
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Little Star Island, Italy ....
Aku merasa tidurku terganggu, ketika samar – samar aku mendengar suara Kak Tan – Tan.
Padahal seingatku, sehabis puas bermain di geladak kapal pesiar, aku langsung merebahkan diriku di atas kasur dalam kamarku --- dalam kapal pesiar keluargaku yang sedang menampung banyaknya orang --- semua keluarga dan kerabat terdekat keluargaku itu, karena kami semua sedang liburan besar – besaran.
Tapi kenapa ada suara Kak Tan – Tan di dalam kamarku? ... Dan sepertinya tengah sedang berbicara dengan nada yang ketus. Yang mana ingin segera kulihat, pada siapa Kak Tan – Tan yang sepertinya sedang menunjukkan kekesalannya itu. Namun ketika aku hendak segera bangun, aku merasa jika tubuhku tak bertulang.
Bahkan rasanya seperti kepala dan tubuhku itu terpisah, karena aku sama sekali tidak merasakan bobot tubuhku. Jadi aku, batal untuk segera bangun. Bahkan saat hendak membuka mata saja, aku sedikit kesulitan.
Karena mataku itu seolah habis di lem, dengan sisa – sisa perekatnya yang masih menempel.
Lalu saat aku dapat membuka mataku --- walau belum secara penuh, mataku dipenuhi oleh pijaran – pijaran cahaya kecil yang banyak. Mengganggu pandanganku. Dan kepalaku terasa berputar – putar, selain aku merasakan rasa nyeri yang lumayan di kepalaku --- bersamaan dengan aku yang sedang membuka mata.
Lalu kerongkonganku terasa kering sekali.
Seperti aku tidak minum hampir seumur hidupku.
Serta sakit --- agak panas, ketika aku coba menelan salivaku yang kiranya hanya setetes kecil saja yang tersedia.
Jadi, karena keadaan tubuhku yang aku rasa itu --- dan tadi aku mendengar suara Kak Tan – Tan --- yang jika benar, aku ingin meminta tolong padanya membantuku bangun dan memberikanku air minum sebanyak – banyaknya.
"K - ak... Tan... Tan..."
Namun suaraku seperti tertahan di kerongkongan. Makanya aku terbata berkata, memanggil Kak Tan – Tan. Serta ada sakit yang aku rasa, saat aku berbicara --- walau hanya sedikit saja.
Jadi setelah memanggil satu kakak lelakiku itu, aku terdiam lagi. Mencoba membasahi kerongkonganku lagi dengan salivaku sendiri.
Termasuk membasahi bibirku, yang aku rasakan juga sangat kering itu.
Membuatku langsung teringat lip balm rasa semangka kesukaanku.
Oh semangka.. aku jadi semakin haus membayangkan sari semangka tanpa biji yang manis, semanis diriku ini..
^_+
Tadinya aku berpikir, jika aku salah dengar.
Saat tadi aku mendengar sayup – sayup suara Kak Tan – Tan yang seperti marah – marah.
Namun setelah aku berkata dengan terbata dan suara yang kecil sekali menurutku itu, aku rasa aku masih sedang bermimpi.
Masih terbawa euphoria main di geladak kapal pesiar pada bagian Fun and Wet Facilities itu, dan memang aku bermain bersama Kak Tan – Tan dan Via, bersama beberapa kerabat kami lainnya --- sebelum aku kembali ke kamarku.
Karena setelah aku berkata memanggil Kak Tan – Tan tadi, yang aku dapati hanya kesunyian. Selain ada suara macam, Teet, Teet tak jauh dari tempatku tidur. Dan entah suara apa itu.
Mungkin suara alarm smart watchku.
Aku tak berusaha mencari smart watchku itu, suaranya tidak terlalu mengganggu.
Dan lagi tubuhku ini loh, lemas sekali.
Serta mataku masih berkunang – kunang bahkan setelah aku telah benar – benar membukanya.
♥
Kembali kepada masa dimana aku merasa terbangun dari tidurku dan sayup – sayup mendengar suara Kak Tan – Tan yang seperti sedang bicara ketus pada seseorang lalu aku memanggilnya pelan dan setelahnya tak ada jawaban apapun, aku mencoba mengangkat tanganku yang perlahan sudah aku rasakan keberadaannya berikut anggota tubuhku yang lain.
Tapi ya itu, rasanya lemas sekali.
Aku merasa seperti manula ratusan tahun yang tidak berdaya, saking lemasnya.
Meski begitu, aku tetap berusaha memaksa mengangkat tanganku dengan tenaga yang aku punya --- walau sedikit saja. Dan aku ingin meraba sisi tempat tidurku, barangkali ada minuman di sana untuk membasahi kerongkonganku yang aku rasa sangat kering ini --- selain agak sakit dan panas.
Padahal seingatku, udara di luar kapal biasa saja. Anginnya berhembus sejuk bahkan. Dan pendingin ruangan dalam kamarku yang aku ingat pun fine – fine saja. Lalu, aku juga banyak minum kok.
Jadi aku bingung kenapa kerongkonganku terasa kering, panas dan agak sakit saat memanggil Kak Tan – Tan tadi?...
Aku pun heran sendiri.
♥
Aku pikir aku hanya sedang bermimpi, karena masih terbayang – bayang kalau aku banyak bercanda dengan Kak Tan – Tan, Kak Via dan beberapa orang anak kerabat orang tuaku saat aku sedang mencoba berbagai macam wahana bermain yang tersedian di kapal pesiar milik keluargaku --- makanya aku merasa seperti aku mendengar suara Kak Tan – Tan dimana dia sedang berada dekat denganku.
Namun setelah aku memanggilnya kemudian aku hanya mendapati keheningan, selain suara Teet, Teet yang kemudian terdengar lebih sering dan panjang --- aku berpikir ya itu, aku hanya masih sedang bermimpi.
Tapi tak lama, aku mendengar suara Kak Tan – Tan memanggilku dengan suara yang terdengar ragu – ragu.
Hingga aku benar – benar mencoba membuka mataku dan membuat pandanganku tidak mengabur lagi, lalu menoleh ke arah dimana aku mendengar suara Kak Tan – Tan berasal.
"V - Val?..."
Begitu suara Kak Tan – Tan yang aku dengar, seiring wajahnya yang sudah ada di atas wajahku dengan ekspresi macam seperti melihat hantu.
Tapi jika aku tidak salah melihat, mata Kak Tan – Tan juga berkaca – kaca.
Dan seiring itu, aku merasakan pergerakan lain yang mendekatiku dengan tergesa.
♥
__ADS_1
Aku mendengar suara lain memanggiku dengan nada sedih setelah aku merasakan ada beberapa orang yang sedang mendekatiku.
"Mom - My..."
Suara Mommy Peri yang aku dengar seperti sedang bersedih hati itu.
Dan aku spontan memanggilnya.
Tapi seperti saat aku memanggil Kak Tan-Tan tadi, aku merasa jika suaraku yang keluar begitu pelan.
Dan lagi sama juga seperti saat aku berbicara memanggil Kak Tan - Tan, aku rasakan kerongkonganku agak sakit saat berucap.
Jadi aku berpikir untuk bangun sambil mengerjapkan mataku dan meminta minum pada Mommy Peri atau Kak Tan - Tan, karena yang aku dengar lebih jelas adalah suara mereka berdua.
Namun baru saja aku hendak meminta minum pada Mommy Peri atau Kak Tan - Tan,
"VAALL!!..."
Tahu-tahu aku mendengar Mommy Peri menjerit kencang.
Ya ampun, kagetnya aku!
Namun setelahnya aku terheran - heran lagi, karena setelah menjerit --- Mommy Peri terdengar menangis.
"Mom - My..."
Aku melirih lagi.
Lalu suara Mommy Peri yang terisak serta suara Kak Tan – Tan terdengar lagi bersahutan sambil aku rasakan usapan lembut di kepala, wajah dan tanganku.
"V - a - l, sa - yaang..."
"V - Al..."
Begitu yang aku dengar sambil aku merasakan usapan lembut di beberapa bagian tubuhku itu.
Dan satu suara lagi yang terdengar lirih juga, namun entah suara siapa, "Ya Allah, Val..." begitu katanya.
Tapi asing suaranya di telingaku.
Lagipula juga cukup pelan, dan hanya sekali saja.
Jadi aku tidak bisa mengira milik siapa suara itu, yang juga terdengar begitu sedih seperti Mommy Peri dan Kak Tan – Tan yang saat pandanganku sudah lumayan jelas --- aku lihat wajah mereka bersimbah air mata.
Hanya saja yang jelas, suara asing dan lirih yang kudengar tadi itu, adalah suara dari seorang pria dewasa --- sepertinya, sih?
♥
Lalu aku lihat Isha yang sama menangis seperti Mommy Peri dan Kak Tan – Tan.
Ini mereka bertiga kenapa ya? Sampai menangis seperti itu?
“Mom-Kak, Tan-Tan...Isha...”
Ingin aku tanyakan, tapi karena saat aku hendak bertanya dan sudah menyebut nama tiga orang keluargaku itu, aku merasakan kerongkonganku sakit.
Jadi aku urungkan dulu niatku untuk bertanya kenapa tiga orang yang aku sayangi itu, sampai menangis begitu.
Lebih baik aku segera meminta air minum untuk menghilangkan rasa sakit dan hawa agak panas di kerongkonganku ini. Tapi sekali lagi, niatanku itu tertunda. Karena tak seberapa lama, aku mendengar suara satu per satu anggota keluargaku yang amat aku sayangi itu bersamaan dengan kemunculan sosok mereka.
Yang kemudian mendekat padaku secara bergantian, lalu menangis juga seperti Mommy Peri – Kak Tan – Tan dan Isha. Ini ada apa dan kenapa, ya?...
♥
Aku yang terheran – heran melihat ekspresi dan sikap keluargaku yang histeris dengan juga menangis namun tak lama tersenyum lembut itu, memperhatikan saja satu per satu gelagat mereka itu --- dengan masih merasakan sakit dan panas di kerongkonganku, namun aku tidak meminta minum pada mereka.
Saking aku begitu heran dengan sikap para keluargaku itu.
Dan karena hal itu, aku jadi diam saja. Hingga saat aku mendengar suara seorang wanita yang sepertinya aku kenal.
"Maaf, semua. Saya hendak memeriksa Nona Valera dulu, jadi sebentar saya meminta ruang..." begitu katanya. Lalu aku dengar Dad R yang kini berdiri di sampingku sambil menyusut air matanya itu, menanggapi ucapan wanita itu.
Melihat Dad R yang menyusuti air matanya itu, aku jadi ikutan merasa sedih.
Karena aku tidak pernah melihat Dad R menangis seperti tadi saat ia datang tak lama setelah Mommy Peri menjerit menyebut namaku.
Mata Dad R begitu merah dengan air mata yang menganak sungai saat mendekatiku, lalu membelai kepala dan wajahku dan berkali lagi menyebutkan namaku dengan terisak.
“Val... Baby...”
Begitu Dad R berucap berkali – kali.
Huu Dad R... aku kan jadi ikutan meloloskan air mata saking aku sedih melihat Dad R menangis begitu di depanku.
Lalu Abang dan para Dad ku yang lain selain seluruh keluargaku itu juga bersikap sama seperti Dad R. Kan, tambah membuat aku jadi susah menghentikan air mataku karena melihat sikap mereka itu yang tidak aku tahu kenapa.
♥
Setelah selesai para keluargaku tanpa terkecuali itu mendekat bergantian sambil tersedu - sedan, Dad R dan Mommy Peri yang kemudian mengambil tempat di samping kepalaku. Lalu Kak Celine berdiri di sisi yang lain bersama Abang dan Kak Drea.
Kemudian aku perhatikan orang – orang yang sedang mengelilingiku adalah para orang tuaku, dari pasangan Papa dan Mama Bear, hingga Papa Lucca dan Mama Fabi. Lalu Dad R berkata sambil memandang pada Kak Celine.
"Baik, Celine. Tapi aku ingin berada di sini untuk menemaninya disaat kau memeriksanya." Seperti itu Dad R berkata pada Kak Celine, yang aku tahu siapa dia.
__ADS_1
Yakni salah satu orang kepercayaannya Abang seperti Kak Ammar. Yang setahuku juga, kalau Kak Celine itu adalah seorang ilmuwan. Namun sekali lagi aku memandangi orang – orang yang mengelilingiku dengan kebingungan dalam kepalaku.
Sebelumnya Kak Celine mengatakan jika ia meminta diberikan ruang, karena ingin memeriksaku --- membuatku heran kenapa aku harus diperiksa? Terakhir sebelum tidur aku merasa baik – baik saja dan merebahkan dengan damai tubuhku di atas tempat tidur di kamarku dalam kapal pesiar.
Tapi tahu – tahu aku bangun yang setelah membuka mata, aku sedikit perhatikan --- tempatku berada itu bukanlah kamarku dalam kapal pesiar, yang aku bagi bersama May dan Aina.
Dan setelah aku sempat melirik ke arah ujung kakiku yang tertutup selimut putih, aku perhatikan jika tempat tidur yang sedang aku gunakan ini, seperti sebuah tempat tidur di rumah sakit. Yang ingin aku tanyakan, tapi lagi – lagi urung karena Kak Celine kembali bersuara.
"Tentu Tuan..." begitu kata Kak Celine, yang sepertinya menanggapi ucapan Dad R sebelumnya itu.
“Kalau begitu kami akan tunggu di luar.”
Daddy Boo – Boo yang berkata itu, lalu perkataannya diiyakan oleh keluargaku yang lain.
Selain Dad R dan Mommy Peri.
Dan setelahnya, para keluargaku yang sedang berada di dalam kamar yang aku pikir adalah kamar rumah sakit ini --- satu per satu membubarkan diri.
Hanya tersisa aku, orang tua kandungku dan Kak Celine --- serta satu orang wanita yang entah siapa.
Perawat rumah sakit tempatku berada ini mungkin?
♥
Ketika seluruh keluargaku yang aneh sikapnya itu dalam pandanganku telah satu per satu meninggalkanku bersama Dad R, Mommy Peri, Kak Celine dan seorang perawat --- aku kembali merasakan kerongkonganku yang rasanya kering, selain agak sakit dan panas.
“Dad-dy... Val, thir-sty...” pintaku pada Dad R. Namun setelahnya Mommy Peri bersuara, mempertanyakan pada Kak Celine apakah boleh memberikanku minum atau tidak? Memang kenapa Mommy Peri sampai bertanya apakah aku boleh minum atau tidak?... seingatku bulan Ramadhan sudah lewat jauh?
Lagi – lagi aku heran. Tapi keheranan itu tidak aku suarakan, karena aku keburu senang saat Kak Celine mengatakan, “Tentu boleh, Nyonya... Biar saya ambilkan...“ Bersamaan dengan kemunculan Abang dan Kak Drea kembali ke tempatku berada.
Yang mana aku dengar suara Kak Drea yang mengatakan tidak usah, karena dirinya yang menawarkan diri untuk mengambilkan minum untukku. Dan selepas kepergian Kak Drea, yang sempat aku dengar juga berbicara dengan perawat yang ada --- Kak Celine meminta persetujuanku untuk memeriksaku.
Dan aku menjawab dengan anggukkan saja, dan tidak ingin bicara sebelum aku dapat membasahi kerongkonganku dengan air yang banyak, yang super dingin kalau perlu.
Aku pun mendapatkannya.
Air minum. Meskipun bukan air es.
Tapi sayangnya hanya bisa aku minum lewat sedotan, karena aku masih merasa lemah untuk bangun dan menenggak air sejuk dalam gelas yang dibawa Kak Drea dengan tergesa.
Tak apalah. Begitu saja sudah cukup untuk menghilangkan kekeringan di kerongkonganku, dan meredakan sakit serta panas di kerongkonganku. Hingga aku bisa mengucapkan terima kasih pada Kak Drea yang sudah mengambilkan minum untukku itu.
♥
Aku pikir aku sakit, hingga aku dilarikan ke rumah sakit.
Padahal aku merasa terakhir kali sebelum aku terbangun di tempatku sekarang, aku sedang tidur di kamar dalam kapal pesiar milik keluargaku itu. Yah, mungkin saja aku yang mengira diriku itu tertidur --- ternyata jatuh pingsan hingga keluargaku panik dan membawaku ke rumah sakit.
Namun kemudian aku dibuat terkejut oleh ucapan Isha yang mengatakan jika aku itu terbangun dari koma. Alamak! Bagaimana aku bisa koma coba?!
Lalu banyak keterkejutan lain yang aku dapatkan.
Namun setiap kali aku hendak bertanya, ada saja celetukan yang menyambar sebelum aku sempat bersuara.
Hingga aku rasa – rasa, aku menjadi seorang yang begitu pelupa.
Ingat saja ingin bertanya, tapi melupakan pertanyaan apa yang ingin aku cetuskan setelah fokusku teralihkan.
Sedikit banyak, aku merasakan ada yang tidak beres pada diriku yang menjadi pelupa dan tidak fokus ini. Dan terjawab keherananku pada diriku ini, saat Abang mengatakan jika aku telah koma selama kurang lebih enam bulan.
Lalu satu hal yang Abang katakan, membuatku shocked bukan main.
Abang mengatakan jika umurku delapan belas tahun sekarang.
Tidak! Tidak!
Aku tidak percaya.
Aku saja masih tidak percaya yang katanya aku koma selama kurang lebih enam bulan.
Lalu ini? 18 tahun usiaku sekarang kata Abang.
Ah crazy!
Bagaimana bisa dalam 6 bulan, aku yang 14 tahun ini menjadi 18 tahun?
Apa aku jadi bahan percobaan mesin buatan Abang yang baru?!
Untuk membuat seseorang dapat mencapai usia di atas usia sebelumnya dengan lebih cepat?...
Untungnya tidak.
Tapi alasan kenapa aku ingatnya usiaku 14 tahun sekarang padahal kata Abang dan para keluargaku yang lain aku sudah 18 tahun saat ini --- belum aku dapatkan jawabannya secara terperinci.
Saat aku sedang mencoba mencari tahu sendiri dengan mengingat – ingat, kepalaku suka kadang – kadang terasa seperti sedikit tersengat listrik. Dan karenanya aku takut untuk berpikir keras dengan coba mengurutkan puzzle ingatan terakhirku dengan aku yang sudah katanya 18 tahun ini.
Masih hitungan usia belasan sih, namun tetap saja aku sulit menerima kenyataan aku sudah 18 tahun.
Aaa... aku tidak rela menua cepat!
♥♥♥♥
To be continue...
__ADS_1