
RAPUH
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia,
‘Val?...’
‘Hi, Kak Kafeel!’
‘Ka-mu apa kabar?...’
‘Baik, Kak.’
‘Val, aku... Maafkan aku, Val...’
‘Santai, Kak, sudah Val maafkan.’
‘Benar begitu?...’
‘Iya, benar!’
‘Val benci Kakak, ya?...’
‘Sama sekali tidak!’
‘Benar?...’
‘Iya, benar!’
‘Val, ka –‘
‘Bye, Kak!’
‘Eh, Val, mau kemana?’
‘Ke sana...’
‘Eh, taman tulip merah?... sejak kapan ada taman tulip merah di sana?... Eh, Val!’
‘Bye, Kak!’
‘Val mau kemana?...’
‘Ke tempat tulip – tulip merah Val berada.’
‘Tunggu, Val! Kakak ikut!’
‘Sa-yang Kak Kafeel –‘
‘Val tunggu!’
‘......’
‘Val?...’
‘......’
‘Val, kamu dimana?...’
‘......’
‘VAALL!!...’
“VAL!”
Adalah Kafeel Adiwangsa yang terbangun secara tiba – tiba, setelah ia jatuh terlelap.
‘Mimpi itu lagi...’ gumam Kafeel dengan nafasnya yang naik turun seperti orang habis berlari. ‘Ga apa kok Val, Kakak rela dihantui rasa bersalah seumur hidup pada Val dengan cara seperti ini, karena Kakak sudah terlalu menyakiti Val.’
Kafeel menghela nafasnya panjang kemudian sambil tersenyum getir.
'Tapi Kakak selalu mencintai Val dan tidak akan pernah bisa hilang rasa itu untuk Val ... Sekali lagi maafkan Kakak, Val.'
Kafeel membatin lagi, lalu membasahi tenggorokannya dengan air mineral botolan yang ada di atas nakas samping tempat tidur tempat Kafeel berada sekarang.
'Tapi sayangnya Kakak tidak dapat meminta maaf di hadapan Val dengan sebenar - benarnya ...'
Kafeel menghabiskan air minum dalam botol tersebut, karena Kafeel merasa haus sekali karena berlari.
Padahal hanya dalam mimpinya saja Kafeel berlari, karena mengejar Val yang muncul sebentar, menyapa, menjawab sekenanya, lalu berbalik pergi.
Selalu, setiap kali ia melihat Val dalam mimpi yang sering berulang ketika ia jatuh terlelap beberapa waktu belakangan, selalu seperti itu urutannya.
Yang ujung – ujungnya Val akan tahu – tahu menghilang. Lalu nanti saat Kafeel menemukan sosoknya lagi lalu Kafeel kejar, Val tidak akan ada di tempatnya.
‘Apa kamu yang selalu berlari pergi lalu menghilang setiap kali aku dekati, adalah pertanda kalau Val sudah begitu membenci Kakak ya, Val?...’
Kafeel menjambak sendiri rambutnya sambil mengerang frustasi, merasakan sakit di dada kirinya setiap kali mimpi yang barusan ia alami terulang lagi.
‘Maafin Kakak yang sudah begitu menyakiti Val dan ga bisa mewujudkan mimpi Val yang ingin berada di antara ribuan tulip merah di saat hari pernikahan kita.’
Yang kemudian Kafeel raih sebuah figura foto dari banyaknya figura dengan objek yang sama. Lalu Kafeel belai dengan lembut kacanya, sebelum Kafeel kecup dengan sama lembutnya, namun Kafeel juga merasakan getir di hatinya.
“Taman tulip merah...” Kafeel menggumam kemudian. “Kenapa mimpi gue yang ketemu Val akhir – akhir ini, selalu dimulai dan berakhir di tempat itu --- yang rasanya bukan Keukenhof, bukan juga taman – taman yang ada di London... Bahkan taman tulip merah di mimpi gue itu, ga pernah gue lihat sebelumnya...”
Kafeel memegang meremat kaos yang sedang ia kenakan pada bagian dada kirinya.
“Tapi Val, kamu baik – baik aja, kan?...”
🍂
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
“Perasaan Papah gelisah banget dari semalem. Jadi Papah bawa dua rakaat aja deh, biar tenang ni ati, sama minta jangan sampe ade ape – ape –“
“Sama Pah, Mamah juga gelisah aje bawaannya dari kemaren. Mau ada ape ye?”
“Wallahualam. Cuma Allah yang tau. Yang penting kite udeh banyakin istigfar ame doa biar semua bae-bae aje.”
“Iye sih. Ta –“
“GA MUNGKIIN!! ...”
“Alloh!”
“Itu bukannya suara si Prita ya, Pah?”
“Iye.”
“Ayo kita liat!”
🍂
Semua orang yang ada di dalam KUJ sontak berlarian dengan cepat ke arah Mami Prita berada yang setelah terdengar berteriak beberapa kali, kini ia nampak berdiri sambil mencengkram baju Papi John yang sedang nampak mendengarkan orang di seberang pesawat telepon nirkabel itu bicara.
“Prita, ada apa???!!! ...
__ADS_1
Mama Jihan yang pertama datang ke tempat Papi John dan Mami Prita berada di lantai dua langsung saja bertanya.
Namun Mami Prita seolah mengabaikan Mama Jihan yang bertanya, karena dirinya hanya fokus pada sang suami yang matanya telah mulai memerah, dengan wajah yang nampak terdiam syok di tempatnya.
“Aku salah denger ya, Piiihh –“
“Kami ... akan segera ke sana, Chiel ...”
Papi John hanya melirik sendu ke arah Mami Prita saat istrinya itu terdengar bak merengek, namun air matanya telah berderai turun membasahi wajah Mami Prita.
“Kak John, ini ... ada apa? ...” Mom Ichel mendekati Papi John dengan wajah yang penuh tanda tanya, dan semua anggota keluarga yang sedang berada di KUJ sudah mendekat pada Mami Prita dan Papi John.
“PIIIHH!! –“
“Ya Allah Prita ... kenapa??? ... John, ini ada apa? ...”
Semua orang mencecar Papi John yang bergeming di tempatnya setelah selesai bicara di telepon.
Papi John nampak sangat syok.
“PAPIIHHH!!! BILANG ITU GA BENER PIIIHHH!! AKU YANG SALAH DENGER KAN PIIHHH???!!!”
Ekspresi sepasang pasutri itu kian membuat mereka yang berada bersamanya itu penasaran sekaligus was – was.
“JOHN!!” Pada akhirnya, Daddy Jeff yang tak sabar memekik kencang menyebut nama si Papih yang terlihat nampak syok itu.
“Kita ... ke London ... sekarang juga ...”
Baru setelah di teriaki Daddy Jeff sembari diguncang bahunya, Papi John kemudian bicara.
Nada suara Papi John terdengar pelan, lebih pada melirih---pun bergetar suara si Papih.
“Iya, tapi ada apa John?! ...”
“Papiiihhh itu ga bener kan, Piiihhh? –“
“Apa?! Apa yang ga bener? Ada apa???!!! ...”
“Apa yang terjadi di London???!!! ...”
Demikian semua orang mencecar Papi John yang kemudian mendekap Mami Prita yang menangis hebat itu.
“Ga bener, kan Piihh? –“
“Demi Tuhan, Kak John, katakan ada apaa?? –“
“Val ...” Menjawab, Papi John terbata bicara. “Achiel mengatakan ... Val ... mengakhiri hidupnya ...”
Lalu suara tangisan pun pecah dengan pilunya.
🍂
🍂
The Great Mansion of The Adjieran Smith, Jakarta Indonesia,
“Sekali lagi, Val mohon maaf, ya, semua?...”
“Sayaaang sekali pada kalian..."
"Ma-aff... Val, pengecut..."
"Val, hanya tidak sanggup menahan sakit di hati Val karena Kak Kafeel... Tidak ter-tolong... Kalian akan bersusah hati lebih lama karena Val tidak akan pernah baik-baik saja... Dan melihat kalian bersusah hati lama-lama karena Val... Val, akan lebih tersiksa nantinya dengan rasa bersalah Val pada kalian... Val... Tidak akan sanggup menanggungnya..."
Dia yang banyak menggumam bicara sendiri setelah menjejerkan beberapa amplop berisikan kertas dengan goresan tinta tulisan tangannya di atas sebuah meja yang kursinya itu dia duduki, kemudian mendekap erat dan kuat sebuah figura yang sebelumnya ia pegang dan pandangi kala dia menggumam bicara sendirian tadi.
Tubuhnya bergetar hebat, namun isakannya tidak dia, yang adalah Val---membiarkan isakannya itu keluar menjadi raungan.
Sekuat tenaga Val menahan, tangisannya hanya menjadi berupa isakan yang tertahan.
"Val, pamit, ya?..." ucap Val lagi dalam gumaman, seraya ia tersenyum memandangi satu figura kecil berisikan foto seluruh keluarga besarnya pada satu momen, setelah Val tenggelam dalam tangisannya untuk beberapa saat, sambil mendekap figura foto tersebut.
Yang selanjutnya Val usap dengan pelan dan lembut serta penuh perasaan figura foto tersebut, sebelum ia mengatakan ‘pamit’ pada benda dengan pinggiran berwarna putih gading bertabur swarovski yang sedang ia pegang itu.
Hingga kemudian senyuman terbit di wajah Val sambil ia usapi airmatanya, lalu mencium kembali figura foto berukuran sedang---yang memajang fotonya dan seluruh keluarganya itu, salinan dari salah satu foto keluarganya yang berukuran besar.
“Hh...”
Val menghela nafas yang ia hembuskan dengan beratnya kala ia beranjak dari duduknya.
Seutas senyum kembali Val ulas ketika ia berdiri, sambil memandangi seisi kamar pribadinya itu.
Lalu kakinya, Val bawa menuju kamar mandi yang keran di atas bathtub mengucur dengan deras mengisi satu wadah besar tersebut.
Val tutup pintu kamar mandi tersebut, lalu ia kunci, sebelum ia melangkah lebih dalam pada kamar mandi pribadinya itu.
--
“Maafkan aku ya Ann, jika hasil penelitianmu ini jadi terbuang percuma karena aku...” ucap Val sambil menatap botol bening dengan cairan berwarna fuschia di dalamnya.
Val menarik sudut bibirnya.
“Aku harap ini bekerja padaku seperti halnya pada pangeran tidur berbulu yang lelap sekali tidurnya itu.”
Val berucap lagi sambil ia berdiri di hadapan bathtub pribadinya yang sudah hampir penuh itu, dengan masih memandangi botol berisikan cairan fuschia yang telah ia angkat ke udara.
Yang kemudian Val masuki bathtub tersebut, dengan masih menggunakan pakaian lengkap yang melekat di tubuhnya.
“Tapi jika tidak, kiranya aku dapat menenggelamkan diriku di dalam dasar bathtub ini kan?... ssshh...”
Val mendesis dengan kepalanya yang ia dongakkan, kala ia sudah masuk ke dalam bathtub pribadinya itu.
“Kepalaku kian terasa sakit ...”
Val menggumam lagi sambil menahan kepalanya di sandaran bathtub.
Kesalahan itu.. terjadi saat aku sedang berada di Dubai dua bulan yang lalu.. hasilnya.. sekarang..ada seorang perempuan yang mengandung benihku..
Saya terima nikah dan kawinnya Maura Cahyani binti Alam Yovan dengan mas kawin tersebut tunai.
“Begitu juga hatiku.”
Setelah Val sejenak terdiam, dengan pikirannya yang menerawang ke hari yang benar-benar membuat dunianya luluh lantak dengan begitu sempurna.
Val usap kemudian lelehan air matanya itu, lalu ia memandang ke satu arah.
“Semoga cairan penelitian ini dapat membuat Val tertidur lebih lelap dari pangeran tidur berbulu ya, Kak?”
Kemudian Val berbicara, seolah ia sedang bercakap dengan orang lain.
“Val rindu sekali pada Kakak, tapi melihat wajah Kak Kafeel pun hati Val rasanya sakit dan Val tersiksa karenanya. Jadi hanya dengan cara seperti ini Kak Kafeel tidak akan mengganggu Val lagi, dan Val, tidak akan membuat keluarga bersusah hati lebih lama lagi.. Kakak sih, tega sekali pada Val.. Sudah begitunya menyakiti Val, sekarang malah muncul terus dihadapan Val..”
Val menjeda ucapannya, lalu tersenyum hangat dan sedikit terkekeh kecil ke arah ia memandang--kemudian senyuman getir yang nampak.
“Jadi seperti ini saja ya, Kak?...” ucap Val setelah beberapa saat, sambil membuka tutup botol yang sedari tadi di pegangnya, lalu ia letakkan di permukaan samping bathtub. “Cukup sampai di sini saja Kakak menyiksa Val.”
Val menarik panjang nafasnya, sambil memandangi botol yang sudah ada di hadapan wajahnya.
Val menoleh lagi ke arah dimana matanya melihat satu objek yang menjadi penyebab imsonianya yang begitu parah.
“Bye, Kak Kaf. Val harap Kakak selalu berbahagia, dan akan lebih berbahagia lagi setelah anak kakak lahir...” ucap Val dengan cekat di tenggorokannya.
Air mata Val kemudian meleleh jatuh lagi, sambil melambai lemah ke arah ‘Kafeel’ yang masih betah berdiri di hadapannya seraya tersenyum tampan.
“Val, akan selalu mencintai Kakak...” lirih Val. Dan didetik berikutnya, ia langsung menenggak cairan dalam botol milik Ann hingga tidak ada yang tersisa. “Akh!” Val memekik dengan spontan, ketika hanya dalam hitungan detik saja, kepalanya Val rasa begitu sakitnya.
__ADS_1
Membuat botol dalam pegangan Val terlepas dengan sendirinya, lalu Val mencengkram kuat pinggiran bathtub untuk menahan sakit yang terasa hebat di kepalanya itu.
Tubuhnya perlahan Val rasakan kaku, dan detak jantungnya melemah.
Sakit di kepalanya ia rasakan sebentar saja, namun begitu hebatnya Val rasa.
Sedahsyat itu efek cairan hasil penelitian Ann yang bahkan pembuatnya saja belum menemukan hasil pasti dari penemuannya itu.
Namun apapun itu, Val sungguh tak kisah.
Memang sudah Val prediksi konsekuensi cairan yang baru saja ia konsumsi itu.
Jika sedikit milinya saja dapat membuat seekor hamster tertidur lelap hampir satu tahun lamanya, mungkin mengkonsumsi dalam jumlah belasan liter seperti ini efeknya.
Mata Val yang tadinya sulit sekali terpejam itu, perlahan ia rasakan sayu dengan pandangan yang mulai memudar. Yang pudaran itu terasa mulai gelap seiring detakan jantungnya mulai semakin melemah.
Bergetar tubuh Val kemudian, karena dingin ia rasakan lebih dari sekedar menembus tulang hingga Val merasakan lemas secara keseluruhan. Melorot otomatis tubuhnya ke dalam air yang sudah memenuhi bathtub.
Diantara matanya yang sayu dan pandangannya memudar, Val merasakan tubuhnya seolah melayang. Lalu tak lama, Val merasakan pandangannya kian memudar karena matanya yang sayu telah bercampur dengan air di dalam bathtub.
Ditiap detiknya, Val merasakan air mulai masuk melalui rongga hidungnya kemudian. Sampai Val rasa tubuhnya sudah penuh dengan air dan nafasnya kian sesak, akibat paru-parunya sudah terendam air yang masuk ke tubuhnya itu.
Tak Val lawan, Val biarkan.
Walau menyiksa, tapi biarkan saja---karena mungkin hanya sebentar. --- Yang Val pikirkan dalam benaknya, sebelum Val rasakan ia tidak dapat lagi menahan matanya untuk terpejam.
Airmata Val keluar lagi dan bercampur dengan air dalam bathtub ketika matanya sudah mulai akan terpejam rapat.
Lega, sebelum tubuh Val mengejang sesaat di dasar bathtub. Lalu jantungnya berhenti berdetak, dan semuanya menjadi benar-benar gelap.
--
Dear my family yang blaem - blaem 😄😄,
I love you all that much, and I’m sorry. Bukan Val tidak mencintai kalian, bukan ...
Tapi Val tidak sanggup lagi menahan sakit yang tak kunjung henti dalam hati. Val bangga dan sangaaaat bahagia memiliki kalian selama ini. Sungguh, kalian keluarga yang hebat.
Val bersyukur sekali memiliki kalian dalam hidup Val. Makanya Val tidak tahan melihat kalian bersedih hati karena Val. Janji, Val tidak akan membuat kalian bersedih lama – lama lagi. Yah, mungkin kalian akan bersedih lagi setelah ini. Val yakin itu.
Tapi sekali ini saja ya? Sekali ini saja menangisi Val lagi.
Setelah itu berbahagialah selalu. Okay? ...
Sa – yang, semua ... Sampai berjumpa lagi, ya?
💞
You all lovely, sweety and of course beautifully,
💞 Val 💞
Noted : Aku memiliki gelar pasti setelah surat ini kalian baca walaupun aku belum lulus kuliah.
💞
So, seperti ini Val tulis ya?
Big and a lot loves, warm hugs, kisses untuk kalian semua kesayangan Val.
Sampai berjumpa lagi ...
Sa – yang, semua ...
💞
Yang mencintai kalian,
--Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, the late one ( almarhum )--
🍂
🍂
Romeo dan Juliet, adalah simbol dari sebuah kisah cinta yang berakhir tragis.
Kisah yang tidak nyata, tapi di dunia ini banyak pasangan yang bernasib sama seperti mereka.
Tak persis seperti Romeo dan Juliet, tapi ujungnya sama. Mencoba mengakhiri hidup, karena mendengar kabar jika sang kekasih hati telah mengakhiri hidupnya lebih dulu atas kekecewaan dari kasih yang tak sampai.
Kiranya seperti itu, situasinya sekarang.
🍂
Ada dia yang ditemukan bersimbah darah di kamarnya, dengan mendekap sebuah figura.
Semua karena hatinya yang diselimuti rasa bersalah itu, kemudian menjadi terasa di tusuk – tusuk belati sebelum di koyak dengan kejamnya saat berita itu ia dengar di telinga.
“Sejak tiga bulan lalu, saya sudah ditunjuk untuk menanam tulip merah di sebuah rumah mewah dan merawatnya untuk memastikan agar bibit – bibit itu tumbuh dengan baik. Kalau dari yang pernah saya dengar dari salah seorang yang kerja di sana sih, katanya satu blok taman tertutup yang khusus ditanam tulip merah itu persembahan buat salah seorang anggota keluarga yang tinggal di sana. Ya saya sih ga tau pasti, tapi persepsi saya soal ‘persembahan’ itu kayaknya orangnya udah ‘ga ada’. Kalau saya ga salah denger, Val - namanya ...”
Yang kemudian sebuah hunian super mewah di London, di datangi oleh sang pria yang ditemukan bersimbah darah di kamarnya itu---dimana ia menerobos barikade segelintir penjaga dengan mengancam diri.
“VAL!”
Berteriak frustasi memanggil satu nama itu berulang kali sambil berlari menyusuri hunian yang dulu ramai, kini macam tak berpenghuni.
Hingga menerobos ke satu kamar yang dulunya cukup sering ia sambangi.
Namun pemiliknya tidak ia dapati, namun kamar itu tetap ia susuri. Lalu dengan frustasi, ia terduduk lemas di sebuah kursi.
Bicara sendiri, bertanya – tanya sendiri. “Kamu dima - na, Vaall? ...” melirih dan meratap. Tak lama lirihan dan ratapan itu menjadi sebuah kehisterisan dalam isakan yang menyesakkan, ketika selembar kertas ia temukan di dalam laci di meja yang kursinya ia duduki, demi mencari informasi.
Dimana kemudian informasi yang ia dapati, membuat tubuhnya menegang sebelum tangan dan tubuhnya gemetar dengan hebatnya.
Selembar kertas yang ia temukan itu adalah untaian kalimat perpisahan untuk berpamitan.
Tulisan yang ia hafal betul, tepat seperti nama yang terbubuh di akhir surat.
--Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, the late one ( almarhum )--
🍂
Kembali dengan hati yang tak lagi ada bentuknya, berikut penyesalan dan rasa bersalah yang berkali lipat dari sebelumnya. Kehilangan hebat ia rasakan, membebat hatinya begitu kuat hingga sakit yang teramat menjalar dengan cepat.
Dimana setelahnya, keputusan untuk mengikuti jejak sang penulis surat yang ia temukan pun tersirat tanpa keraguan.
“ALLAH!!!”
“A – AAA!!!!---“
Teriakan histeris terdengar, berikut tangis yang pecah memilukan.
Ketika sosok yang merasakan kehilangan hebat di hatinya itu ditemukan tergeletak bersimbah darah di kamarnya.
🍂
🍂
“Tuan –“
“Ya?”
“Kafeel Adiwangsa, bunuh diri ...”
🌀🌀🌀🌀🌀
__ADS_1
To be continue ......