
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Lo boleh hukum gue dengan cara yang lo mau, Va.. tapi.. gue mohon.. kalo perlu gue cium kaki lo—dan semua keluarga lo—gue mohon.. bawa gue ke tempat peristirahatan terakhir Val..“
“......”
“Sekuat apapun kalian menahan, gue akan dapet kesempatan.. dan saat kesempatan itu datang.. gue pastikan.. gue akan sampai ke tempat yang sama dimana Val berada..”
“Lo kuat jalan?..“
“Heu?.."
“Gue tanya. Lo kuat jalan ga?! Karena gue ga sudi kalo harus dorong lo di kursi roda!”
“Ku-kuat..”
🌷🌷🌷
Dan dengan mengumpulkan sedikit tenaga yang ia punya, Kafeel menyusul Varen yang memang tega menyuruhnya berjalan padahal Kafeel belum lama siuman dari ketidaksadarannya yang kehilangan cukup banyak darah karena mengiris nadi di salah satu tangannya.
Mendapat protes dari sang istri belia, Varen mengatakan dia hanya iseng saja sebenarnya—tapi tak sangka jika Kafeel yang masih memakai baju pasien itu rela mengejar Varen hingga ke lobi utama rumah sakit dengan tertatih karena Varen mengatakan jika ia hanya memberi waktu lima menit saja untuk Kafeel menyusul kalau mau di antar ke tempat Val berada.
Dan Kafeel, atas dasar rasa bersalahnya pada Val selain hatinya dirundung duka yang teramat gelap, karena setahu Kafeel jika Val telah bunuh diri dan telah tiada—tentunya tidak memikirkan apakah ucapan Varen itu serius atau tidak, karena otak Kafeel hanya terfokus pada ia ingin segera bertemu dengan Val—walau hanya pusaranya saja.
🌷🌷🌷
“Va, gue.. ijin sebentar ke toko bunga..” Adalah Kafeel yang pada akhirnya jadi juga Varen ajak ke sebuah negara yang merupakan tanah kelahiran Papa Lucca, selain tanah kelahiran Gappa juga.
Memohon maaf pada Bunda Magda karena sampai Kafeel terkesan memaksakan diri meski belum pulih, Varen akhirnya mengatur segala hal yang berkaitan dengan keberangkatannya ke Italia di hari yang sama.
Sudah dibilang oleh Varen pada yang bersangkutan langsung jika Kafeel silahkan saja memulihkan kondisinya dulu, tapi Kafeel tidak mau tinggal di rumah sakit jika Varen pergi dari sana. “Sampai lo bawa gue ke tempat Val, gue akan ikut kemana lo pergi. Gue tau gue udah ga diijinkan masuk ke KUJ, gue akan tunggu lo di gerbang.”
Yang Kafeel katakan pada Varen dengan ekspresi keseriusan di wajahnya.
“Nyusahin lo!”
Komentar Varen pada Kafeel yang ia katakan dengan ketusnya.
🌷🌷🌷
“Lo jalan aja susah, Sat.“
Varen menanggapi dengan sangat sinis permintaan Kafeel yang meminta ijin untuk pergi ke toko bunga yang jauh dari sebuah bandara pribadi yang ada di sebuah kota di Italia itu.
Iba sebenarnya Varen pada Kafeel yang masih nampak tertatih namun berusaha sekuat tenaga untuk terlihat kuat dihadapan Varen.
Tapi asal melihat wajah Kafeel, Varen pasti langsung teringat pada Val yang sampai nekat mencoba bunuh diri dengan seriusnya. Dan atas hal itu, akan timbul kekesalan di hati Varen pada Kafeel.
Meskipun Varen sudah tahu alasan Kafeel hingga sampai menyakiti Val.
Namun geram dalam hati Varen tetap saja ada pada Kafeel sedikit banyak.
Walau Val telah berhasil ‘dibawa pulang’, tapi kondisi Val ke depannya masih abu-abu.
Karena sudah tiga bulan berlalu, dan Val masih saja betah ‘tertidur’ padahal sudah banyak dirayu.
Semua itu ya karena pria yang Varen dengan entengnya panggil dengan ‘Sat’ sekarang.
Bukan lantaran Kafeel ganti nama jadi Satria atau Satya.
Tapi ‘Sat’ yang dimaksud Varen adalah penggalan dari kata hinaan yang cukup kasar. Dan Kafeel tahu itu.
Terserah bagaimana Varen mau memanggilnya, walau denga menggunakan kata ganti binatang pun Kafeel tak kisah.
__ADS_1
Varen sudah cukup berbaik hati padanya dengan mengijinkan Kafeel menemui Val, meski sakit dan sesak menyelimuti hati Kafeel dalam pertemuannya dengan Val nanti yang Kafeel pikir hanya akan melihat goresan namanya saja di batu nisan.
🌷🌷🌷
“Masuk, Kak..“
Adalah Drea yang mempersilahkan Kafeel ketika ia dan Varen telah lebih dahulu memasuki sebuah bangunan yang menyerupai kastil dimana Kafeel masih termangu di ambang pintunya.
“Makasih, Drea. Tapi, kalau boleh, Drea.. Alva.. maaf, aku ditunjukkan langsung dimana.. pusaranya, Val..“ gugu Kafeel yang matanya telah berkaca-kaca, lalu tertunduk pasrah kemudian setelah Varen berkata dengan sinis dan ketusnya.
“Maaf..” lirih Kafeel.
“Cukup diam, dan ikuti langkah gue.”
🌷🌷🌷
Perkataan terakhir Varen, Kafeel patuhi. Ia diam dan hanya mengekori saja Varen yang berjalan di depannya bersama Drea, sementara ia didampingi seseorang yang meminta ijin juga untuk ikut serta ketika Varen mencetuskan untuk mengajak Kafeel ke tempat Val berada, dimana satu orang yang ikut serta itupun sama berpikir seperti Kafeel yang mengira jika Val telah tiada.
“Sekali lagi gue ingatkan, lo bisa sampai di tempat Val berada atas ijin gue. Dan kalau gue ga kasih ijin lo pergi, sampe mati lo harus tetap tinggal, buat temani Val.”
Ucapan Varen pada Kafeel setelah kiranya ia dan Drea berhenti di depan sebuah pintu kembar dalam bangunan yang menyerupai kastil itu.
“Dengan senang hati, Va.”
Kafeel menyahut dengan menampakkan senyumnya pada Varen.
“Lo mau tempatin gue di lubang yang sama dengan Val pun gue mau..” Ucapan Kafeel yang membuat Varen mendengus berat dan Drea memandangnya dengan sangat iba.
Begitu terlihat jelas, putus asanya seorang Kafeel Adiwangsa sekarang, yang Drea tahu jika pria itu sebenarnya setangguh Bebeb Abangnya.
🌷🌷🌷
Hati Kafeel cukup berdebar, tak karuan juga dengan sedih yang menggelayut di sana. Selain dirinya bertanya-tanya sendiri di dalam hati, setelah ia dibawa Varen dan Drea ke area lebih dalam bangunan yang menyerupai sebuah kastil dari luar itu—lalu berhenti di depan sebuah pintu besar dan tinggi.
Kafeel berpikir, mungkin saja sih keluarga Val yang notabene menganggap Val begitu berharganya—menempatkan Val pada pusara dalam ruangan, saking tidak ingin pusara Val kepanasan atau kehujanan.
“Lo gue larang keras untuk mendekat. Cukup melihat. Paham?”
Sebuah ucapan yang berupa peringatan dari Varen terdengar, disaat Kafeel sedang sibuk bertanya-tanya dalam hatinya.
Meski Kafeel kurang paham dengan maksud ucapan Varen itu, namun Kafeel mengiyakan dengan cepat peringatan Varen barusan itu, walau tergugu.
Sekali lagi apapun, yang penting bisa melepas kerinduan selain penyesalannya pada Val.
Varen berbalik setelah mendapat jawaban dari Kafeel.
Lalu dua penjaga yang ada di sisi kiri dan kanan pintu kembar yang tinggi itu membukakan pintu tersebut kemudian.
Dan sekali lagi, Kafeel dibuat kebingungan. Ruangan yang sebelumnya Kafeel kira adalah makam Val yang dibangun dalam ruangan, nyatanya lebih kepada ruangan sebuah rumah sakit untuk pasien khusus.
“Buka tirainya Celine.”
Kafeel masih dilanda kebingungan hebat, lalu terkesiap saat suara Varen terdengar berbicara pada seseorang yang sosoknya baru Kafeel sadari keberadaannya di ruangan tersebut.
Yang mana seseorang itu Kafeel tahu siapa.
“Seperti yang gue bilang tadi, lo gue larang keras untuk mendekat. Cukup melihat,” kata Varen, kini berdiri tegak di hadapan Kafeel yang mau tidak mau fokus padanya.
🌷🌷🌷
“I-iya, Va.“
Jawaban Kafeel dalam kebingungannya.
“Lo langgar, gue akan langsung usir lo dari sini tak peduli lo mau mengiris semua nadi di tubuh lo.”
__ADS_1
Varen memberikan lagi peringatan lagi pada Kafeel dengan masih berdiri tegak di hadapan pria itu.
Dan sekali lagi Kafeel tergugu menjawab. Namun sebelum kalimat sahutan Kafeel untuk Varen selesai, Varen terdengar lagi berbicara.
“Val, lihat siapa yang datang, Baby?”
Sambil Varen bergeser dari posisinya dan sedikit memiringkan tubuhnya, memandang pada satu bagian dimana ada seseorang yang amat sangat Kafeel temui terbaring di atas sebuah tempat tidur yang menyerupai ranjang pasien, yang jelas sekali tempat tidur itu dibuat secara khusus atas nama kenyamanan.
Di detik dimana Varen bergeser dan telah berdiri miring berjarak dari ranjang pasien di mana seseorang sedang nampak tertidur tenang di atasnya, kaki Kafeel melemas sepenuhnya. Lalu terjatuh dengan kuat di atas kedua lututnya setelah melihat apa yang tengah dilihatnya saat ini.
Yang Kafeel pikir telah ‘pergi’ dan tidak akan kembali ada di sana. Val – nya.
Yang Kafeel pandangi sebentar sebelum tubuhnya menekuk tajam bak bersujud lalu meluruh dengan hebat tenggelam dalam tangisannya.
🌷🌷🌷
Kafeel dibantu Drea dan orang yang sedari tadi ada di samping Kafeel untuk berdiri dan sedikit mendekat pada Val, setelah raungan Kafeel beringsut menjadi sedu sedan, meski Varen telah memberikan larangan sebelumnya untuk Kafeel untuk lebih mendekat pada Val.
Namun atas nama ketidaktegaan, Drea menjadi keras kepala dengan membawa Kafeel mendekat pada Val.
Varen membiarkannya.
“Val, memang sempat ‘pergi’, Kak. Makanya dia di bawa kesini untuk diobservasi dengan lebih cermat lagi. Tapi, sudah tiga bulan ini, keadaannya tetap seperti ini.“
Drea melipat bibirnya.
“Val, ada Kak Kafeel ini. Dia datang buat kamu...”
Drea beralih pada dia gerangan yang nampak seperti sedang tertidur pulas itu.
Namun alat bantu pernafasan menutupi hidung dan mulutnya, dan beberapa selang infus terhubung di tubuhnya.
“Puas-puaskan dirimu melihatnya. Karena setelah itu kau harus pergi dari sini, Kafeel Adiwangsa.”
Sebuah suara terdengar berbicara di belakang Varen pada jarak tertentu.
Bukan Varen.
“D-dad...“
Kafeel yang langsung menoleh ketika suara itu ia dengar, tergugu lagi sambil menghapus air matanya.
“T-Tuan Moreno, maksudku—“
“Kau dengar yang aku katakan tadi. Sebentar saja kau boleh ada di sini, Kafeel Adiwangsa,” tukas dia gerangan.
Dad R.
“Five minutes! Dan orangku akan mengantarmu pulang—“
“Engga Dad-Tuan! aku mohon biarkan aku di sini. Aku tidak melakukan apapun. Aku tidak menyentuhnya walau seujung kuku. Cukup hanya dengan melihatnya saja. Aku berdiri di sudut ruangan dan kalian tidak perlu menganggapku ada... tapi tolong—jangan usir aku dari sini.”
Kafeel berlutut di hadapan Dad R yang langsung ia jegal langkahnya.
“Aku, mo-hoon... tolong... aku ingin di sini...”
“Dengan satu syarat,” cetus Dad R datar.
“Apapun. Apapun itu aku terima...”
“Jika Val tak sanggup bertahan, kau akan ikut dengannya. Jika memang kau memaksa tinggal.”
“Tentu!” sambar Kafeel cepat. “Jika... jika Val memang tidak sanggup bertahan... aku, aku akan dengan senang hati menemaninya. Tidak perlu membunuhku... kubur saja aku hidup-hidup bersamanya—“
“Sarap –“
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
To be continue..