
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
London, Inggris ..
The Great Mansion of The Adjieran Smith ..
Suasana berbeda nampak di mansion tersebut saat ini.
Begitu ramai, dengan banyak pelayan dan bodyguard yang sudah berdiri berjajar dengan rapih, di masing – masing sisi teras depan mansion.
Lalu ada beberapa kerabat yang nampak tersenyum lebar ketika barisan beberapa mobil yang melaju beriringan hampir sampai ket tempat orang – orang itu berada, bahkan dari sejak mobil – mobil tersebut melewati gerbang mansion megah milik The Adjieran Smith Family itu ---- padahal jarak pandangnya agak jauh.
Namun senyum – senyum sumringah sudah terpatri dari orang – orang yang memang sengaja berkumpul untuk menyambut kedatangan mereka yang ada di dalam iring – iringan mobil tersebut ---- saat mereka telah melihatnya.
Dan mereka yang berada di dalam mobil pun, masing – masing tersenyum lebar melihat orang – orang yang sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan mereka tersebut ---- selain sempat dibuat terkejut juga dengan penyambutan yang memang tidak semarak dengan hiruk pikuk, namun cukup ramai itu.
“Wow!”
Begitu kira – kira cetusan yang keluar dari mulut beberapa orang anggota The Adjieran Smith saat melihat kumpulan orang – orang yang terdiri dari kerabat sangat dekat, para bodyguard dan para maid setia mereka.
“Ide siapa ini? ---“
“Ga tau juga .....”
♦
Ide penyambutan bukanlah datang dari para personel The Adjieran Smith Family.
Melainkan dari para kerabat sangat dekat mereka yang mengatur rencana mereka sendiri, ketika mendapat kabar jika satu keluarga itu akan kembali ke London ---- tanpa terkecuali, setelah selama beberapa bulan terakhir menetap di Italia.
Terlebih, acara penyambutan itu juga sebagai bentuk sukacita orang – orang terdekatnya para personil inti The Adjieran Smith Family, atas Val yang kini telah dalam kondisi baik. Dan yang pasti, hidup.
“Welcome home.”
"Totally back home."
Menjadi sapaan yang terdengar saat para personil The Adjieran Smith sudah keluar dari dalam mobil yang mereka tumpangi.
Dan kalimat – kalimat sapaan lain yang menandakan kelegaan, satu per satu tercetus dari para kerabat sangat dekat The Adjieran Smith Family yang menyambut mereka saat ini.
Berikut kalimat haru, yang diwarnai mata berkaca – kaca ketika melihat Val yang orangnya kini sudah terlihat sangat baik kondisinya ---- kembali dapat mereka lihat wajah cantik Val dengan senyuman ceria yang menjadi ciri khasnya.
Terakhir, pelukan hangat menjadi pelengkap penyambutan dari para kerabat dekat yang memang tulus menyayangi tiap – tiap anggota keluarga inti The Adjieran Smith tanpa terkecuali ---- yang kini mereka lihat, tidak lagi berselimut duka wajahnya.
Sekaligus juga melepas rindu, karena intensitas pertemuan yang dibatasi oleh Dad R dan lainnya ---- membuat beberapa dari para kerabat dekat yang sedikit terlambat mengetahui kondisi Val yang koma dan apa penyebabnya, dengan lengkap ceritanya ---- jadi tidak leluasa datang untuk datang ke Little Star Island.
Bahkan ketika beberapa diantaranya ada yang sedang berada di London atau Jakarta, pun sulit juga ditemui. Karena keberadaan mereka yang bergantian di London atau Jakarta ---- atau juga di kota lainnya, terkadang begitu sebentar saja ---- seolah sangat tergesa.
Makanya beberapa kerabat yang sebelumnya tidak tahu – menahu tentang hal menyayat hati yang pernah satu keluarga itu alami, perlahan menyadari keanehan tersebut.
Dari mulai mansion di London dan kediaman di Jakarta yang nampak sunyi seolah benar – benar ditinggalkan penghuninya yang biasa ramai itu, bahkan ada yang mengecek satu – satu tempat tinggal alternatif yang dimiliki oleh masing – masing personel The Adjieran Smith.
Dimana dari pantauan beberapa kerabat yang ‘ngeh’ dengan keanehan dalam keluarga The Adjieran Smith, dan informasi yang mereka dapat ---- informasi yang mereka dapati sama ---- selain mansion di London dan kediaman di Jakarta selalu tidak mereka dapat temui masing – masing personelnya, jawaban yang mereka terima di beberapa tempat tinggal alternatif Dad R dan lainnya adalah,
Sudah lama tidak ada yang datang ke sini.
Hingga rasa penasaran dari beberapa kerabat yang tidak tahu menahu itu kian besar.
Makanya informasi yang akurat mereka kejar tanpa jeda, sampai akhirnya mereka tahu apa yang sedang terjadi pada keluarga tersebut kala itu.
♦
Siapa saja para kerabat sangat dekat The Adjieran Smith Family selain Nino dan Ezra sekeluarga, patutnya baca deh Bukan Sekedar Sahabat dan The Smith’s ( Modus ah ) ---- Awokawokkk.
Diantara mereka adalah, para sobat Momma – Poppa – Dad R, berikut Papi John dan Daddy Jeff dalam komunitas otomotif mereka dari sejak mereka muda ---- dan telah diakui sebagai bagian dari keluarga The Adjieran Smith.
Lalu selain empat orang sobat kentalnya Momma – Poppa – Dad R, berikut Papi John dan Daddy Jeff dari kalangan hobi otomotif mereka itu, tentunya sahabat Varen yang orang tuanya sangat dekat dengan keluarga Varen juga ada di London.
Yah, hanya sayangnya, satu lagi orang yang Varen anggap sahabat bahkan saudara, tidak ada di sana saat ini.
Kafeel. Siapa lagi?
Namun setidaknya, Kafeel beruntung karena diijinkan untuk tinggal di Little Star Island selama Val masih koma kala itu.
Lalu ketiadaan Kafeel pada acara penyambutan yang direncanakan para kerabat mereka yang ada sekarang ini, para kerabat lain maklumi ---- karena sudah tahu story tentang Kafeel dan Val.
Hanya doa saja, yang terbaik bagi keduanya.
Bagi Val dan Kafeel.
Jika sejatinya Val dan Kafeel memang berjodoh, maka rasa syukur pasti lah akan terucap.
Namun jika keduanya memang tidak ditakdirkan bersama, biar keduanya dapat menemukan bahagianya masing – masing.
♦
Bicara tentang bahagia,
Ada Val yang bahagia dapat kembali menapakkan kakinya di mansion tercinta baginya itu.
Yang menjadi tempat tinggal utamanya, padahal Dad R dan Mommy Ara memiliki rumah pribadi mereka sendiri yang berada di kota yang sama dengan mansion utama mereka yang bertempat di London.
“Woah! .....”
Ada Val yang takjub ketika ia diantar untuk pergi ke kamar pribadinya di mansion utama.
“Kamarku sungguh jauh berbeda .....”
Komentar selanjutnya keluar dari mulut Val yang kini sedang berdiri di area tengah kamar dan memperhatikan kamar pribadinya itu dengan seksama, sambil memutar tubuhnya.
“Kamarmu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelum kita semua pergi ke Little Star Island, Val. Dan interior kamar kamu ini, juga kamu sendiri yang menatanya. Termasuk membeli beberapa barang yang kata kamu sesuai dengan apa interior kamar yang kamu inginkan.”
Mika yang kemudian angkat suara, setelah Val berkomentar tentang kamar pribadinya itu.
“Begitu ya, May?” cetus Val. Mika pun mengangguk. Lalu cetusan yang mendukung ucapan Mika itu pun terdengar dari mereka yang ikut menemani Val ke kamar pribadi si gadis eks Snow White tersebut.
“Iya. Aku, Ann, Isha, Ain serta Kak Drea dan Kak Via yang menemani kamu mencari barang – barang yang ingin kamu sesuaikan dengan interior kamar kamu yang sesuai dengan keinginan kamu ini. Bahkan Kak ---“
“Ya, May?”
Val menoleh karena sepertinya Mika langsung memotong ucapannya.
“Sudah, lebih baik kamu sapa itu Mister Teddy.”
Mika mengalihkan Val, setelah memang ia memotong ucapannya yang keburu ia sadari jika ia hampir keceplosan.
Untuk menyebutkan panggilan yang ia dan para saudara – saudarinya kepada Kafeel ---- karena Mika teringat, jika lebih baik memberikan Val informasi mengenai diri dan kehidupan sehari – hari Val di usianya yang sedang ia lupakan itu terlebih dahulu.
Sisanya, lihat kondisi otak Val yang juga belum dapat banyak – banyak dijejali informasi ---- berikut informasi yang diberikan haruslah berurutan, agar Val tidak kebingungan hingga mengeluh merasakan kepalanya seperti sedikit tersetrum.
Jadi tentang Kafeel, Mika ---- seperti keluarganya yang lain berikut para kerabat yang sudah diwanti – wanti sebelumnya melalu Nino dan Ezra ---- akan menyimpan informasi tentang pria itu untuk sementara waktu.
Entah jika di tengah jalan nanti Val yang masih dalam kondisinya sekarang pada akhirnya tahu tentang Kafeel. Sengaja atau tidak sengaja.
Maka lihat nanti saja kalau begitu, dan bagus jika Val dapat menerimanya tanpa keluhan.
Tentang Kafeel Adiwangsa yang sebenarnya Val sangat elu – elukan atas dasar cintanya yang begitu besar dan dalam pada pria itu.
Walau tidak tahu, Val yang sekarang ---- apakah akan dapat menerima Kafeel seperti sebelumnya.
We’ll see then ----
__ADS_1
♦
“Sudah, lebih baik kamu sapa itu Mister Teddy.”
Mika menginterupsi wajah tanda tanya Val, ketika ia menjelaskan sedikit tentang kamar Val yang gadis itu rasa sedikit asing dalam penglihatannya.
“Mister Teddy? ---“
“Boneka kesayangan kamu yang pernah membuat kita memperebutkannya di toko. Masa kamu lupa?”
“Itu, ya? .....”
Val menunjuk ke arah boneka beruang super besar yang telah berada kembali di kamarnya, setelah sebelumnya Val berikan pada Mika.
Disaat Val hendak mengakhiri hidupnya.
“Iya,” jawab Mika sesaat setelah Val berujar sambil menunjuk ke arah boneka tersebut.
“Aku bukannya lupa. Tetapi memang aku tidak merasa memiliki boneka kesayangan bernama Mister Teddy.”
“Heu?”
“Ya Val tidak ingat lah, May .....”
Lalu Isha nyeletuk.
“Mister Teddy kan dibeli waktu umur Val 16 tahun?”
“Oh iya, ya? .....” timpal Mika kemudian.
♦
Val’s POV ..
Aku memang merasa tidak pernah memiliki boneka beruang nan lembut berukuran super besar yang sedang aku tatap sekarang.
Yang May katakan namanya adalah Mister Teddy.
Lalu May juga katakan, jika Mister Teddy adalah boneka kesayanganku.
Yang mana akupun tidak ingat jika aku punya boneka kesayangan. Karena aku tidak cenderung addicted pada boneka, melainkan aku lebih tertarik dengan bunga – bunga.
Tapi ya sudahlah. Jika May mengatakan jika Mister Teddy adalah boneka kesayanganku, lalu Isha dan lainnya mengiyakan, aku memilih mempercayainya ---- atas dasar aku sedang mencari jati diriku yang 18 tahun ini ---- katakanlah seperti itu.
Dan mungkin saja, Mister Teddy dapat membantuku untuk mengingat banyak hal yang sedang aku lupakan ini, yang masih terkadang tidak aku percayai jika aku sudah 18 tahun.
Ah sudahlah, aku terkadang merasa pusing sekali di kepala jika aku mencoba untuk menyangkalnya ---- dan sekali lagi harus aku terima, karena dimasa ketidakpercayaanku jika diriku ini sekarang berusia 18 tahun ---- aku selalu terbangun dimasa itu.
Bukan masa 14 tahun yang seperti aku ingat.
Jadi kiranya aku bertekad, untuk mengikuti alur masa yang tengah aku jalani saat ini.
Masa 18 tahunku. Dan semua cerita di dalamnya, dari usiaku 15 tahun. Yah ingatanku terhenti sampai aku hendak merayakan ulang tahun ke 15 – ku.
--
Well, sedikit lagi tentang Mister Teddy yang aku rasa baru aku lihat, setelah aku kembali ke mansion keluargaku yang berada di London, lalu aku menyambangi kamar pribadiku.
Boneka beruang super besar nan lembut dan menggemaskan itu, tidak aku rasa asing meski aku merasa baru ini aku melihatnya. Dimana perasaan itu sama, seperti halnya aku pertama kali melihat kamarku lagi setelah sekian lama.
Entah bagaimana mendeskripsikannya.
Asing dimataku, namun tidak begitu dalam perasaanku.
Kamar yang berbeda jauh interiornya itu, dapat aku terima dengan nyaman. Begitu juga Mister Teddy.
Yang terasa nyaman saat aku coba mendudukinya.
Hanya saja dejavu itu, tidak aku temukan dalam pikiranku.
Karena sekelebat bayangan seperti saat Kak Arya memasangkan kalung di leher Mika yang kemudian aku dapat ingat, karena aku sedang sendirian dan tenang di dalam kamar pribadiku ini ----- selepas May dan lainnya sedang mengambil peralatan untuk slumber party yang sebelumnya kami rencanakan dengan spontan, tidak berkelebat dalam ingatanku.
Aku sedikit memaksa agar aku dapat mengingat dejavu itu, namun tidak bisa.
Gelap.
Dan saat sekali lagi aku paksakan, kepalaku seketika berdenyut nyeri.
Walau singkat saja.
Jadi aku berhenti untuk mencoba.
Lalu bangkit dari atas paha Mister Teddy, dan berniat untuk kembali turun ke lantai 1 mansion.
Namun saat aku sudah bangkit dari paha Mister Teddy serta juga sudah mengayunkan langkahku untuk menjauhi Mister Teddy ----- sebuah suara yang aku kenal terdengar dari arah belakangku yang sudah membelakangi Mister Teddy itu.
Yang spontan membuatku menoleh, karena suara itu amat sangat aku kenal dan membuat dadaku berdebar.
Karena suara itu adalah suaraku sendiri.
Dan didetik dimana aku menoleh, aku langsung tersentak.
Karena aku melihat diriku sendiri, berada di atas pangkuan Mister Teddy dan menangis dengan suara isakan yang menyesakkan.
Didetik berikutnya, sekali lagi. Pandanganku seketika menggelap. Lalu terbangun, dengan disuguhi pemandangan banyaknya orang yang mengelilingiku.
Wajah mereka amat khawatir, namun tak lama aku dengar mereka berucap lega sambil tergesa menghampiriku ----- lalu mereka mengatakan, jika aku tertidur hampir seharian.
Wow!
Ke – bluk sekali aku ----- kalau kata Momma yang akan mencibir kami anak – anaknya dangan kata itu jika kami susah dibangunkan saat tidur.
Dimana ke – bluk yang aku pikir itu, nyatanya adalah sebuah sindrom yang hinggap pada diriku.
Klein Levin syndrome tepatnya.
Alias Snow White syndrome.
Sebuah penyakit langka yang akan membuat penderitanya layaknya seperti putri tidur.
Yang saat tidur itu bak orang yang sudah tak bernyawa.
Pantas saja aku mendapatiwajah keluargaku nampak begitu panik dan khawatir setelah aku membuka mata.
Mungkin mereka takut, jika aku kembali koma. Karena menurut Kak Tan – Tan, aku tak bergeming sedikitpun saat coba dibangunkan.
Ah, ya Tuhan.
Kenapa aku menderita hal – hal aneh sih?
--
Well, bicara tentang keanehan yang aku rasa.
Aku mulai mengalami banyak dejavu setelah aku mulai kembali menjalani hariku di mansion utama kami yang berada di London.
Lalu mimpi – mimpi yang tak aku pahami, namun terkadang berulang, atau aku akan mengalami mimpi yang sepertinya adalah lanjutan dari mimpi sebelumnya.
Mimpi tentang sebuah kejadian yang sama sekali aku rasa aku tidak pernah mengalaminya. Tapi ada aku di sana. Tertawa, tersenyum lebar, tapi kemudian ada kalanya juga menangis hebat.
Lalu juga, seseorang.
Ya seseorang. Seorang pria tepatnya.
__ADS_1
Karena seperti itu gambaran suaranya.
Namun sosoknya tidak pernah aku dapat aku lihat.
Aneh.
Sangat.
Bagiku.
Namun aku sering terlewat untuk bercerita tentang hal itu, atau aku dalam mode yang benar – benar sedang melupakan, jika sebelumnya aku ingat untuk bercerita tentang dejavu dan mimpi – mimpi anehku itu.
Tapi sekarang, setelah aku kembali membaca apa yang aku tulis dalam jurnal pribadiku setelah ide menulis apa yang ingin aku ingat di dalam jurnal tersebut keluar dari salah seorang keluargaku, kemudian dari tulisan itu aku ingat – ingat kejadiannya ----- aku merasa keluargaku sedang menahan diri padaku.
Dalam artian, ada hal yang mereka sedang pagari untuk aku dapat tahu ----- entah apa.
Dan kenapa mereka membatasi atau bahkan menyembunyikannya?
Jadi atas dasar itu, aku tidak bercerita pada siapapun pada keluarga yang aku sayangi dengan teramat itu.
Aku ingin mencari tahu sendiri hal apa yang dibatasi atau disembunyikan keluargaku untuk diceritakan padaku.
Namun sampai aku sudah mulai masuk untuk aktif berkuliah, aku belum juga menemukan jawabannya. Hingga kemudian aku melupakan jika aku ingin menguak hal yang aku rasa dibatasi dan disembunyikan oleh keluargaku itu, saat perhatianku begitu teralih pada seorang pria matang.
Salah satu dosen pengajar di kelasku.
Dimana sejak pertama kali melihatnya, aku merasa jika aku sangat menyukainya.
Dan saat aku merasa seperti itu, fokusku teralih padanya.
Pada seorang pria matang yang sesuai dengan tipeku. Dimana aku ingat betul, kalau aku ingin memiliki kekasih yang jauh lebih dewasa dariku.
Karena aku begitu mengidolai Gappa, Ake, The Dads serta Abang dan Kak Tan – Tan.
Makanya aku lebih condong menyukai pria yang lebih dewasa dariku. Dan atas dasar itu, sang dosen tampan ----- dengan cepat mendapatkan perhatianku.
Hanya saja, aku tidak bercerita pada keluargaku.
Tentang aku yang sedang sangat menyukai dosen tampan berusia matang itu, bahkan sedikit mengejarnya.
Karena aku takut jika hal itu ditentang oleh keluargaku, yang mungkin saja tak memberikanku ijin untuk berpacaran dengan pria yang usianya mungkin ada diantara usia Abang dengan Kak Tan – Tan itu.
Jadi aku yang sedang memiliki perasaan berlebih pada dosen tampanku itu, dimana aku juga sedikit mengejarnya ----- menyembunyikan hal itu dari keluargaku.
Sampai aku yakin, jika pilihanku tidak ditentang, atau apa aku boleh berpacaran.
--
Tentang dosen tampan yang menarik perhatianku itu.
Ingin aku katakan jika aku jatuh cinta pada pria matang yang merupakan salah satu dosen pengajar di kampusku dan sedang aku dekati hingga pada akhirnya aku mengatakan padanya jika aku ingin dia menjadi kekasihku.
Kesampaian.
Dosen tampan itu ----- Simon namanya.
Telah menerima pernyataan cintaku.
Dan kini telah resmi menjadi kekasihku, dimana aku sedang mencari celah untuk memperkenalkannya pada keluargaku.
Selain memastikan betul – betul jika aku diperbolehkan untuk pacaran. Bahkan aku sih inginnya dapat segera langsung menikah saja.
Seperti impianku yang ingin menikah muda.
Dengan suami yang matang usia tentunya. Ya seperti Simon itu.
--
Hanya saja, seperti yang aku katakan sebelumnya ----- Ingin aku katakan jika aku jatuh cinta pada Simon. Tapi entah kenapa, hatiku seolah tak seiring denganku. Menolak, jika aku mengatakan bahwasanya aku mencintai Simon.
Kenapa ya seperti itu?
Padahal aku yakin jika aku ingin serius dengan Simon.
Yah, meski ia menganut kepercayaan berbeda denganku.
Itu, juga sih yang membuatku ragu untuk memperkenalkannya pada keluargaku.
Ah, tapi itu dapat dibicarakan nanti. Dan keluargaku pasti memiliki solusi. Yang penting aku kenalkan dulu Simon pada mereka.
--
Hem, bicara tentang Simon. Yang sudah aku tentukan kapan aku akan membawanya ke hadapan keluargaku di mansion utama untuk diperkenalkan.
Bagaimana aku bisa menyukainya, lalu caraku mendekatinya. Sampai aku berhasil meluluhkannya.
Dan saat aku mengingat hal itu, kembali aku merasakan dejavu.
Seolah, apa yang aku lakukan untuk mendekati Simon sampai aku mendapatkannya ----- telah aku alami sebelumnya.
Namun dengan pria yang berbeda.
Tapi siapa?
Lalu saat waktunya sampai aku memperkenalkan Simon pada keluargaku, ada perasaan aneh yang menyelimutiku.
Saat aku bertatap muka dengan seseorang.
Kafeel Adiwangsa.
Pria matang seusia Abang. Yang pernah aku sedikit merasa was – was padanya.
Tapi saat aku bertatap muka betul – betul dengannnya, ada hangat yang menjalar di hatiku.
Namun tak lama kemudian, ada sedih yang hinggap saat dia pamit pergi. Aneh sekali.
Terlalu aneh, karena saat ini bukan Simon yang sedang aku pikirkan. Tapi dia,
Kafeel Adiwangsa.
Makanya aku buka jurnal pribadiku yang aku miliki pasca bangun dari koma.
Siapa tahu ada yang aku tulis tentangnya di sana, berdasarkan gumaman atau celetukan keluargaku yang aku lupakan.
Ah, ya ampun!
Aku baru ingat saat aku melihat jurnal baruku.
Aku kan hobi menulis banyak hal dalam diary?
Dan aku yakin, kebiasaanku itu tidak hilang sampai aku berusia 18 tahun sekarang.
Jadi untuk hal yang misterius itu, pasti dapat aku temukan jawabannya di dalam diary 18 tahunku itu.
Baiklah, aku harus mencari diary itu sekarang.
Karena aku yakin di dalam sana, aku dapat menemukan jawaban dari mimpi - mimpi serta dejavu yang terasa aneh bagiku itu.
End of Val’s POV
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
To be continue .....
__ADS_1