
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia....
Para pewaris dari mulai Mika sampai Ares itu sudah melakukan beberapa latihan fisik tempaan para Daddy mereka yang sudah macam Komandan militer saja saat mendampingi putra-putri mereka yang sedang bermain di Kediaman saat ini.
Seluruh bagian luar Kediaman, menjadi ‘Taman Bermain’ para Dad dan para pewaris muda dibawah Varen, Nathan dan Drea. Tapi Nathan masih sering ikut bermain jika para adik sedang melakukan permainan yang mereka sebut sebagai ‘Project Kiddos’ ini.
Sebenarnya jika Varen dan Drea ada di tempat pun, mereka pastinya akan bersemangat untuk mengikuti kegiatan tersebut juga. Karena sama seperti pendapat para adik, Project Kiddos juga dirasa menyenangkan bagi Varen, Drea dan Nathan. Dan lagi, dulu mereka tidak ditempa secara terorganisir seperti para adik-adik ini. Varen, Nathan dan Drea seringnya berlatih sendiri-sendiri dan otodidak. Bahkan praktek langsung pada kenyataan, baik sengaja atau tidak sengaja. Dimana fisik dan otak mereka mau tidak mau harus bergerak dengan cepat untuk menguasai keadaan.
“Go Papski, Gooo!”
Itu Via yang sedang berinteraksi dengan putri kecilnya dan Nathan yang sedang berada dalam gendongan Papa Lucca. Dimana Via berdiri tidak jauh dari mereka yang sedang asik berlatih itu, untuk mengajak putri kecilnya dan Nathan untuk menyemangati sang ayah.
Putri kecilnya Via dan Nathan, yakni Gadis.
Yang sedang berada dalam gendongan Papa Lucca nampak sumringah memang.
Namun tangannya sudah mulai terentang ke depan dengan mulut mungilnya yang mengeluarkan suara.
“Bi – bii .....”
Gadis memanggil Putra yang sedang berada lebih dekat dengan para aunty dan uncle muda mereka yang sedang latihan, dimana Putra bertengger di tengkuk Papi John dengan kedua kaki Putra yang menjuntai ke depan dada Papi John dengan wajah yang begitu nampak sumringah dan gembira.
“Bi – bii .....”
Gadis merengek, minta didekatkan pada Putra yang sedang nampak tertawa gembira itu.
‘Bi-bi’ adalah panggilan sayang untuk Putra.
‘Bee’ – sebenarnya. Karena Putra sering sekali gemas pada Gadis, lalu sering menguseli pipi gembul adik beda ortu itu.
Jadi cetusan panggilan ‘Bee’ alias lebah yang suka menyengat, karena Putra sering menyengat Gadis, alias mengusel-usel pipi adiknya itu, tercetus dari salah satu mulut aunty mudanya.
Dan pada akhirnya panggilan ‘Bee’ pun terus dipakai pada Putra, anak lelaki Varen dan Drea, yang emak bapaknya sedang entah dimana rimbanya saat ini. Yang jelas sedang berduaan.
Untung saja baik Putra maupun Gadis macam para aunty dan uncle mudanya yang tidak pernah rewel saat kecil karena tidak melihat orang tuanya. Dikarenakan baik Putra dan Gadis, sudah terbiasa berinteraksi dengan banyaknya orang tua baik yang tua beneran ataupun orang tua-muda dalam keluarga mereka.
Jadi saat Papap dan Mamamnya sedang tidak bersama dengannya, Putra akan woles-woles aja.
Dan begitulah saat ini.
Putra nampak menikmati waktunya bersama para kakek yang masih gagah diusianya, berikut dengan nenek dan uyut yang sudah lebih dulu bermain dengannya.
Dimana saat ini Putra sedang diajak berinteraksi untuk melihat para aunty dan uncle mudanya serta Gadis yang sedang digembleng oleh para kakek yang gagah.
“Bi – bii .....” Gadis masih merengek untuk dibawa mendekat pada Putra, dan akhirnya Papa Lucca membawa bocah perempuan unyu itu kepada ‘Bee’ – nya.
♥
Sementara para pewaris muda sedang melakukan latihan fisik yang hampir selesai itu, para Mom sedang berleha-leha saja menjadi penonton anak-anak mereka yang sedang ‘bermain’ itu.
“Nyonya-nyonya, para Tuan menanyakan apa anda semua ingin bergabung jika para Tuan dan Nona Muda hendak bermain paint-ball? .....”
Nicky menghampiri para Nyonya yang sedang berleha-leha sambil menikmati kudapan itu.
“Gimana Mommies?” Momma menanyakan para Moms yang lain.
“Yang jelas aku sih engga.”
Satu Mommy yang anti kekerasan dengan cepat menyahut.
Mama Jihan.
Yah, bukan juga para Mommy yang lain pro dengan yang namanya kekerasan. Toh Mama Fabi, Momma, Mami Prita, Mom Ichel dan Mommy Ara, seyogyanya adalah para wanita cinta damai.
Tak hanya Mama Jihan, Mommy Ara pun lemah lembut orangnya. Jangan lupakan juga suara Mommy Ara yang selembut beledu sekaligus baik sekali hatinya.
Namun, Mommy Ara mengenal yang namanya senjata, dan tahu bagaimana menggunakannya, karena Daddy R yang mengajarinya. Termasuk empat Mommy yang lain yang mendapat didikan pengetahuan soal senjata dari para suami mereka.
Nah diantara para Mommy tersebut, hanya Mama Jihan lah yang menolak untuk diajari yang namanya menembak oleh Daddy Jeff.
Hanya mau belajar bela diri saja, itupun hanya dasar-dasarnya.
Karena Mama Jihan lebih memilih menggunakan tangannya untuk membuat makanan dan melakukan pekerjaan rumah tangga, ketimbang harus memegang senjata.
Jadi diantara enam Mommy yang berada dalam keluarga The Adjieran, hanya Mama Jihan saja-yang katakanlah wanita pada kodratnya.
Karena Mama Jihan tidak pernah ikut andil dengan kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut dengan urusan pria.
Berbeda dengan lima yang lainnya, yang sering ikut andil dalam kegiatan yang kadang memacu adrenalin sebagaimana hobi yang para pria senangi. Contoh yang paling jelas adalah Momma.
Momma mengerti otomotif, bahkan memiliki kemampuan yang setara dengan Poppa dan Daddy R soal itu, selain Momma juga tahu dan memiliki kemampuan dalam memasak.
Skill mengemudi Momma jangan ditanya, berdampingan dengan skill memasak Momma yang juga lumayan, bukan sekedar bisa.
Meski tak semua jenis makanan mampu Momma buat, tapi setidaknya, seperti halnya mengemudikan mobil atau mengendarai moge bahkan motor sport ber CC besar, setiap masakan yang Momma buat, tidak ada yang tidak enak.
Kalau urusan menggunakan senjata dengan baik, Mama Fabi dan Mom Ichel yang lebih dominan. Mom Ichel sih, yang dapat dikatakan jago dalam hal itu. Sudah pernah terbukti kemampuannya itu dulu, dalam membantu para Daddy membasmi orang yang pernah hampir menghancurkan keluarga mereka.
Dan sekarang, saat para pewaris muda sedang memainkan permainan yang berhubungan dengan pelatihan diri, para Dad biasanya akan menanyakan keikutsertaan para Mom tersebut. Seperti saat ini.
“Moms yang lain? .....”
Momma kembali bertanya.
“Boleh lah .....”
Mami Prita yang menyahut, lalu diaminkan oleh Mommy Ara, Mama Fabi dan Mom Ichel.
♥
Mereka yang tadi sedang berlatih fisik bak pasukan militer, kini tengah berjalan menuju tempat para Mommy dan Kakek-Nenek mereka berada.
Dari mulai Mika sampai dengan Ares, tubuhnya nampak sudah banjir keringat.
Namun begitu, wajah-wajah para pewaris muda yang habis mendapat gemblengan fisik itu terlihat sumringah saja.
“Ingat janji kalian ya Daddiees ..... kami sudah menjalankan tantangan, jadi kartu kredit serta debit kami tidak boleh dihold!” celetuk Isha sambil meraih minuman yang memang telah disediakan para Mommy melalui para asisten rumah tangga untuk mereka yang tadi sedang seru-seruan itu.
“Iya betul.” Timpal Ann.
__ADS_1
“Plus, Daddies harus menaikkan limit kartu kredit kami karena progress kami lebih baik dari sebelumnya!”
Mika juga ikut menimpali.
“Bukan begitu wahai para saudara-saudariku??? .....”
Kemudian Mika mengeluarkan ucapan provokasi. Dimana ucapan provokasi-nya itu tentu saja langsung bersambut dari para saudara dan saudari Mika.
“Iya begituu!! .....”
“Hell ya supposed to be! ( Memang sudah seharusnya begitu! )”
Demikian sahutan dari para pewaris muda atas ucapan provokasi Mika.
Nampak bersemangat meski nampak dada mereka masih naik turun mengatur nafas.
Sementara para Daddy mendengus geli saja mendengar seruan anak-anak mereka itu.
“Jawab dong Dads!” celetuk Rery.
“Depend to The Moms ( Tergantung para Mommy ).” Papa Lucca yang menyahut.
Para Dad yang lain pun mengiyakan. “Ya depend to The Moms .... jika mereka ingin meladeni kalian di area paint-ball, means ( artinya ) keputusan akan kami berikan setelahnya.”
Daddy Jeff yang kini berbicara.
“Jika mereka malas, well, permintaan naik limit you all credit card kami kabulkan—“
Keriuhan langsung tercipta dari para pewaris muda yang gembira meski Daddy Jeff nampak belum menyelesaikan kalimatnya.
“Ya sudah Moms, tidak usah bertarung paint-ball dengan kami.....” cetus Ann.
Yang mana cetusan Ann itu diiyakan langsung oleh para saudara-saudarinya. “Iya nanti malah mereka berubah pikiran setelahnya.”
Rery menimpali.
“Iya betul.”
Para pewaris yang sedang ngaso sambil menikmati minuman dan kudapan itu kembali dengan serempak mengiyakan ucapan saudara mereka.
“Ya sudah kalau begitu.” Cetus Papi John. “Padahal kami punya penawaran bagus untuk kalian, jika kalian dapat mengalahkan The Moms dan juga kami dalam paint-ball ----“
“Apa itu Pop?!” sambar Mika mewakili para saudara-saudarinya.
“Akan kami buat you all credit cards ( kartu kredit kalian semua ) menjadi unlimited..”
Dimana para pewaris muda itu-terkecuali kakak Tan-Tan karena dia sudah bekerja, saling lempar tatap.
Membuat para orang tua mereka termasuk kakek dan nenek mendengus geli melihatnya.
“Okay, guys, berkumpul!” Isha memanggil para saudara dan saudarinya yang langsung saling mendekat dan membuat lingkaran.
Semakin membuat para orang tua dan tetua merasa geli. “Aku yakin jiwa matrealistis para bocah tengik ini akan membuat mereka menerima tantangan kita. Lihat saja.”
Daddy R berceloteh geli sambil memandangi anak-anaknya itu.
Para Dad lainnya pun mengaminkan ucapan Daddy R barusan.
“Sudah pasti itu!”
“Okay, kami setuju!”
Val berbicara, mewakili para saudara-saudarinya.
“Bukan hanya paint-ball saja tantangan dari kami, ada dua tantangan lain yang harus kalian hadapi.”
Daddy Dewa yang berbicara.
“Yah, kok berubah lagi persyaratannya?!..”
Para pewaris muda yang diberikan tantangan itupun melayangkan protes.
“Makanya tunggu sampai aku habis berbicara, baru mulut usil kalian itu bersuara!” ketus Poppa.
“So deal or not? ( Jadi setuju atau tidak? )” tukas Papa Lucca.
“Wait! ( Tunggu! )”
Para pewaris itu rembukan lagi.
“Okay deal!”
Rery yang mewakili untuk menjawab tantangan The Daddies.
“Apa kami harus menang melawan kalian baru hadiah kami dapatkan?..”
“Win two from three ( Menangkan dua dari tiga ) ..” jawab Papa Lucca.
“Tapi jika kami kalah, tidak akan mempengaruhi hadiah yang pertama kan?”
Selidik Aro.
“Tidak.”
The Dads kompak menyahut.
Para pewaris itu saling tatap sejenak.
“Demi unlimited credit card dan demi membeli semua yang kami inginkan Okay deal!”
Lalu mereka menyahut secara serempak.
Membuat para orang tuanya tersenyum geli.
“Nothing to lose right gaesshhh?”
Aro memberikan penekanan atas keputusannya dan para saudara-saudarinya menjawab tantangan dari The Dads.
“Tapi Dads harus memegang kata-kata kalian ya?...”
“Iyaa!! .....” jawab The Daddies serempak.
“Okay kalau begitu.” Ucap Val sebagai perwakilan para pewaris.
__ADS_1
Dimana para pewaris muda itu menarik sudut bibir mereka.
“Moms, Gappa, Ake, Gamma, Ene, Oma and Nenek, jadi saksi ya?”
Ann yang kini angkat suara. Dimana mereka yang disebutkan itu mengiyakan juga mengangkat jempol.
“Okay, bring it on!”
Para pewaris muda tersebut pun berseru pada The Dads.
The Dads pun tersenyum lebar, selain merasa geli pada garis keturunan mereka yang berjiwa matrealistis ini tanpa terkecuali.
“Okay, let’s do it then! ( ayo kita mulai sekarang! )” seru The Dads.
“Wait!”
Ann menyergah.
“Why? Change mind? ( Kenapa? Berubah pikiran? )”
Daddy R mencibir.
Para pewaris tersebut kompak menggeleng.
“Kami hanya menginginkan kepastian—“ tukas Rery. “Mi!”
Mika maju setelah Rery memanggilnya. “Sign it!” ucap Mika sambil menyodorkan ponsel miliknya.
Membuat The Dads kompak mengernyit.
“Apa ini? ..”
Poppa yang bertanya.
“Surat perjanjian singkat.” Isha yang menjawab.
“Just in case kalian menjadi pikun secara tiba-tiba, jadi kami harus jaga-jaga,” sambar Rery.
“Dasar bocah-bocah tengik!”
♥
“Ngomong-ngomong Val, nanti Kaka jadi kesini?”
Mama Jihan bertanya pada Val saat mereka yang terlibat dalam kegiatan Project Kiddos telah selesai.
“Sepertinya sih jadi,” jawab Val yang sudah ngaso karena ia dan para saudara-saudarinya serta mereka yang telah terlibat ‘Project Kiddos’ telah selesai melakukan kegiatan tersebut.
“Nah gimana pacar, masa ga tau pasti ayang bebnya mau kesini apa engga?”
Isha pun menimpali jawaban Val.
Kembaran Aro itu sedang berselonjor ria, sambil menikmati ragam makanan dan minuman yang telah tersedia untuk mereka semua yang sedang menghabiskan waktu bersama di pekarangan belakang Kediaman Utama keluarga mereka yang berada di Jakarta itu.
“Ya itu sudah pasti Sha.” Sahut Val.
“Jadi sudah terverifikasi ini, kalau Val sudah jadian dengan Kaka? ..”
“Sangat terverifikasi. Hanya tinggal pengesahan untuk penghalalan, Mom.”
Jawaban Val membuat mereka yang mendengarnya terkikik.
“Ya kan Dad R yang tampan bukan maiiinnn??! .. Karena Dad sudah disini, sekalian saja deh ya halalkan Val dan Kak Kafeel? ..”
Val tersenyum lebar pada Dad R sambil memainkan alisnya. Dan Dad R langsung saja melirik malas pada putri bontot kandungnya itu.
“Ya, ya, Dad?” cecar Val pada sang Daddy kandung. Lalu Dad R manggut-manggut.
“Ya nanti akan aku mintakan sertifikat penghalalan ke MUI.”
“Aa Daddyyy, masa menyamakan anaknya dengan piggyyyy?? ..”
“Hahaha!!! ..”
Gelakan pun membahana, disela mereka yang sedang berkaraoke ria dengan iringan permainan Ake Herman pada keyboard.
“Pokoknya jika Kak Kafeel melamarku Dad harus terima loh ya?! ..”
“Jika dia memenuhi syarat ---“
“Iihhh Daddyy, itu kan demi kebaikan agar aku dan Kak Kafeel tidak sampai terlarut dalam dosa! ..”
“Lagakmu!”
“Ya memang benar seperti itu kan??? ..”
“Kan sudah aku katakan, syarat dan ketentuan berlaku?! ..”
Kemudian Daddy R mendengus.
“Ya kan tapi—“
“Sudah sana!” usir Daddy R pada putri bontot kandungnya itu. “Rengekanmu itu selalu membuat kepalaku pening!” setelahnya satu toyoran mendarat di kepala Val yang cekikikan.
Dan mereka yang ada di dekat Daddy R dan Val pun ikut cekikikan.
“Dah R, mending joget tuh sana!”
Papi John berceletuk ria sambil menunjuk beberapa anak mereka yang sedang semlehoy joged sambil bernyanyi ria dengan iringan musik yang keluar dari keyboard yang sedang dimainkan Aki-aki yang masih demen dangdutan.
“Ro! geret ini Dad R!” seru Mami Prita pada putranya yang sedang asik megang mikrofon sambil bernyanyi dan berjoget ria bersama beberapa saudara-saudarinya sambil mulut mereka yang terbuka lebar saking cekakakan.
“Nah iya betul!. Lebih baik lo kendurkan otot kepala lo dengan berjoget sana!”
Daddy Jeff menimpali sambil juga cekikikan.
“SINI DAD R!”
Aro berbicara menggunakan mikrofon yang sedang ia pegang di tangannya.
“🎹🎵Joko Tingkir Ngombe Dawet, Jo Dipikir Marai Mumet ..🎹🎵”
💃💃💃💃💃💃
__ADS_1
To be continue ...