
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Pada sebuah tempat yang lumayan jauh dari daerah yang disebut Kota Patriot,
Episode sebelumnya:
“Eh Re-An, Aro ...” (Ann)
“Kenapa, Ann?” (Rery dan Aro)
“Kalian lihat di seberang sana-Itu bukannya, Kak Lena?“ ( Ann)
---
“Jangan kesana -” (Zio)
“Iya, kenapa?” (Ann, Rery dan Aro)
“Bang Bagus nyuruh kita ngindarin mereka. Itu anak-anak Lanang Bangor!” (Zio)
“Kenapa memangnya?” ((Ann, Rery dan Aro)
“Dari rumor yang tersebar, mereka geng motor kriminal yang jualin barang ke anak-anak yang ada disini, kadang pake maksa berikut ngancem, yang mana mereka itu raja tega semua –“ (Zio)
♥
“Jadi bagaimana?” tanya Ann pada Aro dan Rery. Dimana Ann sebenarnya penasaran dan hendak memastikan kebenaran matanya.
“Aku juga yakin itu Kak Lena. Hanya yang jadi pertanyaan aku, kenapa dia bisa ada sama-sama geng kriminal itu?“
“Untuk itu kita harus benar-benar memastikan.“
“Rery!” Ann dan Aro sama berucap, begitu juga wakilnya Rery dan Aro. Berikut para anggota kelompok motor dua bujangnya The Adjieran Smith yang sedang ada saat ini.
Dimana mereka semua kompak menahan Rery, yang mereka anggap hendak nekat menghampiri satu geng motor berbahaya, yang barusan tadi mereka bahas.
♥
Rery menatap satu-satu mereka yang menahan seraya menjegal langkahnya. Pemandangan kepala yang geleng-geleng tertangkap oleh mata Rery.
Dimana Rery mendengus geli kemudian. “Gue tidak sebodoh itu menghampiri lawan dengan tangan kosong ..” ucap Rery setelahnya. “Nekat boleh, bego jangan!”
“Jadi nekat yang ga bego itu gimana coba tolong dijelaskan?---“ tukas Aro, sementara Rery mendengus geli. “Karena yang gue tau orang nekat itu ga sempet mikir.”
“Nekat versi seperti yang lo bilang itu Aro, nekat versi old,” sahut Rery. “Sementara nekat versi gue, adalah nekat versi jaman now---“
“Baru tau gue, nekat ada versi lama dan barunya---“ celetuk Zio polos.
“Raja bolos ga mungkin sampai otaknya menyamai otak gue,” tukas Rery.
“Enjleb banget Yo.”
“Pak Ketua Satu kalo ngomong suka bener---“
“Parah banget Pak Ketu! ...”
Zio bersuara.
“Jarang ngomong, tapi sekalinya ngomong nyakitin hati orang.”
Lalu Zio melayangkan keluhan pada Rery.
Dan didetik berikutnya, mereka terkekeh dan tergelak bersama.
♥
“Jadi nekat jaman now itu gimana?”
“Kalau mau nekat ya lihat lawan dulu,” jawab Rery pada pertanyaan Aro. “Nekat asal jangan nekat, kalau ujungnya akan mendapat kekalahan---“
“Karena mereka lebih banyak dari kita sekarang dan sebagian besar anggotanya seumuran Bang Bagus?”
“Kalau soal banyaknya sama umur, itu bukan masalah besar. Kalau kita berkelahi sama - sama tangan kosong dengan mereka, masih ada kemungkinan menang walau babak belur. Tapi mereka kan kalian katakan full senjata tajam, dan yang pasti masing – masing punya di saku jaket mereka dan yakin tidak hanya satu? ... Jadi gue ga senekat itu untuk mati konyol, kecuali gue dan kalian semua pegang FN Browning dan Mac 11 sekarang. Ayo, kalau mau menghampiri mereka ...”
Aro dan lainnya kemudian manggut – manggut. “Nah elo tadi mau maju?---“
"Nah iya, bukannya karena mau nyamperin mereka? .."
“I’m not that stupid, okay? ( Gue tidak sebodoh itu, oke? )” sambar Rery.
♥
“Jadi?”
Aro bertanya.
“Lo lupa kalau kita punya empat terminator yang ikut kesini?”
“Ah iyaa...”
“Nah gue hendak menghampiri mereka. Bukan mau antar nyawa kesana!”
Rery menunjuk ke arah geng motor kriminal itu dengan dagunya. Aro cengengesan sambil manggut – manggut, sementara Ann mendengus geli.
“Sudah minggir kalian...” kata Rery pada Zio dan lainnya yang masih menghadang jalan Rery itu. “Kembali lagi ke tempat masing – masing,” tambahnya.
Yang mana ucapan Rery itu tentu saja dipatuhi oleh para anggotanya dan Aro tersebut. Mereka selain tenang karena salah satu ketuanya tidak berniat cari ribut – istilahnya, tapi saat Rery mengatakan ‘terminator’ para anggota kelompok Rery itu tahu jika yang dimaksud dengan ‘terminator’ oleh Rery adalah pengawal pribadi dua ketua mereka, dan satu nona yang entah mau disebut apa.
“Kenapa tidak menghubungi Kak Achiel saja dan biar mereka yang datang pada kita, Re – An?...”
“Terlalu mencolok jika mereka kesini,” jawab Rery pada Ann. “Lagipula aku memiliki rencana untuk memastikan itu Kak Lena atau bukan.”
__ADS_1
♥
Dihadapan Aro, Ann dan Rery sekarang-ada empat orang pengawal pribadi mereka yang tadi sempat berpencar dan berada pada jarak tertentu untuk mengawasi dan menjaga tiga majikan muda mereka tersebut.
Tapi setelah melihat tiga majikan mudanya yang mendekat ke tempat Achiel dan Fajar berada, dua pengawal pribadi yang lain kemudian mendatangi tempat Achiel dan Fajar. Setelah juga dua pengawal pribadi tersebut membaca kode kepala Ann-yang tahu titik keberadaan mereka, meminta untuk mendekat.
“Sepertinya memang Nona Lena, tapi agak susah juga dapat angle mukanya tanpa halangan mereka yang sedang kumpul bersama Nona Lena itu...”
Achiel bersuara, setelah Rery mengatakan rasa penasarannya-sama seperti Ann dan Aro.
♥
“Diantara kalian berempat, Kak Fajar dan Kak Simon saja kan yang tidak dikenal oleh Kak Lena sepertinya? –“
Rery bersuara, dan enam orang yang sedang bersama Rery itu mengangguki ucapan Rery tersebut.
“Tuan Muda mau saya dan Simon memastikan?” ucap Fajar seraya bertanya.
“Salah satu saja,” tukas Rery.
“Saya aja kalau begitu,” Fajar menawarkan diri. “Saya bisa pura-pura beli barang dari mereka.”
“Tidak harus seperti itu.” Rery langsung menyambar. “Aku hanya ingin Kak Fajar atau Kak Simon lebih dekat ke tempat mereka, namun tetap tidak perlu terlihat.”
“Oh beres kalo gitu doang sih, Tuan Muda.” Pengawal yang bernama Simon menyahut. “Saya bisa kalo gitu doang.”
“Kak Simon kenal wajah Kak Lena adenya Kak Kafeel, emang?”
Aro yang bersuara seraya bertanya kepada Simon, dan satu pengawal pribadi itu mengangguk.
♥
“Ann, apa kamu membawa ponsel?” tanya Rery pada Ann yang dengan cepat menjawab.
“Bawa, Re-An.”
“Kak Simon, beritahu jika sudah pada posisi yang bisa jelas melihat Kak Lena.”
“Siap, Tuan Muda Rery.”
“Ponsel Kak Simon aktif kan?...”
“Selalu, Tuan Muda.”
“Ya sudah,” tukas Rery.
“Kalau begitu saya bergerak sekarang –“
“Okay...” sahut Rery, dan Simon kemudian melangkah untuk memperhatikan seorang gadis yang mereka yakini adalah adik perempuannya Kafeel, berdasarkan rasa penasaran Rery, Ann dan Aro.
“Simon udah on position, Tuan Muda...” ucap Achiel yang beberapa detik barusan menerima telepon masuk di ponselnya.
♥
Ann pun mengangguk setelah Rery meminta Ann melakukan hal yang barusan Rery katakan.
Setelahnya, Ann langsung mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, bersamaan dengan Rery yang meminta Achiel menghubungi Simon untuk memperhatikan gadis yang mereka duga sebagai adik perempuannya Kafeel tersebut.
“Bilang sama Kak Simon ponselnya biar tetep on gitu, Kak Achiel.”
“Dan minta Kak Simon memperhatikan dengan seksama jika dia yang kita duga sebagai Kak Lena itu memang dia dengan menerima panggilan Ann.”
Rery menimpali ucapan Aro. Lalu Ann yang tadi menjeda untuk menghubungi nomor ponsel adik perempuannya Kafeel itu kemudian mengangguk lagi, saat Rery memintanya untuk menghubungi nomor tersebut sekarang.
Dan Achiel dengan segera juga berbicara dengan Simon di ponselnya, untuk memberitahukan pada Simon apa yang Rery katakan-setelah Ann menempelkan ponsel milik nona mudanya itu ke telinga si empunya.
“Terus kalo itu emang beneran Kak Lena, gimana? ..” ucap Aro. “Apa kita langsung hubungi Kak Kaf?” lanjutnya sambil memandang pada Rery.
Namun saat Rery hendak menjawab Aro, tangan Ann terangkat ke udara, mengkode agar tidak ada yang bicara.
“Halo, Kak Lena? ..”
Setelahnya Ann bersuara.
♥
Baik Rery dan Aro berikut tiga pengawal pribadi dari dua tuan dan satu nona muda itu, tidak ada yang bersuara ketika Ann sepertinya sudah tersambung dengan adik perempuannya Kafeel yang lebih tua usia dari ketiga remaja-remaji tersebut. Yang mana memiliki hubungan sangat baik sebagaimana sang kakak dan ibunya dengan seluruh personel The Adjieran Smith.
“By the way, Kak Lena dimana?. Sepertinya a little bit noisy? ( sedikit bising? ) ..”
Ann lagi berbicara dengan sedikit menjauh dari tempatnya tadi, mencari tempat yang tidak bising juga.
Sementara lima lainnya memperhatikan Ann yang sedang berbicara dalam sambungan telepon dengan Lena itu.
“Minta Kak Simon untuk mengambil foto Kak Lena---“ dan disaat Ann sedang berbicara dengan adik perempuannya Kafeel tersebut, Aro berbicara pada Achiel.
Yang mana langsung diangguki Achiel tanpa suara, selain satu pengawal pribadi yang seringnya mendampingi Val itu melakukan apa yang barusan Aro minta dirinya untuk lakukan.
“Ya sudah, sampai bertemu lagi ya Kak Lena ..“ Ann sudah hampir nampak menyelesaikan obrolan di ponselnya dengan Lena. “Oh iya, nanti aku sampaikan pada semua ..” ucap Ann lagi. “See ya!---“
Klik.
“Benar itu Kak Lena ..” ucap Rery setelah Ann rampung menelepon dan telah kembali kedekat Rery dan Aro.
“Jadi bagaimana?---“ tanya Ann.
Ann, Rery dan Aro kemudian saling diam sejenak, karena masing-masing sedang berpikir. “Kita hubungi Kak Kaf saja?” Rery lalu mencetuskan ide.
“Ya sudah,” sahut Aro dan Ann bersamaan.
Lalu Aro mengeluarkan ponselnya.
“Tunggu dulu, Tuan Muda---“ cegah Achiel.
__ADS_1
“Kenapa, Kak Achiel?---“ sahut ketiga majikan muda dari Achiel dan tiga rekannya tersebut.
“Saya rasa Tuan Kafeel jangan diberitahukan dulu soal ini,” ucap Achiel yang kemudian menerangkan alasan mengapa ia mencegah tiga Majikan Mudanya itu untuk menghubungi Kafeel.
“Achiel benar Tuan Muda Aro, Rery, Nona Muda Adrieanne.”
Bram-salah satu pengawal pribadi yang sama aktif dengan Achiel karena sering mendapat tugas, ikut berkomentar.
“Tuan Alva pernah berpesan, setiap informasi yang kami dapat mengenai keterlibatan adik perempuannya Tuan Kafeel, harus disampaikan pada beliau dulu jangan langsung ke Tuan Kafeel.”
“Lagipula, Tuan Muda, Nona. Tuan Kafeel itu panasan orangnya. Kalau anda-anda memberitahukan beliau soal Nona Lena sekarang, yang ada Tuan Kafeel meluncur kesini terus ribut sama itu para berandalan tengil ..”
♥
“Jadi Kak Achiel dan lainnya sudah diminta Abang untuk mengawasi Kak Lena?---“
“Saat saya bilang kalau saya pernah liat Nona Lena dengan geng motor itu, tadinya Tuan Alva mau minta saya mengawasi lebih jauh.”
“Tapi?---“
“Tapi tak lama setelah Tuan Alva mengatakan maksudnya pada Tuan Kafeel, Tuan Alva hanya meminta kami mengawasi sesekali.”
“Kenapa?---“
“Kalau menurut Tuan Alva, Tuan Kafeel yang meminta Tuan Alva agar tidak repot mengurusi adik perempuannya itu, karena Tuan Kafeel sendiri yang akan mengurusnya.”
“Jadi Tuan Alva tidak jadi menugaskan salah satu diantara kami untuk mengawasi adiknya Tuan Kafeel itu, untuk menghargai dan menghormati permintaan Tuan Kafeel ..”
“Begitu ya?---“
“Dan jika kami tidak sengaja mengetahui informasi mengenai Nona Lena, kami harus langsung melapor pada Tuan Alva terlebih dahulu.”
Rery, Aro dan Ann manggut – manggut. “Ya sudah kita hubungi Abang kalau begitu?” gagas Ann.
Rery dan Aro pun langsung mengiyakan gagasan Ann tersebut.
“Apa sebaiknya nanti saja kalian menghubungi Tuan Alva?” sergah Achiel.
“Kenapa memangnya?”
Dimana Rery, Ann dan Aro sontak kompak mencetuskan pertanyaan.
“Saya rasa Tuan Alva sudah beristirahat saat ini,” jawab Achiel, dan tiga majikan mudanya tersebut lalu mengiyakan ucapan Achiel.
Kemudian Aro, Rery dan Ann saling berpandangan. “Terus jadinya gimana nih?---“ cetus Aro seraya bertanya pada Ann dan Rery.
“Kalau saran saya, lebih baik anda bertiga kembali ke rumah Tuan Besar Herman dan Nyonya Besar Bela,” kata Achiel menyarankan.
“Terus kita biarin aja gitu Kak Lena sama para berandal itu?”
“Kita tidak punya pilihan, Tuan Muda---“
“Dan juga adiknya Tuan Kafeel itu keliatan udah biasa ada di tengah-tengah mereka,” sambar Simon.
“Tapi kan kita ga tau yang sebenarnya gimana?” ucap Aro. “Mungkin Kak Lena keliatan udah biasa dengan mereka, hanya aja aku ga abis pikir Kak Lena masih bersama dengan mereka itu---“
“Iya, Aro benar ..”
Ann menimpali.
Rery juga mengiyakan.
“Karena setau aku ya, Kak Kafeel bukannya udah ngelarang Kak Lena berhubungan dengan satu anak geng motor itu? ..”
“Iya, benar,” timpal Ann lagi. “Aku pernah tidak sengaja juga menguping Abang dan Kak Kaf membicarakan soal itu. Dan jika menurut ucapan Kak Kafeel waktu itu pada Abang, Kak Lena mengaku sudah putus dengan kekasih berandalannya itu---“
“Kalau begitu, sudah pasti ada apa-apanya jika Kak Lena sampai bohong pada Kak Kaf, kan? ..” cetus Rery.
“Untuk itu kita perlu mencari tau dengan jelas---“
“Apa kalian ingin mengabaikan ucapan Tuan Alvarend?”
Achiel menyergah. Dimana Aro, Ann dan Rery langsung diam.
Lalu Achiel lanjut lagi bicara.
“Silahkan saja jika---“
Hanya saja ..
“Eh, mereka bergerak tuh!”
Aro tmemotong saat Achiel hendak lagi berbicara barusan itu.
Dimana Rery dan Ann langsung menolehkan kepala mereka ke arah tempat Lena berada.
Termasuk juga empat pengawal pribadi ketiganya, dimana empat orang pengawal pribadi tersebut spontan dengan kompak menoleh ke arah yang sama.
“Mending kita ikutin aja mereka?”
Aro mencetuskan ide.
“Aku setuju dengan Aro!” Ann langsung menanggapi cetusan idenya Aro barusan.
“Ya sudah, ayo---“
‘Duh ilah ini bocah-bocah, nyali pada kegedean amat sih?!’
Begitu kira-kira batin Achiel dan tiga rekannya.
♥♥
To be continue ..
__ADS_1