
“Kau masih bisa punya anak lagi setelah satu tahun kedepan saat kau keluar dari rumahku. Tapi kalau kau begini terus, kau tidak akan pernah bisa keluar dari rumahku.” ujar Dante. Kalimat yang diucapkan Dante langsung membuat Bella mendongakkan wajahnya menatap pria itu dan mencoba melepaskan diri dari dekapan Dante yang duduk sejajar dengannya.
“Ya kau benar. Aku masih muda dan masih bisa punya anak lagi dan aku akan bersama Sarah, satu tahun lagi.” ujar Bella meskipun hatinya sakit dan dia takut salju tapi dia berusaha tegar. Bella menghapus airmatanya dan berdiri dengan bantuan Dante.
‘Ya kau masih bisa punya anak lagi tapi tidak dari pria lain!’ bisik Dante dihatinya.
“Apa kau sudah siap keluar dari sini?”
“Iya Tuan.” jawab Bella mengangguk.
‘Baguslah, dia sudah mulai bisa mandiri dan dia tahu siapa aku. Dia juga tahu kalau istriku mencintaiku, mungkin ini bisa memberi kami sedikit jarak.’ Gumam Dante yang sebenarnya merasa kecewa karena dia tidak akan bisa dekat dengan Bella lagi dirumahnya. ‘Sejujurnya aku masih ingin berlama-lama memeluknya disini tapi dia sudah melepaskan diri dari dekapanku.’
Dante berjalan didepan Bella. “Turun dan ikuti aku. Jangan membuatku bolak balik naik tangga.” pesan Dante. Bella menganggukkan kepala dan mengikuti pria itu.
‘Maafkan aku anakku, kau pasti sangat kecewa dengan mamamu yang tidak bisa melakukan apapun untukmu. Apa kau merindukanku? Apa ayahmu itu orang baik? Aku yakin sekali kalau kau masih hidup kau akan tumbuh jadi anak yang sangat tampan karena aku yakin ayahmu pasti tampan. Dia pernah mengijinkanku memegang wajahnya dan aku bisa merasakan kalau laki-laki itu sangat tampan. Sky, aku titip doa untukmu setiap malam ketika aku menatap langit!’ Bella kembali berbisik pada hatinya dan berusaha menahan tangis.
“Cepat naik dibelakangku.” Dante menunjuk pada buggy.
“Baik Tuan.” jawab Bella mengikuti saran Dante dan duduk di jok belakang sedangkan Dante duduk didepan disamping driver.
‘Salju ini membuatku merinding. Aku masih bisa merasakan sakitnya mengejan saat melahirkan, suara bayi yang terdengar pertama kali ditelingaku, rasa mulas yang tak tertahankan, pegal pinggangku. Tapi semua rasa sakit itu hilang saat mendengar suara tangis anakku. Tapi dia tidak bertahan lama!’ Bella menghapus airmatanya. ‘Aku masih ingat gerakanmu didalam rahimku setiap kali kau bergerak aku mengingat semuanya. Aku sangat ingin melihat wajahmu tapi sampai kapanpun tidak akan pernah bisa.’ Bella berusaha menahan semua perasaannya tapi Dante masih bisa melihat kesedihan wanita itu.
‘Dasar bodoh! Kau sudah memeluk anakmu tadi! Salahmu sendiri melakukan perbuatan bodoh dikamar mandi terlalu lama sehingga kau melepaskan dekapanmu dari anakmu dan membiarkannya pergi dengan istriku. Istriku yang paling baik dan paling menjaga Alex. Hah! Harusnya kau sudah merasa senang karena kau sudah memeluknya sekali, aku sudah mewujudkan keinginanmu bisa memeluk bayi yang kau lahirkan. Tapi lihatlah apa yang kau lakukan sekarang? Malah menangisinya bukannya tersenyum bahagia setelah memeluknya. Kenapa kau tidak sadar kalau Alex itu anakmu?’ Dante bergumam sendiri.
Keduanya diam tanpa berbicara sama sekali sampai mereka tiba di mansion. ‘Wah mansionnya besar sekali! Aku kesasar ngak ya didalam sana?’ gumam Bella saat turun dari buggy. Matanya masih meraj dan udara dingin menusuk hingga ke tulang pun tidak lagi dirasakannya karena ditutupi oleh rasa rindu yang ditahan didalam hatinya.
“Selamat datang Tuan Dante!” sapa pelayan dipintu masuk mansion.
__ADS_1
“Dante!” Tatiana yang duduk diruang tamu pun menengok saat Dante datang tersenyum manis melihat suaminya datang lalu dia berjalan mendekat.
“Kenapa kau disini? Kukira kau menungguku dikamar, sayang?”
“Kau belum datang, aku ingin menunggumu disini. Aku ingin pergi ke kamar bersamamu.” jawab Tatiana dengan senyum diwajahnya yang tak pernah hilang saat bersama Dante.
“Ayo sayang, bukankah tadi kau bilang lelah?” Dante menatap istrinya dengan tatapan sayang dan kekhawatiran.
“Iya sayang, aku memang lelah tapi aku merasa lebih lelah kalau pergi ke kamar tanpamu.” ucap Tatiana manja.
“Hem….ayo sayang.” Dante mengulurkan tangannya pada istrinya.
“Ini Alex. Bisa tolong kau menggendongnya?”
“Ayo Alex, kau mau aku menggendongmu?” tanya Dante membuka tangannya.
“No! Aku mau main sama Bella!” pinta Alex sambil menunjuk pada wanita yang masih berdiri didekat pintu dengan perasaan kalut.
“Kau ingin bersama teman barumu, Alex?” Dante menanyakan anaknya lagi.
“Tapi Dante, kita baru saja sampai rumah. Alex harus beristirahat, perjalanan kita jauh dan aku tidak mau Alex sakit karena jetlag!” Tatiana mengingatkan saat Dante mencoba menanyakan pada anaknya.
‘Huh! Tumben kau meninggikan suaramu Tatiana? Kau sepertinya sangat mengkhawatirkan Alex.’ gumam Dante yang merasa senang ketika bicara menatap Alex dengan kekhawatiran. ‘Kau memang ibu terbaik untuknya Tatiana!’
“Mommy benar Alex. Kau harus membersihkan tubuhmu dan sarapan dulu, setelah itu baru kau bisa bermain dengan Bella. Bagaimana ?” bujuk Dante melihat wajah cmberut anaknya.
“Benarkah kalau aku sudah mandi dan makan aku boleh bersama Bella?”
__ADS_1
Dante tersenyum dan menganggukkan kepala membuat hati anaknya bersemangat dan Alex menatap Bella dengan binar mata bahagia.
“Ya sudah!” Alex pun menganggukkan kepalanya.
“Apa kau bisa memandikan anak?” tanya Dante menoleh pada Bella.
“Ha? Aku?” Bella kaget mendengar pertanyaan pria itu.
“Aku mandi bersama Bella?” tanya Alex yang mengerti kata sederhana yang diucapkan oleh ayahnya, wajahnya tampak sangat senang.
“Dante, dia baru datang kerumah ini. Kenapa kau malah menyuruhnya langsung bekerja? Biarkan dia beristirahat dulu, bukankah dia harus beradaptasi juga dengan tempat ini?” bujuk Tatiana yang kembali merasa tidak suka melihat sikap anaknya.
“Ah kau perhatian sekali Tatiana!” ucap Dante mengapresiasi kebaikan istrinya. Pria itu sangat senang dengan sikap penuh perhatian istrinya. ‘Kau benar-benar menunjukkan kepadanya betapa baiknya dirimu sebagai istriku. Sebenarnya kau memang tidak pernah berpura-pura dan selalu bersikap baik, sesuai keinginanku.’ gumam Dante bangga dengan perasaan senang dihatinya.
“Alex, kali ini kau mandi dulu denganku ya.” Dante bicara sambil menggendong Alex lalu melirik kearah pelayan. “Tolong tunjukkan kamarnya.”
“Baik, Tuan.” pelayan mengangguk mengerti.
‘Huh! Dia pasti berubah pikiran akrena istrinya terlihat sangat baik padaku! Andai saja dia tahu sifat asli istrinya yang penuh kepura-puraan dan mengancamku. Tapi sudahlah, aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama jika ada wanita cantik yang datang kerumahku dan aku merasa tidak nyaman! Mungkin itu yang dirasakan wanita itu.’ Bella mengangkat bahunya. ‘Lagian bukan urusanku juga, sebaiknya aku tidak ikut campur urusan mereka.’
“Mari Nona, ikut saya.”
“Terimakasih. Jangan memanggilku nona. Aku disini bekerja sama sepertimu. Kita sama-sama pelayan.” ucap Bella berbisik pada pelayan itu.
“Benarkah?” pelayan wanita itu mengerjapkan mata tak percaya.
“Iya. Namaku Bella, aku akan menjadi pengasuh Alex. Siapa namamu?” ujar Bella mengulurkan tangannya, sikapnya yang santai dan ceria membuat orang lain tidak merasa terintimidasi.
__ADS_1
Aku Sharon! Senang berkenalan denganmu. Aku pikir kau kerabat Tuan atau nyonya karena aku melihat wajahmu cukup mirip dengan Tuan Dante dan Tuan Muda Alex.”
“Hahahahah.” tawa Bella pun pecah. ‘Mirip darimananya? Aku tidak mau dimiripkan dengan pria itu.’