
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Singapura..
“Val,” (Kafeel)
“Ya?” (Val)
“Aku ingin minta sesuatu ..”
“Apa? ..”
“Sesuatu yang berharga ..”
“Eeengg ..”
“Boleh? ..”
“......”
“Jawab dong.”
“Boleh, Kak-“
“Benar boleh?-“
---
“Val ..” (Kafeel)
“Iya Kak, Val siap ..” (Val)
“Siap apa? ..”
“Iih, masa harus Val jawab?. Val kan malu ..”
♥♥♥
“Aduh!”
Mata Val yang tadinya terpejam dengan degup jantung yang menggila, kemudian terbuka seraya ia mengaduh sambil menggosok – gosok hidungnya akibat merasakan pencetan gemas namun sedikit bertenaga di hidungnya.
Dimana sang pelaku pemencetan hidung Val itu sedang tersenyum geli sekarang – Kafeel, saat Val yang barusan mengaduh itu kini sudah menatap padanya.
“Mikirin apa, hm? ..” ucap Kafeel sambil mengulum senyumnya.
“Kan Kak Kafeel tadi meminta sesuatu yang berharga dari Val?-“
Val menjawab dengan polosnya.
“Dan kamu pikir? ..”
Kafeel menjawab dengan pertanyaan Val dengan pertanyaan, sambil dirinya tetap tersenyum geli.
“Yaa i-tuu ..”
“Itu apa? ..” goda Kafeel.
“Aahh Kak Kafeel, jangan goda Val terus iihh ..” Val memukul ringan lengan Kafeel yang tergelak kemudian.
“Pasti mikir yang iya-iya nih?” tebak Kafeel.
Val pun mengangguk dengan polosnya dan Kafeel tergelak geli.
“Kecil-kecil mikirnya!”
“Ya kan, sesuatu yang berharga tadi Kak Kafeel bilang?-“
“Ini maksud aku.” Kafeel mengangkat tangan kanan Val.
“Apa? ..”
“Ini gelang kesayangan kamu yang berharga banget kan buat kamu? ..”
“Iya karena ini hadiah pertama dari Kakak ..” ucap Val kemudian. "Tidak pernah sekalipun Val lepas."
“Ya itu aku yang mau aku minta. Mau aku ganti dengan ini –“ Kafeel mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. “Gelang yang baru, couple sama aku ..”
“Oh, kirain ‘itu’ ..”
“Kamu nih!”
“Ya habis ucapan Kak Kafeel membuat ambigu?”
Val menyahut dengan polosnya. Lalu Kafeel terkekeh kecil dan didetik berikutnya Kafeel memutar sedikit tubuh Val dengan lembut, hingga punggung Val kini bersandar di dadanya.
Kafeel menempelkan kepalanya landai dengan kepala Val.
“Kita akan melakukannya dengan cara yang benar,” ucap Kafeel. “Setelah kita resmi menikah nanti ---“
“......”
“Aku udah janji untuk menjaga kamu,” ucap Kafeel. “Tidak hanya pada keluarga kamu, tapi pada diri aku sendiri, baby .. aku akan jagain kamu sekuat tenaga aku untuk tidak ‘menyentuh’ sebelum waktunya. Karena aku cinta, benar – benar cinta. Yah, aku tidak menampik jika aku memiliki hasrat setiap kali kita sedang berdua seperti ini .... kesempatan pun terbuka lebar-“
Kafeel menatap lekat pada Val saat ini.
“Tapi aku akan menepati janji aku sekuat tenaga untuk jagain kamu. Janjiku pada orang tua kamu, dan janjiku pada diri sendiri untuk tidak ‘menyentuh’ kamu sebelum waktunya .... selain aku terlalu mencintai kamu, hingga tak sudi aku merusak kamu, Val. My lovely.” tulus Kafeel.
♥♥♥
“Val mau lanjut tidur? ....”
Kafeel bertanya pada Val yang betah bersandar di dadanya.
“Kak Kafeel sudah mengantuk ya? ....”
Val balik bertanya.
Kafeel menggeleng.
“Justru aku tanya kamu mau lanjut tidur atau engga, karena aku mau ajak kamu keluar .... Tapi jangan karena tau aku mau ajak kamu keluar, yang tadinya kamu memang masih mengantuk tapi kamu paksakan bilang engga-“
Kafeel menjeda ucapannya untuk menegakkan tubuh Val yang sedang bersandar padanya, agar kini berhadapan dengannya.
“Aku mau kamu apa adanya sama aku. Jangan camkan dalam otak kamu, kalau kepentingan aku harus kamu dahulukan, harus kamu iyakan. Jangan ....”
“Iya Kak,” sahut Val.
“Janji?” pinta Kafeel.
“Janji,” Jawab Val seraya mengangguk.
“Jadi Val mau lanjut tidur atau engga?-“
“Tidak,” sahut Val cepat.
“Bener?-“
“Tidak salah!”
Val kembali menyahuti Kafeel dengan cepat, dan Kafeel pun sontak terkekeh kecil.
“Ini, cek saja mata Val, apa terlihat mengantuk atau tidak? ....” Val mem-belo-kan matanya dihadapan Kafeel.
Kafeel pun kembali terkekeh kecil dibuat oleh tingkah Val.
“Ya udah kalau gitu, yuk kita jalan-jalan sebentar? ....” ajak Kafeel.
Val pun mengangguk antusias.
__ADS_1
♥♥♥
“Bawa jaket? ....”
Kafeel bertanya pada Val, kala Val hendak berganti baju dan membersihkan wajahnya, karena setelah pulan bermain dari Taman Bermain Wisata tadi lalu sampai ia tertidur, Val belum sempat membersihkan dirinya walau hanya cuci muka.
“Bawa.” Val menyahut dan mengangguk.
“Pakai ya?. Takut kenceng anginnya.”
Kafeel berujar.
Val pun mengangguk lagi.
“Okay!” sahut Val ceria. “Kak Kafeel duduk diam-diam, tunggu kekasih Kak Kafeel membersihkan diri-“
“Cuci muka aja, udah malam .... Lagian kamu ga mandi juga akan selalu cantik di mata aku-“ ujar Kafeel.
“Meskipun Val bau asam?-“ potong Val.
“Tetap cinta!”
Kafeel menyahut cepat.
“Baiklah jika begitu! –“
Val menyambar.
“Val akan mencuci wajah dan berganti pakaian dengan cepat macam The Flash.”
Lalu Val pun melesat dengan cepat dari tempatnya tanpa lagi menunggu sahutan dari Kafeel yang tersenyum geli-selalu dibuatnya dengan tingkah menggemaskan kekasih kecilnya itu.
“Ingat jangan mandi dan tidak usah berdandan juga pakai saja pakaian santai! –“
“Ookaayyy!!”
♥♥♥
Val dan Kafeel kini telah keluar dari kamar hotel yang ditempati oleh Val dan Mika selama mereka berada di SIN.
“Memang Kak Kafeel mau ajak Val kemana? ....” tanya Val.
“Ke rooftop aja.” Jawab Kafeel. “Kalau jauh-jauh kan kasihan kamunya cape habis main ....”
Val tersenyum geli, saat Kafeel memencet gemas hidungnya.
“Tapi biarpun Cuma di rooftop hotel ini, yang aku yakin - meski kamu sudah beberapa kali kesini, kamu tidak pernah diperbolehkan untuk datang kesana di jam seperti ini oleh The Dads-“
Kafeel berujar kemudian.
“Iya kan?” sambung Kafeel dan Val mengangguk.
“Tapi Val belum juga genap delapan belas tahun kan Kak. Val kan ga dibolehkan kesana karena belum cukup umur katanya yang harus delapan belas tahun ke atas?-“
“Kan sama aku? ....” sambar Kafeel.
“Nanti kalau Val dimarahi Dad R, Papi, Papa Bear dan Papa, Kak Kafeel yang tanggung jawab loh ya?-“
“Pasti dong.”
Kafeel menyahut cepat.
“Yee asyik sekali memiliki pacar yang sudah dewasa.”
Val berujar riang.
Dan Kafeel tersenyum geli.
“Yuk? –“ ajak Kafeel. Val pun mengangguk.
♥♥♥
Kafeel menyarankan pada Val hal tersebut dan Val langsung mengiyakan.
“Eh tapi baiknya kamu hubungi dulu Mika,”
Namun kemudian Kafeel menyergah.
“Takutnya dia atau Isha, Ann dan Aina sudah tidur, takutnya dengan mengetuk pintu kamar mereka malah mengganggu empat saudari kamu itu –“
Dan Kafeel menyarankan lagi hal yang barusan ia ucapkan pada Val yang kembali langsung mengangguk. “Aku chat saja Mika ya?. Kalau dia langsung membalas, berarti dia belum tidur dan kunci kamarnya bisa dikembalikan pada Mika ....”
Kafeel pun mengangguk, menyetujui ide Val.
“Hanya checklist satu? ....”
Val berucap setelah ia mengetik dan mengirimkan chat ke nomor kontak ponsel Mika.
Lalu Val menampakkan ekspresi ‘jadi gimana?’ pada Kafeel.
“Mau kamu ketuk kamarnya Isha, Ann dan Aina?” tanya Kafeel.
“Sebaiknya tidak usah –“ jawab Val. “Heemmm tapi kalau Mika terbangun dan langsung kesini sementara kita pergi bagaimana ya? ....”
“Huumm –“
“Ga apa mungkin Kak, kita bawa saja kartu akses Mika? ....” cetus Val. “Pihak Hotel pasti punya kunci cadangan kan?”
Kafeel nampak berpikir. Sedikit banyak ia tak enak juga pada Mika yang istilahnya mengalah padanya agar Kafeel dapat punya ruang untuk membujuk Val.
“Iya juga sih ....” Kafeel mengiyakan ucapan Val, namun ia nampak ragu.
“Ya sudah yuk Kak?-“ ajak Val.
Kafeel mengangguk.
Lalu Kafeel meraih tangan Val untuk ia genggam.
Kemudian Kafeel membawa Val untuk melangkah. “Ah iya.”
Kafeel terpikir satu ide saat ia dan Val telah berada di dekat lift.
“Tana –“ Ide yang terpikir saat Kafeel melihat dua bodyguard yang berjaga disisi kiri dan kanan lift.
Kafeel berbicara pada salah satunya.
“Ya Tuan Kafeel?”
“Kalian sudah berganti shift dengan Bram dan Abbott?” tanya Kafeel sambil memandang bergantian pada dua bodyguard yang ada di dekatnya dan Val saat ini.
“Iya Tuan.”
Bodyguard yang diajak Kafeel bicara itu menyahut, serta juga satu rekannya.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Kafeel. “Saya dan Val ingin pergi ke rooftop ....” lanjut Kafeel. “Saya titip kartu akses milik Nona Mika padamu ya Tan? Dan berjagalah di depan kamar Nona Mika dan Nona Val, karena Nona Mika berada di kamar Nona Isha, Ann dan Aina.“
Kafeel menerangkan.
“Berjaga-jaga jika Nona Mika kembali ke kamarnya, sebelum kami kembali dari rooftop .... Karena kami sudah mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif .... Jadi saya minta tolong salah satu dari kalian berjaga di depan kamar Nona Mika dan Nona Val ....”
Kafeel bicara panjang lebar, sekaligus menurunkan perintah yang memang ia diberikan kuasa untuk itu oleh keluarga Val, mengingat jika Kafeel adalah salah satu orang kepercayaan Varen.
Namun begitu, Kafeel tetap bersikap santun pada para pekerja The Adjieran Smith yang notabene dibawah posisinya.
Kedua bodyguard tersebut pun menyahut sigap pada Kafeel.
Val dan Kafeel pun langsung masuk ke dalam lift setelah memberikan kartu akses kamar Mika pada salah satu – dari dua bodyguard yang sedang giliran berjaga di lantai tempat para tuan dan nona muda menginap di masing – masing kamar yang tersedia disana.
♥♥♥
Kafeel sudah membawa Val ke rooftop hotel tempat mereka menginap di SIN, dengan pemandangan spektakuler yang membuat Val begitu takjub, ketika Kafeel membawanya ke satu sudut rooftop yang mana adalah bagian dari sebuah bar.
__ADS_1
Ada beberapa pengunjung namun tak banyak, jadi Kafeel bebas membawa Val ke tempat yang spotnya bagus menurut Kafeel.
Sungguh Val takjub sekali dengan pemandangan indah yang terhampar di hadapannya saat ini. “Ini indah sekali Kak!” pekik Val yang takjub itu, sambil menoleh pada Kafeel dengan tawa sumringahnya.
“Suka?-“
“Sangat!”
“Syukur deh kalau kamu suka.”
“Makasih ya Kak, sudah mengajak Val kesini?” ucap Val.
“Sama-sama-“ jawab Kafeel.
“Val-“
Val menjeda ucapannya, karena Kafeel beringsut ke belakang Val dan melingkarkan tangannya di perut Val untuk Kafeel peluk dari belakang.
Lalu Kafeel membalikkan tubuh Val, hingga kini mereka saling berhadapan.
“Begini aja aku udah bahagia, gimana kalau aku udah bener – bener jadiin kamu milik aku ya? .....”
“Ya Ampuuunnn Uwu Sekaliii!!!..”
Dimana celetukan kencang seseorang itu membuat Kafeel dan Val sontak menoleh ke sumber suara.
“Ah elah!”
Lalu terdengar Kafeel berkesah sebal, ketika melihat seseorang yang barusan mengganggu momen keuwuannya dan Val.
Tambah sebal lagi, karena orang tersebut yang adalah si Sadboy, nyatanya ga sendirian. Ada penonton lain rupanya di belakang Val dan Kafeel sedari tadi yang tidak Kafeel dan Val perhatikan.
“Terusin! Terusin! Anggap aja lagi nonton Drakor ya Mi?!” celetukan lain datang dari satu orang yang cengengesan, dengan seorang wanita yang juga cengengesan seprti beberapa orang lainnya dalam gerombolan tersebut.
“Iya betul tuh kata Kak Tan-Tan! Terusin dong adegan uwunya!” Nah ini Mika yang menimpali celetukan Nathan yang juga ada bersama Via.
“Ih Mika kok disini?!” tukas Val.
“Belum bisa tidur.”
"Kok bisa masuk?"
"I sudah delapan belas tahun pas okay?!"
"Oh iya ya!"
Val segera menimpali jawaban Mika.
“By the way Mi, ponsel kamu ga aktif? ...” tanya Val yang akhirnya mendekati kerumunan yang tadi jadi penonton momen keuwuannya dan Kafeel meski hanya sebentar.
“Yap! lowbat.”
Mika menyahut cepat.
“Terusin dong adegan romantisnya tadi.”
“Ah! Sulit kalau ada kalian!”
Kafeel menyahut sebal, namun malah membuat kekehan dari orang – orang yang sudah didekatnya sekarang tercipta.
“Sini, baby ...”
Kafeel menarik Val hingga kekasih kecilnya itu duduk di atas pangkuannya.
“Anggap aja dia bukan abang kamu,” sambung Kafeel sambil menatap pada pria yang sedang berada didepannya yang adalah Varen, dimana seperti biasa, sering sekali main pangku – pangkuan dengan sang istri tanpa melihat tempat.
“Akhirnya Val berhenti iri pada Abang dan Kak Drea.” Tukas Val yang dengan senang hati berada dalam pangkuan Kafeel. Dimana dua orang yang Val maksud satunya sontak terkekeh seperti yang lainnya, yang satunya hanya mendengus geli saja.
“Mulai sekarang kita jangan mau kalah mesra sama Tuan dan Nyonya Alvarend ya? –“ Kafeel tersenyum geli sambil melempar guyonan pada atasan, sekaligus sahabatnya itu.
“Pastinya!” sahut Val dengan sumringah.
Kafeel pun tersenyum geli, namun kemudian memencet gemas pipi Val.
Cup.
Satu kecupan pun Kafeel layangkan ke pipi Val, tanpa peduli pada beberapa saudara dan saudari Val yang sedang ada di dekatnya sekarang.
“I love you.” Ucap Kafeel mesra lagi – lagi tanpa mempedulikan orang –orang disekelilingnya, sambil berbagi tatapan kasih dengan Val.
“I love you more, Kak.”
“I know, dan aku sangat mensyukurinya.”
Lalu Val bergelayut manja sambil melingkarkan tangannya di leher Kafeel.
Kemudian Kafeel merapatkan jaket Val, dan satu tangan Kafeel membuka ikatan rambut Val.
“Jangan lagi pakai baju terbuka diluaran, jangan pamerkan leher kamu sama cowok lain kecuali dia keluarga. Karena aku ga suka berbagi.”
“YA TUHAAN HAMBA BAPER TUHAN!!”
Pekik Arya saat melihat momen keuwuan dua sejoli yang tepat disampingnya itu tanpa peduli perasaan para jomblowan macam dirinya.
Kemudian kekehan kembali tercipta di sekitar Kafeel dan Val.
Lalu,
“Eh Dek Mika baper juga ya, pura – pura ga liat adegan tadi?”
Arya melirik ke gadis yang nampak cuek disampingnya dengan hamparan pemandangan kemesraan tiga pasangan di depan mereka berdua.
“Biasa aja tuh!” ketus Mika.
“Ah suka munah nih Dedek Mikaela ....”
“Diem ah!”
Mika menyahut ketus
“Mana handphone lo sini?! Katanya mau pinjemin gue?!”
“Yang bagus dong mintanya .... minjem barang orang kek ngajakin berantem.”
“Ck!” Mika berdecak sebal. “Arya Narendra, pinjem handphonenya tolong, saya mau main game.”
Mika menampakkan senyumnya pada Arya.
Senyum yang nampak penuh keterpaksaan.
“Ada yang kurang,” tukas Arya.
“Apanya yang kurang?..”
“Panggilannya,” jawab Arya.
“Kurang dari mananya sih? Memang nama lo hanya Arya Narendra kan?!-“
“Nah itu-“
“Apanya yang nah itu?-“
“Arya Narendranya ganti.”
“Ganti pake?-“
“Sayang.”
♥♥♥♥♥♥
To be continue ....
__ADS_1