HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 55


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...


Kamar pribadi Val...


“Fix ini ketempelan kamu kayaknya, Val cantik. Harus aku pencet ini jempol kamu seperti yang Nathan lakukan ke aku tadi.”


Val yang masih sedang diledek sekaligus digoda Kafeel itu nampak biasa saja menanggapi jika jempolnya ingin dipencet Kafeel seperti halnya kejahilan dari Nathan dan tiga Daddy Val pada Kak Kafeelnya itu.


“Sini aku pencet jempolnya—“ Kafeel berkata, sekali lagi menggoda.


“Pencet yang lain aja gimana? ..”


Dimana kalimat ambigu yang keluar dari mulut Val, membuat Kafeel tersedak kecil.


“Hidung atau pipi Val?” Val kembali berbicara. Dan Kafeel kembali memperhatikan Val.


Mengabaikan pergerakan si ‘dedek’ tak berakhlak milik Kafeel yang tersembunyi di suatu tempat di bawah perut, di atas lutut.


“Masa Kak Kafeel tega menekan jempol kaki Val seperti Kak Tan-Tan menekan jempol kaki Kak Kafeel tadi?”


Kafeel terkekeh.


“Gara-gara siapa itu?”


Kafeel menoel kilat hidung Val. Val ikutan terkekeh kemudian. Lalu didetik berikutnya, Val dan Kafeel sejenak terdiam saling pandang.


“Val,” panggil Kafeel lembut pada Val.


“Ya?..”


Val menyahut, sambil menikmati sentuhan jemari Kafeel yang membelai lembut surainya, lalu Kafeel selipkan sedikit pada satu telinga Val.


“Love you.”


Diraih Kafeel tengkuk Val dan dikecupnya puncak kepala Val dengan lembut dan dalam.


Menghirup harum yang menguar dari rambut Val yang habis keramas itu.


Dan sepertinya keharuman kekasih kecilnya itu akan Kafeel selalu rindukan saat Val telah kembali ke London nanti.


“Love you too Kak ..”


Val membalas kalimat mesra Kafeel, sambil tersenyum pada pria tercintanya, selain para Dad dan saudara lelakinya.


Membuat Kafeel ikutan tersenyum karenanya.


“Pacar siapa sih, cantik banget?”


Kafeel melontarkan gombalan pertamanya pada Val.


Oh tidak, sepertinya ini untuk yang pertama kali dalam hidup Kafeel menggombali seorang wanita-gadis tepatnya.


Karena meski pernah serius berpacaran pun, rasa-rasanya Kafeel tak pernah menggombali mantannya. Hanya kata pujian saja yang biasanya keluar dari mulut Kafeel pada kekasihnya dulu.


‘Ah ilah, jadi receh begini gue?’ rutuk Kafeel dalam hatinya. Namun Kafeel merasa senang.


“Calon istri!” sahut Val setelah Kafeel menggodanya dengan gombalan receh tadi. Val lalu tersenyum geli.


Kafeel pun terkekeh. “Kalau begitu aku harus ke sungai---“ celetuk Kafeel kemudian.


“Apa hubungannya Val sebagai calon istri Kak Kafeel dengan sungai? ..”


Val sontak bertanya pada Kafeel. Tetap pede menyebut dirinya calon istri Kafeel.


Dan tentu saja Kafeel tidak akan menyanggahnya. Karena memang itu yang sekarang Kafeel inginkan. Rencana ke depan, yang seyogyanya ingin segera Kafeel laksanakan. Halalin Val.


Tapi nanti, nemuin biangnya ‘naga’ dulu. Habis itu baru bisa menyusun rencana masa depan bersama Val. Itu juga kalau biangnya ‘naga’ langsung kasih restu dan bukan menyemburkan ‘api’ ke Kafeel.


‘Ck! Kalo sudah inget biangnya naga, ngeri dan sebal datang bersamaan!’ gerutu Kafeel dalam hatinya.


“Ih, malah melamun!. Bukannya menjawab pertanyaan Val tadi?! ..”


Val mencebik imut.


“Eh, iya sorry!” tukas Kafeel, lalu tersenyum.


“Jadi apa itu hubungannya Val sebagai calon istri Kak Kafeel dengan Kak Kafeel yang harus pergi ke sungai? ..”


“Hubungannya, karena kamu calon istri aku itu adalah seorang bidadari, jadi aku harus pergi ke sungai untuk mengambil selendang kamu, agar kamu ga balik lagi ke Kayangan.”


“Iihh Kak Kafeel ..”


Val tersipu dan merona.


Kafeel tersenyum lebar dengan hati yang terkekeh geli.


Kafeel tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang seolah menjadi bak abg puber, yang selalu melemparkan gombalan receh pada pacarnya.


‘Gue? .. bener-bener jadi sereceh ini?’


Kafeel tersenyum geli dalam hati.


'Val, Val, bisa-bisanya kamu buat aku jadi begini..'



“Makasih ya? ..” ucap Kafeel yang memegang sebuah figura berisikan foto diri Val yang memang Kafeel langsung minta pada yang empunya, karena Kafeel sangat menyukai ekspresi Val di foto tersebut.


“Iya Kak, sama-sama.”

__ADS_1


Val menyahut dengan tersenyum.


“Jangankan picturenya, orangnya juga dengan senang hati ikut kalau Kak Kafeel mau bawa Val ..”


Val berkelakar.


Kafeel pun terkekeh.


“Sabar ya? .. aku pasti akan bawa kamu bersama aku, setelah aku mendapatkan restu dari semua orang tua kamu, terutama orang tua kandung kamu. Agar aku lekas bisa menghalalkan Val.” ujar Kafeel bersungguh-sungguh, meski ia berucap dengan nada santai.


“Tentu Val akan sabar menunggu saat itu tiba!” sahut Val antusias. Kafeel pun tersenyum cerah. Lalu mengusap lembut pucuk kepala Val, yang kemudian tak tahan untuk tidak Kafeel kecup. Sepertinya Kafeel sudah kecanduan akan harum rambut Val yang menguar dari shampoo yang dikenakan oleh kekasih kecilnya itu.


Entah kecanduan dengan harum dari shampoo-nya, atau memang pada dasarnya Val sendiri yang telah menjadi candu bagi Kafeel, hingga apapun mengenai gadis itu, ingin selalu dapat Kafeel nikmati sering-sering mulai dari sekarang.


“Ya udah yuk turun?”


Kafeel mengajak Val untuk keluar dari kamar pribadi Val tersebut.


Val pun menjawab dengan mengangguk seraya tersenyum pada Kafeel.


“Val mau menggenggam tangan Kak Kafeel boleh?” tanya Val saat ia dan Kafeel melangkahkan kaki bersama Kafeel menuju pintu kamarnya yang terbuka sedari Kafeel diajak masuk oleh Val tadi.


“Sangat boleh.”


Kafeel lekas menyahut dengan tersenyum dengan juga mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Val terlebih dahulu.


“Lain kali tidak usah bertanya kalau mau menggenggam tangan aku.” Kata Kafeel. “Genggam saja langsung, karena aku senang kalau kamu melakukannya.”


“Walau di tempat umum sekalipun? ...” respon Val seraya bertanya.


Kafeel mengangguk tanpa ragu. “Walau di tempat umum sekalipun.”


Val pun tersenyum lebar. “Aa senangnya!”


“Kamu bebas menggenggam tangan aku dimanapun, kapanpun -” Kata Kafeel. “Karena hati aku udah kamu genggam duluan.” Sambung Kafeel.


Val jadi tersanjung dan tersipu diwaktu yang sama.


Sementara Kafeel merasa geli sendiri dalam hatinya.


‘Kan, receh lagi gue! ..’ Kafeel merutuki lagi dirinya dalam hati.


Efek bucin sepertinya kian melekat pada diri si AA.


“Dan aku sudah minta ijin pada tiga Daddy kamu yang ada disini tadi. Termasuk pada Nathan.”


“Ijin apa?” tanya Val.


“Ijin untuk dekat dengan kamu.”


“Benarkah? ..”


“Iya, benar. Dan aku juga sudah memberitahukan Alva soal kita, walau hanya lewat pesan. Tapi sepertinya belum dia baca.”


“Ah Abang kalau sudah masuk jadwal rutinnya berduaan dengan Kak Drea sih tidak akan menghidupkan ponselnya sampai dia kembali ...”


“Iya Kak....”


Val menyahut seraya menggoyangkan kepala untuk menggangguk beberapa kali.


“Berarti tinggal ijin pada mereka yang berada di London dong ya? Terutama, Papa Lucca, Poppa dan tentunya Daddy R!”


‘Ah iya, biangnya ‘naga’!..’


Kafeel menghela nafasnya kala teringat lagi pada Daddy kandungnya Val itu.



“Hi everyone!”


Val yang sudah berada di lantai bawah Kediaman keluarganya itu, menyapa dengan riang dan tersenyum lebar kepada para anggota keluarganya yang sedang berada di ruang santai keluarga dimana sebagian besar yang sedang berada dalam Kediaman mereka itu kebetulan sedang bercengkrama di ruangan tersebut, setelah tadi belum nampak saat Val dan Kafeel datang.


Dimana mereka yang sedang berada di dalam ruang keluarga tersebut langsung saja menoleh ke arah Val yang menyambangi mereka dengan Kafeel disisinya. Yang mana mata mereka  yang melihat kedua orang tersebut, kemudian tertuju pada dua tangan dari sepasang insan yang datang dengan tersenyum kehadapan mereka itu dengan jemari yang saling bertautan mesra.


“Oh My...” Ini Mika yang menggumam tak percaya dengan pemandangan yang sedang dilihatnya saat ini.


“Apa Mika?...” Val yang juga mendengar gumaman Mika itu langsung saja menegur Mika sambil mendekati salah satu saudarinya yang sudah mulai berdomisili di London sejak beberapa minggu yang lalu-sambil Val tersenyum lebar.


Sementara Kafeel menyalami mereka yang tadi belum ditemuinya dari sejak ia datang bersama Val, lalu dijahili dan menyambangi kamar pribadi Val kemudian mengobrol beberapa saat disana bersama kekasih kecilnya itu.


“Ini pencitraan publik ya? ... Kak Kaf, sedang membantu dia ini bersandiwara didepan kami agar tidak kami cibir terus ya? ...” Mika berbicara pada Kafeel sambil menunjuk-nunjuk hidung Val yang terkekeh geli pada salah seorang saudarinya itu.


“Ih enak saja!”


Val dengan cepat menyergahnya.


Sementara Kafeel tersenyum geli di tempatnya.


“Wah, jadi beneran udah jadian nih, kalian?”


Kalau ini Mama Jihan yang langsung nyeletuk.


Tadi tiga Daddy yang dimintakan ijinnya untuk memperbolehkan Kafeel dekat dengan Val oleh pria itu, termasuk juga pada Nathan dan satu Mom serta satu kakak iparnya Val itu sudah menceritakan tentang Kafeel dan Val pada mereka yang berada di ruang santai saat ini.


“Sudah dong Mama Bear!”


“Iya Aunt ..”


Val dan Kafeel menyahut bersamaan.


Mereka yang berada di ruang santai pun tersenyum lebar.


“Waa harus traktir kita-kita nih Val!” Yang ini Mami Prita yang nyeletuk dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


“Oh, tenang Mami Sugar---“ sahut Val. “Tinggal sebut saja mau ditraktir dimana.” Sambung Val pongah dan membuat yang lain menampakkan lagi senyuman lebar mereka.


“Kalau aku tidak melihat dan mendengar sendiri rasanya aku tidak percaya jika hal ini benar-benar terjadi..”


Mika lalu nyeletuk. Val menampakkan wajah meledek pada salah seorang saudarinya yang mulutnya macam keseringan makan cabe rawit.


“Kak Kafeel ini dalam keadaan sadar kan, mau membina hubungan dengan ini si ulat bulu?. Atau mungkin karena sudah tak tahan dengan gatalnya ya?—“ celoteh Mika. “Jadi Kak Kafeel pasrah jadian dengan Val?..”


Mika masih berceloteh.


“Atau mungkin kasihan ya sama dia?”


“Ih enak saja kamu kalau bicara Mika!” Val segera menyergah lagi ucapan Mika lalu mencebik.


Yang lainnya terkekeh melihat dua gadis belia itu termasuk Kafeel. “Engga Kok Mi, ga ada unsur kasihan sama sekali--” Kafeel menanggapi dugaan Mika yang memang sekedar berguyon itu. “Pure, dari hati,” sambung Kafeel.


“Ha, dengar itu Mika!” Val berseru kecil. “For Your Information ya Mika, Kak Kafeel juga mencintai aku ternyata selama ini, okay?! ..” Val memberi penegasan kecil pada Mika yang tersenyum geli.


“Sepertinya itu hoax!”


Mika menyahut dengan meledek.


“Ih tanya saja pada Kak Kafeel sendiri kalau tidak percaya.”


Val lalu menoleh pada Kafeel.


“Iya kan Kak? ...”


Lalu meminta dukungan si AA.


“Iya itu benar Mika.”


Kafeel menjawab dengan tersenyum, namun tanpa ragu dan menampakkan juga keseriusannya.


“Duduk Ka ..”


Itu Daddy Jeff yang bersuara.


“Iya terima kasih Uncle Jeff, aku kebetulan hendak berpamitan ---“


Kafeel langsung menyahut pada Daddy Jeff.


“Dan sebelum aku berpamitan, sekali lagi aku ingin mengatakan apa yang tadi sudah aku katakan dihadapan Uncle Jeff, Uncle John, Uncle Dewa, Aunt Ichel. Nathan dan Via--”


Lalu Kafeel mengatakan dengan lugas pada semua orang yang berada dihadapannya itu, tentang dirinya yang berharap untuk diijinkan menjalin hubungan spesial dengan Val, dengan cara yang gentleman.


Gappa dan Gamma bahkan takjub juga pada Kafeel yang meminta ijin secara gamblang seperti mau melamar bahkan.


Padahal hanya meminta ijin untuk berpacaran dengan Val.


Tak hanya Gappa dan Gamma saja yang merasa salut pada sikap Kafeel yang meminta ijin dengan cara yang resmi untuk berpacaran dengan Val.


Yang mana di akhir kalimatnya Kafeel menekankan, “Aku tidak hanya sekedar ingin menjalin hubungan dengan Val ..... Aku serius, dan akan mempersiapkan diriku untuk itu. Jadi mohon berikan aku kesempatan.”


“Wow .....”


Mika sampai takjub melihat Kafeel.


Namun kata Wow yang keluar dari mulutnya tanpa suara.


“Setelah ini, aku akan menemui mereka yang berada di London.”


“Ya ampun Val, kau beruntung sekali ....”


Mika berbisik di telinga Val, saat Kafeel telah berbicara dan kini sedang diminta mendekat oleh Gappa dan Gamma kepada mereka.


“Of course ( Tentu saja ) aku beruntung!. Tidak salah kan pria pilihanku dari sejak bertahun lalu? ....” sahut Val yang berbangga hati dengan juga berbisik pada Mika.


“Sepertinya selain para Dad, Abang, Kak Tan-Tan, Gappa dan Ake, selain Opa Putra dan para pria leluhur kita, Kak Kafeel masuk ke dalam daftar pria yang aku kagumi,” ucap Mika kemudian.


“Dengar ya Mika-”


Val merespon ucapan Mika barusan.


“Kalau kamu sampai menyukai Kak Kafeel, akan aku kibarkan bendera perang saudara diantara kita.”


“Waks?! ...”



“Kenapa tidak menginap saja sih Kak?” ucap Val seraya bertanya pada Kafeel.


“Val benar, sebaiknya kau menginap saja disini. Toh kau sudah menyetir seharian bukannya? .....”


“Tak apa Uncle, aku lebih baik pulang saja.” Jawab Kafeel.


“Uncle Dewa benar, kau menginap saja malam ini disini, Ka –“


Papi John menimpali ucapan Daddy Dewa.


“Toh ada hal penting yang ingin kami bicarakan denganmu, seperti yang kami katakan saat kau datang tadi.”


“Ah iya, ya.” Tanggap Kafeel.


“Menginap-lah saja ...” ucap Daddy Jeff lagi, lalu saling lirik singkat dengan dengan dua Daddy lainnya.


“Kalau begitu, besok pagi aku akan datang lagi kesini. Bagaimana Uncles?...” kata Kafeel pada tiga Daddy Val yang berdiri dekat dengannya saat ini, yang kemudian manggut-manggut.


“Ya sudah pastikan esok hari kau datang lagi kesini.”


Papi John berucap.


“Karena ‘kami’ akan menunggumu.”

__ADS_1


♥♥♥


To be continue ....


__ADS_2