HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 204


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Terima kasih masih setia baca yawgh.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia,


“Penjara ga cukup buat keparat macam dia!”


Ada Kafeel yang sedang menatap nyalang dengan dirinya yang berbicara dengan emosi yang meluap-luap pada pria yang merupakan ketua geng motor kriminal yang sudah merusak dan menyakiti Lena----adik perempuan kandungnya Kafeel.


“L-o silahkan, ka-lo mau bu-nuh gue ..... ta-pi, gu-e ..... cin-ta sama Le-na ..... y-ang gue lakuin ke, dia ..... ka-re-na gue ga te-ri-ma Le-na putusin ..... se-ka-li-gus gue cem-buru ..... ka-re-na gue, g-a mau Le-na pergi ..... da-ri gue ..... ka-lo emang, nya-wa gue, bi-sa nebus ..... ke-bia-da-ban gue, k-e Lena, l-o silahkan, bu-nuh gue, se-ka-rang .....”


Lalu, ketua geng motor tersebut bicara dengan sangat terbata – bata sambil menatap pada Kafeel dengan satu mata yang sudah terlihat lebih bengkak dari yang satunya, hingga bahkan matanya itu hampir tidak terlihat.


“Tuan Alva .....” Sementara itu, seorang anak buah keluarga The Adjieran Smith mendekat pada Varen dan bicara padanya. “Ini Tuan Jeff ingin bicara dengan anda, Tuan,” ucap satu anak buah itu sambil menyodorkan ponselnya kepada Varen.


Varen menerima ponsel dari tangan satu anak buahnya itu untuk bicara dengan Daddy Jeff yang menghubungi ke salah satu ponsel anak buah mereka yang bisa dikatakan sebagai anak buah inti dari banyaknya anak buah yang berperan sebagai bodyguard seringnya, karena ponsel Varen memang sengaja tidak dibawa.


“Okay Dad,” sahut Varen sambil ia melirik ke arah Kafeel yang sedang dipegangi oleh Nathan dan Sony, berikut Arya yang juga berada di dekat Kafeel yang masih tetap menatap nyalang pada ketua geng motor kriminal yang sedang bicara dalam lirihan tersebut.


“To-long sampein, ma-af gue, sa-ma Lena ..... gu-e bener ..... be-ner nyesel, u-dah memperlakukan, di-a begitu ..... gu-gue –“


“Waktu lo udah habis!”


Kafeel menyambar ketika ketua geng motor kriminal tersebut masih berbicara melirih padanya, lalu melepaskan dirinya dari cengkraman Nathan dan Sony.


“MATI LO!” Lalu dengan emosinya yang masih menggebu, Kafeel sudah menyambar tongkat baseball besi miliknya yang tadi ia lempar ke salah satu sisi tempatnya berdiri nampak hendak menghantam pria ketua geng motor yang sudah merusak dan menyakiti fisik adik perempuannya itu.


“KAK KAF!!” Teriakan serempak mereka yang dekat dengan Kafeel pun spontan tercetus.


"WOY KA!!!"


Begitu juga dengan Varen yang langsung melesat ke dekat sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu, selepas ia selesai berbicara dengan Daddy Jeff di ponsel milik salah satu anak buah keluarganya dan melemparkan dengan cepat ponsel yang tadi ia pegang kepada si empunya kala Varen melihat Kafeel menyambar tongkat baseball milik Kafeel.


“Hold yourself, man .....”


Varen telah berdiri di hadapan Kafeel sambil menahan tubuh Kafeel yang hendak menghantam ketua geng motor kriminal yang sudah Kafeel hantam dengan pukulan dan tendangan dengan brutal, menggunakan tongkat baseball milik kekasih setengah om-omnya Val itu.


“Gue belom puas kalau dia belom mati Va!!”


“I know ..... but hold yourself, would ya? (Gue tahu ..... tapi tahan diri lo, oke? )”

__ADS_1


Varen berkata tenang pada Kafeel guna menenangkan sahabat sekaligus orang kepercayaannya selain Ammar itu, sambil menahan tubuh Kafeel yang hendak menghantam ketua geng motor tersebut dengan tongkat baseballnya.


“Lo ga mau Val melihat lo jadi pembunuh kan? –“



Didetik dimana Varen menyinggung tentang Val kala menyergah Kafeel menghabisi ketua geng motor yang telah merusak Lena itu, Kafeel sontak langsung menatap fokus pada Varen yang segera mengangguk samar kepadanya. “Dia sedang menyaksikan juga apa yang terjadi disini –“


“***.*”


“Lo bisa nyiksa bajingan itu dengan cara yang lain,” ucap Varen lagi. “Untuk saat ini, serahkan saja dia pada Sony dan timnya.”


Varen memandang Kafeel penuh arti.


Meskipun ia sendiri pernah menghilangkan nyawa orang lain dengan tangannya, ia tak ingin orang-orang terdekatnya mengikuti jejaknya.


Walau kala itu Varen sampai menghabisi nyawa orang lain bahkan memberikan hukuman juga yang amat sangat buruk pada orang lain atas dasar kemarahannya yang sudah melampaui batas akibat apa yang pernah menimpa Drea hingga Varen juga harus merelakan anak pertamanya untuk tidak sampai dilahirkan karena beberapa alasan khusus----juga mungkin Varen melakukannya tanpa sadar sampai ia menghilangkan nyawa beberapa orang dengan cara yang mengerikan, tetap saja hal itu Varen tahu tidak dibenarkan.


Makanya, jika memang bisa mencegah orang-orang terdekatnya melakukan hal yang menghilangkan nyawa orang lain----maka Varen akan melakukan segala cara untuk pencegahan.


Seperti halnya yang sedang Varen lakukan sekarang, yakni menahan Kafeel agar tidak kian kalap semampu Varen. Dan kebetulan, ada Val sebagai alasan----yang Varen yakin itu akan menjadi pertimbangan besar bagi Kafeel untuk meredam keinginannya menghabisi pria yang sudah cukup parah merusak Lena, adik perempuannya Kafeel.


Meskipun dalam keluarga Varen sendiri, hal yang dialami Kafeel itu----akan menjadi sebuah pemicu munculnya monster dalam diri para pria dalam keluarganya, terutama----tentu saja dirinya dan para ‘naga’ senior yang jika menyala mode monsternya, sungguh akan sukar dibayangkan hal – hal yang dapat The Dads of Adjieran Smith itu lakukan pada mereka yang sampai memberikan ancaman yang menyakitkan pada setiap anggota keluarga mereka. Ancaman yang menyentuh para wanita dalam keluarga mereka tentunya. Yang kehadiran setiap sosoknya, dianggap sebagai anugerah dalam keluarga.


Itu pun jika mampu.


Karena tangan para pria itu seolah bisa memanjang tanpa batas, rentangan tangan mereka pun juga bisa melebar dengan tanpa batasnya.


Jika para wanita dalam keluarga mereka itu, sampai tersakiti secara fisik hingga terancam nyawanya. Maka satu saja peringatan mutlak yang pasti akan dilakukan dengan cepat dan nyata untuk para musuh yang membuat hal itu terjadi.


Siksa sampai mati.


Dengan siksaan yang paling sukar dibayangkan kadar kesakitan berikut kengeriannya.


Hingga kematian adalah hal yang rasanya paling ditunggu oleh orang – orang yang mencoba menyakiti para wanita The Adjieran Smith secara fisik dengan sengaja.



“Lo balik bareng gue, Ka ...” Varen berucap pada Kafeel selepas Kafeel akhirnya dapat ia tenangkan.


Kafeel pun mengangguk mengiyakan dengan samar.


“Tan, lo yang bawa itu mobilnya Kaka –“

__ADS_1


“Siap laksanakan.”



“Yuk Son, selamat menikmati tangkapan lo,” ucap Varen pada Sony, ketika beberapa orang yang sebelumnya disebutkan oleh Sony telah datang ke tempatnya dan tim berada.


Orang – orang yang merupakan anak buah dari ayah kandung Sony dan Arya, berikut anak buah dari dua kerabat sangat dekat The Dads of Adjieran Smith lainnya.


“Siiiipp!! ..” sahut Sony antusias. “Sering – sering ya bantuin gue dan tim begini?”


“Ogah amad!” Nathan yang menyahut. “Enak di elo ga enak di kita orang! –“


“Du ileh Papski, jangan perhitungan sama bestie,” seloroh Sony. Dan Nathan berdecih.



“Kami permisi duluan,” ucap Varen kala ia telah bersiap untuk meninggalkan tempatnya dan tim menggulung satu kelompok geng motor kriminal yang juga dibabat habis-habisan olehnya dan tim dengan ragam keadaan akhir setiap anggota geng motor kriminal tersebut yang berbeda-beda kondisinya.


“Silahkan Tuan Alva –“


“Terima kasih untuk waktu kalian menemani kami malam ini.”


“Ngomong – ngomong yang empat ini kenapa dipisah?” celetuk Sony saat Varen sedang berbicara dengan orang – orang yang menyertai kelompoknya untuk mengurus satu geng motor kriminal tersebut.


Kakak kandung Arya itu belum menyadari satu hal yang membuat ke empat orang yang tergolek sangat lemah di satu sisi area yang serupa dengan lapangan tersebut. Hanya saja Sony sedikit mengernyit kala hidungnya sedikit mengendus bau anyir.


“Luka parah?” tanya Sony.


Sambil ia menoleh ke arah Nathan dan kawanan yang hendak hengkang dari TKP.


Lalu melengos lagi ke arah empat orang yang dipisahkan dari kelompoknya itu, sambil perlahan Sony mendekat ke tempat empat orang yang nampak sangat payah diantara teman – teman mereka yang ada di tengah area serupa lapangan tersebut.


Didetik dimana wajah Sony berubah horor, ketika kakinya rasa menginjak sesuatu yang sukar untuk digambarkan sambil dengan spontan Sony menoleh ke arah kakinya yang menginjak sesuatu itu. “ANJRITT!” Lalu teriakan kaget langsung keluar dari mulut Sony.


Dimana teriakan Sony itu membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.


“AH GILA INI SIH! ..” Teriak Sony lagi. “Masa gue bawa tangan buntung buat disertakan dalam bukti?”


♦♦


To be continue ...


Jangan lupa dukungannya yaa ...

__ADS_1


__ADS_2