
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Episode sebelumnya :
SIN
“Tuan Aro, Tuan Ares, Nona Mika, Nona Valera.”
“Kak Achiel ---“
“Ada apa ini? ---“
“Apa anak – anak ini melukai anda – anda, Tuan, Nona?”
“Mungkin rencana mereka begitu..”
“Tapi?..”
“Tapi keadaan berbalik.”
Val yang menyahut.
“Mereka merundung Aro, dan untung saja kami keburu datang kesini.”
“Mereka ingin menjatuhkanku dan mencari gara – gara agar gelar juaraku dibatalkan. Begitu sih kayaknya. Sudah aku abaikan, tapi malah makin menjadi dengan menghina kami serta orang tua kami.”
“Lalu kalian mengeroyok mereka?” tanya Achiel.
“Engga. Cuma Kak Ann aja yang hajar mereka.”
--
“Jadi mau pakai alibi apa buat jaga-jaga kalau mereka akan meneruskan sikap playing victim mereka nanti? ...”
--
“Oke deal. Kita pakai alasan itu nanti kalau mereka emang kesongongan mereka berlanjut ---“
--
“Ingat ya Kak Achiel, kita harus satu suara loh?! ...”
“Iya loh Kak, inget apa yang tadi aku dan Val paparkan.” Timpal Mika.
“Iya. Ingat kan Kak? ...”
“Sebaiknya kalian lakukan saja apa yang saya sarankan pada kalian tadi. Pergilah ke kamar kalian, dan masuk dari pintu depan.” Tukas Achiel.
“Ya udah okay.”
--
“Balik ke kamar nih?”
“Kok males ya?...” Isha menanggapi ucapan Rery.
“Tanggung nih udah di luar gini kan ya?...”
“Ya ya ya!!”
“Kemana nih?”
“Kita ke Univ Stud aja gimana?-----“
Val mencetuskan ide.
“LET’S GOO!! ...”
--
“Itu mereka kenapa Achiel?—“
“Kami menemukan mereka berada di bagian belakang hotel sedang berkelahi satu sama lain, Nyonya Prita.”
“Aku yakin bukan itu yang terjadi sebenarnya. Bukan begitu Bapak Achiel?”
--
“Mataku masih cukup awas untuk melihat jika ke empat bocah itu berada di bawah tekanan.”
“Seperti yang saya katakan, saya hanya menjalankan tugas Tuan ..”
“Tugas mengarang cerita untuk menutupi kenakalan mereka? –“
“Tugas untuk melindungi anak-anak anda Tuan.”
--
“Melindungi bagaimana?!-“ masih Dad R yang mencecar Achiel.
( Lalu Achiel mengatakan apa yang dikatakan para pewaris muda padanya di hadapan Daddy R dan para tuan yang lain ).
“Setidaknya, begitu yang mereka katakan pada kami-“
“Dimana mereka sekarang?”
Gantian Papi John yang bertanya.
“Saya meminta mereka untuk kembali ke kamar mereka masing – masing Tuan-“
__ADS_1
“Panggil mereka semua kesini tanpa terkecuali!”
--
“Tuan,”
“Ada apa?. Kau mau mengatakan jika para bocah tengik itu tidak ada di dalam kamar mereka, dan tidak terlihat batang hidungnya di dalam Hotel ini? ---“
“Iya Tuan R ---“
“Hah! Sudah kuduga!”
--
“Biar aku coba hubungi Val-“ Kafeel berucap dengan segera.
“Aku yakin ponselnya tidak aktif, begitupun ponsel tujuh bocah tengik lainnya.”
“hundred percent sure it would be (Seratus persen pasti begitu)!” Papa Lucca menimpali ucapan Daddy R yang merupakan dugaan yang Daddy R serta tiga daddy lainnya yakini, bahwa dugaan itu benar.
“Ponsel Aro sama gue---“ celetuk Papi John.
“Tapi benar R yang bilang-selain Aro atau siapapun dari bocah tengik lainnya yang tidak membawa ponselnya, mereka yang membawa-pasti akan mematikan ponsel mereka.”
--
“Ck!”
Kafeel terdengar berdecak kecil.
Karena apa yang dikatakan Daddy R dan diaminkan oleh tiga daddy The Adjieran Smith lainnya, benar adanya.
“Apa kubilang? Pasti tidak aktif kan itu ponsel si ulat bulu?—“
Ponsel kekasih kecilnya Kafeel itu tidak aktif, begitupun nomor – nomor dari para saudara dan saudari Val yang lain.
Sekalipun ada yang tersambung, namun tidak terjawab. Dan setelah di cek keberadaan titik ponsel yang aktif itu, ada di dalam kamar si empunya.
Sungguh Daddy R sangat memahami tabiat anak – anaknya .
Daddy R mendesis sinis kemudian dengan wajahnya yang merungut.
Sementara tiga daddy lainnya geleng – geleng saja dengan juga berkesah.
Dan mereka selain empat daddy serta para bodyguard dan Kafeel, nampak terkekeh saja di tempat mereka.
--
“Dari CCTV jalan, Nona Muda Mika sampai Tuan Muda Ares mengarah menuju stasiun MRT, Tuan.”
Empat daddy yang sedang gemas pada anak – anak mereka yang terhitung junior itu sama – sama berdecih gemas sinis setelah mendengar laporan Ammar.
“Apa mereka paham naik transportasi umum?” tanya Kafeel yang sedikit merasa khawatir. Karena setahu dirinya, jangankan naik transportasi umum yang sarat penumpang, naik ojol yang sesuai aplikasi aja ga pernah.
--
“Gunakan perangkat canggihmu untuk tahu dimana para adik – adik tengikmu berada sekarang Bang—“
Daddy R berkata.
“Siapa tahu bocah – bocah tengik itu membuat kekacauan di stasiun MRT, atau bahkan membuat keributan di dalam MRT yang mereka tumpangi itu---“
Daddy R melanjutkan ucapannya.
“Track (Lacak), Ka.” Tanggap Varen santai seraya bicara pada Kafeel yang paham maksud Varen.
“Oke ..” sahut Kafeel. “Gue ambil dulu ‘the eye’ di kamar.” Tambahnya kemudian., sambil ia mengayunkan kakinya untuk mengambil perangkat ciptaan Varen yang mampu melacak keberadaan seseorang, walau di tempat terpencil sekalipun.
Varen mengangguk.
--
Kafeel telah kembali lagi-tak seberapa lama setelah ia pergi ke kamarnya untuk mengambil sebuah perangkat yang ia sebutkan sebelumnya, ke Private Lounge tempatnya berada tadi.
“Mereka di Univ. Stud.” Ucap Kafeel, yang sudah menemukan keberadaan para pewaris muda setelah ia mencari tahu dimana mereka itu lewat perangkat ciptaan Varen, yang super canggih untuk melacak keberadaan seseorang, walau di angkasa raya sekalipun.
Kecuali di akhirat.
Dan dengusan sebal pun terdengar dari empat daddy setelah mendengar ucapan Kafeel tentang dimana para The Bangor Kids versi mereka itu berada saat ini.
“That rascals (Bocah-bocah tengik itu benar-benar) –“ Papa Lucca menggerutu. “Instead justify for what they did, now they’re having fun just like that (Bukannya mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, malah enak-enakan bersenang-senang tanpa dosa)!—“ sambung Papa Lucca. “Hish!”
Sementara sisanya terkekeh geli saja, seperti yang sudah-sudah.
“Let them (Biarin aja lah) –“ ucap Varen. “Lagipula memang benar apa yang dikatakan oleh mereka pada Achiel—“
Varen lanjut bicara sambil memegang perangkat mirip tab yang tadi dibawa Kafeel dan kini telah berada di tangan Varen, sambil tangannya bergerak lincah di layar tab tersebut dengan Kafeel di sampingnya.
Lalu tangan Varen berhenti bergerak, setelah ia nampak menemukan sesuatu yang kemudian ia tunjukkan pada yang lain, setelah ia lebih dulu melihatnya dengan Kafeel.
“Mereka memang membela diri.” Ucap Varen. Ia memberikan perangkat yang dipegangnya pada para Dad, yang berisikan video dengan suara yang terdengar juga padahal di tempat tersebut tidak ada perangkat CCTV.
Berterima kasihlah pada otak si Abang Varen yang jenius itu, yang entah bagaimana dapat menciptakan sebuah perangkat yang seolah dapat melihat seisi dunia disaat orang lain tak bisa. Entah bagaimana bentuk otak si Abang Varen.
Para Dad dan lainnya selain Abang Varen dan Kafeel melihat video bersuara itu dengan seksama.
Para bocah tengik itu memang hanya membela diri mereka saja, makanya ada tindakan kekerasan fisik oleh salah seorang dari mereka.
--
“Kami jemput para tuan dan nona muda sekarang, Tuan?”
__ADS_1
“Biarin ajalah mereka main sampai puas!”
“Iya lah Dad,” timpal Varen atas ucapan Nathan. “Toh besok kita sudah kembali ke Jakarta, dan dalam hal ini mereka tidak bisa terlalu dipersalahkan karena membela diri –“
Para Dad pun manggut-manggut mendengar ucapan Varen yang menimpali ucapan Nathan. Lalu menurunkan perintah pada beberapa bodyguard untuk menyusul namun jangan mendekati para pewaris muda itu sampai mereka nampak telah selesai bermain di sebuah taman bermain besar tempat para pewaris muda itu sedang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang saat ini.
“Lo stay disini aja Ka. Temani gue nemuin temen gue yang juga menginap di hotel ini.” ucap Varen, sebelum orang kepercayaannya selain Ammar yang juga merangkap sahabat itu mengajukan diri untuk ikut menjemput adik-adiknya. Yang kemudian perkataan Varen itu langsung diiyakan oleh Kafeel.
“Oke—“
“Sky, Dave, you two go. Bring some men and make sure they’re not going anywhere else after there, and bring them here right away.”
“(Sky, Dave, kalian berdua yang pergi. Bawa beberapa orang dan pastikan mereka tidak kemana-mana lagi setelah dari sana, dan bawa mereka kesini secepatnya)”
--
“Apa kalian sadar jika merasa berbuat salah?..”
Dan disinilah mereka sekarang, The Bangor Kids versi sebutan dari para Daddy mereka yang sudah menunggu mereka dari matahari masih ada, sampai matahari udah ngumpet.
“Sadar ..”
Para pewaris yang sedang berdiri macam sedang kena setrap oleh bagian kesiswaan sekolah itu menyahut dengan serempak pertanyaan Daddy R.
“Tapi bisa ga sadar juga sih ..”
“Iya tergantung ..”
Tapi kemudian timpalan-timpalan para pewaris yang nampak woles itu membuat dua daddynya gemas-gemas kesal.
“Tergantung dari mana?!”
“Tergantung! Tergantung! Kesalahan ya kesalahan!”
Daddy R dan Papi John mendelik tajam pada anak – anak mereka itu.
“Yak anda betul Tuan – Tuan, kesalahan memang kesalahan ..”
“Tapi kan ada macam – macam sudut pandang dan alasan kenapa sampai membuat kesalahan ..”
“Betul itu!”
“Very agree!”
“Jangan melihat dari satu sisi, tidak adil nanti. Bukan begitu my brothers and sisters?”
“Begitu!”
“Betul itu!”
“Very agree!”
Tapi ya begitu.
Alih-alih takut, tetap saja The Bangor Kids bersikap santai menanggapi delikan tajam para dua Daddynya yang berseru gemas pada mereka, serta dua Daddy lain yang juga menatap tajam pada The Bangor Kids tersebut.
Dan hal itu, tentu saja membuat Dad R, Papi John, Daddy Jeff dan Papa Lucca memijat pelipis mereka, sambil menghirup udara sebanyak - banyaknya.
“Sudah diam!”
Daddy R menukas dengan seruan.
“Sudah membuat kesalahan, bukannya mempertanggung jawabkan, malah enak-enakan main!”
Daddy R merepet kemudian.
“Bisa tolong diperjelas, kesalahan yang mana ya?”
Satu anak kembar nyeletuk dengan santainya. Yang kemudian diiyakan secara bersahutan oleh para saudara-saudarinya. Dan sahutan-sahutan itu membuat Daddy R mendesis sambil mendelik lagi.
“Kalian memukuli empat orang anak laki-laki dan seenak jidat pergi main ke Univ. Stud tanpa beban?!”
Seruan pun keluar dari mulut Daddy R.
“Aku yang memukuli empat banci itu, Dad.”
Ann bersuara.
“Tapi atas nama saudara-saudarimu ini kan?!”
Daddy Jeff yang kemudian berseru. Dan Ann CS pun mengangguk serempak.
“Kami kan bersaudara, ya harus saling mendukung dong!”
“Yak betul itu!”
“Karena apa gaesh??? ...”
“Karena kita, Satu Nama, Satu Kesatuan, Satu Keluarga, Satu Rasa, Persaudaraan Kita Diatas Segalanya!”
“Satukan Langkah Kita Pasti Bisa!”
“Persaudaraan Bagai Kepompong!”
“One Body One Soul!”
“Together Forever!”
“Bersama Sampai Mati!”
“Ah ya Tuhaan, rasanya aku ingin mencekik kalian karena mulut berisik kalian ini!”
__ADS_1
****
To be continue ..