
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Makasih masih setia....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia .....
Pada satu waktu,
"Ka, jika sudah selesai makan, datanglah ke ruang kerja utama.” ---- Papi John.
"Iya, Pih." ---- Kafeel.
✨
“Duduk, Ka, Ar.”
Daddy Jeff yang mewakili lainnya yang sudah berada di ruang kerja utama keluarga The Adjieran Smith dalam kediaman mereka yang berada di Jakarta ketika melihat Kafeel datang bersama Varen dan Arya.
“Iya, Dad .....” sahut Kafeel dan Arya.
“Lo mau duduk sini, Va?”
Kafeel berbicara pada Varen.
Dan Varen menggeleng samar sebelum ia sambung bicara.
“Lo aja duduk situ. Gue gampang ..... Lo kan yang mau disidang .....” kekeh Kafeel.
Kafeel dan lainnya juga ikut terkekeh kecil karena ucapan Varen.
✨
Kafeel mengambil tempat duduk di dekat Daddy Dewa. Lalu pembicaraan di mulai oleh Papa Lucca yang bertanya pada Kafeel.
“So how the way you feel now (Jadi bagaimana perasaanmu sekarang), Boy?” tanya Papa Lucca yang duduk pada sebuah sofa single berdampingan dengan Daddy R pada Kafeel yang sedang duduk bersama Daddy Dewa.
“Better ( Lebih baik ), Pap,” jawab Kafeel.
✨
“Lalu sehubungan dengan dirimu yang ingin melamar Val secara resmi lusa nanti, ingin tetap kau lanjutkan atau kau undur, Boy?” ---- Dad R.
“Tidak ada perubahan rencana kok, Dad .....“ ---- Kafeel.
“Berubah pun tidak masalah bagi kami jika mengingat Lena.” ---- Poppa.
“Tidak, Pop. Lena memang mengalami pelecehan serta kekerasan fisik. Tapi tidak sampai ke tahap trauma karena hal itu. Lena sudah merasa lega jika b*jingan itu dipenjara. Dia hanya merasa menyesal sekali pada Bunda dan aku karena tidak bisa menjaga dirinya .....” ---- Kafeel.
"Kami lega jika memang Lena tidak mengalami trauma." ----Poppa.
"Iya, Pop ....." ----Kafeel.
“Lalu Bundamu bagaimana?” ---- Daddy R.
“Syok sih, tapi setidaknya sudah lega saat aku menghubunginya tadi dan mengatakan jika b*jingan itu dan komplotannya telah diserahkan ke polisi.” ---- Kafeel.
"Tapi tidak sampai terkena serangan, kan?" ----Daddy Jeff.
"Engga, Dad. Aku dan Lena sudah meminta Bunda untuk menenangkan diri dulu sebelum aku meminta Lena untuk menceritakan semuanya tentang dia dan b*jingan itu." ----Kafeel.
"Syukurlah jika begitu."----Dad R.
✨
“Baiklah jika begitu, Boy. Yang penting Lena tidak sampai menjadi trauma dan bundamu tidak sampai menjadi sangat syok hingga dapat memicu kesehatan jantungnya dapat menurun.” ---- Papi John.
“Iya, Pih.” ---- Kafeel.
“Now let’s talk about your plan to officially purpose Val (Sekarang kembali kepada rencanamu yang ingin melamar Val secara resmi)” ---- Papa Lucca.
“Yes, Papa.” ---- Kafeel.
✨
“Have you think about it more over? (Apa kau sudah memikirkan hal tersebut baik – baik?) ---- Dad R.
“Aku sudah mempersiapkannya dengan seksama, Dad. Jadi, iya, aku sudah memikirkannya dengan sangat baik. Meskipun persiapanku untuk itu sederhana saja.” ---- Kafeel.
“Hal yang terpenting adalah kau mencintai Val dengan sungguh – sungguh, bertanggung jawab dan menjaganya sepenuh hatimu. Hal itu kami rasa cukup sebagai para ayah Val, karena dia adalah salah satu permata berharga dalam hidup kami semua, seperti semua para saudara dan saudarinya.” ---- Dad R.
“Iya, Dad –“ ---- Kafeel.
“Yang aku serta para pria tua ini maksudkan adalah kesiapan dirimu sendiri mengenai kau yang akan melamar satu putri kami yang bahkan terkadang lebih kekanakkan dari Aina.” ---- Dad R.
“Aku siap, Dad. Karena aku sudah memikirkannya matang – matang.” ---- Kafeel.
__ADS_1
“Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusanmu.” ---- Daddy Jeff.
“Iya, Dad. Bunda dan Lena juga sangat mendukung, selain mereka sangat bahagia jika aku segera melamar Val –“ ---- Kafeel.
“Tetap lusa jadinya?” ---- Daddy Jeff.
“Iya, Dad ..” ---- Kafeel.
✨
“Oh iya Dads, all .. satu lagi –“ ---- Kafeel.
“Apa? ..” ---- All.
“Jangan terlalu mempersiapkan yang bagaimana – bagaimana. Aku hanya ingin apa adanya aja –“ ---- Kafeel.
“Kau bawa saja dirimu serta keseriusanmu selain Bunda dan Lena, atau terserah jika ada anggota keluarga lain kalian yang kau ajak juga. Urusan di sini tidak perlu kau pusingkan saat kau dan keluarga datang nanti.” ---- Papi John.
“Iya, Pih ......" ---- Kafeel.
✨
"Hanya Bunda dan Lena saja dari keluargaku. Keluarga ayah juga aku tidak akrab. Selain memang aku malas mengakrabkan diri pada orang – orang yang menjauhi keluarga kami saat ayah didera masalah karena fitnah sampai ia meninggal, hingga Bunda dan Lena harus pergi ke Malay.” ---- Kafeel.
“Lalu keluarga dari gadis yang pernah bermasalah dengan Val itu? Bukankah mereka banyak menolong Bunda dan Lena saat di Malay dulu? –“ ---- Papi John.
“Kakak perempuan dari ibunya Rara sebenarnya yang membantu Bunda dan Lena di Malay. Namun perempuan baik hati itu sudah tiada. Tapi kalau menurut Bunda saat ia tetap tinggal di Malay sejak kematian tantenya Rara itu sebelum aku datang menjemput Bunda dan Lena, orang tua Rara juga memperlakukan Bunda dan Lena dengan baik, selain saat Rara kecil memang dia dekat denganku dan Lena.” ---- Kafeel.
“Lalu mengapa mereka tidak kau ajak?” ---- Daddy Dewa.
“Pertama, mereka sedang di Malay sampai minggu depan. Kedua, aku rasa tidak perlu. Aku hanya akrab dengan Rara tapi tidak kedua orang tuanya. Dengan Rara pun sudah lama sekali baru jumpa beberapa waktu belakangan dari sejak aku menyelidiki kasus ayah, itupun hanya sekedarnya tidak seperti dulu lagi. Selain dia berdomisili di Dubai sejak bekerja di perusahaan yang bekerjasama dengan R. Corp baru – baru ini, aku juga menjaga perasaan Val yang tidak menyukai Rara dari sejak mereka bertemu.” ---- Kafeel.
“Ya sudah, terserah padamu saja –“ ---- Daddy Dewa.
“Iya, Dad –“ ---- Kafeel.
“Tapi Uncle Rico dan Aunt Shireen berikut ini si eks sadboy dan Sony akan menyertai kedatanganku.” ---- Kafeel.
“Baiklah.” ---- All Dads.
✨
“Satu lagi, Dad.” ---- Kafeel.
“Belum jadi menantu saja sudah banyak sekali permintaanmu.” ---- Dad R.
“Bocah tengik memang –“ ---- Dad R.
“Ga apa deh tengik juga. Yang penting judulnya dapet restu buat meminang itu gadis ulat bulu.” ---- Kafeel.
“Cih!” ---- All Dads.
“Ya sudah katakan apalagi permintaanmu?” ---- Daddy Jeff.
“Tolong jadikan ini surprise untuk Val?” ----- Kafeel.
“Haish! Baru jadi calon menantu kau sudah menyusahkan begini.” ---- All Dads.
“Janji aku akan menjadi menantu yang sangaat berbakti nanti.” ---- Kafeel.
“Cih!” ---- All Dads.
♥
Dimana kejutan itu .....
“AAA!!!!!..”
Benar – benar mengejutkan dia yang mendapatkan kejutan cukup besar di pagi hari yang cerah ini.
Dimana yang bersangkutan panik bukan kepalang. Hingga ia meloncat tajam dari tempat tidurnya dan berlari kencang menuju kamar mandi pribadinya.
Itu Val, yang bahkan sampai tersandung – sandung kala berlari menuju kamar mandi pribadinya itu. Dan di saat itu juga,
“ITU VAL KAN, RO?!..”
Dimana kepanikan tidak hanya melanda dia gerangan yang hendak diberi kejutan cukup besar hari ini, namun juga melanda seseorang yang berada di ujung ponsel Aro, dimana Aro melakukan panggilan pada si sumber kejutan dan maksud kedatangannya ke kediaman utama The Adjieran Smith hari ini.
BRAAKK!
Lalu suara pintu yang ditutup dengan keras membuat semua orang yang berada di kamar Val mengendikkan bahu mereka dengan serempak.
"PELAN - PELAN HOY!!!!"
“VAL HATI - HATI!”
Suara Isha dan Rery yang teriak memperingatkan Val yang sedang kalang kabut itu.
__ADS_1
“Iya, Kak –“
“Is she okay??? (Apa dia baik – baik aja???)”
Mendengar teriakan Val, lalu suara benda yang berbenturan dengan keras sampai Kafeel sempat istigfar di tempatnya serta suara teriakan Isha --- membuat Kafeel menjadi kian panik.
Sementara Aro asik saja terkekeh karena melihat Val yang gelagapan selain sempat ikutan kaget juga gara – gara Val masuk kamar mandi lalu menutupnya dengan sangat keras saking ia sangat panik.
“Okay, Kak..”
Aro menjawab pada Kafeel yang panik itu disela kekehannya.
“Efek panik yang berlebihan,” kekeh Aro lagi. “Macem ga tau dia aja kalo lagi panik..”
“Iya sih..”
Akhirnya Kafeel ikutan terkekeh.
Sementara mereka selain Aro sudah mulai membubarkan diri dari kamar Val untuk melakukan tugas mereka masing – masing yang berhubungan dengan persiapan Val serta penyambutan untuk Kafeel dan keluarganya.
Aro masih berdiri di tempatnya saat tiba – tiba ia terkaget, saat..
“ARO!” Sebuah suara pekikan sampai secara tiba – tiba di telinganya.
“ASTAJIIM! –“
“Itu Kak Kafeel?!”
“ISH! Ga pake ngagetin bisa?!”
Aro berucap sebal, karena satu saudarinya ini macam memedi yang ga kehadirannya suka tiba – tiba dan mengejutkan.
“Itu Kak Kafeel?!” tanya Val lagi yang mengabaikan protes Aro padanya.
“Iya ini aku, Tuan Putri,” Kafeel sudah menyahut dari ujung sambungan telepon pada ponsel Aro.
Yang mana ponsel Aro itu sudah disambar oleh Val yang sudah mengenakan bathrobe di tubuhnya.
“Mandi sanaa!! –“
“Sst!”
Val menyergah tajam pada Aro.
“Kak Kafeel!!”
“Iya, Tuan Putri?..”
Kafeel menjawab pekikan Val dengan lembut.
“Kak Kafeel benar sedang menuju kesini?!” cecar Val.
“Iya, Sayang –“
“Untuk menikahi Val?!”
Terdengar suara kekehan renyah Kafeel sebelum ia menjawab pertanyaan Val.
“Baru mau melamar secara resmi aja,” jawab Kafeel. “Untuk masalah pernikahannya nanti langsung dibicarakan juga kok.”
“Heuh?”
Val terkesima.
“It --- itu benar.. Kak?. Kak Kafeel sedang menuju ke sini untuk melamar Val, secara resmi? ..” gugu Val kemudian sambil mengerjap - ngerjapkan matanya dengan cepat.
“Iya, Sayang.”
“.......”
“Ini ada Bunda disamping aku kalau –“
“AAAAA!!..”
Belum sempat Kafeel lanjut berbicara, Val sudah histeris lagi dengan melempar ponsel Aro sembarang dan berlari tajam kembali ke kamar mandinya.
♥
Spoiler:
“Jadi, Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, apa kamu mau menerima lamaran aku untuk menjadikan kamu sebagai istri aku?..”
“Tidak mau –“
♥♥♥♥
To be continue .....
__ADS_1