
( EMOSI )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Terima kasih masih setia baca yawgh.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia,
“Rubbish ( Sampah ). Membuat gue harus mandi sepulang dari sini. Bikin kerjaan!”
Kalimat sarkasme dengan wajah sebal keluar dari mulut Varen ketika seluruh anggota musuh telah dibuat KO dengan telak, hanya dalam hitungan kurang dari sepuluh menit saja.
Itupun tambahan waktu, karena timnya terlalu keasyikan bermain dengan samsak hidup yang menjadi bulan-bulanan mereka yang terlalu bersemangat membuat jejak lebam di wajah dan memar di tubuh para musuh, selain luka-luka.
Belum lagi ada empat orang yang harus kehilangan tangannya, karena mencoba menyerang Varen yang lebih suka mengayunkan katananya ketimbang harus melayangkan tinjunya. Jika ada cara cepat menumbangkan musuh, buat apa cape-cape berkelahi. Buang-buang tenaga.
Begitu pikir Varen.
Dengan dia yang berdiri saja lalu menggerakkan katananya, tanpa banyak membuat pergerakan---itu saja sudah membuat Varen mengomel sekarang.
“Gara-gara manusia burik macam lo semua nih gue jadi ga pede ketemu istri gue pas pulang ke rumah nanti!”
♥
“Menang banyak lo malem ini, Son.”
Nathan berseloroh, ketika Sony dan timnya datang saat satu tim di TKP yang empat orangnya diantaranya adalah empat orang yang benar-benar terikat dengan yang namanya tali ikatan keluarga dan saudara dalam satu nama keluarga --- telah membereskan orang-orang yang mereka sebut dengan ‘manusia sampah’.
Mengingat orang-orang yang adalah anggota satu geng kriminal yang telah dibereskan Varen dan tim ‘Dragons’ nya tersebut adalah para pengecut yang sok jagoan bermental keroyokan, selain itu---para anggota geng motor yang sudah dibuat tak karuan nasibnya saat ini karena telah menjadi samsak hidup oleh Varen dan timnya yang berada di TKP itu, sudah banyak sekali merugikan orang lain dengan sikap semena-mena dan kekejaman mereka pada para korbannya.
“Satu kelurahan nih tangkepan lo malem ini.” kalau ini Bagas yang berseloroh menimpali selorohan Nathan sebelumnya, sambil memandang remeh pada orang-orang yang sudah dibuat duduk bersimpuh di atas tanah bersemen tempat mereka berpijak.
“Mantap jiwaa –“
“Enak banget hidup lo. Ga ngapa-ngapain di sini tapi bakal dapet penghargaan –“
“Rezeki anak soleh! ..“
Sony menanggapi cengengesan cibiran adiknya itu.
“Anak soleh pala lo.”
“Arya Kamandanu sirik aja lo.”
“Berisik lo berdua.”
♥
“Anak buah Uncle Lingga yang gantiin lo dan tim di tempat lo tadi?”
Varen bertanya pada Sony, selepas bestienya Nathan itu selesai berdebat dengan adik kandungnya.
__ADS_1
Sony mengangguk. “Iya.”
♥
“Orang-orangnya bokap sama Uncle Sean plus Uncle Lingga bentar lagi nyampe juga,” ucap Sony.
Varen mengangguk.
“Kita orang pergi saat mereka sampai nanti.”
“Oke,” tukas Sony. “Mimpi apa lo semua semalem sampe bisa ancur-ancuran begini sekarang? –“
“KAPOK LU SEMUA!” Seru seorang tim dari Sony yang memandang kesal pada para anggota geng motor yang sudah sangat menyusahkan instansi dan kesatuan di dalamnya. “KEMAREN-KEMAREN LU SEMUA BISA MAIN-MAIN SAMA POLISI KARENA KAMI HARUS MELAKSANAKAN SEMUA SOAL NYIDUK LU PADA SESUAI KETENTUAN. SEKARANG LU SEMUA KENA BATUNYA KAN?! GA SEKALIAN DIMAMPUSIN!”
Sony berikut Varen dan tim ‘Dragons’ nya terkekeh melihat sekaligus mendengar satu orang dari timnya Sony yang merupakan wakil dari Sony di kesatuannya itu sedang merepet penuh emosi kepada mereka-mereka yang sudah tak karuan kondisi tubuhnya.
Lebam di wajah bak sebuah riasan yang awut-awutan, bahkan ada banyak diantaranya yang wajahnya seolah tak berbentuk akibat pukulan bertubi-tubi yang mereka terima dari timnya Varen yang tadi sangat bersemangat menghajar tiap-tiap anggota geng motor kriminal tersebut.
Tak hanya luka lebam, namun rasanya memar juga ada disekujur tubuh para anggota geng motor kriminal tersebut --- selain banyak juga luka yang mereka terima dari ragam senjata. Dari mulai tongkat baseballnya Nathan dan Kafeel, dart ropenya Aro dan Rery sampai luka sayatan katananya Varen.
Bicara tentang katananya Varen, Sony mengernyit kala melihat empat orang yang nampak dipisahkan dari kelompok mereka.
Lima orang yang tepatnya nampak terpisah dari kawanan, dimana satu orang nampak terpisah lagi dari empat lainnya. Dipisahkan sih lebih tepatnya.
Dimana satu orang itu adalah ketua geng motor yang punya masalah pribadi dengan Kafeel. Hingga satu pria itu diberikan bulat-bulat pada Kafeel untuk tanding satu lawan satu, dimana pada akhirnya ketua geng motor tersebut sudah menjadi bulan-bulanan AA Kafeel yang terus menghajar wajah dan tubuh pria tersebut secara brutal.
Tidak ada yang melerai melihat Kafeel yang nampak brutal saat ini. Hanya diam memperhatikan betapa Kafeel sedang kalap sekali pada satu pria yang menjadi lawan tandingnya itu karena telah merusak sang adik bahkan sampai menyiksa fisik adik kandung perempuannya Kafeel.
Rasanya, jika Varen, Nathan, Aro dan Rery bahkan tim inti mereka lainnya ada di posisi Kafeel yang adik perempuannya mendapat perlakuan seperti itu dari seorang pria --- mereka pasti juga akan menjadi sebrutal dan sekalap Kafeel sekarang, bahkan lebih.
♥
Pukulan dan tendangan Kafeel pada pria yang sudah merusak Lena, adiknya itu --- benar-benar membabi buta dan nampak begitu menyiksa.
Bahkan para anggota geng motor kriminal itu sampai menambah ringisan mereka melihat pemandangan ketua mereka yang benar-benar dijadikan samsak hidup oleh Kafeel yang belum nampak puas menghantam ketua geng motor kriminal itu dengan tendangan dan pukulannya yang sekuat tenaga.
Namun anehnya, ketua geng motor itu terlihat tidak mengaduh meskipun Kafeel menghantamnya tanpa jeda. “Not bad ( Lumayan ) .....”
Varen bersuara sambil ia menonton Kafeel dan pria perusak adiknya itu bak sedang di arena tinju liar.
“Buat ukuran Macaca Fascicularis, dia tangguh juga .....“ sambung Varen mengejek ketua geng motor yang sedang jadi bulan-bulanannya Kafeel seorang.
( Macaca Fascicularis = Bahasa Latin untuk Monyet )
“Dah Kak, udah sakaratul maut tuh dia bentar lagi keknya,” celetuk Nathan yang tertuju pada Kafeel.
“Suruh dia sujud di kaki Lena dulu baru lo matiin –“
“GA SUDI GUE NEMUIN DIA SAMA LENA!”
Kafeel merespon ucapan Varen barusan sambil menatap nyalang pada pria yang sudah nampak sangat payah itu karena hantamannya yang membabi buta.
Dimana pria tersebut yang sedang terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya itu mengangkat tangannya. “Ba-ng –“
DUAK!
__ADS_1
Satu tendangan Kafeel hantamkan ke perut ketua geng tersebut, dimana sekali lagi pria itu terbatuk.
“GUE BUKAN ABANG LO B*NGSAT!!”
Seiring Kafeel mengumpat keras.
“So-r-ry .....”
“CIH!”
“Ta-pi ijinin gu-e ngomong se-dikit –“
“Mau nulis wasiat lo? .....” sambar Aro ketika ketua geng motor tersebut bicara.
Melirih lemah lebih tepatnya. Yang orangnya mencoba bangkit dengan susah payah dari posisinya dan kemudian bersimpuh di hadapan Kafeel yang nampak naik turun dadanya dengan wajah yang masih terselimuti emosi yang berkobar pada pria yang sedang bersimpuh di hadapannya itu.
“Sam-pein maaf gu-e sama Le-na ..... gu-e khilaf –“
“B*NGSAT!!!”
Kafeel meninju wajah ketua geng motor yang langsung ambruk lagi ke tanah.
“LO UDAH PERKOSA ADIK GUE, LO GEBUKIN DIA, DAN LO BILANG LO KHILAF??!! EMANG A*JING LO BRENGSEK!!!”
Kembali emosi Kafeel naik ke ubun-ubunnya. Dan hendak lagi menghantam ketua geng itu, namun kemudian di tahan Nathan dan Sony.
“Udah Kak, tangan lo juga udah pada lecet itu. Lo juga udah bikin kakinya cacat,” ucap Nathan menenangkan Kafeel. “Lagian Sony perlu dia.”
“Iya Kak, dia kunci buat jeblosin semua sampah ini ke penjara.”
Sony bersuara kemudian, menimpali ucapan Nathan. Dengan Sony yang memegangi Kafeel dengan kuat bersama bestienya itu.
“Penjara ga cukup buat keparat macam dia!” sahut Kafeel yang masih diselimuti emosi dengan terus menatap nyalang pada ketua geng motor yang sudah hampir sekarat itu Kafeel buat. Yang orangnya nampak bangkit lagi walau harus lebih bersusah payah lagi untuk bangkit.
Pria itu bersimpuh sambil memegangi perutnya, dan kemudian mendongak dengan susah payah lalu nampak hendak bicara lagi --- yang juga menemui kesulitan untuk itu karena bibirnya sudah hampir tak berbentuk hingga jika ia bicara, maka akan tersendat-sendat selain lirih.
“L-o silahkan, ka-lo mau bu-nuh gue ..... ta-pi, gu-e ..... cin-ta sama Le-na ..... y-ang gue lakuin ke, dia ..... ka-re-na gue ga te-ri-ma Le-na putusin ..... se-ka-li-gus gue cem-buru ..... ka-re-na gue, g-a mau Le-na pergi ..... da-ri gue ..... ka-lo emang, nya-wa gue, bi-sa nebus ..... ke-bia-da-ban gue, k-e Lena, l-o silahkan, bu-nuh gue, se-ka-rang .....”
Ketua geng motor tersebut bicara dengan sangat terbata – bata sambil menatap pada Varen dengan satu mata yang sudah terlihat lebih bengkak dari yang satunya, hingga bahkan matanya itu hampir tidak terlihat.
“To-long sampein, ma-af gue, sa-ma Lena ..... gu-e bener ..... be-ner nyesel, u-dah memperlakukan, di-a begitu ..... gu-gue –“
“Waktu lo udah habis!”
Kafeel menyambar, lalu berucap sambil melepaskan dirinya dari cengkraman Nathan dan Sony.
“MATI LO!”
“KAK KAF!!”
"WOY KA!!!"
♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦
Bersambung ......
__ADS_1