
Mereka pun melanjutkan aktivitasnya hingga keduanya kelelahan dan jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Bella sudah tidak sanggup lagi karena seluruh tenaganya sudah terkuras habis memuaskan Dante. “Aku sudah selesai.” ucap Dante setelah melepaskan untuk yang kesekian kalinya.
“Aku juga sudah lemas sekali Dante! Bagaimana nasib anakku didalam sana?”
“Anakmu tidak apa-apa.” ucap Dante mengangkat tubuh Bella membawanya ke kamar mandi.
“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kita melakukannya berkali-kali. Aku rasa harus pergi ke dokter untuk melihat kondisi bayiku.” ucap Bella.
“Ssssttt….apa kau lupa saat kau hamil Alex? Kita melakukannya setiap malam, kita bahkan melakukannya dua sampai tiga kali sehari. Kau ingat itu?”
“Dante, aku sudah lemas sekali. Kenapa kau tidak membiarkanku tidur saja?” Bella berusaha mengalihkan Dante yang sepertinya ingin melakukannya lagi dikamar mandi.
‘Dante benar! Aku ingat dulu dia selalu menghampiriku ketika aku sedang mengandung Alex.’ bisik hatinya mengingat kembali masa-masa itu.
“Tubuhmu kotor dan berpeluh begitu. Bagaimana kau bisa tidur?” ujar Dante mendudukkan Bella diatas bathtub dan mulai membersihkannya. “Hei...bangun….bangun! Jangan tidur disini.”
“Aku benar-benar lelah sekali Dante!” ucapnya. Setelah dia selesai membersihkan tubuhnya dan tubuh Bella, Dante kembali mengangkat wanita itu dengan kedua tangannya.
“Kau tidak bisa menahan matamu tetap melihatku?” tanya Dante saat dia melihat Bella sudah memejamkan matanya dalam pelukan pria itu.
“Hmmm!” angguk Bella.
“Sepertinya kau belum makan sejak aku pulang. Apa kau mau makan sekarang Belinda? Kau tidak lapar ya? Ingat kalau kau juga harus menjaga tubuhmu dan bayimu.”
“Aku mau tidur.” ucapnya memeluk tubuh polos Dante.
“Fuuuh! Akhirnya kau kehabisan tenaga Bella.” Dante tersenyum puas. “Kalau aku tidak memuaskanmu dengan cara ini kau pasti sudah marah-marah padaku karena wanita itu. Aku tahu kau cemburu padanya! Meskipun kau tahu kalau aku hanya mencintaimu tapi kau masih cemburu sekali.”
Lalu dia membaringkan Bella diatas tempat tidur dan menyelimutinya. ‘Maafkan aku. Aku harus meninggalkanmu disini sendiri dulu. Aku harus pergi melakukan hal yang diminta oleh Barack!’ ujar Dante membiarkan Bella tidur pulas. Setelah itu dia mengenakan pakaiannya. ‘Aku rasa tidak apa-apa meninggalkannya disini ya?’
Ada keraguan dihatinya untuk meninggalkan Bella sendirian disana. ‘Tapi ini tempat teraman untuknya. Aku tidak mau dia berpikir macam-macam kalau dia melihatku pergi bersama Katarina. Dia pasti akan cemburu dan marah-marah! Dia sudah tidur pulas karena kelelahan, dia tidak akan mengganggu dan mengamuk.’ ucap Dante lalu menuliskan pesan yang dia tempelkan ditempat yang mudah dilihat oleh Bella.
__ADS_1
“Aku pergi dulu Belinda!” dia mengecup kening wanitanya lalu meninggalkan kamar itu. ‘Barack, apa sebenarnya yang ingin kau beritahukan padaku? Kenapa kau memberikan kuncinya pada wanita itu dan kenapa kau bilang aku tidak boleh terlambat?’ gumamnya sambil melangkah menuju lift.
“Selamat pagi Tuan.”
“Selamat pagi Henry.” ucap Dante setelah dia keluar dari lift dan bertemu dengan Henry di pintu penghubung mansion dengan bunkernya. Henry sudah menunggunya disana karena ada pengingat di ponselnya yang mengingatkannya untuk menyambut Dante disana. Dia sudah menyetel alarm agar dia bisa tiba disana tepat waktu, Henry sudah memperhitungkan jarak dan waktu tempuh dari bunker menuju ke rumah utama.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?”
“Siapkan kendaraanku Henry! Suruh wanita itu untuk segera turun! Aku menunggunya karena kami harus menyelesaikan urusan penting dan tidakboleh telat untuk sampai ditempat tujuan.” kata Dante menjelaskan. Sebenarnya dia agak cemas mengenai hari ini.
“Baik Tuan!” Henry pun mengangguk lalu pergi untuk menyiapkan semua keperluan Dante.
“Dante!”
Mendengar ada suara yang memanggilnya, Dante pun menoleh.
“Katarina. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai disana?”
“Oke. Mobilku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang.”
“Dante! Apa kau yakin mau pergi dengannya?” Nick memotong pembicaraan mereka.
“Aku menerima pesan seperti itu.” ucap Dante.
“Bisa aku bicara denganmu sebentar?”
Dante melihat jam tangannya lalu berkata, “Baiklah. Tapi waktunya tidak lebih dari satu menit.”
“Baik. Tidak masalah, Dante.”
Lalu keduanya pergi agak menjauh dari Katarina lalu Nick mengutarakan apa yang ingin disampaikan.
__ADS_1
“Cepat katakan sebelum waktumu habis. Aku buru-buru.”
“Kau yakin ingin mengikutinya? Apa ini bukan jebakan? Kau yakin penyamaran Barack tidak akan terbongkar dan diketahui Jeff? Dia memintamu untuk pergi sendirian! Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu sama seperti yang terjadi pada White?” ujar Nick yang mencemaskan temannya.
“Hanya itu yang ingin kau tanyakan?”
“Jika aku tidak kembali kerumah malam ini, segera kau amankan keluargaku, Nick! Dan pimpinlah penjualan senjata, jangan sampai gagal! Ikuti semua kata-kata Omero! Itu saja yang kuminta darimu.”
“Kematian adalah titik akhir dari semua manusia Nick! Jadi tak perlu kau takutkan. Aku pergi dulu. Tolong jaga keluarga dengan baik selama aku tidak ada! Segera kabari aku jika ada hal penting atau urgent.” ucap Dante.
“Dante!” Nick memanggilnya lagi, dia masih mencemaskan sahabatnya itu.
“Nick! Aku titip rumah dan semua yang ada disini.” ucap Dante lalu dia melangkah pergi meninggalkan Nick. Pria itu semakin cemas memikirkan Dante.
“Apa yang akan terjadi pada Dante? Kenapa perasaanku tidak enak dengan wanita itu ya? Semoga saja wanita itu tidak melakukan hal gila yang membahayakan nyawa Dante!’ bisik Nick didalam hati sesaat dia mengingat kembali kejadian tadi malam.
Flashback on
Setelah Dante membawa Bella pergi menuju kamar sementara mereka di bunker. Hanya ada Nick dan Katarina diruang tamu.
“Kenapa kau hanya diam saja disitu? Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan temanku tadi?” tanya Nick ketus pada Katarina.
“Eh! Aku bukan tahanan dirumah ini! Sebaiknya kau bicara yang sopan dan hormat padaku! Aku ini tamu disini, bukankah itu yang dikatakan temanmu tadi? Aku tamu dirumah ini. Bersikap baiklah padaku.” balas Katarina tak kalah ketusnya. Dia bicara dengan meninggikan suaranya sambil berkacak pinggang menatap tajam pada Nick.
“Aku tahu kau cuma tamu disini tapi sebagai seorang tamu tidakkah kau tahu menjaga sikapmu dirumah orang lain? Sikapmu tidak seperti tamu! Karena kau bersikap sangat tidak sopan Nyonya! Kau bahkan menghina Nyonya dirumah ini!” ucap Nick lagi. Dia memicingkan matanya menunjukkan ketidak sukaannya pada Katarina.
“Dimana kamarku?” Katarina mengacuhkan semua ucapan Nick. Dan dia menanyakan kamarnya masih dengan intonasi tinggi. Kemarahannya pada Dante dan Bella sudah tidak bisa lagi dia tolerir. Tamparan yang diberikan Dante padanya menorehkan sakit hati dan luka dihatinya. Katarina adalah tipikal seorang pendendam.
“Kalau bukan karena Dante, sudah kuhajar kau habis-habisan!” ujar Nick memijat keningnya berusaha menahan emosinya yang terpancing. Dia sangat tidak menyukai wanita kasar dan angkuh didepannya ini. Apalagi lagak Katarina seolah dia pemilik rumah ini saja.
“Hei pincang! Jangan pernah bermimpi kau bisa melakukan itu padaku! Berdiri saja kau tidak bisa, masih berani kau mengancamku hah?”
__ADS_1