HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
AFFECTIONS


__ADS_3

Kasih Sayang


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia ...


Ada yang sedang mengemukakan kalimat mesra, yang lebih mengarah ke gombalan maut.


“Kak Kafeel tahu tidak? ...”


Itu Val yang bicara.


“Soal?”


Pada Kafeel gombalan maut Val itu tertuju.


Tentu saja, pada siapa lagi?


“Kalau Kak Kafeel itu seperti lempeng bumi—“


“Kenapa begitu?—“


“Ya soalnya bergerak sedikit saja, Kak Kafeel sudah mengguncang hati Val ...”


Dimana Kafeel sontak tertawa bahagia setelah gombalan maut Val sampai pada endingnya.


“Duh, meleleh hati AA, Neng!” tukas Kafeel yang tertawa.


Val pun ikutan tertawa.


“Itu baru namanya gombalan!....”


Kafeel pun menambah tawanya setelah mendengar celetukan Val. “Antara dapet ilmu itu gombalan dari Kak Tan-Tan, Aro, atau dari si Sadboy.”


Val tertawa kecil saja mendengar ucapan Kafeel barusan itu.


Kafeel tersenyum lebar, lalu mengacak pelan rambut kekasih kecilnya itu, yang kemudian Kafeel rengkuh dengan singkat sembari Kafeel kecup puncak kepalanya.


“Lanjutin lagi makannya, ya?-“


“Okay!” sahut Val.


Lalu Val dan Kafeel kembali menyantap mi instan dalam piring mereka masing-masing, sambil mengobrol santai dan bersenda gurau.


“Kenapa memperhatikan Val seperti itu, Kak?....” tanya Val pada Kafeel yang sedang menoleh miring dengan kepala Kafeel yang ditopang pria itu pada tangannya, dimana Kafeel lebih dulu menghabiskan mi instannya dari Val.


“Aku sedang bertanya-tanya dalam hati....” jawab Kafeel.


Val menyelesaikan satu suapan mi instan terakhir buatan Kafeel, sebelum ia menoleh pada Kafeel.


Kafeel menyodorkan air minum yang sebelumnya telah ia ambilkan untuk Val.


“Lupa ya?.... Val kan tidak langsung minum setelah makan?-“


“Oh iya.... Ingat sih sekarang, tapi seharusnya jangan seperti itu juga. Nanti kalau tersedak gimana?....”


Kafeel berucap dan Val tersenyum dulu sebelum ia menjawab. “Ya kalau tersedak mau tidak mau Val harus minum,” kata Val. “Tapi sekarang kan Val fine-fine saja....”


“.....”


“Selain Val tidak ingin perut Val buncit, langsung minum setelah makan juga kurang baik untuk pencernaan.”


“Oh ya?”


Kafeel menanggapi dengan nada bertanya.


Val berdehem samar sambil mengangguk. “Perasaan, Val sudah pernah mengatakan itu pada Kak Kafeel deh?....” ucap Val.


“Masa sih?....” tanya Kafeel.


Val mengangguk lagi, kemudian membuat dirinya berhadapan dengan Kafeel. “Dasar om-om tua....”


Val memencet gemas hidung Kafeel yang orangnya langsung terkekeh. “Enak aja ngatain aku om-om tua....”


“Memang iya?.... buktinya pelupa?-“


“Yang penting kan selalu ingat kamu?”


Val langsung mengulum senyumnya setelah Kafeel mencetuskan kalimat gombalan.


Kafeel tersenyum geli saja, jika Val sudah tersenyum malu-malu seperti itu. “Bukan gombalan loh ya itu?....”


“Walaupun gombalan juga Val tetap senang, kok....” tutur Val. Dan Kafeel pun tersenyum mesra.


“Oh iya, tadi katanya Kak Kafeel sedang bertanya-tanya dalam hati saat intens memperhatikan Val?”


Val bertanya.


“Kak Kafeel bertanya-tanya dalam hati tentang apa?-“


“Coba tebak?....” tukas Kafeel.


“Tentang Val?-“


“Of course dong.”

__ADS_1


“Apa itu?-“


“Hmm. Kasih tau ga ya?....”


“Kasih tahu dong....”


Val merengek manja.


Membuat Kafeel gemas saja jadinya.


“Kak Kafeel bertanya-tanya apa soal Val memangnya dalam hati Kakak? Kenapa harus menerka-nerka sendiri? Kenapa tidak langsung saja menanyakannya pada Val? Kan Val sedang ada di hadapan Kakak sekarang ini?....“


Val mencerocos lagi, dan membuat Kafeel tersenyum geli lagi karena Val yang sering sekali bicara dengan begitu cepatnya, hingga terkesan mendesak lawan bicaranya. Namun ya itu, mau bagaimanapun tingkah Val, Kafeel akan selalu memuja kekasih kecilnya itu.


Masalahnya bagi Kafeel, merepetnya Val itu membuat si kekasih kecilnya jadi terlihat menggemaskan.


Makanya walau suara Val agak cempreng, repetan Val tidak dirasa mengganggu telinga Kafeel.


“Ih malah senyum-senyum.”


Suara Val menyadarkan Kafeel dari lamunannya yang sedang mengagumi kekasih kecilnya itu, seperti seringnya.


Dan yah, seperti yang memang sering Kafeel katakan, dirinya tak pernah rasanya bosan memandangi wajah imut Val bahkan dari sejak sebelum mereka berpacaran. Bahkan disaat Kafeel sedang mengingkari perasaannya pada Val pun, wajah imut Val tetap ia kagumi dengan seringnya, walau dari kejauhan, walau hanya dari foto saja.


“Kak Kafeel bertanya-tanya mengenai apa soal Val dalam hati Kakak?-“


“Tentang satu hal-“


“Apa?”


“Kamu google ya? Soalnya kamu punya semua yang aku cari.”


“Ihh, Kak Kafeel..” Val tersipu malu jadinya.


♥♥♥


Tau ga bedanya kamu sama motor?


--- Kalau motor butuh bensin biar bisa jalan\, kalau aku butuh kamu biar bisa hidup.---


♥♥♥


Val dan Kafeel telah kembali ke tengah-tengah mereka yang masih anteng begadang di rumah Keluarga Cemara itu. Dan mereka yang tadinya duduk terpisah dua bagian-yakni di atas karpet bulu depan televisi dan depan sofa, kini sudah sama-sama duduk di atas karpet bulu depan televisi, menonton satu film action pada sebuah saluran tivi berbayar.


“Capek ga lo?....”


Kafeel bertanya pada Varen.


Sebabnya, karena Val sudah jatuh tertidur dengan pulasnya dalam pelukan Varen.


Terkadang memang seperti itu kiranya Val.


Yang kadang minta gendong lah, yang gelayutan lah, atau ya seperti sekarang ini, tertidur dipelukan kakak lelaki kandungnya.


Dimana sudah setengah jam, Val tertidur dalam pelukan Abang Varen dengan kepala Val yang bertumpu di lengan si Abang yang bertopang pada lututnya yang tertekuk.


Dan Val bersandar saja dengan nyamannya disana, tanpa Varen terlihat keberatan sama sekali.


Ada atau sedang tidak ada Drea di dekat Varen, namun jika para adik perempuan sedang ingin bermanja-manja dengannya-sedingin apapun Varen kelihatannya, si Abang akan selalu menyambut hangat para adik perempuan yang suka ingin bermanja-manja dengannya itu.


♥♥♥


“Capek ga lo?....” tanya Kafeel pada Varen yang sedang setengah memeluk Val, dimana adik kandungnya itu sudah sangat pulas tertidur dipelukan Varen.


“Engga sama sekali,” jawab Varen pelan, sambil satu tangannya mengusap-usap lembut kepala dan rambut Val.


“Ga pegel badan lo?”


“Engga sama sekali.”


Varen menjawab tenang ucapan Kafeel, sambil ia mengelus-elus lembut kepala dan surai Val, seperti saat Val yang ingin dininabobo oleh Varen diwaktu Val kecil.


Varen tersenyum miring. Sambil ia melirik pada Kafeel.


“Ngiri kan lo pasti?-“


“Lo aja ga pengertian sama calon adek ipar,” rungut Kafeel.


Yang mana emang Kafeel merasa iri sih pada Varen meski ia kakak kandung Val, karena Val lebih memilih  tertidur di pelukan Varen daripada dipelukannya.


♥♥♥


“Pindahin ke kamar mendingan itu si Val, Bang. Kasian itu badannya bisa pegel nanti.” Itu Arya yang bicara dengan pelan.


“Sini gue yang bawa Val ke kamar,” tentu saja Kafeel dengan cepat menawarkan diri.


“Modus aja lo,” cibir Varen, masih dengan suaranya yang ia pelankan.


Dimana tawaran diri Kafeel itu pastinya mendapat sahutan nyinyir dari Varen, namun dengan nada suara pelan kali ini, karena Varen tidak ingin tidur adiknya itu terganggu.


Mereka yang ada disekeliling Val itu sangat menjaga agar tidur Val tidak terusik tidurnya karena suara mereka.


Kafeel sontak terkekeh kecil mendengar nyinyiran Varen padanya.


“Dimodusin juga calon istri gue sendiri ini?” cetus Kafeel. “Dah sini gue bawa dia ke kamar. Bener kata si Arya, kasian badannya Val kalo dia tidur dalam posisi begini lama-lama.”


Dimana Varen langsung saja berdehem. Memang benar yang dibilang Arya, jika posisi tidur Val sekarang bisa membuat badan adiknya itu menjadi pegal saat Val bangun nanti.


“Ya udah sana.”

__ADS_1


Varen memberi ijin pada Kafeel.


Yang mana orangnya langsung tersenyum karenanya.


“Memanfaatkan kesempatan karena omes lo, awas aja,” ancam Varen yang mengijinkan Kafeel untuk menggendong Val dan membawa ke kamar, karena memang Varen sependapat dengan Arya dan Kafeel.


Takut jika badan Val akan pegal – pegal nantinya, karena posisi tidur Val yang tidak nyaman saat ini.


Kafeel terkekeh tertahan setelah mendengar ancaman Varen barusan. Sambil Kafeel memposisikan dirinya untuk menerima Val yang tertidur sangat pulas dari tangan Varen.


“Ushush.... “ Varen terdengar berbisik pada Val, saat ia membantu Kafeel untuk menggendong adik kandungnya itu dari posisinya – seperti jika Val sedikit bergerak dalam tidur saat kecil, maka Varen akan berbisik untuk menenangkan sambil meniup kecil wajah Val.


Sama seperti yang selalunya Varen lakukan pada Drea, ketika Drea ingin Varen meninabobokannya. Juga hal yang dilakukan Varen, Nathan atau The Dads jika para gadis muda itu sedang bermanja – manja pada mereka, para Naga yang akan selalu siap sedia menjaga para Ratu dan Putri mereka – selain memberikan kenyamanan yang hakiki.


Sementara Kafeel benar – benar berhati – hati membawa Val dalam gendongannya menuju lantai dua, dengan ditemani Rery.


Karena Kafeel merasa tidak enak kalau harus masuk ke dalam kamar, dimana para saudari Val juga ada didalam kamar tempat Kafeel akan membawa Val. Secara Kafeel sadar diri, yang meskipun ia sudah diakui sebagai calon suami Val, namun ia dan Val masih belum resmi menikah.


Dan atas hal itu, Kafeel sadar betul, jika ada etika yang masih harus ia jaga, terutama interaksi dalam ruangan yang dapat dikatakan pribadi. Jadi atas permintaan Kafeel, Rery menemaninya.


Setidaknya untuk membuka jalan membuka pintu kamar, agar Kafeel lebih dapat leluasa dan berhati – hati membawa Val yang tertidur itu tidak sampai terusik lalu bangun. Dan lagi Rery juga ingat, jika para saudarinya itu, terkadang tidur dengan pakaian seadanya.


Dalam hal ini suka mengenakan sepasang dalaman saja. Terlebih saat di rumah Keluarga Cemara, yang hawa daerahnya terasa panas meski pendingin udara juga bertebaran di dalam setiap ruangan-termasuk kamar.


“Aman, Kak.”


Rery berkata saat ia mendahului Kafeel memasuki kamar yang ditempati para saudarinya, untuk mengecek pakaian mereka-selain membenarkan selimut, agar tubuh para saudarinya itu tidak terekspose dihadapan Kafeel, yang pasti juga akan menundukkan pandangannya dari Mika, Isha, Ann dan Aina yang berada di kamar tempat Kafeel membawa Val.


Namun Rery tetap menjaga agar Kafeel tidak merasa sangat risih, selain Rery juga ikut masuk ke dalam kamar dan membantu menyiapkan area tidur Val, agar tidur salah satu saudarinya semakin nyaman. Hal kecil dari sebuah kebiasaan. Namun mengingat Rery dan Val tidak memiliki ikatan darah, apa yang Rery lakukan-yang juga akan dilakukan para saudara lelakinya yang lain dalam mengurus para saudarinya itu, cukup menggambarkan, jika keluarga mereka-sedarah atau tidak, memang seperti itu hangatnya.


Kafeel merebahkan Val di atas tempat tidur yang sama dengan Aina dan Isha berada, karena hanya ada dua tempat tidur di dalam kamar yang digunakan ciwi-ciwi tersebut, namun ukurannya lumayan besar. Dan ranjang  yang ditempati Aina serta Isha, lebih besar ukurannya dari yang ditempati oleh Mika dan Ann.


Val, Kafeel letakkan dibagian kosong tempat tidur tersebut dengan sangat hati-hati. Lalu senyum terpatri di wajah Kafeel dengan pandangan yang tertuju pada pusat dunianya yang nampak pulas itu, setelah Kafeel menyelimuti tubuh Val.


“Tidur yang nyenyak, Tuan Putri....”


Kafeel berucap pelan, sambil ibu jarinya menyentuh lalu mengusap pelan dahi Val.


“Sweet dreams, sweet sister,” ucap Rery lembut, lalu mengecup pipi Val sekilas, setelah Kafeel selesai mengusap dahi Val.


Dimana sudut bibir Kafeel tertarik, ketika ia melihat tindakan Rery yang nampak sekali penuh kasih sayang kepada para saudarinya itu, dengan melakukan hal yang sama seperti yang tadi Rery lakukan pada Val-kepada Aina, Isha, Mika dan Ann.


♥♥♥


Rery telah keluar dari kamar para saudarinya yang tampak sangat pulas tertidur itu, bersama Kafeel.


“Sweet banget sama saudari-saudarinya,” ucap Kafeel yang berjalan dengan merangkul pundak Rery, sambil ia tersenyum pada adik kandungnya Drea itu.


“Kebiasaan, Kak....”


Rery lantas menyahut seraya ia tersenyum lebar.


“Mau bagaimana menyebalkannya mereka kadang-kadang, tetap kayaknya ada yang kurang jika saat mau tidur, kami tidak saling mengucapkan selamat malam dan embel-embelnya, pada itu ciwi-ciwi rumpes....”


Rery menambahkan ucapannya.


Dimana Kafeel menambah kadar senyumnya, sambil ia mengacak pelan rambut Rery yang tingginya itu hampir menyamai Kafeel.


“Baguslah begitu....” kata Kafeel. “Kalian yang kan yang akan meneruskan keluarga ini dan nilai-nilai tentang arti kasih sayang sebuah keluarga yang telah para orang tua serta kakek nenek kalian ajarkan?”


“Iya, Kak.”


Rery menyahut.


“Kalian beruntung tau?....”


Kafeel berkata.


“Selain kalian masih memiliki orang tua yang lengkap dan hidup dalam kehidupan yang lebih tinggi dari sekedar berkecukupan, kalian hidup dalam lingkup kasih sayang yang berlimpah. Sementara diluar sana, yang bahkan kehidupan ekonominya seperti kalian dengan orang tua yang masih lengkap juga, kakak rasa dapat dihitung dengan jari tangan, yang hidupnya dapat dikatakan sempurna seperti kalian.”


“.....”


“Bergelimang harta, dan dimandikan dengan perhatian serta kasih sayang dalam keluarga sampai sebegitunya.... Terlepas dari kekayaan kalian, keluarga kalian ini begitu hebat. Hebat, karena orang-orang yang begitu menjunjung tinggi arti kebersamaan dan kasih sayang itu sendiri dalam keluarga ini, meskipun kalian ada yang berbeda darah-“


“Iya, Kak....” sahut Rery lagi. “Dan aku mensyukurinya setiap detik,” tambahnya.


“Oh, harus itu!....”


Rery pun tersenyum pada Kafeel, setelah mendengar timpalan Kafeel.


“Kak....” panggil Rery kemudian.


Lalu Rery menghentikan langkahnya sejenak.


“Ya?” sahut Kafeel. “Kenapa, Ry?”


“Bukan apa-apa sih.... Cuma ingin menyampaikan permintaan kecil saja pada Kak Kaf,” jawab Rery.


“Apa itu?....”


“Jaga Val, Kak.... Fisiknya, terlebih hatinya. Cintanya Val pada Kak Kaf, kami tahu seberapa besar dan dalamnya. Aku dan yang lain, berharap Kak Kaf pun mencintai Val sebagaimana dia pada Kak Kaf. Sama seperti jika Mika, Ann, Isha ataupun Aina yang terluka hatinya, kalau Val terluka lalu sedih berkepanjangan, aku dan para lelaki lainnya dalam keluarga ini akan juga merasakan luka dan kesedihan yang sama.”


“.....”


“Val jangan disakiti, karena menyakiti Val sama saja menyakiti kami. Dan jika Val tersakiti hingga sampai ia kelewat bersedih, Kak Kaf tidak hanya akan menghadapi delapan Naga di keluarga ini, tapi sepuluh. Yang akan tanpa segan ‘menyemburkan api’ pada Kak Kaf, untuk setiap air mata kesakitan yang keluar dari mata Val. Jika saja Kak Kaf sampai menyakiti hati Val dengan sangat dalam....”


♥♥♥♥♥♥


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2