HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 173


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Semoga selalu syuka.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Pada suatu tempat di bawah langit....


“Eh, mereka bergerak tuh!” Aro memotong saat Achiel hendak lagi berbicara.


Dimana Rery dan Ann, berikut empat pengawal pribadi dari tiga pewaris tersebut, langsung menolehkan kepala mereka ke arah tempat Lena berada.


“Mending kita ikutin aja mereka?”


Aro mencetuskan ide.


“Aku setuju dengan Aro!”


Ann langsung menanggapi cetusan idenya Aro barusan.


“Ya sudah, ayo....“


‘Duh ilah ini bocah-bocah, nyali pada kegedean amat sih?!’


Begitu kira-kira batin Achiel dan tiga rekannya, saat Rery dan Ann menanggapi dengan antusias idenya Aro untuk mengikuti Lena, karena terlihat beberapa motor dari kumpulan geng motor kriminal yang sedang mereka perhatikan itu mulai bergerak pergi dari tempat mereka sekarang.


“Tuan Muda Aro, Tuan Muda Rery, Nona Muda Ann, apakah kalian bertiga ingin terkena murkanya para Tuan Besar dan Tuan Alva?”


“Haish!” Dan didetik dimana Achiel selesai bicara-yang mana ucapan Achiel adalah sebuah peringatan bagi Aro, Rery dan Ann-ketiga pewaris muda tersebut langsung saja mendesis dan mengurungkan langkah.


♥♥♥


“Tapi jika Kak Lena sedang terancam gimana?....” tanggap Aro pada peringatan Achiel.


“Iya betul!....” Rery dan Ann menimpali.


“Lalu kalo terjadi apa-apa pada Kak Lena, apa kita ga akan merasa bersalah nantinya?....”


“Iya benar!....”


Lagi-lagi Rery dan menimpali-mendukung ucapan Aro.


“Nah ya uda-“


“Apa kalian bertiga tidak ingat apa yang saya katakan tadi?-“


Sebelum Aro menyelesaikan kalimatnya, Achiel sudah keburu menginterupsi.


“Tuan Alva menitahkan jangan berbuat gegabah demi menghormati keputusan Tuan Kafeel....”


“Achiel benar Tuan Muda, Nona Muda.... sebaiknya anda bertiga jangan melawan ucapan Tuan Alva.... Nanti anda bertiga sendiri yang akan sulit.”


Bram berkomentar.


“Masih inget kan murkanya Tuan Alva soal foto Nona Val waktu itu?-“


“Iya, sih-“


“Nah lebih baik anda bertiga patuh.”


Achiel kembali memperingatkan.


Lalu Rery, Aro dan Ann saling lempar tatap. “Jadi bagaimana?” celetuk Rery kemudian.


“Saya akan menghubungi mereka yang ada di Kediaman Utama, dan mengirim dua orang ke rumah ibunya Tuan Kafeel untuk memastikan apakah Nona Lena pulang kesana.”


“Lagipula dari pantauan saya tadi, adiknya Tuan Kafeel itu tidak terlihat sedang terancam, meskipun tidak terlihat menampakkan senyumnya-“


Simon menimpali ucapan Achiel.


“Biarkan kami yang mengurus masalah ini-“


Achiel lagi berbicara.


“Sekarang anda bertiga silahkan kembali saja berkumpul dengan teman-teman anda disana....”


Achiel menunjuk ke arah Rery, Aro dan Ann tadi berada.


“Atau pulang ke rumah Tuan Besar Herman dan Nyonya Besar Bela....”


Achiel lanjut bicara, mencetuskan pendapatnya. Lalu Rery, Aro dan Ann kembali saling lempar tatap sambil otak mereka menimbang-nimbang.


♥♥♥


“Ya udahlah.”


Aro bersuara setelah ia, Rery dan Ann menghela nafas setengah frustrasi.


“Mau gimana lagi?”


“Hem-“ dehem Rery.


“Iya, kamu benar Aro....” tukas Ann. “Mau seperti apapun kita mengkhawatirkan Kak Lena, kita tidak boleh membantah Abang....”


“Betul sekali, Nona Adrieanne....” ucap Fajar seraya ia menampakkan senyumnya. “Jangan pernah membantah ucapan Tuan Alva, atau keputusannya.”


Aro, Rery dan Ann kemudian manggut-manggut.


♥♥♥


“Jadi gimana?....” Kata Achiel. “Kalian bertiga mau lanjut disini atau mau kembali ke rumah Tuan Besar Herman dan Nyonya Besar Bela?-“


“Kami disini saja dulu sebentar.” Rery yang mewakilkan Aro dan Ann untuk menjawab Achiel.


Dan jawaban Rery barusan, membuat senyum di wajah empat bodyguard mereka terbit. ‘Selamaaaattt....’ mereka pun membatin bersamaan.


Dimana batin ke Achiel, Bram, Fajar dan Simon itu berkata dengan spontan akibat merasa lega-karena Rery, Aro dan Ann tidak kekeh ingin mengikuti Lena yang bersama dengan geng motor kriminal.


♥♥♥


Waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, lewat beberapa menit.


“Balik?....”


Aro berucap seraya bertanya pada Rery dan Ann.


“Iya, ayo....”


“Ann, masih mau balapan lagi?”


“Tidak.”

__ADS_1


Ann segera menyahut pada Rery.


“Hanya ada sekumpulan makhluk-makhluk sok jagoan besar mulut saja, tapi terlalu mudah untuk aku kalahkan.”


Dimana Aro dan Rery, berikut Zio dan para anggota kelompok motornya Aro dan Rery tertawa setelah mendengar cerocosan Ann.


“Lagipula apa yang kita bertiga dapat rasanya sudah cukup ya, Aro, Re-An?”


Ann tersenyum lebar, sambil menepuk-nepukkan sejumlah uang yang sedang ia pegang di tangannya itu. Yang mana uang tersebut, adalah uang yang Ann, Aro dan Rery menangkan, saat ketiganya ambil bagian dalam balap liar namun terorganisir beberapa saat yang lalu.


“Yah, sedikit sekali sih ini sebenarnya bagi aku. Bahkan uang jajan Ares dan Aina saja jauh lebih banyak dari ini ---“


“Yoi!.”


“Balapan lagi lah, biar tambah banyak itu duit.”


“Kalau taruhannya hanya seperti ini lagi sih, buang-buang tenaga ---“


“Yes, very right! ---“


“Beda anak-anak Sultan sih.” Zio berkomentar. Sambil Zio cengengesan.


Dimana Ann, Aro dan Rery mendengus geli.


“Jangan suka merendah, Zio. Ayah kamu juga seorang pengusaha, dan kakak kamu yang teman Abang itu kan juga sering diajak berbisnis oleh Abang kami? ---“


“Tetep aja jauh kalo dibandingin sama kalian bertiga sih....”


Zio menanggapi ucapan Ann.


“Yang menganggap lima juta kecil, sementara itu uang jajan gue setengah bulan....”


Zio berucap lagi.


“Banyak-banyak bersyukur.... diantara anggota kita ada yang bahkan uang jajannya ga nentu setiap hari.... sampai-sampai mereka rela jadi joki balap liar begini dengan taruhan nyawa kalo tantangannya out dari area ini-selain kena tangkep polisi.”


“Iya, sih....“ tanggap Zio. “Dan beruntung juga kalian sampai bisa mampir kesini, dan lo berdua mau waktu pertama kali gue ajak main ke tempat ini. Jadi dia orang yang suka kumpul sama gue dan kurang beruntung dalam ekonomi itu bisa sekolah dengan tenang tanpa mikirin bayaran....”


“Bukan dari kita orang juga secara langsung sih.”


Rery berucap.


“Kita orang hanya mengajukan proposal beasiswa pada para Dad kami, Abang sama Kak Tan-Tan ---“


“Iya tapi kan ga ada yang mereka tolak proposal kalian buat temen-temen kita yang kurang mampu ---“


“Dan sepertinya mereka orang-orang yang tahu berterima kasih, karena mereka tidak menyiakan kesempatan yang kami buka demi masa depan mereka sendiri.”


“Kalian kan selalu bilang, yang mana itu jadi motonya Eoost. Bandel boleh, bego jangan!.... Ditambah lo bertiga yang punya nasib kelewat bagus. Keluarga tajir, otak pada encer. Tengsin lah mereka yang jauh banget dari kalian kondisinya-terus dapet kesempatan memperbaiki diri tanpa harus meninggalkan hobi, tapi mereka sia-siakan itu kesempatan gratis, sekali seumur hidup ---“


“Ya bagus kalo mereka sampe mikir kesitu ---“


“Yup, setidaknya kami tidak membuang waktu kalau sedang memberikan ceramah pada kalian....”


Zio terkekeh kecil setelah mendengar ucapan Rery yang menimpali perkataan Aro.


“Mulut kalian kelewat tajem sih.”


Lalu Zio berkomentar lagi.


“Sorry Bro, tapi ga sekedar mulut tajem yang gue, Rery, Ann punya. Kemampuan akademis dan non akademis kita orang boleh kalian coba ---“


“Ogah banget nyobain kemampuan lo berdua yang ngelawan si Anton dan kelompoknya meski ga banyak-dan meski juga gue en beberapa anak-anak bantu. Tapi lo berdua menang dengan hasil telak bahkan tanpa ada lebam di muka ---“


Rery menunjuk kepalanya.


“Dan otot lo seimbang hebatnya....”


“Project Kiddos? ---“


“Yup!....” tukas Aro, Rery dan Ann.


“Apaan itu?”


“Pelatihan yang kita orang dapet dari orang tua en kakak-kakak, supaya jadi pribadi yang cerdas dan kuat. Yang mana alasannya adalah background kita orang....”


“Orang tua kami-terutama, ga mau anak-anaknya sekedar kuat tapi bodoh. Terdengar otoriter mungkin, tapi tidak bagi kami, karena melihat betapa hebatnya keluarga kami-sorry ga ada maksud sombong, tapi kalau lo lebih mengenal our Dads-jangankan orang lain, kami saja sebagai anak-anaknya mengidolai mereka dengan sangat  karena kemampuan otak dan fisik mereka, selain mereka amat sangat kaya---“


“Our remarkable Dads ( Para Dad kami yang luar biasa )”


Ann menimpali ucapan Aro dan Rery dengan ungkapan ketakjubannya pada The Dads, yang memang seperti itu kenyataannya-tanpa melebih-lebihkan sedikitpun.


“Wow, gue jadi pengen ketemu langsung sama Dad kalian....”


“Dads....”


Ann, Rery dan Aro meralat satu kata dari ucapan Zio.


“Karena Dad kami banyak, begitupun Mom kami....”


Rery menambahkan.


“Iya, iya....” tanggap Zio. “Kalo gitu ajak gue dong ikut itu Project yang kalian bilang tadi.”


“Jangan. Kamu ga akan kuat....” ledek Aro sambil terkikik.


“Ck!” decak Zio. “Gue serius ini!....”


“Ya memang Aro benar, lo tidak akan kuat....”


Rery menimpali.


“Persyaratannya apaan biar gue bisa ikut masuk ke itu Project?....” kata Zio. “Asli gue tertarik sumpah! Dan gue serius nanya....”


“IQ lo berapa?” tanya Aro yang menanggapi antusiasme Zio.


“140....”


“Tambahkan 10 lagi....”


“Oke gue bakal latih otak gue buat itu 10 poin IQ.” Zio menyahut antusias. “Terus latihan fisiknya? Apa pertamanya? Lari ngiterin GBK? ---“


“Bisa menyelam lama di dalam air? ---“


“Satu jam gue sanggup....” sahut Zio yakin. ‘Insya Allah....’ dalam hatinya.


“Dengan tangan dan kaki terikat.....”


“Heu?....”


“Kalau sukses dengan tantangan itu di kolam renang, lo akan mengulanginya di laut lepas ---“

__ADS_1


Zio pun cengo.


“Bentar-bentar, gue mau tanya----“ kata Zio dengan gemas. “Bokap lo semua, pelatih Denjaka?....”


♥♥♥


Aro, Rery dan Ann tergelak bersama setelah mendengar celotehan polos Zio-sambil ketiganya beranjak dari duduk mereka, karena waktu sudah mencapai jam setengah tiga pagi akibat mengobrol dengan Zio.


Dan kini Aro, Rery dan Ann sudah benar-benar hendak pergi dari tempat mereka sekarang dan kembali ke rumah Keluarga Cemara.


“Yuk ah, kita orang bakil dulu!....”


Aro berucap seraya berpamitan pada Zio dan para anggota kelompok motornya dan Rery.


“Sekaligus gue sama Ann pamit juga, karena besok kami kembali ke London.”


Lalu Rery yang berbicara.


“Yaaaaahhhh lama nih bakal ga ketemu sama satu Ketu?....” Kesahan pun terdengar dari anggota kelompok motor Aro dan Rery-sehubungan dengan kepergian Rery yang memang berdomisili di London.


“Dua minggu lagi kita balik kesini. Ada acara tahunan soalnya....”


Rery lanjut bicara.


Dan riuh suara ‘asek-asek’ pun terdengar.


“Bawain coklat lagi dong dari Inggeris, Bos....”


“Atribut MU ori dong, Ry....”


“Jaket kulit, Bos. Bawain yang banyak biar buat seragam gitu.”


Celetukan para fans aji mumpung punya ketua tajir yang suka bolak-balik luar negeri pun terdengar.


“Ga tau malu!” kekeh Zio.


“Ya namanya juga usaha dapet barang gratisa!....”


Ann, Aro dan Rery sontak terkekeh mendengar celetukan-celetukan itu.


“Gue ada bawa sedikit merchandise dari London, hanya lupa gue bawakan kesini.”


“Aseek....”


“Nanti gue titip ke Aro –“


“Kalo repot kita orang ambil sendiri juga mau! –“


“Atur saja lah sama Aro nanti....”


“Siaaappp!”


“Hah jangan deh suruh mereka ke rumah kalian. Abis nanti nasi disana! –“


“Wa elah Zio, sentimen amat!”


“Tau ‘Yo, kita juga pengen tau kan rumahnya Pak Ketu!”


“Tau Zio, huu. Egois kamuh Zio. Maen ke rumah Rery sama Aro sendirian aja si. Ga setia kawin lu, ‘Yo!”


Celetukan-celetukan yang saling bersahutan tidak kelar-kelar, membuat Ann, Rery dan Aro geleng-geleng sambil terkekeh geli saja dengan kelakuan para anggota kelompok mereka yang mana Rery dan Aro lebih suka menyebut mereka ‘kawan’ daripada ‘anggota’.


“Dah mendingan kalian bakil deh! Nungguin ini manusia gaje pada ngomong ga bakal kelar sampe ketemu pagi lagi. Sakit kuping lo bertiga bakalan dengerin ocehan mereka lama-lama! Jadi mendingan kalian cus buru-buru dari sini....”


Ann, Rery dan Aro terkekeh lagi, sebelum mereka bertiga berpamitan untuk yang kedua kalinya.


“Ah iya, by the way,” Ann berucap sebelum pergi. “Ini....”


“Eh? –“ Zio dan kawan-kawan tiga pewaris itu terkesiap kala Ann menyodorkan gepokan uang yang ada di tangan Ann kepada Zio.


“Untuk kalian saja. Silahkan dibagi rata dengan adil uang ini....”


Ann berucap dan mereka yang tadinya terkesiap kemudian terperangah.


“Serius nih, Ann?????” kata Zio yang terperangah, dan Ann mengangguk-angguk.


“Iya, serius.... “ ucap Ann sambil menarik tangan Zio dan meletakkan gepokan uang yang lumayan banyak itu ke tangan cowok yang bisa dikatakan sebagai wakilnya Rery dan Aro.


“Lima juta rupiah lebih ini loh?....”


Salah seorang berucap tergugu, karena Ann memberikan uang yang dimenangkannya, berikut uang yang dimenangkan juga oleh Rery dan Aro dalam sekali jalan balapan iseng-iseng mereka, dengan beberapa anak kebanyakan lagak.


“Lalu?....” tukas Ann.


“Yaaaa, ini kan banyak, Ann.”


“Ambil saja.”


Dimana Zio dan para anggota Klub Motor binaan Rery dan Aro itu kemudian memandang pada Rery dan Aro, yang kemudian mengiyakan agar Zio menerima uang tersebut sebagai perwakilan.


“Bagi dua lah sama kalian, gimana?....”


“Iya bener nih, bagi dua aja! Ini kan hasil kalian sendiri.”


Ann, Rery dan Aro kompak menggeleng. “Untuk kalian saja semua uang itu –“ ucap Ann kemudian.


“Serius Kaka Ann????....” celetukan tidak percaya terus keluar dari mereka yang sedang bersama tiga pewaris itu saking antara enak ga enak selain takjub aja melihat Ann, Rery dan Aro memberikan uang lima juta begitu saja untuk mereka tanpa mengambil sepeser pun.


Meskipun ada diantara mereka tergolong dari kalangan mampu, tapi lima sampai sepuluh juta itu juga mereka dapat dari kalkulasi uang jajan, uang main-kalo jatah dari ortu.


Jadi lima juta yang mentah-mentah diberikan oleh Ann ke tangan Zio itu sungguh uwow sekali bagi mereka, meski tahu kalau dari cerita Zio, tiga orang tersebut adalah anak orang kaya.


Namun sekaya apa keluarga Ann, Rery dan Aro, mereka tidak tahu persis. Karena bertemu ketiganya selalu di tempat balapan liar seperti sekarang ini, atau hangout di sebuah tempat. Hanya tau wajah-wajah keluarga Ann, Rery dan Aro dari medsos ketiga orang itu.


Namun tidak pernah kepikiran untuk mencari tahu nama belakang ketiganya.


“Iya serius,” tanggap Ann pada ucapan salah seorang tadi.


“Banyak loh ini Kakaaaa....”


“Uang ini hanya cukup membeli shampoo dan conditionerku saja....”


Ann berkata dengan entengnya, tanpa bermaksud untuk sombong, karena memang itu kenyataannya.


Membuat jiwa miskeeen dan pas-pasan ( apalagi kalau ada orang tua yang mampu tapi kelewat sayang sama anaknya. Sayang dalam arti merasa kerajinan beut ngasih duit berjut-jut ke anaknya, cuma buat beli sampo sama kondisioner dengan harga jutaan ).


Jiwa-jiwa pas-pasan itu rasanya ingin berdemo dengan sangat ( entah mau demo ke siapa  )-berikut hati yang bertanya-tanya,


‘Itu sampo sama kondisioner harga lima juta, ga usah diratain pas keramas-bisa rata sendiri kali?.... Ngeresep otomatis gitu? -’


♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2