
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kugenggam Hati Dan Sakit Ini
Memang Suratan Tak Bisa Kumemaksa.
🍀
🍀
Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith.
Hidupnya begitu sempurna dalam kapasitas seorang manusia.
Lahir dalam keluarga yang luar biasa kaya, yang juga hangat selain parasnya yang macam keturunan bidadari surga.
Cantiknya luar angkasa.
Yang kiranya orang menerka, pasti bahagianya luar biasa jadi Valera.
Benar.
Valera memang bahagia hidupnya.
Terlebih, setelah ia jatuh cinta dan cintanya berbalas.
Bahagia, indah dan manis---hidup dan hari-harinya Valera rasa, terutama soal percintaannya dengan sang laki-laki impian.
Yang memanjakan selain terbukti mencintainya sebesar Valera mencintai laki-laki impian yang menjadi kekasihnya itu.
Tingkat bahagia Valera bertambah levelnya, ketika sang kakanda mengajaknya mengarungi bahtera yang namanya rumah tangga. Ugh, bahagianya Valera tak terkira kala ia dilamar dengan romantisnya.
Dua kali bahkan.
Bagaimana Valera tidak merasa cukup bahagia coba?..
Lamaran romantis nan manis menguwukan Valera dapat dari sang laki-laki impian di hadapan kiranya ratusan orang yang sebagian besar Valera tidak kenal.
Lalu diseriuskan dengan lamaran kejutan di hadapan seluruh keluarga besarnya berikut beberapa kerabat sangat dekat dan akrab, dengan sang laki-laki impian yang meminta ijin orang tuanya untuk meminang hingga predikat Val sebagai ratunya, tidak hanya di dalam hati saja---namun juga dalam hidup dia gerangan yang melamar Val pada keluarganya.
Begitu bulat kebahagiaan Valera. Begitu ia rasa hidupnya sempurna sudah. Kebahagiaan dan kesempurnaan yang Valera rasa sudah kian dan kian membuat hatinya membuncah kesenangan. Keluarga yang bukan main penuh kasih sayang serta menikah dengan sang laki-laki impian.
Sempurna.
Itu yang dapat menggambarkan bagaimana hidupnya seorang Valera.
Namun,
Jika sebelumnya kalimat yang menggambarkan perasaan Valera adalah,
‘Bagaimana aku tidak merasa cukup bahagia coba?..’
Namun sekarang kalimat itu berubah.
‘Bagaimana jika aku tidak baik-baik saja?’
Karena kebahagiaan Valera yang sempurna, kini telah cacat adanya.
Satu mimpinya hancur berkeping-keping, berikut juga dengan hatinya.
Keluarga hebat yang Valera punya masih sempurna. Namun tidak kisah cintanya.
Asa yang sedang Valera tanam, pupuk dan rawat agar terus tumbuh untuk hidup bersama sang laki-laki impian yang ia cintai, nyatanya harus layu sebelum berkembang.
Tidak hanya hancur menjadi berkeping-keping hati seorang Valera dibuatnya, namun sudah hancur lebur tak lagi berbentuk kepingan---melainkan sudah tak ubahnya menjadi serpihan.
Halus, namun begitu tajam--- serpihan hati Valera yang hancur itu.
Kini air mata jatuh bercucuran, tiada lagi harapan.
Seperti itu kurang lebihnya asa cintanya seorang Valera.
🍀🍀
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
PRAAANNGGG....
Kaca dari sebuah figura foto berukuran besar telah pecah berhamburan lalu berserakan, akibat figura yang terpasang di dinding itu dihantam oleh figura lain yang berukuran lebih kecil.
PRAAANNGGG....
PRAAANNGGG....
PRAAANNGGG....
Hingga kemudian suara pecahan itu mengalun bersahutan, setelah sebelumnya beberapa barang yang ada di hampir tiap nakas dalam sebuah kamar telah berserakan di atas lantai kamar tersebut yang beralaskan karpet bulu.
“KENAPAA??!! KENAPA KAK KAFEEL LAKUKAN INI PADAKUU??!!....”
Lalu teriakan menyusul terdengar membahana dengan memilukan yang setelahnya dilanjut dengan isakan kesedihan yang kembali menderas.
“Kena-paa, Kaakk?.... KENAPAA??!!....”
PRAAANNGGG....
Kembali suara pecahan terdengar, akibat satu figura foto yang diambil kasar dari tempatnya terpasang di dinding itu---kemudian dilemparkan dengan kuat ke dinding yang berbeda. Langsung pecah berserakan kaca figura itu, seperti hati dia gerangan yang memecahkannya.
“Kena-paa, Kaakk?....” rintihan bercampur isakan memilukan lalu terdengar, dengan si pelaku pemecahan beberapa figura foto dalam sebuah kamar---yang mana adalah pemilik kamar itu sendiri, kini telah bersimpuh sangat rendah di atas lantainya.
Dimana tak lama, banyak orang yang sudah berhambur kepada dia gerangan yang sedang meluruh pedih itu dalam kamar yang biasanya nampak rapih bahkan indah dengan dominan warna putih.
“Val-bencii.... VAL BENCI KAK KAFEELL!!!”
🍀🍀
Pemandangan yang membuat miris hati langsung tersaji di mata orang-orang yang adalah anggota keluarga sang pemilik kamar yang sedang melirih pedih bersimpuh dengan tubuh yang merunduk memegangi dadanya yang sedang dipukuli itu.
“VAL BENCIII!!!!....”
Teriakan frustasi yang memiris hati terdengar lagi, dari dia---Val, yang sedang mengalami cedera hati.
Membuat yang berhambur masuk duluan ke kamar Val langsung meraih tubuh Val yang nampak rapuh itu dalam dekapan, mengabaikan pecahan-pecahan kaca yang berhamburan di sekitar.
Membuat lirihan tercetus pada hati yang melihat kondisi Val sekarang, selain rasa tenggorokan mereka begitu tercekat ketat.
“Val, ben-ci padamu.... K-aakk---“
“Ssstt---“
“Kak Kafeel kejam sekalii---“
🍀🍀
Tidak ada yang lebih sakit daripada dikecewakan oleh satu orang yang kau pikir tak akan pernah menyakitimu.
Kalimat bijak itu kiranya tepat untuk menggambarkan apa yang sedang Val rasakan. Tak hanya Val, namun seluruh keluarganya juga.
__ADS_1
Setelah berhambur lalu membawa Val dalam dekapan, Aro yang lebih dulu dari semua sampai di dekat Val---kemudian langsung mengangkat tubuh Val dan didudukkan di atas ranjang pribadi Val, ketika raungannya perlahan berkurang---namun isakan masih terus terdengar.
“Sudah, Baby---“
“Apa ada yang terluka?“
Sementara Val sedang ditenangkan Poppa, Daddy Dewa bertanya pada Aro yang memeriksa tangan dan beberapa bagian tubuh Val yang terbuka bersama Ann, untuk memastikan jika Val tidak terkena pecahan kaca dari figura-figura yang kacanya pelindung foto di dalamnya itu telah pecah berserakan.
“Tidak ada---“
🍀🍀
“Sweety, kamu ke kamar Mommy sama Daddy dulu, hem?” Mommy Ara mengajak Val bicara, kala putri kandungnya itu telah tidak lagi histeris dan meraung.
“Mom Peri benar, Val.”
Mom Ichel menimpali.
“Sementara kamar kamu ini dibersihkan dan dirapihkan, Val pindah ke kamar Mom Peri dan Dad R dulu ya?”
Mom Ichel lanjut bicara.
“Atau kau ingin pindah ke kamarku dan Kak Drea?”
Varen ikut angkat suara.
“Atau engga, Val pilih deh mau ke kamar siapa, atau mau di kamar mana dulu sementara kamar kamu ini dibersihkan,” timpal Nathan. “Kalo males jalan, Kak Tan-Tan gendong....”
Nathan menambahkan, sambil menyampirkan rambut Val ke belakang telinga. Namun Val diam saja.
Tak menyahut, bahkan tak memberikan respon berupa anggukan atau gelengan kepala.
Hanya isakan Val saja yang terdengar, berikut suara sesenggukan. Yang mana ucapan-ucapan yang tak mendapat tanggapan dari Val itu kemudian tidak ada lagi setelah Nathan berbicara.
Baik Nathan dan semua yang sedang berkerumun di kamar pribadi Val, hanya diam memperhatikan Val yang terisak sesenggukan itu. Menghela nafas mereka dengan berat, memandangi Val dengan tenggorokan yang tercekat.
Kala Val kembali menampakkan ‘kesunyian’, setelah isakannya berhenti. Dan Val, kembali kepada mode semula.
Mematung, diam membisu.
Lalu, dikala beberapa meninggalkan kamar Val dan segelintir bertahan untuk berjaga-jaga jika Val akan histeris lagi jika dia sendirian.
Dan yang bertahan hanya bisa diam tak mampu berkata-kata, disaat Val kembali luruh dalam tangisan.
Di tenangkan sudah, namun air mata Val terus saja tumpah.
Refleksi, dari hati Val yang patah. Yang satu dunianya luluh lantah.
Menangis, lalu diam.
Terisak, lalu diam dan menangis lagi sampai nafasnya tersendat-sendat.
Memilukan hati mereka yang melihat. Yang terkadang undur diri sesaat, akibat tak kuat untuk melihat.
Val yang menangis, mereka yang sesak.
Kadang pelukan dengan lelehan air mata disalurkan pada Val dari keluarganya.
Namun tetap saja tidak membuat Val bergeming untuk menyambut dekapan untuk menyalurkan dukungan atas sebuah kesabaran.
Hanya bisa bilang, “Sabar Val, sabar....”
Selain itu tidak tahu lagi memang, apa yang harus dikatakan untuk mengurangi sedihnya Val.
Memang, ada kalimat bijak yang mengatakan, Waktu akan menyembuhkan tiap luka.
Hanya saja kalimat bijak itu menciptakan pertanyaan di hati para keluarga Val.
Iya, tahu kalau waktu bisa menyembuhkan luka.
Berapa lama?
Sedangkan melihat Val sekarang, detik jam seolah berlalu lama.
Baru berpuluh-puluh jam, namun rasanya berpuluh-puluh tahun menyaksikan Val menangis pilu yang tak pernah terjeda lama.
Semakin kosong pandangan Val saat ia terdiam, namun stok air matanya tidak pernah kosong.
Seolah bendungan airmata di dalam mata Val itu sedang bocor, hingga sulit untuk dihentikan alirannya.
Kalau begini, rasanya ingin membeli mesin waktu, agar bisa kembali ke masa dimana Kafeel tidak tersilap.
Atau jika perlu, kembali kepada waktu disaat sebelum kemunculan Kafeel disadari oleh Val.
Agar tidak pernah Val jatuh cinta padanya.
Agar Val yang nampak begitu menderita karena sesuatu yang dapat dikatakan pengkhianatan cinta itu, tidak dialaminya.
Yang sayangnya, mesin waktu itu kiranya hanya ada di film-film saja. Jadi yang Val alami dan para keluarga harus menyaksikannya, hanya mampu diterima dengan kepasrahan saja.
Sudah takdir, mau bilang apa?....
🍀🍀
Val yang nampak terguncang, juga mengguncang mereka yang menyayanginya.
Val yang diam mematung, lalu luruh dalam tangisan yang berujung isakan---terus saja seperti itu.
Sungguh membuat hati mereka yang melihatnya kian tak tahan.
🍀🍀
“Kuberhenti...”
Lalu setelah puluhan jam berlalu dari kejadian-kejadian pilu, Val yang sedang menangis tersedu, menjeda tangisan itu ketika sebuah petikan gitar berikut sebuah suara ia dengar dari arah pintu kamarnya.
Ada Aro di sana ketika Val mengangkat kepalanya yang tertopang di atas kedua tangan yang juga sedang tertopang di atas kedua lututnya yang menekuk.
“Yuk, Val?...”
Mika yang sedari tadi berada di dekat Val bersama tiga saudari lainnya, berkata pada Val ketika Aro menjeda nyanyiannya.
“Aro minta di tonton---“
“Iya, yuk?...”
Isha menimpali ucapan Mika untuk mengajak Val dengan tersenyum.
“Di batas ini...”
Aro lanjut melantunkan kalimat dengan nada, dan Mika serta Isha berikut dua saudari mereka yang lain kembali membujuk Val untuk turun dari ranjangnya.
“Antara cinta dan mimpi bersamamu...”
Aro kembali melanjutkan nyanyiannya dengan memandangi Val dari tempatnya berdiri memegang dan memetik gitar listrik elektrik yang disetel ke mode akustik.
“Aku sadari kini, bahwa memang hatimu, bukan... untukku---“
“Ayo, kita melihat konser?...” Kini Ann yang bersuara pada Val yang bereaksi dengan tolehan dan pandangan dari saat ia melihat Aro lalu diajak bicara oleh Mika.
🍀🍀
Aro dan nyanyiannya yang dibarengi petikan gitar akustik yang lembut nadanya---berikut suara Aro yang terdengar syahdu itu seolah membuat Val terhipnotis.
Meski Val tak menyahut pada Mika-Isha dan Ann, namun ia mau turun dari ranjangnya dan mau berjalan bersama Mika ke arah Aro yang kemudian bergeser dari tempatnya.
__ADS_1
Yang kemudian Aro diperhatikan oleh Val tanpa kata. Dan saat Val memperhatikannya, Aro menggerakkan dagunya seraya tersenyum ke satu arah.
“Kukembali...”
Satu suara yang melantunkan sepenggal bait lagu kembali terdengar di telinga Val yang kepalanya menoleh ke arah yang ditunjuk Aro dengan dagunya.
“Kepada sunyi...”
Ada Varen bersama Drea dan anak lelaki mereka di sana. Tersenyum lembut pada Val, yang sedang berjalan menghampiri ke tempat ketiga orang itu berada.
“Kuikhlaskan semua pada takdir...” Varen meneruskan nyanyiannya. “Tuhan pasti tahu yang terbaik untukmu. Tenang... lah, hatimu...”
“Tegarlah diri...”
Nyanyian Varen bersambut, oleh model suara yang lain.
Yang saat Varen melantunkan nyanyian itu Val sudah berjalan mendekatinya yang bersama Drea dan Putra, yang tersenyum kepadanya.
“Walaupun perih...”
Suara yang menimpali suara nyanyian Varen yang bak gayung bersambut itu terdengar lagi.
“Berjalanlah lagi, sejauh mungkin...”
Ada Nathan, yang seperti juga Aro dan Varen berdiri memegang gitar yang dipetik syahdu dengan melantunkan penggal sepenggal lagu---di bawah undakan tangga lantai tiga, berdiri bersama Via juga Mom Ichel dan Daddy Dewa yang tersenyum manis kepada Val.
“Hingga suatu hari nanti pasti bertemu... Dengan hati yang tak menyakiti...”
Nyanyian terjeda, Val diajak Drea dan para saudari lainnya meniti anak tangga untuk menghampiri ke tempat Nathan dan tiga lainnya berada.
“We’re here for you (Kami disini untukmu), Baby...” bisik Daddy Dewa yang merengkuh Val.
Dimana Val menggigit bibirnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca sambil memandang pada Daddy Dewa, yang kemudian memperhatikan satu-satu orang yang berada di dekatnya---dimana kesemuanya tersenyum pada Val.
“Kugenggam hati, dan sakit ini...”
Val menoleh lagi.
“Memang suratan, tak bisa kumemaksa...”
Diujung tangga yang menyambung ke lantai bawah, ada Momma, Poppa dan Mami Prita.
“Tuhan pasti tahu yang terbaik untukmu. Tenang... lah, hatimu...”
🍀🍀
Sakit, melihat Val yang terguncang karena terluka.
Namun sakit yang Val rasa tak bisa mereka minta Val bagi kepada mereka yang merupakan keluarga Val yang begitu menyayanginya.
Jadi otak berpikir untuk sebuah penghiburan, untuk mewakili sebuah kata yang membiaskan makna,
Kami akan selalu ada bersamamu, Val.
Dan sekarang ini yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga Val yang sedang berada dalam naungan atap yang sama, yang berpikir spontan untuk membuat penghiburan kecil-kecilan untuk Val.
Agar tidak lagi Val larut dalam sedih yang tak berujung, agar Val ingat jika ia tidak akan menanggung lukanya sendirian. Ada mereka, keluarganya Valera.
Agar Val juga tahu, jika dirinya yang dirundung kesedihan, berimbas kepada mereka semua yang disebut keluarga.
Val yang sedang redup, bersinarlah walau sedikit saja.
Dan disinilah mereka---para anggota keluarga Val yang begitu menyayanginya.
Mencetuskan ide yang spontan adanya, sekedar untuk menenangkan dada. Mengungkapkan kata dukungan tidak hanya lewat sekedar kalimat.
“Jangan menangis terus, nanti air matamu habis...” Poppa yang berucap, dengan sudah merengkuh Val yang ia hapusi air matanya. Yang kemudian Val peluk dengan eratnya, sedikit terisak di dada Poppa.
🍀🍀
Save the best for the last.
Sisakan yang terbaik di akhir.
Begitu kiranya.
Setelah Poppa mengurai pelukan Val dan menghapusi air matanya lagi---dan Val mendapat juga pelukan dan usapan sayang dari Momma dan Mami Prita, Val yang masih saling merengkuh dengan Poppa---diajak meniti tangga untuk sampai ke lantai bawah.
Dimana pemandangan yang membuat Val rasa kian haru tersaji di sana.
Sisa anggota keluarga yang tidak menjemputnya dan mengantarnya dari sejak dalam kamarnya ada di sana.
Di sebuah bagian lengang pada lantai bawah kediaman mereka.
Ada Mommy Ara yang duduk di kursi piano, dan Dad R berdiri tampan di belakang sebuah standing microphone.
Dimana saat Val muncul, kemudian Dad R mendapatkan atensi fokus dari Val yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tegarlah diri... Walaupun perih... Berjalanlah lagi, sejauh mungkin... Hingga suatu hari nanti pasti bertemu... Dengan hati yang tak menyakiti...”
🍀🍀
“Dengarkan ini, Baby...”
Yang kemudian Dad R bicara dengan sedikit parau, masih dari posisinya.
“To you my baby... aku katakan, Jangan jatuh lagi ke hati yang salah...”
Dilantunkan lagi sebaris nyanyian, yang terjeda karena cekat di tenggorokan.
“Dad-dyy...”
Val berhambur kepada sang ayah kandungnya.
“Jangan lagi bersedih, my little baby... karena aku akan lebih bersedih melihat putriku tak habis-habis menangis...”
“Ma-af Dad-dyy...”
“Aku yang akan memastikannya lain kali...”
“........”
“Aku, dan para Dad-mu, serta empat saudara lelakimu...”
Dad R berkata, ada senyum di bibirnya. Namun sudah jatuh juga air matanya.
“Yang akan memastikan... Kalau lain kali, kau tidak akan jatuh ke hati yang salah...”
Dad R yang tergugu.
“Berhenti, hem?...”
Sambil Dad R mengusapi penuh kasih sayang kepala Val.
“Berhenti seperti ini... Kau punya kami... Kau punya aku... Berhentilah bersedih, karena hatiku sakit melihatnya---“
Tercekat Dad R, sambil dipeluknya Val dengan erat.
"Dad sakit jika kau seperti ini... Ada kami, Baby... Ada aku..."
“Dad, dyy---“
Val, luruh dalam pelukan Dad R.
🍀🍀 🍀🍀
__ADS_1
To be continue........