HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 53


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...


“Kak Kafeel sudah disediakan minum dibawah? ...”


Itu Val yang bertanya pada Kafeel yang sedang duduk di sofa dalam kamarnya, sementara Val berdiri.


Kafeel mengangguk.


“Sudah.”


“Minum apa? ....”


“Susu ....” gumam Kafeel pelan.


“Hem? ....”


Val berdehem.


“Susu? ....”


Val mengulang satu kata jawaban Kafeel dengan nada bertanya tentang minuman yang Kafeel minum dibawah katanya.


Namun kemudian Kafeel langsung tersadar akan jawabannya yang asal keluar dari mulutnya itu akibat pabrik susu yang kini berada dekat dengannya, walau tak begitu dekat juga.


Agak tinggi memang, pabrik susu itu dari kepala Kafeel. Namun kiranya jika Kafeel mengangkat tangan kirinya, pabrik susu non komersial itu bisa sekejap saja dalam genggamannya.


“Eng mak-sud kakak kopi susu.” Ralat Kafeel. “Iya, kopi susu .... tadi Kakak minta disuguhi kopi susu di bawah.” Sambung Kafeel.


“Oh ....”


Val pun manggut-manggut.


“Eum Val ....”


Kafeel bersuara.


Pelan, namun Val masih dapat mendengar jika Kafeel memanggilnya.


“Iya Kak? ....” sahut Val.


“Kamu pakai baju dulu sana.”


“Iya.” Sahut Val lagi. “Ini juga Val hendak berpakaian, tapi Kak Kafeel datang.”


Lalu Val menampakkan seutas senyuman pada Kafeel sebelum ia berjalan masuk ke dalam walk in closet pribadinya, dalam kamar bernuansa putih dengan dekorasi bulu yang mendominasi.


‘Jadi Val itu sadar kalau sedari tadi dia hanya menggunakan bathrobe?! ....’ hati Kafeel bermonolog. ‘Apa dia sengaja gitu mau menggoda gue?? ....’ sambung hati Kafeel. Namun kemudian Kafeel menggelengkan kepalanya.


Kepala atas menggeleng, namun saiton membuat kepala bawah Kafeel mengangguk.


Iya, pasti sengaja itu Val menggoda kita. Hajar lah Bro. Test drive dikit.


Kata si Otong atas dorongan saiton nirojim.


Yang rasanya ingin Kafeel sentil makhluk tak berakhlak miliknya itu, yang sejak tadi menggeliat-geliat kecil  tanpa permisi.


“Oh iya Kak ....”


Suara Val, membuat Kafeel spontan menoleh ke arah dimana Val berada, yang sedang berdiri di ambang pintu walk in closet pribadinya itu.


“Kalau ingin susu buka saja--”


“Heu??!!..”


*


Tercengang antara kaget dan sebersit harapan soal susu yang terdengar ambigu dari mulut Val, Kafeel yang tercengang itu, segera menoleh ke arah walk in closet sampai memiringkan tubuhnya.


Berharap, ( dalam bayangan Kafeel ini ya )-Val yang sedang berjalan menuju walk in closet pribadinya itu, sedang menghadap padanya, sambil menggerakkan telunjuk sebagai sebuah kode agar Kafeel bangkit dari duduknya dan ikut masuk ke dalam walk in closet pribadi Val tersebut.


Macam sebuah iklan produk untuk dewasa yang sedikit nakal itu.


Toh Val meski bocil kalau dibandingkan dengan usia Kafeel, namun melirik usia kekasih kecilnya itu, Val sudah terhitung, dapat dikategorikan sudah tak lagi remaja.


Apalagi selama ini Val tinggal di London. Pasti hal-hal menjurus seperti itu, Val sudah lah mengerti. Jadi jika Val mau mengajaknya berintim ria, sungguhlah Kafeel tak mau menolak untuk diajak khilaf oleh Val.


Yah kira-kira begitulah pikiran Kafeel yang sedang digelitik oleh bisikan saiton.


Meski Kafeel tetap bergeming ditempatnya saat Val tadi bilang, “Kalau ingin susu buka saja---”


Kan lagi nunggu undangan buat diajak masuk ke walk in closet oleh Val?...


Tapi sayang, angan Kafeel pun terbang terusir setelah Val meneruskan kelanjutan dari kalimatnya tadi.


“Kulkasnya .... ada banyak stok susu UHT disana.”


“Ooohhhh”


AA Kafeel manggut-manggut.


‘Kirain?..’


“Val kan hobi minum susu---“


‘Iyah, aku juga hobi banget minum susu! Apalagi kalo susu ...’


*


Kafeel mengelilingkan pandangannya di dalam kamar Val, saat si empunya sedang masuk ke dalam walk in closet pribadinya untuk berpakaian dengan benar dimana hal itu menimbulkan suatu kelegaan bagi Kafeel.


Kamar Val cukup luas.


Bahkan lebih luas dari kamar milik Kafeel yang berada di dalam rumah yang ia beli untuk ibu dan adiknya, setelah memboyong keduanya kembali ke Jakarta saat menerima tawaran pekerjaan dari Varen.


Kafeel hanya sekilas saja melihat kamar Val yang berada di Mansion megah milik keluarganya yang berada di Jakarta dan London, jika mereka sedang ber video call ria. Namun tidak pernah melihat secara keseluruhan isi dalamnya.


Dan saat ini, adalah kali pertama Kafeel masuk ke dalam kamar gadis belia yang kini telah menjadi kekasihnya itu.


*


Kamar Val tidak didominasi oleh warna kesukaan gadis belia pada umumnya.


Kamar kekasih kecil Kafeel itu didominasi oleh warna putih.


Cocok rasanya dengan kepribadian si empunya kamar yang memang baik hatinya.


Putih pada kamar Val, juga menggambarkan sisi kepolosan seorang Val yang ada didalam sebagian dirinya.


Suci.


Sebagaimana cintanya Val pada Kafeel.


Suci dan menggemaskan juga sih.

__ADS_1


Sebagaimana menggemaskannya aksen serta aksesoris bulu yang menghiasi kamar Val.


Sungguh menginterpretasikan seorang Val bagi Kafeel.


Val yang wajahnya cantik itu, cantik juga hatinya. Val yang sedang menuju tahap kedewasaan itu, nyatanya masih memiliki sisi kepolosan bak gadis remaja.


Dan Val memang menggemaskan, dari sejak bertemu kala Val masih berusia lima tahun pun, rasa-rasanya Kafeel memang sudah gemas pada adik kandungnya Varen itu, walaupun setelahnya Kafeel tidak pernah lagi bertemu dengan Val, hingga sampai liburan berpesiar besar-besaran yang diselenggarakan oleh keluarga Val.


Val sudah remaja yang Kafeel kembali temui hari itu.


Namun sisi menggemaskan Val, nyatanya masih menempel padanya.


Didukung dengan keimutan wajah Val.


Dan sisi menggemaskan Val yang masih menempel di diri Val saat Kafeel melihat dan bertemu dengan gadis itu kala Val masih berusia lima tahun, nyatanya membawa Val kian ‘menempel’ padanya.


Lalu, Val remaja, menyatakan cinta padanya. Yang Kafeel tanggapi, sebagai sebuah guyonan saja.


Sebentar saja paling sikap Val yang seolah tergila-gila padanya, selain Kafeel tidak menanggapi karena Val adalah gadis remaja yang jauh dibawah usianya.


Pikir Kafeel seperti itu.


Tapi nyatanya tidak begitu.


Apa yang Val katakan padanya tentang gadis imut yang mencintainya itu, nyatanya tidak pernah berubah sampai detik ini.


Seiring waktu membuat Kafeel menjadi terbiasa dengan Val yang ‘menempel’ padanya, bahkan menjadi terlalu terbiasa.


Hingga terkadang, Kafeel terlalu sering teringat pada Val. Namun ya itu, Kafeel tidak membiarkan ia yang menjadi sering teringat Val, larut pada perasaan atas dugaan jika ia tertarik pada gadis berusia belasan.


Sampai pada saat beberapa jam lalu, kala Val mengatakan jika gadis itu mau ‘mengundurkan diri’ untuk mengejarnya, untuk menempel padanya. Ketidakrelaan langsung hinggap di hati Kafeel.


Kafeel ragu mengakui jika dirinya mencintai Val. Namun Kafeel tidak rela dijauhi Val.


Hingga keraguan itu Kafeel tepiskan, atas rasa tak mau ‘ditinggalkan’ oleh Val. Kafeel mau Val terus ‘menempel’ padanya seperti sebelum-sebelumnya.


Sesuatu yang Kafeel nikmati, entah sadar atau tidak.


Sampai diantara sadar dan tidak juga, di galeri foto dalam ponsel Kafeel, ada banyak sekali foto Val yang menjadi koleksi pribadinya.


Yang entah sejak kapan Kafeel mulai kumpulkan, lalu di simpan dalam folder terpisah dari foto yang lainnya.


Bicara tentang foto, Kafeel yang sedang mengelilingkan pandangan di dalam kamar Val itu kemudian tersenyum dengan tampannya, selain ia merasa tidak percaya dengan apa yang mendominasi kamar Val selain aksesoris bulu-bulu yang membuat kamar itu rasanya begitu nyaman untuk ditempati.


Kafeel rasanya tak percaya, jika di dalam kamar Val itu banyak sekali foto dirinya yang terbingkai indah dalam pigura-pigura foto.


Baik foto dirinya yang sendiri, ataupun yang berdua bersama Val, yang membaur dengan foto-foto diri Val serta foto-foto keluarga kekasih kecilnya itu.


Kafeel takjub.


Sampai seperti itu ternyata Val memujanya.


Dan hati Kafeel terasa menghangat.


Namun ada juga sebersit perasaan bersalah dalam hati Kafeel, karena pernah menganggap remeh perasaan Val padanya.


Jika melihat foto-fotonya yang tergantung atau berada di atas sebuah nakas, sudah tergambar dengan jelas-kalau pemilik kamar ini, tidak main-main dengan perasaan suka dan cintanya pada Kafeel.


Demi Tuhan Kafeel benar-benar tersanjung, karena foto-foto dirinya yang Val pajang di dalam kamarnya ini. Jika seandainya saat ini Kafeel masuk kedalamnya dengan status bukan pacar, rasanya Kafeel akan merasa lebih tersanjung lagi.


Mungkin, jikapun Kafeel tidak merasa mencintai Val, Kafeel akan meminta Val untuk langsung menjadi kekasihnya jika melihat dirinya begitu dipuja seperti ini oleh seorang wanita-seorang gadis, sampai sebegitunya. Meski didasari oleh rasa tidak tega.


Tapi berhubung sekarang Val telah menjadi kekasihnya dan juga Kafeel sudah meyakini rasa cintanya pada Val, selain tetap merasa tersanjung, Kafeel bahagia. Dipuja oleh seseorang yang juga dicintai itu Kafeel rasa luar biasa, meski Val adalah gadis belia yang jauh rentang usianya.


Namun gadis belia itu, telah menjungkir-balikkan dunia Kafeel, menggelitik hatinya, seolah ada banyak sekali ulet bulu yang sedang ngesot didalamnya.


‘Dasar ulet bulu, baru liat isi dalam kamarnya aja hati gue udah berdebar-debar saking senang.... apalagi lihat isi....’


*


‘I love you, Val, my little darling.’


Kafeel membatin dengan memuja, seraya tersenyum tampan sambil tangannya mengangkat satu pigura foto yang membingkai foto diri Val yang wajahnya dibuat ‘jelek’ ekspresi dengan bibir yang memble ( paham kan ye, memble? 😃 ).


Namun ekspresi jelek Val difoto itu, malah bukan membuat Kafeel ilfeel.


‘Ga ada jelek-jeleknya kamu Val. Malah bikin aku jadi pengen sambar lagi itu bibir.’


Monolog hati Kafeel, dimana bibir Kafeel mengulum senyuman, saat dia memperhatikan foto Val dalam pigura yang sedang ia pegang sekarang itu.


“Dor!”


Suara mengagetkan bernada pelan dalam candaan itu, menarik Kafeel dari keasyikannya menatap foto Val yang sedang Kafeel pegang.


“Hei.”


Kafeel menoleh pada orang yang mengagetkannya dalam candaan itu.


Lalu Kafeel tersenyum pada gadis yang kini sudah berdiri di dekatnya, dan sudah berpakaian dengan benar.


“Daripada memandangi fotonya, lebih baik memandangi orangnya langsung!”


Si empunya foto, yakni Val, dimana mukanya tercetak pada foto dalam pigura yang dipegang Kafeel tadipun segera berbicara dengan tersenyum cantik dan imut pada Kafeel.


“Kan tadi orangnya sedang berpakaian ...”


Kafeel menyahut lembut pada Val dengan tidak menghilangkan senyumannya.


“Nah begini kan benar, pakai baju,” ucap Kafeel setelah ia meletakkan foto Val dalam pigura yang sedang dipegangnya itu, kembali ke tempatnya.


“Loh tadi kan Val juga berpakaian?”


“Itu bukan pakaian Val cantik, tapi bathrobe.”


“Bathrobe kan jenis pakaian juga Kak ..”


‘Iya, jenis pakaian yang membuat aku cenat-cenut kalo liat kamu pakai itu di depan aku!’


Gerutu Kafeel dalam hatinya.


‘Mana lama kayaknya ini baru bisa dihalalin! Karena gue belom menghadap biangnya ‘naga’!’


*


“Kak Kafeel memang benar sudah hendak pulang?....”


Val sontak bertanya pada Kafeel yang menolak untuk diajak duduk lagi di sofa dalam kamarnya itu, dengan alasan ia ingin berpamitan untuk pulang saja.


“Iya,” jawab Kafeel.


“Kenapa buru-buru Kak?---“


“Sudah sore, Val cantik pasti juga cape kan?...”


“Tidak tuh!” tukas Val. “Val tidak cape. Tidak lelah sama sekali ...”


“Tapi kan hari ini Val sudah banyak beraktifitas? ..”

__ADS_1


“Ah hanya ke Perusahaan Dad, itupun saat hari hampir siang baru Val kesana. Lalu lunch dengan Abang dan Kak Drea, lalu ke pantai. Dipantai juga Val hanya berjalan-jalan kecil, mengobrol dengan Kak Achiel lalu Kak Kafeel, habis itu makan lagi bahkan...“


Kafeel menarik sudut bibirnya lagi selepas Val bercerocos ria.


“Eh atau Kak Kafeel yang sebenarnya lelah ya? ...”


Val bertanya.


“Maaf ya, kalau Val egois. Hanya –“


“Hei...”


Kafeel menangkup wajah Val dengan kedua tangannya, lalu menatap Val lamat-lamat.


“Siapa yang bilang Val egois?..” kata Kafeel.


“Val sendiri.” Sahut Val.


Kafeel pun langsung menggeleng.


“Val cantik ga egois.” Ucap Kafeel kemudian.


“Habis Val malah memikirkan diri Val yang tidak merasa lelah ini karena bersama Kak Kafeel tanpa memikirkan Kak Kafeel yang mungkin saja lelah. Kan Kak Kafeel sudah bekerja sedari pagi, lalu menyusul dan menemani Val di pantai, lalu mengantar Val pulang.”


Val kembali bercerocos ria, dan Kafeel tersenyum dibuatnya. Nampak lucu, dan menggemaskan di mata Kafeel saat Val bercerocos ria seperti itu hingga bibir Val seolah bak sedang menari-nari, menggoda Kafeel untuk menyambar bibir ranum berwarna merah muda alami tanpa pemoles.


Nyiur melambai kalah dengan bibirnya Val.


“Pasti Kak Kafeel sangat lelah, iya kan? ...” kata Val.


Kafeel menggeleng lagi. “Engga kok—“ sahut Kafeel. “Kakak ga merasa lelah sama sekali ...”


“Benar? ....”


Kafeel mengangguk kemudian, menanggapi pertanyaan Val barusan yang memastikan.


“Benar. Bahkan biasanya juga kerja sampai malam, baru Kakak pulang setelah pekerjaan Kakak selesai ...”


“Iya sih ...”


“Kakak justru takut Val yang kelelahan, jadi Kakak akan memberikan kesempatan untuk Val beristirahat ..”


“Terima kasih ya Kak?”


“Terima kasih untuk apa?”


“Terima kasih untuk hari ini ...”


Val memegang tangan Kafeel yang sedang menangkup wajahnya itu.


“Terima kasih sudah mencintai Val...” kata Val.


Dimana Kafeel menggeleng seraya tersenyum, sambil mendongakkan sedikit kepala Val dengan lembut, namun Kafeel tetap juga merundukkan sedikit tubuhnya yang menjulang seperti Varen itu.


“Kakak yang mau berterima kasih pada Val ....”


Kafeel berkata kemudian, sambil menatap lekat mata Val.


“Sudah seharusnya bahkan---“ sambung Kafeel.  “Terima kasih sudah mencintai Kakak sampai seperti ini.”


Suara ketulusan bercampur bahagia, terdengar dari ucapan Kafeel barusan.


“Kakak sungguh tersanjung, Val –“


Lalu Kafeel menegakkan tubuhnya, untuk sekedar mengedarkan pandangannya ke seisi kamar Val – pada beberapa foto-foto dirinya yang terpajang di dalam kamar Val tersebut.


“Sekarang Kak Kafeel percaya, betapa Val mencintai Kakak?”


“Sangat Val.”


Kafeel mengangguk seraya kembali menatap pada Val, dengan kedua tangannya yang kini berada di bahu Val, kembali membuat Val berhadapan dengannya.


Val tersenyum cantik kemudian.


“Terima kasih ya? .....”


“Sama-sama Kak....” sahut Val.


“Dan maaf selama ini Kakak mengabaikan perasaan Val.”


“Ga apa kok Kak ....”


Tangan Val terulur untuk menyentuh wajah pria yang ia cintai sepenuh hati, terlepas dari para pria di keluarganya.


“Val mengerti.”


Melanjutkan ucapannya, sambil mengusap satu sisi pipi Kafeel dengan lembut.


“Pasti Kak Kafeel risih didekati oleh anak kecil macam Val? –“


“No Val cantik .. Kakak justru yang merasa kalau diri Kakak ini tidak pantas untuk Val. Jadi ya Kakak sengaja mengabaikan setiap pernyataan cinta Val, meski Kakak merasa bersalah.”


Kafeel tersenyum miris.


“Maaf ..”


“Ih Kak Kafeel nih ---“


Val mencebik.


“Semua manusia itu sama saja derajatnya di mata Tuhan. Yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya hanya sifat dan kepribadiannya.”


Val berkata bijak. Dimana apa yang Val katakan barusan, adalah satu hal yang diajarkan dan ditanamkan oleh para orang tua Val yang banyak itu pada dirinya serta pada para saudara-saudarinya.


Kafeel pun tersenyum selepas mendengar ucapan Val barusan.


“Val jatuh cinta pada pandangan pertama pada Kak Kafeel.” Val kembali berbicara. “Siapapun Kakak, apapun status sosial Kakak, bagi Val itu tidak penting. Yang penting keluarga Val sudah bilang Kakak orang yang baik, dan itu membuat Val semakin bersemangat mengejar Kakak, tak perduli apapun itu.”


Val tersenyum pada Kafeel, dengan tangannya yang masih mengelus lembut pipi Kafeel. Dimana pria itu, sungguh sangat menikmati apa yang tangan halus Val lakukan di wajahnya itu. Berharap Val tidak cepat menarik tangannya dan berhenti melakukan apa yang sedang dilakukannya sekarang. Kafeel juga menampakkan senyumnya pada Val.


“Cinta sejati itu tidak pernah membedakan sifat, raga, jasmani serta harta seseorang. Karena cinta sejati itu, cukup hanya dengan sebuah ketulusan dan keikhlasan hati... Dan seperti itu cinta Val pada Kak Kafeel, tak perduli darimana Kakak berasal. Karena bagi Val, Kak Kafeel itu sempurna hingga Val jatuh cinta, dan mencintai Kakak setiap detiknya. Andai Kak Kafeel menjadi tidak sempurna pun, Val akan tetap mencintai Kakak.”


‘Oh Val ...’


Kafeel tak bisa menahan rasa hangat dengan bahagia menyelimuti di dalam hatinya.


Sungguh Kafeel rasanya hilang kata saat ini, hingga yang dapat Kafeel lakukan, hanya menarik Val dalam dekapan.


“I love you, Val. Baby...”


*


To be continue....


Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komen dan Vote or Hadiah-Jika berkenan.


Tenk yu somad untuk dukungan kalian sampai dengan detik ini.

__ADS_1


Loph Loph,


Emaknya Queen.


__ADS_2