PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 169. MAU DADDY DAN BELLA


__ADS_3

“Jadi Alex benar-benar sayang sama Bella?”


Anak itu kembali menganggukkan kepalanya. “Aku sayang sama Bella. Aku maunya sama Bella saja.” Alex menatap wajah Dante.


“Mana yang lebih kau sayangi, aku atau Bella?” sejenak Alex diam dan dia bingung harus menjawab apa. Dia hanya menatap Dante lekat-lekat.


“Kau tidak bisa menjawab?” tanya Dante menatap wajah anaknya.


“Aku sayang Bella, daddy! Aku mau Bella.” jawab Alex.


“Jadi kau tidak mau aku?” Dante bertanya balik.


“Aku mau daddy juga. Aku juga mau Bella.”


Dante tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia hanya mengerjapkan matanya dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi dengan Alex dipangkuannya.


“Daddy ayo kita panggil Bella! Aku mau main sama Bella! Ayo daddy! Kemarin Bella main pianonya pintar, aku yang ajarin main piano.”


“Oh ya? Jadi Bella sudah bisa main piano karenamu?”


“Iya tapi Lorenzo mengganggu Bella.” ucap Alex jujur.


“Lorenzo mengganggu Bella?” Dante mengulang ucapan putranya.


“Iya daddy.” Alex mengangguk. “Kata Lorenzo, Bella itu namanya Alexia! Alexia itu pacarnya Lorenzo! Aku tidak suka!” ucap Alex sambil menggelengkan kepalanya.


“Alex, apa benar dia mengatakan itu pada Bella?” Dante agak terbata-bata bicara dengan Alex. Ada rasa tidak nyaman muncul dan rasa takut yang menyeruak dalam dirinya.


“Iya daddy!” dengan polosnya Alexpun menganggukkan kepala. “Aku ngak mau kalau Bella diambil sama Lorenzo! Soalnya Lorenzo ganggu Bella, Lorenzo cium Bella.”


“Apa? Jadi yang mengganggu Bella adalah Lorenzo?” wajah Dante langsung menggelap karena terkejut mendengar ucapan putranya.


“Iya daddy! Lorenzo ganggu Bella. Lorenzo peluk Bella tapi Bella tolak. Lorenzo juga cium Bella paksa. Lorenzo mau ambil Bella dari aku! Aku ngak mau daddy! Bella punya aku. Bella sayang sama aku! Bella kan teman aku!” Alex bicara dengan wajah sedih. Setitik airmata jatuh dipipinya.


Jegeerrrr


Hati Dante rasanya seakan tersambar petir mendengar ucapan Alex. “Alex, maksudmu Bella diganggu Lorenzo? Bukan Bella yang mengganggu Lorenzo?” tanya Dante lagi. ‘Anakku bukan pembohong, dia selalu mengatakan yang sebenarnya padaku. Dia sangat jujur dan anak pemberani. Dia tidak pernah ingin membela sesuatu tapi dia sangat menyayangi Bella bahkan dia lebih memilih Bella daripada Tatiana? Jadi yang dikatakan wanita itu benar kalau dia tidak menggoda Lorenzo tapi dia yang digoda? Aku tidak mempercayainya karena aku selalu melihat sikapnya yang selalu menggodaku.’ Rasa bersalahpun menyeruak dihati Dante dan saat itu juga dia teringat semua yang dilakukannya didalam sana membuat hatinya semakin nyeri.

__ADS_1


‘Apa yang sudah kulakukan dengan tanganku? Berapa banyak darah yang mengalir dari punggungnya? Apa dia masih selamat didalam sana? Dia belum makan dan belum minum. Dia juga kutinggalkan dalam kondisi tanpa sehelai benangpun dilantai. Diruangan yang paling tidak disukainya, dia pasti kedinginan didalam sana! Semua rasa sakit itu….ah Belinda!’


Tanpa disadarinya, dia sudah berdiri dan membiarkan Alex berdiri disampingnya.


“Daddy, ayo main sama Bella, daddy!” Alex memanggil Dante dengan serius. “Daddy kenapa nangis?” tanya Alex sambil tangan kecilnya menghapus airmata Dante. Dante sudah jongkok sama tinggi dengan Alex. “Aku menangis?” tanya Dante. Suaranya bergetar, rasa takut menyelimuti hatinya setelah mengetahui kebenaran dari putranya.


‘Aku tidak sadar kalau aku mengeluarkan airmata ini.’ Dante bingung karena dia sudah lama sekali tidak menangis, tapi saat ini butiran airmata itu keluar dengan sendirinya seperti rasa sesak yang tak bisa lagi ditahan. Rasa bersalah semakin menyesakkan dadanya dan rasa takut menyelimuti hati Dante. Tubuhnya gemetar dan keringat dingin mulai terasa membasahi keningnya.


“Daddy kenapa nangis?” tanya Alex mengerjapkan mata menatap wajah ayahnya yang masih menitikkan airmata.


“Ah, daddy tidak apa-apa Alex. Ini cuma airmata saja. Karena daddy senang dipeluk Alex.” jawab Dante menutupi kebenaran.


Kebohongan Dante membuat putranya tersenyum bahagia. “Jadi kita ketemu Bella sekarang? Main sama Bella? Tapi Bella tidak ada dikamar, daddy. Tadi aku sudah lihat.”


“Alex, masuklah dulu ke kamarmu ya. Aku akan menjemput Bella, mungkin Bella akan menemuimu nanti sore! Bella sedang sakit dan dia harus diobati dulu.”


“Tapi daddy janji bawa Bella padaku?” tanya,Alex penuh harap.


“Iya, janji.” Dante mengangguk. “Daddy akan bawa Bella padamu. Daddy janji akan membawanya, tunggulah ya.”


“Daddy bawa Bella padaku ya!” Alex dengan wajah memelas dan memohon.


“Iya Alex sayang.”


“Tapi aku tidak mau Bella ketemu Lorenzo lagi! Dia mau ambil Bella dariku. Kata Bella, Lorenzo ngak boleh pegang Bella soalnya ada aku tapi, Lorenzo tetap paksa pegang biar ada aku. Aku enggak mau Bella-ku diambil sama Lorenzo!”


“Iya Alex!” Dante mengangguk paham sambil melihat wajah anaknya.


“Aku antar kekamarmu dulu ya nanti aku bawa Bella.”


Alex pun menurut saja, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Bella sehingga dia percaya pada ucapan ayahnya dan Dante menggandeng tangan Alex keluar dari ruang ekrjanya menuju ke kamar Alex.


“Tunggulah di kamar dulu, nanti daddy ambil Bella dan bawa kesini. Tapi nanti pelayan akan datang membawa makanan buatanku untukmu, kau harus makan supaya nanti kalau Bella sudah datang kau bisa main dengannya.” Dante membujuk dan memberikan harapan pada anak kesayangannya.


“Benarkah daddy?” mata Alex berbinar penuh harap, dia merindukan Bella.


“Hem...tapi kau harus makan makanan yang nanti dikirim padamu ya! Mengerti?”

__ADS_1


“Iya daddy. Nanti aku makan tapi bawa Bella-ku kesini!”


“Baiklah. Tunggu sebentar ya, daddy akan ambil Bella.” kata Dante mengangguk.


Dante keluar dari kamar Alex dan segera bergegas ke lantai dasar. “Norman!”


“Iya Tuan Dante.” Norman sedang ada didapur saat Dante mendekat.


“Siapkan makanan seperti yang kemarin kau buat dan berikan pada Alex, katakan itu aku yang memasaknya!”


“Baik Tuan Dante!” jawab Norman agak gemetaran.


“Kau!”


“Ya Tuan Dante?” pelayan wanita itu kaget dan mengerjapkan mata mendekat pada Dante.


“Siapa namamu?” tanya Dante pada pelayan wanita itu.


“Rita.” jawabnya singkat.


“Nanti antarkan makanan ini pada anakku dikamar! Dan tunggu anakku sampai aku dan Bella kembali. Apa kau paham?”


“Saya mengerti Tuan.” Rita menganggukkan kepalanya masih dengan tertunduk.


Dante pun segera keluar dari dapur setelah selesai bicara.


“Selamat pagi Tuan Dante.” sapa Henry dipintu dapur.


“Selamat pagi Henry. Dua wanita itu sudah kau keluarkan?” tanya Dante.


“Sudah, baru saja Tuan.”


“Bagus! Antar aku kesana sekarang.”


“Baik Tuan.” agak berat hati Henry mengikuti Dante.


“Silahkan Tuan.” ucap Henry setelah sampai lalu membuka pintu. “Oh iya, ini pesanan yang anda minta untuk ditajamkan Tuan.” Henry mengambil sesuatu dari dinding, dia baru meletakkan benda itu disana tadi pagi.

__ADS_1


__ADS_2