PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 122. LORENZO


__ADS_3

“Iya. Aku juga sempat berpikir apa mungkin itu mengganggu rencanamu atau tidak tapi aku tidak mungkin melarang dokter itu untuk memeriksa Bella. Tuan Dante bisa mencurigaiku.”


“Ya sudahlah, tidak apa-apa. Apakah hari ini Nyonya membuat masalah lagi dengan Bella?” tanya Anthony lagi sambil menepuk lengan koki itu.


“Tidak! Justru aku tidak melihat Bella keluar lagi dari kamarnya setelah dia bermain bola dengan Tuan Alex.” jawab koki menggelengkan kepalanya.


‘Apa sebenarnya yang terjadi pada Bella? Aku sangat mengkhawatirkannya terutama karena pelayan yang membawa makanan tadi masih belum pulang. Aku harus menanyakan pada mereka.’ gumam Anthony dihatinya, dia masih berpikir mencoba mencari tahu sesuatu. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk mengecek sesuatu.


“Hei, Nyonya meminta makanan dikeluarkan tapi dua saja karena Tuan Dante belum datang.” Rita masuk ke dapur yang membuat Anthony langsung menyembunyikan ponselnya disaku celananya.


“Ini makanannya.” ujar koki menyodorkan dua piring makanan pada Rita.


“Terimakasih ya.”


“Apa ada acara Rita?”


“Aku juga tidak tahu tapi nyonya sedang bicara dengan pria yang mengajari Tuan Alex bermain piano. Mungkin mereka mau makan duluan karena Tuan Dante belum juga kembali.” ucap pelayan wanita itu.


“Ahhh aku tahu pria itu. Guru piano bernama Lorenzo itu ya? Aku merasa Nyonya dan laki-laki itu punya hubungan spesial.” bisik si koki pada Anthony setelah pelayan wanita itu sudah pergi dari dapur.


“Jangan asal bicara soal ini! Darimana kau bisa membuat kesimpulan seperti itu?” Anthony bertanya dengan senyum diwajahnya.


“Aku curiga saja. Namanya juga laki-laki.” ujar koki itu tersenyum sambil menghembuskan napas.


“Coba ceritakan lebih lanjut, apa yang kau ketahui.” ujar Anthony lagi semakin penasaran.


“Kau tahu kan kalau Tuan Dante sering sekali pergi dan nyonya sering sekali menemani mereka bermain piano. Kalau misalkan laki-laki dan perempuan didalam satu ruangan walaupun ada anak kecil tetap saja kita risih melihatnya apalagi suaminya tidak ada, bagaimana menurutmu?” ujar koki itu.


“Ah kau ini gosip saja, itu baru pradugamu sajakan?” kata Anthony.


“Ya begitulah!”


“Aku sama sekali tidak yakin kalau nyonya suka dengan laki-laki lain, karena dia sangat terobsesi dengan Tuan Dante! Seperti kau lihat bagaimana dia selalu berusaha memisahkan Bella dengan suami dan anaknya.” kata Anthony.


“Mungkin karena Bella cantik! Tapi aku juga tidak terlalu memperhatikan sampai kejadian tadi malam nyonya memaki Bella.” ujar koki itu lagi.


“Bisa jadi. Tapi bukankah nyonya juga memberikan larangan yang sama pada semua pelayan wanita untuk tidak terlalu dekat dengan Tuan Dante?”


“Iya sih Anthony! Tapi setahuku nyonya sangat baik sekali dengan pelayan laki-laki. Tidak pernah ada pelayan laki-laki yang dimarahi. Kenapa kau tidak berusaha mendekati nyonya?” bisik koki itu tersenyum pada Anthony.

__ADS_1


“Anthony! Kau punya wajah yang tampan, tubuhmu juga atletis. Kau tidak kalah dengan suaminya, kalau kau bisa mendekati nyonya mungkin kau bisa jadi kaya raya Anthony! Kau lebih muda dari Tuan Dante. Pria sepertimu adalah tipikal nyonya!” ujar koki itu lagi terkekeh.


“Hahahaha! Aku tidak berminat jadi pebinor! Sudahlah biarkan saja.” ujar Anthony.


“Jadi kau tidak mau menggunakan kesempatanmu Anthony? Kau akan mendapatkan semuanya dari nyonya, uang berapapun akan dia berikan.”


“Aku tidak minat. Kenapa bukan kau saja yang mendekati nyonya?”


“Aku sudah tua. Aku rasa nyonya menyukai yang muda-muda!” ujar koki itu lagi.


‘Aku malas meladeninya. Tapi aku bisa mencobanya jika memang berguna dan membuatku bisa mendapatkan informasi lebih banyak! Hanya saja aku harus berhati-hati jika ingin berkomunikasi dengan wanita itu, Nyonya Tatiana sangat licik. Sudah tiga bulan aku disini dan sudah sebaiknya aku segera menyelesaikan kasus ini. Apalagi aku sangat ingin menyelamatkan seseorang disini, Bella! Sepertinya dia sangat tertekan disini, dia belum banyak bicara denganku mungkin aku bisa membawanya pergi dari sini setelah pekerjaanku disini selesai.’ gumam Anthony dalam hatinya mulai menyusun rencana.


“Apa yang sedang kau pikirkan Anthony?” tanya si koki lagi.


“Ah tidak ada!” Anthony segera menggelengkan kepalanya.


“Hei kalian masih disini?” tanya Ricci yang tiba-tiba masuk kembali ke dapur.


“Iya Ricci! Kenapa kau kemari?”


“Oh itu! Tadi aku sudah ke kamar Sharon tapi dia tidak ada makanya aku mengecek ulang kesini mana tahu dia sudah ada disini.” jawab Ricci mengomentari si koki.


“Ya aku harap begitu. Tidak biasanya dia pergi tiba-tiba seperti ini! Biasanya dia akan selalu menghubungiku dulu.” jawab Ricci berjalan mendekat lalu duduk bersama mereka. “Apa yang sedang kalian bicarakan tadi?”


Tiba-tiba pintu terbuka dan kepala pelayan memasuki dapur.


“Ah kebetulan sekali kau ada disini Tuan Henry!” Ricci bersemangat melihat orang yang baru datang.


“Ada apa kau mencariku?” tanya kepala pelayan Henry.


“Kau kan kepala pelayan disini, kau pasti tahu siapa saja yang cuti bukan? Aku mencari pacarku Sharon tapi dia tidak ada, aku sudah mencarinya dimana-mana. Apakah kau tahu jika dia cuti hari ini?”


“Sharon? Oh dia meminta ijin tiga hari!” jawab Henry.


“Ijin? Kenapa tiba-tiba dia ijin tanpa memberitahuku ya?” Ricci mulai berpikir.


“Mungkin dia terburu-buru dan tidak sempat memberitahumu.”


“Ah benar juga. Biar aku coba menghubunginya nanti.” ujar Ricci.

__ADS_1


“Aku juga ingin menanyakan tentang Ellie, apa kau tahu dia dimana?” tanya Anthony.


“Dia juga minta ijin tiga hari!” jawab Henry singkat. Ucapan kepala pelayan membuat Anthony melirik Ricci dan keduanya saling tatap. Merasa ada keanehan jika kedua pelayan itu meminta cuti dihari yang sama untuk jangka waktu yang sama. Padahal kedua pelayan wanita itu tidak dekat.


“Apa mereka pergi berdua?”


“Itu bukan urusanku! Yang jadi urusanku hanya mencatat mereka ijin dan aku harus mengurangi jatah Zlibur mereka minggu depan atau mengurangi gaji mereka.” Henry bicara tegas dan dia memang kepala pelayan yang dingin dan kaku.


“Huh, kalau begitu aku tidak akan punya kesempatan bicara dengannya.” ujar Ricci meringis.


“Bersabarlah hingga tiga hari lagi, mungkin saat itu kau bisa meminta penjelasan darinya kemana dia pergi atau kau bisa meneleponnya.” ujar koki Norman memberi saran.


“Hemmm! Anthony….sebenarnya aku kesini untuk mencarimu.” ujar Henry.


“Aku? Kenapa mencariku?” tanya Anthony heran menatap kepala pelayan itu.


“Tuan ingin bicara denganmu. Dia yang memintaku untuk memanggilmu.”


“Ha? Bicara denganku?” Anthony mengulang pertanyaannya.


“Ya betul! Tuan memintamu untuk menemuinya malam ini setelah dia selesai mengurus Tuan Alex.”


Sementara itu dikamar Bella sesaat setelah Dante meninggalkan kamar Alex.


“Alex kenapa kau murung?”


“Aku lapar!” ujar Alex merajuk sambil memegang perutnya, wajahnya cemberut sambil tertunduk lesu.


“Mau aku ambilkan makanan saja didapur untukmu?” tanya Bella ‘Aduh aku tidak tega melihat anak ini yang benar-benar kelaparan. Tadi siang kami tidak makan dan sekarang wajar kalau dia kelaparan. Tapi bagaimana kalau aku turun sekarang kesana? Nanti kalau aku ketemu si brengsek itu pufff.’ oceh hatinya


“Tidak mau Bella!” ujar Alex tanpa menatap Bella, dia menggelengkan kepala dan menunduk.


“Tai kau bilang lapar tapi kau tidak mau makan. Aku jadi bingung Alex!”


“Aku lapar tapi aku tidak mau sendirian disini.” ucap Alex menatap sendu pada Bella.


“Ah…..bagaimana kalau kau minum saja dulu, aku punya air minum saja dikamar ini. Tidak apa-apakan?”


Alex langsung tersenyum dan menganggukkan kepala. Tadi saat makanan Bella diantar pelayan memang ada air minum satu pitcher.

__ADS_1


__ADS_2