HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
K I S R U H


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia..


Ada dia yang sedang kacau balau perasaannya.


Yang jauh-jauh terbang dari London mengorbankan jadwalnya menuntut ilmu padahal sebelum masa liburan tiba dosen biasanya banyak memberikan kuis bahkan tugas demi untuk memberikan kejutan kehadiran dirinya kepada kekasih tercinta yang berada di Jakarta demi menyenangkan sang kekasih di hari ulang tahunnya---seperti apa yang pernah pria itu cetuskan pada beberapa hari sebelumnyua, namun dia yang kini sedang kacau balau hatinya itu malah mendapat kejutan balik.


Namun bukanlah kejutan yang menyenangkan yang dia---Mika---dapat, melainkan kejutan yang membuat hatinya sakit bukan kepalang.


Sakit hati-sedih dan marahnya, campur aduk di dalam hati Mika setelah ia melihat ada sosok perempuan yang dimata Mika terduduk dengan hanya terlihat bahu telanjangnya---dimana kebawahnya tertutup selimut. Membuat Mika berspekulasi jika dibalik selimut itu, wanita yang ia temukan ada di atas ranjang kekasih hatinya---Arya---wanita tersebut tidaklah memakai apa-apa.


Lalu spekulasi pendukung tentang anggapan Mika jika habis terjadi kegiatan yang disebut ‘sorga dunia’ itu antara Arya dan wanita di atas ranjangnya tersebut, diperkuat dengan keluarnya Arya dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja dari sebatas pinggang hingga setengah betisnya.


“JAUHKAN PRIA BRENGSEK ITU DARI GUE!” sampai pada akhirnya seruan yang sangat keras itu lantang Mika lontarkan saat dia berjalan keluar dari unit apartemennya, dimana Mika mendapatkan kejutan di dalam satu kamarnya.



Seruan Mika itu ia tujukan pada dua bodyguard yang seperti ucapan mereka saat sebelum Mika masuk ke unit apartemennya Arya, keduanya akan tetap menunggu Mika selesai dengan urusannya bersama Arya di depan unit tersebut.


Makanya dua bodyguard tersebut memang ada saat Mika keluar dengan wajah yang nampak penuh amarah dari dalam unit apartemen Arya, lalu berseru dengan kencangnya.


Dimana kala Mika keluar dengan kondisinya yang nampak marah itu, ada Arya yang mengekorinya.


“MIKA!”


Dimana Arya juga berseru tak kalah kencangnya dengan Mika.


Sambil tangan Arya memanjang untuk menggapai Mika yang sedang berjalan dengan cepatnya, tanpa lagi menoleh ke belakang.


Namun karena ada seruan yang bernada perintah dan itu nampak begitu serius atas dasar dua bodyguard Mika itu melihat wajah Mika yang nampak murka, jadinya 2 pengawal pribadi yang sebelumnya menyertai Mika sebelum Mika masuk ke unit apartemen Arya---menahan tubuh Arya agar tidak sampai mengejar satu nona muda mereka yang nampak murka itu.


“Minggir lo berdua!”


Arya yang tubuhnya tertahan oleh dua orang berbadan tegap yang berdiri menghalanginya itu, kemudian berseru kepada dua bodyguard Mika tersebut.


“Urusan gue sama Mika lo berdua jangan ikut campur!” tekan Arya kemudian, setelah sebelumnya ia mencetuskan kalimat yang berkesan perintah campur tantangan kepada dua pengawal pribadinya sang kekasih yang kukuh menghalangi dirinya.


“Mohon maaf Tuan Arya, kami hanya menuruti perintah Nona Mikaela,” jawab salah satu bodyguard tersebut menanggapi ucapan Arya yang nampak gusar, selain tidak terima itu.


Ia dan rekannya memang menghormati dan menghargai Arya sebagai kekasih dari satu nona muda mereka.


Pun menghormati dan menghargai Arya layaknya Kafeel juga Felix, serta beberapa muda-mudi lain---anak dari para kerabat terdekat dari keluarga yang mempekerjakan mereka---yang sudah dianggap layaknya anak sendiri oleh para orang tua dalam Dinasti The Adjieran Smith.


Namun jika dihadapkan oleh titah langsung dari salah seorang personil inti dari keluarga yang mempekerjakan para bodyguard tersebut, tentu saja---tetap hormat dan menghargai Arya dalam hal ini---tetapi titah dari mereka tentunya harus mereka lakukan.


Yakni menjauhi Arya dari Mika. Sebagaimana yang diserukan dengan kencang dan penuh emosi oleh salah seorang nona muda The Adjieran Smith tersebut.



“Dan gue akan lakukan apapun buat ngejar Mika termasuk kalo harus adu jotos sama lo berdua!”


Arya yang tak terima dirinya terus dihadang oleh dua pria yang menahan tubuhnya itu, sampai Mika sudah tak terlihat lagi dalam pandangannya.


“Silahkan saja, Tuan. Tapi baiknya anda lebih dulu berpakaian...”

__ADS_1


Salah seorang bodyguard Mika menjawab ucapan Arya yang terdengar bak tantangan itu.


Dimana setelahnya Arya langsung memperhatikan dirinya sendiri, yang baru ia sadari keadaannya yang hanya memakai handuk.


“*S*T!” Arya langsung mengumpat kasar dengan nada suara yang tertahan. Merasa kesal sendiri. Arya lantas berbalik badan setelahnya dan masuk kembali ke dalam unit apartemennya.



Sementara itu---di dalam sebuah lift yang bergerak turun dari lantai tempat unit apartemen Arya berada, Mika sendirian di kotak angkut vertikal itu dengan dadanya yang nampak kembang kempis dan rona merah padam di wajahnya yang menandakan jika Mika sedang geram dan marah.


“LO BRENGSEK ARYA NARENDRA!” pun Mika masih merutuki Arya dengan emosinya. “Benar-Benar Brengsek!” rutuk Mika lagi dengan nada suaranya yang masih menggambarkan emosi, namun tak keras seperti sebelumnya---dimana setelahnya Mika menarik panjang nafasnya dan menghembuskan dengan penuh penekanan secara perlahan.


Mika sedang menahan dengan kuat, sesuatu yang ingin tumpah selain kemarahan dan geramnya.


“Sialan!...” Mika mengumpat dalam desisan.


Pasalnya, apa yang ia tahan sekuat tenaga dari sejak mendapati pemandangan yang membuat hatinya kacau balau---lebih pada membuat rasa sakit yang lumayan pedih di sana, akhirnya tumpah juga.


Airmatanya Mika.


Yang turun beberapa bulir dari pelupuk ke pipi Mika, yang langsung menggumam---bicara pada dirinya sendiri.


“Dia ga pantas lo tangisin, May.” Sambil Mika menghapus kasar air mata yang menimpa pipinya itu.



“Sialan!”


Mika sekali lagi mengumpat, dan sekali lagi menghapus kasar airmatanya.


Lalu Mika langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar dan cepat saat pintu lift terbuka.


Selain saat datang tadi\, urusan akses masuk wara-wiri di gedung apartemen dimana ada milik Arya di salah satu unitnya\, sudah diurus oleh satu *bodyguard-*nya yang menyebutkan nama lengkap sang nona muda pada resepsionis---dimana nama Mika sudah tercatat sebagai seseorang yang dipersilahkan wara-wiri di gedung apartemen tersebut.


Yang mana tentunya, nama besar dan kekuasaan keluarganya mempengaruhi ragam kemudahan yang bisa Mika dapatkan untuk berbagai kepentingan---sama halnya dengan setiap anggota keluarganya, yang memang tak semua aset dalam kota yang disebut Kota Metropolitan sebagai salah satu julukannya adalah milik keluarga Mika, namun nama besar The Adjieran Smith dapat menjadi sebuah kartu sakti---katakanlah begitu, untuk ragam kepentingan mereka---termasuk Mika tentunya.


Yang karena kekayaan dan kekuasaan keluarganya---terutama nama besar para *Dad-*nya dan Gappa\, pada akhirnya membuat banyak tokoh-tokoh handal dan penting serta tersohor dari ragam bidang mengenal keluarga The Adjieran SmIth. Termasuk para pebisnis properti, yang tinggal aja di tanya itu komplek apartemen siapa yang punya---maka selang beberapa menit saja, ijin masuk akan segera didapat---plus dapat perlakuan khusus pula.



“Nona Mikaela—“


“Cepat ke KUJ!” sambar Mika saat supir mobil yang tadi ditumpanginya mencoba menyapa Mika yang sebelumnya ia lihat muncul di luar lobi gedung apartemen dimana ada satu unitnya Arya ada di sana, sambil Mika yang tadinya celingukan mencari mobil yang ia tumpangi itu berjalan cepat dan menyegerakan diri masuk ke dalam mobil tanpa menunggu sang supir memposisikan mobil tersebut di depan lobi, ketika ia telah melihat letak mobil yang tadi ia gunakan dari bandara tersebut.


“Dengar tidak?!” Mika berseru, karena sang supir yang nampak tertegun.


“I-iya, Nona Mikaela.”



“Mohon maaf, Nona Mikaela...”


Sang supir yang sudah berada di balik kemudi ketika ia sudah mulai melajukan mobil yang ia kendarai itu, angkat suara walau sedikit agak ragu-ragu karena melihat kondisi sang nona muda yang menurutnya tidak biasa.


“Ini, Bram telfon... Saya angkat, atau engga, Nona?—“


“Bilang aja suruh Kak Bram dan Kak Ken naik taksi ke KUJ!” tukas Mika.

__ADS_1


“I-iya, baik, Nona Mikaela—“



Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia..


“Jadi bagaimana soal kalian sekarang?” Daddy Dewa yang berkata seraya bertanya, kepada Val dan Kafeel saat satu Dad of The Adjieran Smith itu sedang duduk bercengkrama bersama dua orang yang sedang ia ajak bicara itu berikut beberapa orang anggota keluarganya yang lain sambil menunggu makan siang siap.


Lalu Kafeel yang menjawab pertanyaan Daddy Dewa tersebut.


Kemudian beberapa celetukan terdengar dari anggota keluarga yang lain, dimana di tengah itu Daddy Dewa menginterupsi karena ada panggilan telepon yang masuk ke ponselnya.


Sementara yang bercengkrama dan yang tadi ia tanya tetap asyik saling mengobrol, kala Daddy Dewa bicara di ponselnya.


Dimana karena agak bising, Daddy Dewa pun melipir keluar dari ruangan tempatnya berada dengan masih menempelkan ponsel di telinganya.


Wajah Daddy Dewa nampak agak serius kemudian saat mendengarkan orang yang menghubunginya itu bicara. “Apa Arya ada di dekatmu sekarang?...” tak berapa lama Daddy Dewa bersuara menanggapi ucapan lawan bicaranya di ujung ponselnya itu. “Ya sudah. Kalian kembali saja ke sini,” ucap Daddy Dewa selang beberapa detik kemudian.


“Ada apa?...”


Lalu sebuah pertanyaan terdengar selepas Daddy Dewa selesai bertelepon.


Dimana pertanyaan tersebut tercetus dari mulut Dad R yang ada di dekat Daddy Dewa saat Daddy Boo-Boo itu menerima panggilan telepon di ponselnya tersebut.


Daddy Dewa pun segera menjawab pertanyaan Dad R itu. “Bram bilang ada insiden antara May dan Arya...” kata Daddy Dewa sambil ia mendudukkan dirinya di dekat Dad R yang sedang bersama Varen dan Gappa itu.


Dimana ketiga pria yang kini bersama dengan Daddy Dewa itu kompak mengernyit, dan pertanyaan pun tercetus lagi. Yang mana keluar dari mulut Gappa dengan beliau yang nampak heran. “Insiden?—“


“Iya, Dad—“


“Insiden apa?”


“Bram bilang, tak lama May masuk ke unit apartemen Arya, dia keluar dan nampak begitu marah besar. Terus Arya juga keluar dengan hanya memakai handuk tapi Mika terus pergi dan meminta Bram juga Tana menahan Arya agar jangan mengejarnya. Tana coba mengejar Mika tapi dia sudah pergi dengan Adri—“


“Ke?—“


“Kembali ke sini sih katanya.”


“Lalu apa yang terjadi antara May dan Arya?...”


“Sepertinya Arya selingkuh di belakang May—“


“Apa?!—“


“Heem. Bram bilang, dia tetap stay di lantai tempat unit Arya berada saat menyuruh Tana menyusul May yang sudah masuk lift.  Lalu tak lama Arya masuk kembali setelah May pergi, kemudian  Bram melihat seorang wanita keluar dari unit itu si Recehboy. Yang mana saat May keluar dari unit Arya dan si Recehboy itu mengejarnya, Arya hanya mengenakan handuk saja di tubuhnya...”


“He what???—“


“Begitu laporan Bram padaku tadi.”


“Wah Arya Narendra... Sudah berlagak dia sekarang.”


Varen lalu langsung berkomentar sinis.


“Hubungi Rico,” cetus Dad R kemudian. “Katakan padanya kalau kita mau kebiri satu anaknya itu...”


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2