meminjamnya. Aku tidak akan mengambilnya. Percayalah padaku.”
Tidak ada jawaban dari Sarah tapi dia memicingkan mata menatap Omero.
“Hei...ayolah pinjamkan padaku.” ucap Omero lagi.
“Kau janji tidak akan mengambilnya? Hanya meminjam saja kan?” Sarah mempertegas.
“Iya.” Omero mengangguk dan jantungnya seakan terkena serangan jantung ketika melihat jam tangan yang ada ditangan Sarah mulai dilepaskan. Omero semakin tidak sabaran.
“Cepat berikan padaku!”
“Kenapa tidak minta baik-baik?”
“Aku hanya meminjamnya sebentar ya. Tolong berikanlah padaku!” bujurk Omero yang membuat Dante semakin kesal menunggunya.
__ADS_1
“Aku tidak akan mencari Barack kalau kau tidak memberikan apa yang diminta oleh Omero!”
“Eeehhh iya!”
Sarah agak ngeri juga mendapat ancaman dari Dante lalu dia menatap Omero lagi. “Kau pasti ingin melihat fotonya saja kan?” celetuk Sarah dengan bahasa Indonesia.
“Kau tahu tentang itu?” tanya Omero tak menyangka Sarah tahu perihal foto itu.
“Tentu saja aku tahu! Aku tidak akan merasa mengenalimu kalau aku tidak pernah melihat foto disana.”
“Foto itu masih ada?” senyum Omero merekah.
“Masih!” Sarah membuka jamnya dan membuka tempat rahasia dimana ada sebuah foto dan memberikannya pada Omero.
“Ya Tuhan!” hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Omero dan diapun tersenyum getir. Ini membuat Dante semakin frustasi dan penasaran ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi.
‘Apakah foto itu adalah orang yang dikenal ayah? Tapi siapa orang itu? Apa ada hubungannya dengan Cassandra? Apakah ibu dari Cassandra yang ada difoto itu?’ jujur saat ini Dante mulai menduga-duga karena dia tahu Omero tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun kecuali ibu dari Tatiana dan ibu dari Cassandra.
‘Jadi ibunya Cassandra adalah ibunya Sarah?’ tanya Dante lagi didalam hatinya mencoba menerka-nerka. Walaupun dia tidak mengerti bahasa yang digunakan Omero dan Sarah tapi dari cara Omero memandang foto itu tentu saja membuat Dante merasa penasaran. Bukan Dante saja yang penasaran, bahkan Hans dan Henry pun terlihat tidak tenang karena sama-sama penasaran.
“Kau sudah melihatnya? Cepat kembalikan padaku. Nanti aku lupa kalau kau tidak cepat-cepat mengembalikannya padaku!” kata Sarah khawatir kalau jamnya tidak dikembalikan.
“Sudah!” Omero mengangguk lalu menatap wanita dihadapannya. “Apa kau punya kakak?”
“Punya! Kakakku tadi kan sudah dibilang namanya Bella yang menjadi pengasuh Alex!”
“Oh ya Tuhan! Maaf aku tidak fokus.” ucap Omero sambil memijay dahinya lalu dia memandang Alex dan Dante bergantian. “Kita harus mencari wanita itu.” tegas Omero tiba-tiba.
“Wanita mana?” tanya Dante saat Omero sudah bicara dalam bahasa Inggris.
“Wanita bernama Bella! Apapun rintangannya aku harus mendapatkan Bella!” Omero kembali memberikan penekanan. Dia tidak mau kehilangan putrinya yang sudah dia cari selama bertahun-tahun.
“Oh, aku memang ingin mencarinya.” Dante tersenyum tapi dia membuang wajahnya dari Omero.
“Bagus! Aku akan membantumu. Aku akan melakukan apapun juag untuk menyelamatkannya! Secepatnya mereka harus mengembalikan gadis itu pada kita!”
“Ayah kau kenapa?” tanya Dante yang bingung dengan sikap Omero.
__ADS_1