HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
DARI VAL # 1


__ADS_3

( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris...


“Bagaimana Mister Teddy, apakah senyumku sudah terlihat natural??”


Adalah Val yang sedang berbicara pada sebuah boneka beruang raksasa yang ia miliki di dalam kamar pribadinya itu.


“Wajah sembabku sudah tidak terlalu kentara kan ya?... Mata pandaku sudah aku tutup dengan concealer... Seharusnya wajahku sudah terlihat lebih fresh...”


Val mematut di depan cermin.


“Salah Val apa ya, pada Kakak?”


Val lagi berbicara, seolah pada cermin di hadapannya ia berkata.


“Kakak sudah membohongi dan mengkhianati Val sampai sebegitunya.”


Namun pandangan Val tidak tertuju pada dirinya yang ada di pantulan cermin.


“Membuat Val jatuh cinta sampai sebegitunya, hingga walau telah Kakak sakiti dengan begitu kejamnya yang membunuh mati semua impian Val berikut hati Val... Nama Kakak sulit sekali Val hilangkan dari hati Val.”


Seolah ada orang lain di belakangnya.


“Baru beberapa hari memang. Tapi tidak satu senti pun sakit itu menghilang Kak. Malah kian sakit dan sakit karena Kakak selalu ada di mata Val. Sudah Val katakan bukan? Jika melihat wajah Kakak sekarang, hati Val terasa di tusuk oleh pecahan kaca yang tajam. Tapi Kakak malah terus-terusan muncul di hadapan Val.”


Val terdiam sejenak.


“Sakit, tahu Kak? Sakitnya sulit untuk tidak membuat mata Val berair. Kenapa sih Kakak kejam sekali?... Sudah menyakiti Val dan sekarang malah tidak pergi-pergi... Bahkan Kakak juga tidak membiarkan Val tidur dengan tenang. Mata Val sudah panas sekali, tahu? Kepala Val pun sudah sangat sakit... Apa Kakak tidak kasihan pada Val? Apa Kakak tidak iba melihat Val menangis terus-menerus?”


Pandangan Val ia palingkan dari satu arah yang tadi ia tatap nanar dan juga memelas, kemudian ia menunduk.


“Membuat Val didera rasa bersalah yang teramat sangat pada keluarga Val yang juga bersusah hati dan diri karena Val yang tak henti menangisi Kakak... Menangisi nasib percintaan Val yang sial sekali ini. Huh.”


Val mengangkat lagi kepalanya, sambil ia menyeka pipinya.


“Silahkan saja Kakak menggangguku puas-puas sekarang. Dan aku akan puas-puas memandangi Kakak hari ini...”


Val mengulas senyuman, namun juga air matanya masih satu per satu jatuh dari pelupuk matanya sambil berbalik dan membelakangi cermin.


“Karena tidak lama lagi, aku akan bisa tidur. Dan bagaimanapun Kakak mencoba menggangguku, aku tidak akan terganggu. Aku akan dapat beristirahat. Jadi keluargaku, tidak perlu lagi melihat wajah sedihku. Tidak perlu lagi bersusah hati karena mendengarku menangis dan melihat air mataku yang keluar karena kakak terus menerus, yang entah kapan berhentinya.”


Kemudian tangan Val terulur ke arah wajah sosok yang ada di dalam pandangannya, meski wajah yang tangannya sentuh itu tidak Val bisa rasa.


“Val tidak bisa berlama-lama melihat kesedihan mereka, Kak. Karena Val yang tidak dapat berjanji, kapan Val dapat... Atas dasar Val tidak tahu, kapan luka hati Val karena Kakak ini dapat sembuh. Yang Val takut akan lama, dan keluarga Val, akan menderita atas kesedihan mereka memikirkan Val juga lebih lama...”


Val tersenyum getir kemudian dan menarik tangannya dari biasan bayang-bayang Kafeel yang ia sentuh.


“Val tidak mau, Kak. Tidak mau melihat keluarga Val bersusah hati lama-lama karena Val...”


🍂🍂🍂


“Selamat pagii, Good Morning, Buongiorno...” Suara sapaan nan ceria terdengar di telinga mereka yang sedang berada di ruang jamuan untuk sarapan.


Membuat mereka yang sudah lebih dulu ada di ruang jamuan, menoleh dengan wajah yang sukar dijabarkan melihat seseorang yang datang dengan nampak ceria itu.


Wajahnya sih sembab, berikut kantung mata yang walaupun nampak disamarkan bulatan hitamnya dengan cairan concealer sepertinya---namun tidak sempurna menutupi kantung mata yang membentuk di bawah sepasang mata yang sedikit agak merah itu.


Namun dia gerangan yang datang dengan wajah sembab itu tersenyum lebar.


Senang,


Seharusnya mereka yang berada di ruang jamuan ketika melihat dia gerangan yang selama ini menangis hampir tiada henti hingga wajah sembabnya tidak hilang-hilang itu datang dengan tersenyum lebar.


Namun alih-alih senang, kenapa senyuman lebar yang ditunjukkan oleh dia gerangan yang adalah Val---malah membuat miris hati orang-orang yang berada di ruang jamuan tersebut.


Sungguh, mereka mengharapkan Val mereka kembali seperti dulu.


Yang cerewet, ceria, manja dan sering banyak maunya itu. Yang wajahnya selalu terlihat sumringah dan ceria.


Sudah mirip sih, Val yang sekarang muncul di hadapan mereka itu seperti Val yang mereka kenal dan ketahui selama ini.


Namun jika sekarang ‘Val’ yang itu muncul secara tiba-tiba padahal semalam Gamma dan beberapa anggota keluarganya Val masih melihatnya menangis dalam pelukan Mister Teddy, ketika hendak mengucapkan selamat tidur pada Val---kok rasanya aneh, ya?...


Begitu kiranya pikiran orang-orang di jamuan yang sebagian besar adalah anggota keluarga Val yang seringnya tinggal bersama Val di Mansion Utama mereka yang bertempat di London itu. Alih-alih bahagia, namun Gappa dan lainnya malah merasa khawatir.


Seluruh keluarga Val memang sangat ingin melihat satu dara itu bangkit dari keterpurukan akibat pengkhianatan Kafeel padanya.


Tapi apa bisa dalam waktu semalam Val menghapus semua sedihnya?...


Apa iya luka hatinya yang teramat parah dan dalam itu sudah sepenuhnya hilang makanya Val tersenyum sangat lebar saat ini?


Rasanya itu mustahil, jika Val masih mereka dapati menangis diam-diam dengan suara tangisannya yang ia redam sedemikian rupa agar keluarganya tidak tahu padahal sesungguhnya mereka tahu.


Hanya jika saat Val menangis mereka memilih menjaga jarak karena takut mengganggu, atau mungkin Val merasa malu pada mereka atas Val yang pernah mengatakan hal tersebut.


Val yang merasa tak enak hati karena merasa pernikahannya dan Kafeel yang gagal akan mencoreng nama baik keluarganya yang selama ini terjaga dengan baiknya. Val merasa terbebani, keluarganya tahu itu.


Padahal sudah dikatakan pada Val, nama baik di hadapan orang lain itu tidak sepenting kebahagiaan tiap-tiap orang dalam keluarga. Terlebih atas Val yang terluka.


Sungguh, nama baik masa bodoh saja kalau ada anggota keluarga yang menderita serta tidak bahagia. Yang seperti telah dikatakan oleh para orang tua dan tetua.


Jadi melihat Val seperti ini adanya, sekali lagi, alih-alih bahagia---para anggota keluarga Val yang ada di ruang jamuan, malah merasa mencelos hatinya melihat Val yang berpura-pura tegar.


Bukankah Val malah menyiksa dirinya sendir jika begitu?...

__ADS_1


Demikian pemikiran mereka---keluarga Val, yang membuat hati kesemuanya mencelos melihat Val yang tersenyum lebar itu sekarang.


“Kemari, duduk di sampingku.” Poppa berujar.


“Iya...” jawab Val.


Rery yang duduk tepat di samping Poppa segera berdiri tanpa disuruh untuk memberikan tempatnya pada Val.


“Maaf ya, Rery. Kamu jadi harus pindah,” tutur Val.


“Apa sih, Val?... begitu saja—“


“Terima kasih, Rery...”


Val berucap dengan mengulas senyuman pada Rery yang menyempatkan untuk mengacak pelan rambutnya, sebelum Rery pindah ke samping Ann di sisi yang lain.


“Jangan memaksakan diri,” ucap Poppa sambil mengelus sekilas garis rahang Val yang telah duduk disampingnya itu. Val kemudian tersenyum pada Poppa.


“Apanya yang memaksakan diri?...”


Val membalas ucapan Poppa dengan menampakkan wajah polosnya.


“Ya dirimu yang kau tunjukkan pada kami saat ini,” ucap Poppa. “Palsu.”


Val mengulum senyumnya seraya mendengus geli.


“Poppa, seperti juga The Dads yang lain, hobi sekali bicara to the point.”


Val pun menanggapi ucapan Poppa tadi.


Poppa hanya tersenyum tipis saja.


Lalu tangannya digenggam Val. “Tidak sepenuhnya palsu sih, Pop,” ucap Val lagi. “Hati Val memang masih sakit sekali. Tapi Val tidak akan menangis lagi.”


“Benar begitu?” celetuk Dad R. Dan Val langsung manggut-manggut mengiyakan.


“Benar,” jawab Val. “Janji, kalian tidak akan melihat Val menangis lagi. Dan kalian tidak perlu bersusah hati lagi memikirkan Val yang sudah banyak menyusahkan kalian ini...”


“Never, Baby. Never talk like that ( Jangan pernah bicara seperti itu )” tukas Gappa.


“We never felt baffle because of you ( Kami tidak pernah merasa disusahkan olehmu )” timpal Papa Lucca.


“Ga ada orang tua yang merasa disusahkan oleh anak-anaknya, Val sayang..” ucap Momma. “Kalau kami menangis karena kamu menangis, bukan berarti kami terbebani sayang. Justru kami ingin meringankan beban kamu.”


‘Seperti aku yang mencoba terlihat tegar di depan kalian, aku tahu, jika kalian juga berusaha keras untuk membesarkan hatiku...‘


Val membatin setelah Momma berucap menimpali ucapan Papa Lucca.


‘Terima kasih, semua—‘


“Yang penting Val jangan merasa sendirian...”


“Karena Val punya kita orang yang akan selalu ada di samping Val dalam keadaan apapun.”


Val kemudian mengangguk antusias setelah mendengar ucapan Mommy Ara sambil membelai lembut surai dan kepalanya itu.


“Iya, Mom Peri,” sahut Val dengan senyuman. “Dan karena Val tidak ingin melihat kalian latah menangis saat Val menangis...” ucap Val kemudian dengan berseloroh, dan membuat para keluarganya tersenyum geli lalu sedikit membuat ada kelegaan dalam hati mereka mendengar Val yang berseloroh itu. “Jadi Val tidak akan menangis lagi—“


“Promise?—“


“Promise—“


“Nanti kalau menangis lagi Gamma denda ya?”


“Okay, Gamma...“


Val mengangkat dua jempol tangannya.


Semua orang yang berada bersama Val itupun tersenyum kompak.


Hingga kemudian Dad R berbicara lagi.


“Ingat satu hal, Baby. Bahwa hati bisa saja retak. Namun ia akan tetap terus berdetak.”


‘Iya, Daddy... hanya saja detakan hati Val yang retak itu, selalu mengingatkan Val akan impian Val yang luluh lantak. Sakitnya begitu hebat.’


🍂🍂🍂


“Apa kamu ingin pergi, Sayang?” Oma Anye bertanya, saat mereka yang berada di ruang jamuan itu sudah akan memulai sarapan mereka, dimana pertanyaan itu ia tujukan kepada Val.


“Tidak Oma.”


Val yang tahu jika nenek kandungnya itu bertanya padanya lekas menjawab.


“Hari ini, Val ingin menghabiskan waktu bersama kalian semua. Itupun jika kalian tidak sibuk—“


“Tidak akan sibuk kok buat kamu.”


Rery menyambar. Yang kemudian sambaran ucapannya itu ditimpali oleh Mika dan Ann.


“Memang kau berencana ingin melakukan apa bersama kami semua, hem?—“


“Asal jangan meminta kami para pria menemanimu shopping yang bisa berlangsung dari Mall buka sampai tutup.”


Lalu, tawa tercipta atas kelakar Dad R barusan sebelum mereka semua yang berada di ruang jamuan itu menyantap sarapan mereka.


Sambil sesekali Val mencuri-curi pandang untuk memperhatikan setiap orang yang ada bersamanya sekarang. ‘I love you all...’


Val membatin sambil ia mengulas senyuman singkat, sebelum melanjutkan sarapannya.


‘Sayang sekali mereka yang berada di KUJ tidak ada di sini juga.’ Val berbisik lagi dalam hatinya.

__ADS_1


🍂🍂🍂


“Ngomong-ngomong, jika tidak ingin pergi, lalu kenapa kamu membawa paper bag?”


“Oh ini untuk kalian—“


“Hem?”


“Apa itu?”


“Hanya sebuah rajutan kecil inisial nama kalian masing-masing. Sayang saja benang-benang rajutan Val hanya ada di dalam keranjang. Jadi Val iseng saja, selain sedikit imsonia juga. Hehe.”


“Kapan kamu merajutnya?”


“Dari kemarin sih. Mubajir juga benang-benang yang tadinya Val ingin buat menjadi sweater untuk—“


Val menggantungkan kalimatnya.


“Yah, pokoknya ini untuk kalian, termasuk untuk mereka yang ada di KUJ—“


“Kenapa tidak memberikannya langsung pada mereka?—“


“Takut tidak sempat.”


“Tidak sempat?—“


“Takut Val terlupa.”


Val meralat ucapannya.


“Val titip ya?—“


🍂🍂🍂


Val ingin menghabiskan waktu seharian bersama seluruh anggota keluarganya yang berada bersamanya saat ini dalam mansion megah mereka yang bertempat di London itu.


Namun Val juga tidak ingin menjadi penghambat aktifitas para personil keluarganya itu.


Jadi Val meminta dengan sangat kepada mereka yang memang kiranya sudah memiliki jadwal aktifitas untuk melanjutkan kegiatan mereka, dan baru nanti jika sudah selesai Val baru akan menghabiskan waktu bersama mereka yang telah selesai dengan aktifitasnya masing-masing.


Sementara itu,


“Kak Achiel—“


“Nona Muda Valera—“


“Vaal... V-a-l... Sudah berapa kali Val katakan panggil saja Val dengan Val.”


“Saya tidak terbiasa Nona...”


Val mencebik kecil, dan Achiel tersenyum dalam hatinya melihat satu nona mudanya yang sebelumnya ia lihat sangat kacau itu, kini sudah terlihat membaik walau wajah dan matanya masih terlihat sembab.


🍂🍂🍂


“By the way, Kak Achiel kapan sampai ke London?...” tanya Val.


“Semalam, Nona...” jawab Achiel.


“Huum,” gumam Val.  “Oh iya Kak Achiel,” ucap Val kemudian.


“Iya, Nona?” jawab Achiel lagi.


“Apa sudah Kak Achiel sampaikan titipan Val pada yang bersangkutan?”


“Sudah, Nona...”


“Ya sudah, kalau begitu.”


*


“Kak Achiel,” panggil Val. “Ini,” ucap Val sambil mengulurkan tangannya kepada satu bodyguard khususnya itu.


Achiel pun mengerutkan kening.


“Nona ingin keluar dengan menggunakan mobil pribadi Nona?—“


“Tidak,” tukas Val.


“Lalu? Apa mobil Nona bermasalah dan ingin saya mengeceknya?”


“Val tidak paham tentang mesin mobil. Dan lagi, Val jarang sekali menggunakan mobil Val itu...”


“Lalu?—“


“Lalu lalang.”


Val berseloroh.


Kemudian tersenyum geli sendiri.


Sementara Achiel melihatnya bingung.


“Mobil ini untuk Kak Achiel—“


“Heu?—“


“Terima kasih, sudah baik sekali pada Val selama ini.”


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2