
...Happy reading my Bebi Bala-Bala semua.......
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Little Star Island, Isola, Italy,
"Kok belum tidur Little Star, katanya ngantuk?"
"Sudah engga lagi, karena Drea nih gelisah---"
"Gelisah?"
"He'em."
"Gelisah kenapa? masih kangen dengan Putra?---"
"Ya kangen sih kangen pada Putra---"
"Ya sudah, nanti kalau Putra kiranya sudah pulas di kamar Tan-Tan dan Via, aku pindahkan Putra ke sini---"
"Tapi bukan itu yang membuat Drea gelisah."
"Lalu apa jadinya hal yang membuat Little Starnya Abang jadi gelisah, hem?.."
"Drea gelisah karena perempuan iyuh istrinya Kak Kaf itu---"
"Hah, untuk apa kamu memikirkan wanita itu Little Star?.."
"Drea gatal ingin memberinya pelajaran."
"Haish---"
"Seharusnya kita kembali ke sini setelah perempuan itu sadar dan Drea memberinya pelajaran dulu.."
"Tidak perlu kamu repot akan itu, Little Star. Papa Rico dan Papa Sean yang akan mengurus wanita itu dan orang tuanya---"
"Ah Drea aja yang urus."
"Little Star, Drea, Sayangnya Abang.. Sekali lagi aku bilang, kamu tidak perlu pusing dan merepotkan diri kamu dengan istrinya Kaka. Papa Rico and Sean sudah tahu apa yang harus dilakukan pada wanita itu dan orang tuanya."
"Oh jelas Drea harus pusing dan repot mengurus biang kerok yang membuat Val sampai menjadi tersiksa dan nekat---"
"Abang akan pastikan mereka mendapat ganjaran yang setimpal karena hal itu---"
"Besok kita kembali ke Jakarta ya, Bebeb Abang?---"
"Haish Little Star---"
"Ya? oke Bebeb Abang?.."
"Tidak oke.."
"Ah Abang rese!"
"Hey, Little Star, kamu mau kemana?"
"Suka-suka Drea---"
"Haish---"
"Abang ga asik!---"
"Little Star.."
"Kalau sendirinya mau memberi pelajaran pada orang tidak mau menunggu-nunggu---"
'Ish! Ampun deh kalau sedang ada maunya!'
Brak!..
"Little Staaarr---"
❤️
"Boleh kan, Kak. Drea apa-apakan istri iyuh Kak Kaf yang tak berakhlak itu?.."
Dia yang dikeluhkan oleh suaminya itu kini telah berhadapan dengan orang yang berkaitan dengan keinginannya itu.
Telah juga dengan gamblang mengutarakan keinginannya tanpa Tedeng aling pada yang kiranya bersangkutan.
Yakni Kafeel orang yang bersangkutan itu. Bersangkutan dengan keinginan si Little Star alias Drea yang ingin melakukan sesuatu pada wanita yang berstatus istri Kafeel, yang Drea anggap sebagai biang kerok kekacauan hidup Val yang berimbas pada kekacauan mental diri dan keluarganya yang bersusah hati sampai sekarang.
Kafeel belum menjawab pertanyaan terakhir Drea, karena Kafeel sedang menunggu andai masih ada yang ingin Drea sampaikan padanya.
Tapi..
"Oke diam berarti setuju."
"Heu?"
Kafeel spontan tertegun.
"Sip! Besok Drea terbang kembali ke Jakarta."
Drea nampak bersemangat.
Wajah merungutnya Drea kini berubah sumringah.
"Ayo Bebeb Abang, kita kembali ke kamar.." Tak lagi judes pada Varen.
❤️
__ADS_1
"Bye, semuaaa."
Drea berpamitan kemudian, dengan telah melingkarkan satu tangannya di salah satu lengan Varen.
"Yuk Kak Kaf, Drea dan Abang ke kamar dulu ya?---"
"Oh, i-iya."
Kafeel menanggapi dengan sedikit tergugu, Drea yang berpamitan padanya itu.
"Pokoknya Kak Kaf terima beres aja soal istri iyuh Kak Kaf itu, okay? Betul kan Bebeb Abang?---"
"He'em.." sahut Varen singkat. Begitu aja dulu Varen menanggapi Drea, dalam rangka cari aman agar Drea tak merungut dan merajuk lagi.
Urusan soal keinginan istri belianya itu, akan Varen urus nanti, yang penting masukkan dulu Drea ke kandang---eh, ke kamar maksudnya. Mau Varen bikin cape secape-capenya, biar ga kepikiran buat terbang lagi ke Jakarta esok hari.
"Tidak masalah kan ya Kak Kaf kalau Drea urus itu istri Kak Kaf yang iyuh?" ucap Drea lagi pada Kafeel, padahal dia sudah berpamitan pada pria itu.
"I-iya tidak masalah---"
"Siiip." Drea mengangkat jempolnya ke arah Kafeel.
❤️
"Eh, Dre.."
Kafeel hendak memanggil Drea yang sudah mengayunkan langkah untuk menjauh dari semua orang yang berada pada satu ruangan yang ada di dekat ruang rawat Val, namun Kafeel urung meneruskan panggilannya karena sebuah suara kemudian terdengar saat Kafeel hendak memanggil Drea yang sudah berjalan dengan menggeret Varen itu.
"Sudah, tidak perlu kau risaukan apa yang Little Star katakan tadi.."
Adalah Dad R yang bersuara itu.
"Biar Alva dan kami yang mengurusnya."
Dad R berucap santai, namun kesan penegasan tersirat dalam ucapan ayah kandungnya Varen dan Val itu.
"Iya, Dad.."
Kafeel menyahut patuh.
"Sudah sana jika kau ingin mengunjungi Val---"
❤️
Kafeel tersenyum sumringah setelah mendengar ucapan Dad R yang secara tidak langsung memberikannya ijin untuk melihat Val.
"Terima kasih, Dad."
Kafeel menyampaikan terima kasihnya dengan santun pada Dad R.
"Sudah sana---"
"Jangan lama-lama.."
❤️
"Memang dia tidak seharusnya berlama-lama di dalam ruangan Val, kecuali dia dapat membuat Val langsung terbangun dari tidur panjangnya selama kurang lebih tiga bulan ini."
Kafeel yang mendengar ucapan Poppa barusan, seketika menjadi muram wajahnya yang tadi sempat sumringah. "Maaf."
Lalu Kafeel berucap sendu.
"Selain aku sudah begitu menyusahkan kalian, aku sungguh tak berguna.."
❤️
Tiga Dad yang sedang ada di hadapan Kafeel itu menghembuskan nafas setengah berat mereka setelah mendengar ucapan Kafeel yang sedikit miris tadi, dengan wajah Kafeel yang berekspresi sedih penuh penyesalan.
"Sudah masuk sana."
Poppa yang kemudian berbicara.
"I-iya, Poppa.. terima kasih. Semua, sekali lagi terima kasih."
Kafeel lalu beringsut dari tempatnya.
Hatinya memang masih diselimuti kegundahan karena ucapan Poppa yang cukup nyelekit untuk Kafeel dengar.
Dimana ucapan Poppa memang Kafeel rasa menyentilnya yang berada di satu pulau pribadi yang Varen beli dengan uangnya sendiri itu, atas nama kondisi Val.
Yang Kafeel simpulkan, selain ia dikasihani karena tindakannya yang ingin bunuh diri setelah mendengar Val melakukan hal yang sama dengan cara berbeda dan mengira Val telah pergi untuk selamanya hingga ia diijinkan berada di Little Star Island---sedikit banyak, kehadirannya pasti diharapkan bisa memicu bangunnya Val dari tidur panjangnya itu.
Yang mana kenyataannya, Val tidak bereaksi saat Kafeel telah datang.
Meski Kafeel telah juga memperdengarkan suaranya di telinga Val dan menyentuh lembut tangan dan wajah Val.
Namun Val masih bergeming dalam tidurnya yang sudah cukup lama itu.
Yah, memang hanya sebentar saja tadi Kafeel bisa dekat untuk berinteraksi satu arah dengan Val.
Tapi tetap saja, sedikit banyak, Kafeel tercubit hatinya. Atas Val yang tidak menunjukkan sedikit pun reaksi dengan kehadirannya. Lalu Poppa sedikit menyentil hal itu.
Kafeel pun merasa tidak berguna, selain rasa bersalahnya masih menyelimuti hati Kafeel.
Kejadian manis dalam sebuah romansa di film atau novel---pada sebuah kondisi seperti dirinya yang harus menghadapi kenyataan orang tercinta---dan terakhir Kafeel ketahui Val juga masih mencintainya, makanya Val sampai memilih untuk mencoba bunuh diri karena cintanya Kafeel khianati dan Val tidak sanggup menghadapi lalu koma, tidak terjadi padanya.
Dimana orang tercinta itu bereaksi karena seseorang yang dicintai oleh orang yang mengalami koma itu datang untuk menemui.
Hingga Kafeel jadi berspekulasi, 'Sepertinya lo terlalu percaya diri kalau Val masih mencintai lo, Kafeel Adiwangsa! Yang ada Val pasti benci lo setengah mati!'
Kafeel merasa frustasi lagi.
__ADS_1
Dirinya yang Kafeel rasa tak berguna untuk membuat Val bangun dari tidurnya yang cukup panjang itu, sebenarnya ingin ia bawa pergi dari tempatnya berada sekarang setelah Val tidak menunjukkan reaksi atas kehadirannya.
Tapi disatu sisi hati lain Kafeel, sungguh rindunya pada Val telah membebat hatinya begitu kuat.
Makanya kaki yang ingin pergi itu, rasanya berat sekali untuk Kafeel langkahkan menjauh dari Val sekarang.
Kafeel terlalu rindu untuk meninggalkan Val yang ingin ia pandangi lama-lama. Masih belum puas berada di dekat gadis kecil tercintanya itu---walau rasanya tidak akan pernah Kafeel merasa puas untuk berdekatan dengan Val, terlebih sekarang.
Tiga bulan tak bertemu---bahkan suara Val secara langsung pun tidak pernah Kafeel dengar dalam kurun waktu itu.
Jadi rindu, begitu menggebu-gebu. Dan saat memiliki kesempatan untuk bertemu, sungguhlah kesempatan itu tak ingin Kafeel lepaskan begitu saja, walau Val tak menanggapinya.
Menampik kenyataan dirinya tak berguna atas kesimpulannya sendiri, Kafeel menebalkan saja wajahnya.
Namun begitu, ada janji yang tercetus dalam hati Kafeel yang kini sudah berada di dekat Val.
Yang wajahnya Kafeel pandangi lamat-lamat dengan kerinduan yang mendalam.
'Jika saat Val sadar dan dia ingin gue pergi, baru gue akan pergi---'
❤️
Kafeel telah undur diri dari hadapan beberapa orang tua dan tetua yang ada di sebuah ruangan terbuka di dekat ruang rawat Val. Lalu sebuah perbincangan yang membahas sebuah topik tercetus setelah Kafeel terlihat memasuki ruang rawat Val.
"Hon,"
Mommy Ara yang bersuara.
"Ya?.."
Dad R yang memang merasa jika Mommy Ara memanggilnya itu, karena memang Mommy Ara menyebutkan panggilan sayang Dad R darinya, langsung menyahut pada sang istri.
"Tindakan pada Val yang waktu itu kamu putuskan, itu nanti bagaimana?---"
"Tidak bagaimana-bagaimana.."
Dad R yang paham maksud pertanyaan Mommy Ara itu lantas langsung menukas pertanyaan istrinya itu.
"Tapi Kaka ada di sini sekarang. Dan kita tahu alasan Kaka yang sebenarnya hingga ia sampai melakukan apa yang telah ia lakukan pada Val, dan bukankah jika tindakan yang waktu kamu minta Celine untuk lakukan itu---akan menjadi sebuah ketidak adilan untuk Kaka? jika hal itu nyatanya sukses sebagaimana tujuan dari tindakan tersebut?"
Mommy Ara bicara panjang lebar pada Dad R, dan mereka yang masih ada di dekat dua orang itu, belum ada yang menginterupsi.
❤️
"Adil tidak adil, semua sudah terlanjur dilakukan---"
"Iya, aku mengerti."
Mommy Ara menukas ucapan Dad R.
"Tapi apa kamu tidak ingin bertanya pada Celine jika ia bisa melakukan pencegahan efek dari tindakan yang kamu pernah minta ia lakukan terkait Val?.."
"......"
"Mengingat Kaka terlihat begitu menderita."
❤️
"Akan aku tanyakan pada Celine nanti---"
"Memang sepatutnya kau bertanya pada Celine tentang tindakan antisipasi untuk mencegah efek tindakan yang pernah diambil atas keputusanmu mengenai Val waktu itu."
Gappa yang kini telah duduk di tengah beberapa anak dan menantunya itu angkat suara untuk mengomentari hal yang Mommy Ara buka untuk dibahas.
"Aku rasanya tidak tega juga setelah melihat kondisi Kaka, yang bahkan sampai juga nekat hendak mengakhiri hidupnya seandainya Val sadar dan efek tindakan waktu itu, terjadi kemudian.."
"Iya Dad, akan aku tanyakan jika memang efeknya dapat dicegah.." tanggap Dad R.
"Kalo nyatanya Celine ga punya pencegah efeknya gimana tuh Kak? Ga frustasi lagi itu si Kaka bakalan?"
Momma juga ikut angkat suara.
"Ya mau bagaimana?.. things happened are happen ( yang terjadi sudah terjadi )"
"R benar. Keputusannya kala itu kan atas dasar seorang ayah yang tidak ingin putrinya terluka lagi---"
"Aku akan menjelaskan pada Kaka jika memang efek tindakan itu berjalan sesuai dengan tujuan awalnya.."
"Sudahlah tidak perlu dibahas. What Will be, Will be. Aku pribadi mengampuni Kaka setelah tau hal yang sebenarnya. Tapi tetap tidak mengubah, jika kecerobohannya telah menyakiti Val hingga satu putri kita dalam kondisinya sekarang. Jadi jika efek tindakan yang pernah R minta Celine untuk lakukan itu terjadi, Kaka harus menerimanya dengan lapang dada.."
Poppa kemudian menimpali ucapan Dad R, dan Poppa berbicara cukup panjang.
"Andrew benar. Dan lagi, jangan lupa kalau kita pun bisa saja merasakan efek dari tindakan yang pernah diambil itu."
Lalu Papi John juga ikut angkat suara, memberikan komentarnya. Dan ucapan Papi John itu kemudian mendapatkan anggukan dari lainnya yang bersama dengan si Papi.
"Untuk sekarang ini, lebih baik berdoa saja agar Val bisa segera bangun dari tidurnya yang cukup panjang itu.. Selain, dua bulan lagi, jika Val belum sadar juga, kita harus mempersiapkan diri, atas sebuah kemungkinan yang mungkin dapat membuat kita banyak menangis lagi.."
❤️
Kembali kepada satu pecinta yang telah berada selama berjam-jam berada di sisi wanita belia yang dicintainya.
"Bangun sayang." Kafeel berucap lembut untuk yang kesekian kalinya. "Bangun dan berikanlah aku hukuman. Bertahan dan segeralah buka mata kamu, Baby.. Jangan pergi.. Aku sudah berjanji untuk bertahan kalau kamu pergi.. Tapi setelah aku pikir lagi.. kalau Val pergi dari dunia ini, Kakak rasanya ga sanggup kalau Val tinggal pergi. Jadi Kaka akan mengikuti.."
Kafeel menarik sudut bibirnya.
Biarlah dianggap tak tahu diri, tapi Kafeel ingin sekali mengecup kening Val yang kemudian ia lakukan.
Hanya Kafeel jadi tak melihat, jika salah satu jari dari tangan yang terpasang infus itu melakukan pergerakan yang samar dan sebentar.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
To be continue..