PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 190. KEBENARAN MULAI TERUNGKAP


__ADS_3

“Nick! Aku titip anakku dulu ya.”


“Oke, jangan khawatir. Aku akan mengurusnya kalau perlu aku akan bantu memandikannya.”


“Lebih bagus kalau kau bisa memandikannya sesuai ucapanmu!” ujar Dante lalu melirik Henry. “Tolong bantu ya! Nick tidak akan bisa memandikan Alex.”


“baik, Tuan!” Henry menganggukkan kepala, sedangkan Dante melangkah cepat keluar dari kamar Alex menuju keruangannya bersama dengan ahli forensik yang mengikuti dibelakangnya.


Dia sudah menghubungi anak buahnya untuk datang membawakan peralatan.


“Kau sudah mendapatkan data sidik jarinya juga dari piano itu?” tanya Dante setelah membuka pintu kamarnya dan orang tadi tetap mengikutinya masuk.


“Sudah, Tuan. Disana terlihat jelas sidik jarinya!” ucap ahli forensik itu.


“Bagus!” Dante menganggukkan kepala dengan tatapan matanya yang garang. “Sekarang aku ingin kau mengecek disana!” perintah Dante menunjuk kesebuah brankas.


“Itu Tuan?”


“Hem. Tolong cek sidik jari yang ada disana!” perintah Dante lagi. Dia ingin mencocokkan data dihasil forensik dengan sidik jari di kamarnya, apakah cocok atau tidak.


“Baik, Tuan!” pria itu agak khawatir tapi dia pun akhirnya menuruti permintaan Dante lalu mulai memeriksa sidik jari di kamar tidur Dante dan Tatiana. Dante tetap berdiri disana mengawasi setiap gerak gerik ahli forensik yang mengambil beberapa sampel.


‘Aku tidak mau curiga sampai kesini tapi ada beberapa hal yang membuatku harus mencurigaimu! Aku ragu padamu karena Alex. Apa yang kau lakukan padanya? Kau yang mematikan lampu kamarnya dan kau mengambil mainannya karena dia tidur dan main bersama Bella. Lalu sekarang, kenapa golongan darah itu sama seperti golongan darahmu? Aku masih ingat golongan darahmu karena aku yang mengurusmu saat kau melakukan operasi angkat rahim. Aku ingin mencari golongan darahmu dan rhesusnya pun sama sepertimu, rhesus negatif!’ gumam Dante lagi yang kini merasakan sesak dihati.


‘Apakah kau mengkhianati aku dibelakangku Tatiana? Tapi sejak kapan kau jadi berubah begini? Kau yang dulu tidak seperti ini!’ tanya Dante tapi diam hanya membiarkan orangnya bekerja.


“Sudah Tuan!” pria itu berdiri dan menunjukkan apa saja yang sudah diambilnya dikamar Dante.


“Kau sudah mengutip sidik jarinya?” tanya Dante lagi untuk memastikan.


“Sudah semuanya Tuan.” laki-laki itu mengangguk.


“Bagus! Tidak ada yang terlewatkan kan?”


“Iya Tuan.”


“Sekarang ikut aku!” perintah Dante lagi dan dia menuju ke meja rias Tatiana. “Tolong ambil sampel yang ada disana, rambut yang disisir itu maksudku dan apapun yang ada disana yang bisa dijadikan sampel untuk diperiksa.”


Pria itupun melihat ke meja rias lalu menganggukkan kepala lalu menyuruh anak buahnya mengambil sampel yang diminta oleh Dante.

__ADS_1


“Sudah Tuan!”


“Cocokkan dengan hasil tes forensiknya!” ujar Dante.


“Baik, Tuan. Akan kami lakukan segera!”


“Berikan hasilnya padaku secepat yang kau bisa. Aku butu secepatnya.”


“Baik, Tuan. Saya akan memberikan hasilnya besok.”


“Aku mau kau memberikan hasilnya besok pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit!” ujar Dante.


“Baik Tuan. Akan saya kerjakan sekarang.”


Dante tidak mengatakan apapun lagi setelahnya, dia hanya memandang orang dihadapannya dengan serius sekali.


“Jika sudah selesai dan tidak ada lagi yang lain, apa saya bisa pegi sekarang Tuan?”


“Pergilah!”


“Baik, Tuan. Permisi.”


Ketiga orang itupun pergi meninggalkan Dante yang masih berdiri ditempat yang sama dan memandang meja rias Tatiana. Dante bisa melihat jelas refleksi dirinya dari cermin meja rias. “Benarkah itu kau Tatiana? Apa yang kau sembunyikan dibelakangku Tatiana? Apa tujuanmu melakukan semua ini? Apa kesalahanku padamu hingga kau berkhianat dibelakangku?” Dante belum mengerti tapi wajahnya menegang menunjukkan kemarahan lalu dia membalikkan tubuhnya dan menuju kamar tidurnya, mengambil sesuatu disana. Dia memencet tombol dan kini layar monitor laptop menyala.


‘Apa-apaan ini Tatiana? Kau mematikan semua?’ dia merasa bingung sendiri. ‘Aku sempat khawatir kalau kau akan tahu tentang aku dan Bella. Beberapa kali aku masuk ke kamarnya tapi ternyata kau memang tidak akan pernah tahu karena kau tidak mengeceknya karena semua CCTV kau matikan?’ Dante mendengus sambil tangannya terus mengulik laptop hingga dia puas lalu mematikan laptopnya.


“Tidak ada data apapun disini! Sekarang harapanku hanya mencocokkan rambut di sisir Tatiana dan sidik jari di brankas! Kalau keduanya cocok dengan sidik jari diatas piano, kau akan tahu apa yang akan aku lakukan padamu Tatiana! Aku benci pengkhianatan!” ujarnya dengan tangan mengepal Dia hanya duduk diam memandang laptop yang sudah ditutupnya dan kedua tangannnya menekan meja.


Tok tok tok


Suara ketukan dipintu kamarnya membuyarkan lamunan Dante, dia lalu berusaha untuk tenang dan menutupi semua perasaan yang sedang bergejolak dihatinya dan membuka pintu. “Ada apa Henry?”


“Tuan Muda Alex sudah selesai dimandikan, Tuan!”


“Bagus! Berikan dia makan, minta pada Norman untuk menyiapkan makan malam anakku dan katakan itu dariku.” ujar Dante.


Henry mengangguk, ‘Baik Tuan. Akan saya lakukan sesuai perintah.” Lalu Henry pergi meninggalkan Dante yang masih berdiri dipintu.


“Henry! Tunggu sebentar!” Dante tiba-tiba menghentikan langkah Henry lalu dia membalikkan badan menatap Dante.

__ADS_1


“Iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”


“Bisakah kau berkata jujur padaku?”


“Tentu saja Tuan! Saya selalu ingin jujur pada anda dan saya pun tidak ingin menutupi apapun dari anda, Tuan.” ujar Henry. ‘Satu-satunya kebohonganku padamu hanyalah menutupi soal penculikan Bella! Anthony yang menculik Bella dan membawanya pergi dengan bantuanku!’ bisik hatinya tanpa berkeinginan memberitahu kebenaran soal itu pada Dante.


“Kalau begitu bantu aku!” ujar Dante.


“Apa yang harus saya lakukan Tuan?”


“Jawab pertanyaanku dengan jujur, apa pernah kau melihat istriku bermesraan dengan Lorenzo?”


“Tuan, pertanyaan itu---” Henry tak bisa lagi menahan perasaannya dan menunggu penjelasan dari dante tentang maksudnya bertanya seperti itu padanya.


“Jawab aku jujur Henry! Atau kau bersekngkol dengan istriku untuk menutupi semuanya?”


Mata Dante terlihat tenang tapi kata-katanya sangat tajam menohok Henry, hingga pria itu langsung menggelengkan kepalanya.


“Apakah anda mencurigai saya mengkhianati anda, Tuan?”


“Justru karena aku percaya padamu makanya aku bertanya padamu bukannya bertanya pada istriku!”


Henry pun diam dan merenung, ‘Hah, sekarang kau berkata seperti ini Tuan! Kemana saja kau selama ini? Aku sudah sering mengatakan padamu tapi kau tak pernah memperdulikanku dan hanya menganggap ucapanku angin lalu saja!’


Henry sebenarnya sangat ingin tertawa saja mendengar ucapan Dante tapi dia masih memilih untuk menahan dirinya. “Tidak! Saya tidak mungkin berani melakukan itu.”


“Saya sudah bekerja lama pada keluarga anda Tuan. Sejak kedua orangtua anda masih hidup. Dan ketika kedua orangtua anda meninggal hanya saya satu-satunya yang mengurus dan melindungi anda karena anda tidak pernah memiliki teman banyak. Tidak pernah sekalipun saya berniat berkhianat pada anda dan menghancurkan anda, Tuan.”


“Kalau begitu jawab pertanyaanku Henry!” Dante kembali pada permasalahan inti yang ingin dia ketahui kebenarannya dengan bicara pada Henry.


“Kalau soal Nyonya Tatiana, saya tidak pernah melihatnya bermesraan dengan Tuan Lorenzo yang berlebihan Tuan!”


“Tunggu! Apa katamu tadi? Yang berlebihan? Apa maksudmu dengan kata berlebihan Henry?”


“Maafkan saya kalau saya salah bicara Tuan!”


“Jelaskan padaku henry! Aku tidak butuh kata maafmu!” tegas Dante. “Apa maksudmu dengan berlebihan?”


“Hem….hanya sekedar ciuman saja memang saya pernah lihat Tuan tapi saya tidak mau berekspektasi lebih karena mungkin itu adalah sesuatu yang lumrah. Saya juga tidak berani merespon berlebihan.” ujar Henry mengatakan apa yang pernah dilihatnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2