HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 100


__ADS_3

Noted: Terima kasih untuk apresiasi kalian, tapi baca dulu episodenya sebelum memberikan LIKE / KOMEN yuah...


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Ya udah, daripada Val kesal terus - terusan, mendingan kita hang out kemana gitu?” Sony menggagaskan sebuah ide. “Kebetulan Kakak off duty hari ini.”


“Nah iya bener tuh.” Arya mengaminkan ide Sony.


“Tapi kalau Val memang tetap mau kembali ke Kediaman, ya ga apa – apa.”


“Val setuju! –“


Val pun menyambut antusias ide Sony.


“Tapi kemana Kak? ....” sambung Val seraya bertanya.


“Terserah Val aja mau kemana ---“


“Heemm ---“


“Ayo cepet kasih keputusan mumpung posisi kita masih di tengah – tengah nih---“


“Eh sebentar Kak! ---“


Val menyergah, karena ponselnya berbunyi.


“Siapa? .... AA Kapel? ---“ tanya Arya yang kemudian cengengesan.


Val menggeleng.


“Nomor dia sudah Val blocked!:


“Waduh!”


“Sadis bin gercep!”


Sony dan Arya pun terkekeh. Sementara Val tanpa ragu menjawab panggilan yang masuk ke nomor ponselnya, setelah melihat nama si pemanggil-yang mana adalah Uncle Rico.


Val langsung menyapa, pada beliau yang menghubunginya. Lalu menanyakan kenapa, dan setelahnya Val celingukan. “Entah ini daerah mana ...”


Val kemudian menjawab Uncle Rico yang bertanya dari sebrang sambungan telepon pada ponselnya.


“Val kenal daerahnya, tapi lupa namanya.” Ucap Val polos.


Durasi Val berbicara dengan Uncle Rico pada sambungan telepon tidak lama.


“Kenapa?” tanya Sony setelah Val mengakhiri panggilan teleponnya dengan Uncle Rico.


“Hanya tanya kalau Val sudah feeling okay atau belum, lalu bertanya sudah sampai mana.”


Sony dan Arya kemudian manggut-manggut saja selepas Val menjawab pertanyaan Sony. Kemudian Sony kembali fokus pada kemudi, sampai saat mobil yang Sony kendarai berada di sebuah jalanan yang memiliki lampu lalu lintas berhenti karena terhadang lampu merah lagi.


Kemudian Sony dan Arya sama-sama menoleh pada Val untuk menunggu keputusan hendak hang out kemana , gadis yang tengah jengkel abis pada kekasihnya itu. Sampai saking jengkelnya ia dengan cepat memblokir nomor kontak si kekasih agar tidak lagi dapat menghubunginya.



Hingga setelah mobil yang Sony kendarai sampai di sebuah area jalanan ..


“Anjrit!” Sony langsung terdengar mengumpat akibat kaget sampai harus mengerem dengan mendadak mobil yang sedang ia kemudikan itu, disaat Arya tengah hendak bertanya pada Val.


Val dan Arya juga sama terkejutnya dengan Sony.


Mata ketiga orang yang sedang berada di dalam mobil yang sama itupun spontan melihat ke arah depan, dimana sebuah sepeda motor sport yang tiba – tiba berhenti di depan mobil yang sedang Sony kendarai.


Sony berdecak kesal sambil melepaskan seatbeltnya dengan tergesa, karena motor yang tiba-tiba berhenti di depan mobilnya itu bahkan menghadang jalan di depan Sony.


‘Kek gue kenal tapi itu motor.’ Batin Sony.


Sony memicingkan matanya, dan memandang sejenak motor dengan pengendaranya yang juga sudah turun dari motor yang menghadangnya tiba-tiba itu tanpa takut-takut padahal di jalanan umum, meskipun jalanan yang dilalui mobil Sony bukan jalan protokol dan agak sepi, karena di belakang area perumahan elite tapi daerah lama yang terbuka.



Waktu sebelumnya, di tempat yang berbeda ..


“Kenapa Ka?”


Uncle Rico yang melihat Kafeel sedang terheran – heran sambil menatap aneh pada ponselnya itupun, sontak bertanya pada Kafeel.


“Ini Uncle, aku sulit menghubungi Val----“


Kafeel menyahut pada Uncle Rico, sambil berusaha lagi menghubungi nomor kontak Val.


Uncle Rico kemudian mengeluarkan ponselnya, yang entah kenapa dia ingin mencari tahu jawaban atas hatinya mengenai Kafeel yang sulit menghubungi Val, karena hati si Uncle kayaknya paham kenapa Kafeel sulit menghubungi Val. Ya walaupun ada kemungkinan ponsel Val memang non-aktif karena satu dan lain hal.


‘Gue kok mikirnya nomor ponsel si Kaka di blok sama Val? –‘ Uncle Rico membatin sambil menghubungi kontak nomor Val dalam ponselnya.


“Hello, Uncle---“ Dan Uncle Rico pun langsung mengangkat alisnya saat ternyata panggilan teleponnya tersambung dengan Val.


Didetik dimana suara yang Kafeel dengar itu keluar dari speaker ponsel Uncle Rico, Kafeel pun langsung terngang dibuatnya.


‘Kok?-‘


Kafeel bertanya kaget dalam hatinya, karena Uncle Rico sukses menghubungi nomor kontak Val.


“Kenapa Uncle?”


Suara Val terdengar lagi bertanya.


“Engga apa Val, hanya ingin tanya aja kalian sudah sampai mana—“


Uncle Rico menjawab santai pertanyaan Val.


Sementara Kafeel sudah lagi mengecek lagi ponselnya, saat Uncle Rico tengah bicara pada Val.


“Aku bisa lihat nomor Val di kontak Uncle?. Siapa tahu berbeda?---“ Kafeel yang menolak dugaan yang muncul dalam hatinya perihal ia tak bisa menghubungi nomor Val.


Kafeel menggigit bibir bawahnya sendiri saat ia sudah melihat nomor Val di kontak Uncle Rico, yang orangnya sedang mengulum senyum geli melihat Kafeel yang nampak panik.


Kafeel pun nampak mengutak – atik kembali ponselnya-dimana ponsel milik Kafeel itu, punya program untuk mengetahui status sebuah nomor telepon-setelah ia melihat nomor kontak Val yang ia hafal di luar kepala sebenarnya.


Dan nyatanya nomor Val yang ada di daftar kontak Uncle Rico, memang nomor Val yang selama ini Kafeel tahu, dan yang juga terdaftar di dalam kontak pada ponselnya.


Dan didetik berikutnya ..


‘Ya Tuhaaannn, Vaaaal ----‘

__ADS_1


Kafeel melirih dalam hatinya, dimana setelah ia cek dan ricek, nomornya telah diblokir oleh Val.


Selain hatinya mencelos, Kafeel rasa keselek galon aer.


Karena Kafeel sungguh tak menyangka, sekeras itu gadis yang selama ini mengejarnya tanpa jeda, hingga sampai memblokir nomor teleponnya-karena Kafeel dianggap telah menyinggung prinsip gadis yang katanya cinta mati itu padanya.


Tapi coba lihat sekarang, yang katanya cinta mati, tapi tampak seolah tak mau memberikan kesempatan sedikitpun bagi Kafeel untuk memberikannya pengertian. Lalu dengan cepatnya bersikap datar, dingin dan ketus pula dalam sekejap. Plus ga mau noleh lagi!.


Kan bikin Kafeel rada kesel terus jadi khilaf sedikit nyinyir sama Val tadi. Dan berakhir pada larangan untuk datang lagi ke Kediaman Val kalo ga ada urusan kerjaan, plus embel-embel kalau dirinya dan Val tidak ada lagi urusan mulai sekarang-sesuai kata Val sebelum pergi dengan sinisnya tadi.


Kok kayaknya bener ucapan Bundanya, kalau Kafeel diputuskan secara sepihak oleh Val secara tidak langsung.


Auto panik si AA?.


Tidak di ragukan lagi-tentu saja, selain mencelos hatinya.


Mana baru pacaran dua hari. Masa udah putus aja?. Diputusin secara tidak hormat pula!. Mana udah cinta mati sama Val.


‘Gegana banget gue kalo begitu urusannya bakalan!’ batin Kafeel. ‘Ga! Itu ga boleh sampai terjadi! –‘ Tekad Kafeel. “Uncle, Aunt, Bun, aku permisi! ..”


Kemudian Kafeel bergerak dengan tergesa, menuju ke garasi rumahnya. “Eh? –“ Aunt Shireen, Uncle Rico dan Bunda Magda yang terkesiap karena Kafeel tahu-tahu sudah berlalu dengan cepatnya dari hadapan mereka dan berjalan menuju ke garasi, bahkan setengah berlari.


“Aunt, Uncle, Bunda, aku tinggal dulu.”


Kafeel berpamitan lagi kepada tiga orang yang sedang memandanginya sekarang, setelah Kafeel telah keluar dari garasi rumahnya dan telah duduk di atas sebuah motor sport yang merupakan miliknya.


“Kamu mau kemana Ka? –“


“Ngejar masa depan Aunt! ..” seru Kafeel. “Assalamu’alaikum!”


Dimana tiga orang yang sedang memandang pada Kafeel itu pun terkekeh.


“Wa’alaikumsalam!” sahut Aunt Shireen, Uncle Rico serta Bunda Magda yang masih terkekeh saja melihat Kafeel yang nampak panik itu. “Doa Bunda menyertai AA!” Bunda Magda pun berseru disaat Kafeel mengucapkan salam seraya berpamitan.



Beberapa waktu kemudian ...


Tiga orang yang terkejut atas kehadiran sebuah motor sport yang tahu-tahu berhenti dan menghadang mobil Sony yang dikendarai sendiri oleh pemiliknya, dengan serempak juga memperhatikan ke arah motor sport berikut pengendaranya yang sudah turun dari motor sport tersebut.


‘Apakah itu perampok??? –‘ batin Val. ‘Tapi masa perampok hanya sendirian?’ hati Val kembali bertanya sendiri. ‘Eh, tapi?-‘


‘Haish! Nih orang frustasi jadi bosen idup apa?!’ batin Sony yang telah menyadari siapa orang yang motornya menghadang dengan tiba-tiba itu.


“Kek gue kenal perawakan ini orang...” sementara Arya menggumam.


Lalu Sony bergegas membuka pintu mobilnya, sambil ia merogoh sakunya.


Karena ponselnya berbunyi, dan Sony langsung menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya itu.


“Kenapa Pah?---“ ucap Sony.


“....”


“Iya ---“ Sony berucap lagi, dengan ponselnya yang masih ia tempelkan di telinganya.


Sony hanya membuka sedikit pintu mobilnya, dan duduk saja di tempatnya.


“Nih orangnya nyampe udah!”



Sony segera saja menyemprot pengendara motor yang sudah membuka helmnya.


“Kak Kafeel?” gumam Val yang nampak lagi terkejut saat si pengendara motor yang ia kira perampok itu telah membuka helmnya, yang mana orang tersebut adalah Kafeel.


“Kalo gue slip ga sempet nginjek rem gimana?”


“Antara patah tulang, koma kalo engga mati.” Sahut Kafeel masa bodoh, yang kemudian melewati Sony dan menelusupkan dirinya ke kursi kemudi tempat Sony duduk tadi.


“Wah sakit lo!” sembur Arya pada Kafeel yang badannya kini telah masuk setengah ke dalam mobil dan menatap Val. “Ngebahayain kita orang juga tau ga lo Kak Kaf?!” sembur Arya lagi.


“Iya sorry...” jawab Kafeel pada Arya. “Otak gue lagi ga mudeng,” sambung Kafeel. “Val,”


“Mau apalagi?... Kita sudah tidak ada urusan.” Sahut Val datar, saat Kafeel telah beralih padanya sambil memanggil Val pelan dengan tampang yang memelas. Lalu hati Kafeel rasa gimana gitu deh, setelah mendengar sahutan Val yang datar itu.


“Kita bicara yuk? ...” pinta Kafeel.


“Kita sudah tidak ada urusan, jadi rasanya tidak ada yang perlu dibicarakan.”


Val menyahut lagi dengan datarnya, dan kemudian menarik dirinya untuk bersandar pada kursi penumpang yang sedang Val duduki.


“Val, please? ...” mohon Kafeel.


“....”


“Kita bicara ya?”


Kafeel kini telah beringsut ke kursi penumpang belakang tempat Val duduk.


Val yang memalingkan wajahnya dari Kafeel itu tidak menyahut.


Kafeel menghela nafasnya frustasi. “Please Val.”


Satu tangan Kafeel kini telah membelai lembut puncak kepala Val.


“We need to talk (Kita perlu bicara)” ucap Kafeel, sambil tangannya terus mengelus kepala Val, dan matanya lekat menatap Val.


“Bicara saja, saya dengarkan. Setelah itu anda boleh pergi.”


“Aku ingin bicara berdua aja sama kamu, Val.”


“Kenapa harus berdua?” sahut Val. “Toh tadi anda enak saja menceramahi saya di depan saudara anda. Kak Arya dan Kak Sony keluarga saya, jadi tak perlu sungkan bicara seperti tidak sungkannya anda tadi menceramahi saya seenaknya di depan keluarga anda.” cerocos Val, yang secara tidak langsung mengeluarkan unek-unek hatinya itu pada Kafeel.


“Hh ...”


‘Mending gue ngejar-ngejar para kriminal sih.’


‘Mending gue adu mulut sama si judes Mika daripada harus ada diantara dua sejoli yang lagi berantem begindang!’


Sementara Kafeel menghela lagi nafas frustasinya, duo kakak beradik yang jadi merasa canggung itu sama-sama membatin sedikit tak nyaman.



Tak ingin berada di situasi yang membuat diri mereka jadi canggung, Arya dan Sony saling lempar tatap sejenak, lalu Sony bersuara setelah Arya memberikannya kode lewat gerakan mata dan kepala, disaat Kafeel terdengar lagi berusaha membujuk Val.


“Val ... sorry nih ... tapi kayaknya Kak Kaf bener deh, kalo kalian lebih baik bicara berdua.”


“Val tidak mau.”

__ADS_1


‘Hadeh, lupa. Batu juga ini kan si Val kalo lagi sengklek.’


Sony langsung membatin.


“Ya sudah, kalau begitu aku akan ikut kalian ...” Kafeel berucap.


“Nah itu motor lo gimana?”


Arya menyergah.


“Masa bodoh!” sahut Kafeel.


Dimana Sony dan Arya kontan saja mendengus kasar selepas mendengar sahutan Kafeel yang nampak putus asa itu.



Val sempat melirik pada Kafeel yang mengatakan masa bodoh perihal motornya itu. Namun Val tetap bersikap tak mau ambil peduli pada Kafeel.


“Aku ingin benar-benar bicara pada kamu Val, dan jika memungkinkan hanya berdua saja.” Kafeel lanjut bicara pada Val. “Tapi jika seperti yang Val bilang tadi jika Val inginnya aku bicara di depan Sony dan Arya, ya sudah ga apa-apa.”


Kafeel menarik tipis sudut bibirnya, kembali memandang pada Val.


“Jadi aku akan ikut di mobil ini bersama kalian.”


“Terus motor lo, mau dibiarin disini aja gitu??? ...”


“Gue bilang kan tadi masa bodoh –“


“Awas ...” sambar Val.


“Aku ga mau awas ...”


Kafeel bertahan.


“Mau bicara kan? ... ya sudah awas karena saya mau turun!”


“Oh, i-iya ... maaf –“


Kafeel pun beringsut dari tempatnya.



Val telah berdiri di luar mobil Sony, dengan Kafeel didekatnya.


“Sekarang katakan apa yang ingin anda bicarakan tadi.”


Val bicara ketus sambil mensedekapkan kedua tangannya.


Dan Val hanya melirik sedikit saja pada Kafeel-itupun dengan malas, sebelum ia memalingkan wajahnya lagi.


Membuat Kafeel mencelos saja lagi, selain sedikit bingung juga, karena posisi mereka di pinggir jalan. “Apa kita akan bicara di pinggir jalan seperti ini?—“


Kafeel akhirnya bertanya untuk memastikan. Barangkali Val ga ngeh kalau mereka sedang di pinggir jalan, dan meski tidak banyak kendaraan yang lalu lalang, tetap saja akan jadi tontonan orang yang berada di dalam kendaraan yang melintas.



“Kak Kaf bener Val –“


Sony berkomentar setelah mendengar ucapan Kafeel.


Val pun sontak menoleh kepada Sony yang tersenyum padanya.


“Nih Kak, lo pake aja mobil gue, biar gue sama Arya yang bawa motor lo.”


“Iya bener. Daripada kalian ngobrol di pinggir jalan gini.” timpal Arya, yang mengaminkan ucapan Sony.


“Bener lo berdua ga apa – apa naik motor gue? ...” sahut Kafeel.


“Ya ga mungkin juga lo boncengin si Val naik motor!---“ tukas Sony.


“Satu, kemungkinan besar ini inces ga nyaman. Dua, lah elo aja Cuma bawa helm satu Kak!”


“Ya gue juga ga ada rencana boncengin Val.” tukas Kafeel. “Rencana gue itu saat bisa susul kalian, ya gue ajak Val naik taksi. Lalu pergi ke tempat dimana kita bisa bicara berdua.”


“Nah terus motor lo?---“ ucap Sony seraya bertanya.


“Ya seperti gue bilang tadi. Masa bodoh.”


Lagi, Kafeel menyahut dengan semasa bodoh seperti yang ia katakan.


“Ya udah nih bawa mobil gue aja mendingan!”


“Tidak usah Kak.” sergah Val.


Melihat dan mendengar Val menyergah Sony yang hendak memberikan kunci mobil padanya, Kafeel sontak langsung menatap pada Val.


“Biar Val naik motor saja dengan dia.” Ucap Val datar, bahkan menyebut Kafeel dengan ‘dia’. “Kak Sony dan Kak Arya sudah terlalu repot.” sambung Val.


“Mana ada repot sih Val—“


“Ga apa kok Kak. Kak Sony dan Kak Arya langsung pulang saja –“


“Tapi Val –“


“Ga apa Kak, Val sudah biasa berboncengan dengan Rery atau Ann saat kami di London. Suka juga kan keliling-keliling naik motor di komplek kediaman bersama yang lain.”


“Kita naik taksi aja ya Val?” tukas Kafeel.


Yang mana Kafeel juga tidak berencana untuk membonceng Val di motornya.


Toh dia menggunakan roda dua miliknya itu semata-mata hanya agar cepat mengejar mobil yang dikendarai Sony saja.


Terserah bagaimana nanti nasib motornya, tidak Kafeel pikirkan. Karena yang penting adalah nasib hubungannya dengan Val terlebih dahulu yang harus Kafeel urus.


Ga apa motor hilang, asal cinta Val pada AA jangan hilang.


Karena kalo motor hilang bisa dicari, tapi kalo cinta Dedek Val pada AA yang hilang, AA bisa mati berdiri.


Eyyaa ...


*


To be continue ...


Jangan lupa tinggalkan jejak berharga kalean untuk karya receh si Emak inih.


Tararenkyu.


Loph Loph,

__ADS_1


Emaknya Queen.


__ADS_2