
“Pantau terus kamarnya. Sesuai dengan apa yang kuperintahkan padamu. Kalau dia keluar dari kamar segera beritahu henry. Minta Henry untuk membuatnya tenang dan tidak panik.”
“Baiklah. Akan kuberitahukan pada Henry nanti. Tapi mungkin istrimu akan bangun besok pagi.”
“Baguslah kalau begitu. Aku tutup dulu teleponnya.” ucap Dante hendak menutup teleponnya.
“Dante! Ada hal yang harus kuberitahukan padamu.” Nick kembali bicara dengan serius.
“Apalagi yang ingin kau katakan Nick?”
“Rumah kita sudah dikepung! Pihak federal yang melakukannya. Apa yang harus kulakukan?” kata Nick. “Banyak orang dirumah ini! Apakah aku harus mengungsikan mereka semuanya?”
“Untuk sementara amankan orang-orang di mansion. Kau paham kan?”
“Apa aku harus memasukkan mereka semua ke bunker?” tanya Nick.
“Iya. Lalu acak kodenya. Jangan sampai ada pihak luar yang bisa masuk kedalam sana.”
“Oke Dante. Dan apa kau mengizinkan kami untuk menyerang mereka?”
“Aku bukan orang yang suka menyerang lebih dulu! Tapi aku juga tidak suka diusik. Kalau mereka mencoba untuk menyerang maka kalian harus membalas serangan mereka! Jangan biarkan mereka masuk kedalam mansion!”
“Terima kasih sudah memberikan izinmu Dante. Baiklah, sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan! Aku akan memberitahu Henry dulu untuk mengamankan semua orang.”
“Dan jangan lupa Nick! Simpan bukti alasan mereka menyerangku! Itu sangat penting buat kita!”
“Baik. Aku mengerti.”
‘Hari ini adalah hari pembalasan untukmu! Percaya atau tidak tapi aku benar-benar tidak akan berbaik hati lagi padamu! Kau akan merasakan semua pembalasanku hari ini.’ kata-kata itu terngiang dibenak Dante. Dia terus melajukan mobilnya dengan cepat agar segera sampai ditempat tujuannya. Dia sudah tidak bicara lagi dan hanya fokus menatap kedepan.
‘Bella! Semoga kau baik-baik saja disana dan aku khawatir pada seluruh anggota keluargaku. Aku harus segera menyelesaikan misi ini dan pulang kerumah. Tidak boleh ada kesalahan dan kegagalan dalam penyerangan kali ini. Aku sudah merekamnya. Kau pasti tidak menyangka kalau aku merekam semua pembicaraan kita bukan?’
__ADS_1
‘Ini akan menjadi senjataku untuk memperbaiki nama ayahku. Tidak akan ada lagi seorangpun yang bisa menghina ayahku.’ pikir Dante yang memang tadi sudah mempersiapkan semuanya. Dia sengaja merekam pembicaraannya dengan Robert Kane untuk berjaga-jaga saat dia nanti bertemu dengan adiknya.
“Tuan Dante, apakah itu helikopter yang akan membawa kita?”
“Berapa helikopter yang datang?” tanya Dante masih fokus menyetir.
“Kalau dari suaranya sepertinya lebih dari satu!” jawab Noel yang sudah mendengar dengan jelas suara helikopter yang mendekat. “Sepertinya ada dua helikopter.” katanya lagi.
“Sepertinya helikopter itu sudah berhenti. Itu berarti kalau helikopter itu memang punya kita.” Dante bicara tanpa melihat karena dia juga yakin sekali ketika dia melihat logo yang ada dihelikopter itu. ‘Logo kecil itu tak dipedulikan siapapun. Mereka akan mengira kalau aku memesan helikopter. Tapi biarlah mereka menganggap begitu.’
‘Yang penting helikopter yang datang adalah milikku sendiri.’ ucapnya dalam hati.
“Tuan, lihatlah! Helikopter itu sudah mengulurkan tali!”
‘Fuuuuh aku harus membereskan tali-tali itu dulu. Mobil ini harus diikat erat-erat supaya tidak ada masalah ketika menyeberang jembatan itu nanti.’ Dante sudah mempertimbangkan apa yang harus dilakukannya untuk menjalankan rencana berikutnya.
“Iya memang harus begitu. Tali itu akan diikatkan ke mobil ini nanti.” Dante keluar dari mobil dan mengikatkan tali secepat mungkin dengan bantuan anak buahnya. Dia mengaitkan tali ke mobil dengan erat dan memastikan sudah aman.
Dante menoleh lalu mengangguk. “Lakukan yang terbaik! Aku tidak tahu apakah mereka memasang bom atau tida di jembatan itu. Jangan-jangan saat kita melewatinya jembatan itu akan meledak. Hanya dengan cara ini kita bisa melewati jembatan dengan aman!” ucap Dante.
‘Aduh…..mobil ini diikat dan dibawa oleh helikopter sepertinya mengerikan!’ pikir Noel.
‘Ya Tuhan, semoga saja pesawatnya tidak jatuh dan mendarat sambil meledak saat melewati jembatan itu nanti! Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya.’ Noel mulai merasa galau.
Noel adalah seorang yang cukup takut ketinggian sehingga dia memikirkan dirinya melayang diudara saja sudah membuatnya ciut.
“Kenapa tidak bisa saya jalan kaki saja menyeberangi jembatan itu?” tanya Noel sebelum mobil mulai mengambang diudara. Bagi Noel jalan kaki akan lebih mudah baginya daripada mengambang diudara seperti itu.
“Mau sampai kapan jalan kaki? Hanya membuang waktu saja dan kita tidak tahu apakah jembatan itu sudah dipasang bom atau tidak. Apa kau tidak berpikir sampai kesana?” balas Dante.
“Semoga saja kita aman. Aduh aku merasa ngeri sekali, mobilnya bergoyang-goyang begini.”
__ADS_1
Dante hanya melirik Noel sekilas dan dia bisa melihat kegugupan pria itu. “Nikmati saja Noel! Kita sudah berada diketinggian tapi ini tidak terlalu tinggi. Hanya sampai di jarak aman jika seandainya ada ledakan bom.”
“Apa anda yakin kalau memang ada bom di jembatan itu?”
“Kita sedang berperang Noel. Bukankah lebih baik jika kita berhati-hati?” ucap Dante.
“Ya anda benar juga.” ucap Noel meringis.
“Tetap fokus pada pekerjaan Noel! Jangan jadikan ketakutanmu itu menjadi masalah bagi kita semua.” Dante sudah mulai mencari titik menuju ke villanya. Dia dan timnya harus bekerjasama.
Dia tidak mau jika ketakutan Noel akan berakibat fatal bagi mereka semua. Mereka harus benar-benar fokus dan tidak boleh gagal. Noel pun mengerti maksud Dante, dia mengangguk-anggukkan kepalanya. ‘Aduh, kalau bicara memang mudah tapi kalau sudah ketakutan tetap saja merasa takut, iyakan?’ gumam hati Noel.
“Maafkan aku terlalu banyak bertanya.” ucap Noel lagi. Dia masih merasa ngeri dengan berada diketinggian seperti itu.
“Noel, apa kau memang ketakutan?” tanya Dante saat dia mendengar suara Noel bergetar.
“Iya Tuan. Saya memang takut ketinggian sejak dulu.” jawab Noel jujur.
“Kau ini ada-ada saja. Tak perlu kau takut ketinggian!”
Noel pun memberanikan diri menatap kebawah dan dia menyadari jika mereka sudah berhasil melewati jembatan dan sudah berada diujung jalan. “Sepertinya kita sudah sampai diujung jalan.”
“Hmmmm! Sudah kukatakan tadi kalau kita pasti selamat kan?” ujar Dante keluar dari mobil dan sedang berusaha melepaskan ikatannya.
Dia merasa tenang saat melihat wajah Noel yang tidak lagi cemas.
“Ehmmmm! Ehmmmmmm!” terdengar suara dari dalam karung. Robert Kane berusaha untuk melepaskan dirinya.
“Sebaiknya kau tenang didalam sana. Jangan buat keributan! Kau tidak akan bisa lepas kali ini, aku pastikan itu. Dan aku baru akan melepaskan ikatanmu setelah kita bertemu dengan Anthony! Kalau adikku masih hidup maka aku akan memberitahukan semuanya.” ucap Dante penuh penekanan dan mengancam Robert Kane yang masih berada didalam karung.
“Aku akan mengatakan pada adikku bahwa kau yang membunuh orangtua kami tapi kalau kau membunuh adikku maka aku akan membunuhmu dengan cara yang tidak pernah kau sangka! Aku pastikan kau akan mengalami kematian paling menyakitkan!” ancam Dante karena dia melihat jika pria didalam karung itu berusaha berontak meskipun Noel memegangnya dengan erat.
__ADS_1