PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 508. SEDIKIT CEMBURU


__ADS_3

“Henry!” panggilan itu terdengar dari arah belakang Dante dan orang yang memanggil itu langsung memeluk Henry. Rasa rindu terlihat tulus diwajah pria itu. “Aku sangat merindukanmu. Aku pikir aku tidak akan pernah lagi bisa bertemu denganmu! Aku senang sekali bertemu denganmu Henry!” ucap Anthony dengan wajah yang terlihat senang.


“Selamat datang kembali Tuan Anthony! Tapi saat ini anda kembali dengan status yang berbeda! Saya bersyukur sekali bisa bertemu dengan anda lagi!” Henry bicara dengan senyum puas diwajahnya. Lalu Anthony pun melepaskan pelukannya.


“Heeeiiiss pantas saja kau memanggilku dengan sebutan Tuan! Ternyata memang kau sudah mengetahui siapa aku, iyakan?” kata Anthony dengan candaan ringan pada Henry.


“Ehem…..ehem….” Dante berdehem sambil melirik pada dua orang yang sedang berbicara itu sehingga keduanya tidak lagi bicara dan menatap kearah Dante.


“Ada yang perlu saya bantu Tuan?”


“Kau sepertinya terlalu senang bertemu dengan adikku, Henry?” Dante merasa sedikit cemburu karena biasanya yang diperhatikan Henry hanyalah Dante.


“Ah, maaf Tuan! Saya meluapkan rasa senang saya karena bisa bertemu dengan Tuan Mark Sebastian!” Henry mengatakan yang sejujurnya. Karena itulah yang dia rasakan saat ini.


“Kenapa kau belum memakai topeng wajahmu Henry?” Dante mengalihkan pembicaraannya saat dia melihat penampilan Henry yang masih belum merubah penampilannya.


‘Seharusnya aku senang karena kau memperhatikan adikku! Tapi melihat sikapmu yang seperti ini kenapa tiba-tiba saja aku merasa punya saingan? Ah sudahlah! hahaha…..apa-apan pikiranku ini cemburu pada adikku sendiri?’ gumam Dante dalam hatinya. Dia berusaha bersikap tenang dan menepis semua pikirannya tadi. Didalam hatinya, dia malah menertawakan dirinya sendiri.


“Dante! Kenapa kau melepaskan atasanmu semua? Kau pikir kami mau melihat tubuhmu yang berotot itu? Kau mau pamer pada kami semua?” Anthony bertanya sebelum Henry sempat menjawab pertanyaan yang diajukan Dante tadi.


“Kau lihat aku membuka bajuku! Tapi kau tidak tahu tujuannya jadi lebih baik diam saja!” Dante melepaskan pakaian atasnya lalu menyerahkan pada Henry.


“Hati-hati memegang pakaianku itu Henry! Disitu ada sidik jari Robert Kane! Mungkin kau membutuhkannya untuk retina mata juga ada didalam pesawat! Aku juga akan mengirimkan fotonya padamu dan salinan scan-nya.”


“Robert Kane? Apakah dia sudah mati tuan?” wajah henry pun seketika memelas ketika mendengar penjelasan Dante setelahnya.


“Ada apa denganmu Henry? Kau tidak suka aku melakukan itu?” Dante mengerutkan alisnya.


Henry menggelengkan kepalanya, “Bukan begitu maksudku Tuan! Hanya saja saya juga ingin sekali memberikan pukulan padanya!”

__ADS_1


“Hah! Pukulan? Jasadnya masih ada disana kalau kau ingin memotongnya juga silahkan saja!” kata Dante mendengus dan melirik Henry sekilas.


“Dante! Kau sudah bilang padaku kalau kau tidak akan membahas masalah potong memotong tubuh itu lagi!” Anthony melotot pada Dante.


“Ssshshhh jangan cerewet didepanku! Aku sudah membunuhnya dengan senjata kesayangan daddy ku!” Dante memprotes adiknya dan menatap kearah Henry.


“Ehm, baiklah Tuan! Berarti semua masalah dendam anda sudah selesai bukan?” Henry tersenyum mendengar ucapan Dante setelah dia menyelesaikan kalimatnya.


“Hmmmm!” Dante mengangguk. “Tapi sekarang dia meninggalkan masalah! Hatiku sudah  tenang dengan kematiannya tapi sekarang aku masih harus membereskan orang-orang yang ada didepan sana.” ucap Dante.


“Baiklah Tuan! Saya akan membantu anda. Semoga setelah semua ini selesai, hati anda akan tenang dan semua dendam anda terbayarkan Tuan Dante!” ucapan Henry itu tidak mendapatkan respon apapun dari Dante.


Tidak ada lagi siapapun yang bicara dan mereka hanya menatap Dante yang terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu dengan serius.


“Hmmm! Jangan memberikan harapan apapun padaku.” ucap Dante tegas. “Semua ini belum selesai Henry! Aku baru akan tenang dan baru bisa melepaskan semua dendam yang ada didalam hatiku selama bertahun-tahun ini jika mereka bisa memperbaiki nama baik ayahku.”


“Baik Tuan! Saya mengerti.” jawab Henry dan tidak ada lagi yang bicara setelahnya.


Itu selalu membuat Anthony merasa tertarik untuk mencari tahu tentang Dante lebih banyak lagi.


“Fokus saja pada pekerjaanmu sekarang Henry! Suruh orang yang bekerja denganmu untuk mengambil matanya. Aku rasa kau memang akan membutuhkannya nanti.”


“Baik Tuan! Saya akan segera melakukannya!” Henry tidak menyangka dengan ucapan Dante ini.


Sejujurnya kalau harus melihat langsung wajah Robert Kane bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Henry. Kemarahan didalam hatinya masih sama besarnya seperti rasa didalam hati Dante. Tapi Henry tidak punya pilihan untuk hari ini.


”Tentu  satja! Aku tidak ingin rencana kita berantakan karena tidak sesuai dengan data sidik jari juga retina mata yang dimilki federal. Kau akan membutuhkan sidik jari itu saat kau masuk ketempatnya nanti.”


“Baik Tuan!’ Henry pergi dari sana untuk menjalankan misi yang diberikan padanya.

__ADS_1


“Henry! Berapa lama waktu yang kita miliki?” tanya Dante saat Henry sudah berjalan menjauh.


“Dua puluh menit lagi Tuan Dante!” jawab Henry membalikkan tubuhnya menatap Dante.


“Apakah cukup waktu untukmu untuk mendapatkan semua yang kau butuhkan?”


“Ya Tuan! Untuk pemindai jari ini kami hanya membutuhkan waktu kurang dari dua menit. Dan untuk retina mata juga waktunya dua menit.” Henry mengangguk.


“Bagus Henry! Suruh orang untuk mengambilnya didalam pesawat tapi janngan suruh membawa tubuh itu turun dari pesawat! Kau paham kan? Jangan sampai orang yang turun naik pesawat itu mencurigakan sehingga tidak menarik perhatian orang-orang federal diluar sana!”


“Saya paham Tuan Dante! Saya akan atur semuanya dengan baik.” Henry pun mengangguk.


“Ayo turun ikuti aku!” ucap Dante menoleh pada Anthony lalu melangkah tanpa menunggu jawaban adikknya itu. Lalu Anthony tanpa banyak bicara melangkah mengikuti kakaknya yang sudah tidak memakai pakaian atasannya lagi.


“Kita mau pergi kemana Dante? Turun kemana maksudmu?” tanya Anthony kebingungan.


“Tentu saja turun.” jawab Dante singkat tanpa mau menjelaskan lebih lanjut lagi. Lalu dia melirik kearah Noel dan berkata, “Ayahmu juga berada disana. Kau bisa menemuinya dan melindunginya sekarang. Kau juga ikut denganku.” ucap Dante.


“Baik Tuan Dante!”


“Dan kau pergilah membantu Henry! Tanyakan padanya apa yang bisa kau lakukan disana.” Dante bicara pada salah satu anak buahnya yang sejak tadi bersama mereka.


“Baik Tuan!” pria itupun berlari mengejar Henry sudah tidak kelihatan lagi.


“Siapa namamu?” tanya Dante pada pria yang tadi bersama Anthony.


“Aku? Aku temanya Anthony! Namaku Vince!”


Dante mengangguk-anggukkan kepalanya,

__ADS_1


“Vince, apakah kau yang namanya Vince? Orang yang ditawar oleh Robert Kane untuk menemaninya semalam?” tanya Dante tiba-tiba.


“Bagaimana anda tahu tentang hal ini Tuan?” wajah Vince langsung memerah mendengar perkataan Dante itu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Dante akan mengetahui hal itu.


__ADS_2