HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 86


__ADS_3

Noted: Baca episodenya dulu, baru klik tanda jempolnya jika berkenan ya.


Thank You


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“Macam udah ngerti aja tugas dan tanggung jawab menjadi seorang istri mau cepat-cepat menikah!”


Mika kembali melontarkan cibiran saat perdebatannya dengan Val tengah dimulai. Dua dari para pewaris belia itu sudah pasti akan berdebat jika sudah menyangkut soal cinta – cintaan dan tujuan hidup.


“Ih, tahu dong!” Val tak mau kalah.


“Apa? ..”


Dua gadis yang memang hobi berdebat satu sama lain akibat perbedaan visi dan misi dalam soal tujuan hidup mereka itu menjadi tontonan saja mereka yang berada di dekat keduanya.


Ada yang sabodo amat, ada yang membuat ekspresi wajah malas, de es be lah pokoknya. Namun tetap memperhatikan dua gadis belia yang sama cantiknya itu, namun beda isi otaknya yang menyangkut tujuan hidup mereka.


Yang satu bercita – cita ingin jadi wanita hebat yang bisa menaklukkan dunia, sementara yang satu bercita – cita ingin menikah muda, sekaligus menaklukkan seorang Kafeel Adiwangsa sampai pria itu menjadi suaminya, lalu hidup bahagia sampai tua.


“Melayani suami!” jawab Val sekenanya, menanggapi pertanyaan Mika sebelumnya.


“Bentuk melayani suami itu banyak contohnya. Memang kamu sudah tahu semua?” cecar Mika.


“Ya kan bisa sambil belajar. Seiring sejalan.” Sahut Val. “Tapi yang pasti kan membuat anak-anak yang lucu—“


Dimana Kafeel langsung saja tersedak mendengarnya. “Uhuk! Uhuk!” batuk pula.


Sementara yang paham kenapa Kafeel sampai tersedak tiba – tiba, terkikik saja.


‘Ya ampun, otak gue jadi travelling abis Val ngomong soal buat anak—‘


Kafeel pun membatin.


“Ini Kak ..”


Val dengan segera mengambilkan minuman dalam gelasnya seraya meletakkan piringnya saat Kafeel terbatuk.


Kafeel pun menerima gelas berisikan air minum dari Val, dan segera menepis omes nya yang datang tiba-tiba itu akibat celotehan Val yang asal.


“Gelas bekas Val tidak apa ya? –“ ucap Val seraya menyodorkan gelas berisi air minum yang memang miliknya.


Kafeel pun mengangguk.  “Iya, ga apa – apa, Val –“ sahut Kafeel. “Makasih.”


“Habis Kak Kafeel tidak sekalian mengambil minum tadi—“ ucap Val saat Kafeel meneguk air dari dalam gelas air minum milik Val. “Lagipula kita sudah pernah merasakan bibir masing-masing –“


Blurf..


“Uhuk! Uhuk!” Air yang Kafeel minum masuk ke hidungnya.


“Pelan-pelan dong minumnya Kak..”


‘Ini udah pelan.’


Kafeel menyahut dalam hatinya.


‘Kamu aja yang bikin aku jadi keselek lagi.’


Kafeel mendesah frustasi dalam hatinya. Kenapalah kekasih kecilnya ini sering ga disaring kalau ngomong, meskipun hal tentang merasakan bibir masing – masing benar adanya.


‘Tapi ga perlu diumbar depan keluarga kamu juga kalau kita pernah ciuman.’ Ucapan yang ingin sekali Kafeel ucapkan pada Val, mengingat ada Poppa, Mommy Ara dan Mami Prita selain Arya dan Sony serta saudara – saudari Val yang kembali cekikikan.


“Iya kan, Kak? ..”


Val kembali bersuara, setelah Kafeel selesai meneguk air minum.


“Nanti setelah kita menikah, kita buat babies yang lucu – lucu—“ Val malah kembali menegaskan hal yang membuat Kafeel jadi salah tingkah.


Kafeel mengusap tengkuk lehernya yang tidak kenapa – kenapa, saking ia bingung bagaimana  menanggapi ucapan Val.


“Ah Val jadi tidak sabar untuk segera dilamar Kakak!” seru Val antusias sendiri. “Lalu kita menikah.” Sambung Val.


Sementara Kafeel tersenyum kemudian setelah membereskan dirinya yang tersedak hingga dua kali.


Bahkan yang kedua, air yang Kafeel teguk sampai masuk ke hidungnya.

__ADS_1


“Ya, ya –“


Mika menanggapi dengan tidak minat ucapan Val yang katanya tak sabar dilamar oleh Kafeel lalu menikah. Sisanya tersenyum geli saja.


“Lalu setelah menikah, kita akan berbulan madu.” Sambung Val yang masa bodoh dengan tanggapan Mika yang nampak tak minat itu. “Iya kan Kak? ..”


Val pun menoleh pada Kafeel dengan tersenyum lebar, dan ekspresi wajahnya meminta Kafeel untuk mengiyakan.


“Iyain aja udah,” celetuk Arya sambil cekikikan. “Daripada dia loncat dari balkon?” sambung Arya lalu cekikikan lagi, termasuk Val yang ikut cekikikan.


Sisanya tersenyum geli saja, termasuk Kafeel.


“Jadi nanti kita mau bulan madu kemana Kak?” Val bertanya dengan entengnya-melanjutkan apa yang sebelumnya ia bahas, meski Kafeel tidak memberikan jawaban.


“Kita ini baru pacaran dua hari Val, itupun belum penuh,” jawab Kafeel. “Masa sudah ngomongin bulan madu aja?” sambungnya.


“Tahu ---“


“Tempe!” Lagi-lagi Val memotong ucapan Mika yang pasti mau mengeluarkan komentar, yang kalo ga cibiran, ya sindiran nan sinis dan ketus.


“Kuliah saja dulu yang benar.” Mengabaikan Val yang menyambar ucapannya, Mika meneruskan komentarnya. “Kuliah saja belum mulai, dah mikirin bulan madu!”


Val menjulurkan lidahnya pada Mika.


“Suka-suka aku dong!” debat Val.


Mika memutar bola matanya malas kemudian.


“Mika benar, Val lebih baik fokus pada kuliah dulu --” kata si AA.


“Ha! –“


Mika kemudian tersenyum lebar setelah mendengar Kafeel bicara.


“Tos Kak .. kita sepemikiran ..” ucap Mika sumringah sambil meraih tangan Kafeel dengan paksa untuk tos dengannya.


Val kemudian mencebik sementara Mika langsung terkekeh, dan Kafeel tersenyum geli. Sisanya ada yang lalu lalang atau sibuk dengan obrolan mereka sendiri.


“Kak Kafeel nih,” protes Val. “Bukannya sebagai kekasih Val mendukung Val, malah mendukung Mika ..”


“Bukan seperti itu juga Val, menikah itu kan ga sesimple itu juga.”


“Banyak yang harus dipersiapkan, dipikirkan dan dipertimbangkan----“


“Jadi Kak Kafeel maksudnya tidak yakin begitu dengan hubungan kita ini ----“


“Ya bukan seperti itu juga maksud aku, Val .. hanya masih terlalu dini untuk membicarakannya.”


“Tuh dengar---“ sambar Mika. “Benar itu yang Kak Kaf bilang!” sambungnya. “Iya kan, Pop?—“


“Hemm—“ Poppa hanya berdehem saja.


“Hem, berarti iya. Poppa setuju dengan pendapat aku yang mendukung apa yang Kak Kaf katakan itu barusan----“


Mika menunjukkan wajah kemenangannya dengan ekspresi yang meledek Val.


Val mencebik lagi, dan sisanya yang masih mendengarkan perdebatan unfaedah dua gadis belia yang sama cantiknya itu mendengus dan tersenyum geli saja.


“Mommy juga setuju dengan Mika yang mendukung ucapan Kak Kafeel kamu itu tadi.” Mommy Ara bersuara. “Benar kalau masih terlalu dini untuk membicarakan masalah pernikahan—“


Lalu Ibu Peri lanjut berkomentar.


“Dan ya Mom setuju dengan ucapan Mika juga ..”


“Lihat kan?” sambar Mika. Lalu ia tersenyum mengejek pada Val. “Ucapanku itu selalu benar .. Lagian, cita-cita sih nikah muda.”


Mika melanjutkan komentarnya dan Val memutar bola matanya malas. “Memang apa salahnya kalau cita-cita aku nikah muda?—“


“Ya tidak ada yang salah dengan itu.”


Mommy Ara kembali berbicara.


“Namun yang Mika katakan itu benar, soal bagaimana kamu memahami arti seorang istri. Terlepas dari apa yang menjadi hak dan kewajibannya –“


“Ibu Peri benar kok Val.”


Mama Jihan yang sedari tadi memang duduk disamping Val berbicara lagi.


“Sebelum memutuskan untuk menikah, banyak hal yang harus dipersiapkan, dipikirkan dan dipertimbangkan .. Seperti yang Kak Kafeel bilang tadi ---”


Mama Jihan lanjut bicara.

__ADS_1


“Karena seorang istri itu, tidak hanya harus tahu betul hak dan kewajibannya. Tanggung jawabnya. Perannya. Yang kadang tidak hanya mendampingi sebagai seorang istri aja, tapi juga sebagai sahabat untuk suami berbagi beban selain bahagianya ...”


Lalu Mama Jihan memberikan pengertian pada Val dengan bahasanya.


“Bahkan Mama dan para Moms yang lain, termasuk Kak Drea dan Kak Via, juga masih terus belajar menjadi istri, juga ibu yang baik.”


“Tapi kan Kak Drea menikah di usia tujuh belas tahun?”


Val menyela.


“Pasti pengetahuan Kak Drea tentang menjadi istri masih nol kan?. Tapi itu dinikahkan sama Abang?”


“Kak Drea itu menikah di usia tujuh belas tahun bukan karena keinginannya. Tapi memang Abang yang sangat menginginkan hal itu ---“


Mommy Ara pun menjelaskan.


“Lalu Dad R dan Poppa akhirnya memutuskan untuk segera menikahkan Abang dan Kak Drea karena pertimbangan yang berat ke Abang .. Makanya Kak Drea menikah diusia itu.”


“Sampe sini paham Neng Val?---“ Mami Prita menyambar untuk bicara.


Val manggut-manggut setelah ber-Oh ria.


“Paham tidak?-“ ucap Poppa yang berdiri dari tempatnya seraya bertanya.


“Iya Val paham ..” jawab Val sambil merungut.


Paham-kata Val.


Namun yang Val pahami adalah ..


“Coba Kak Kafeel macam Abang yang memaksa untuk menikah cepat-cepat dengan Kak Drea—“


Lalu,


“Kak Kafeel berarti ga cinta mati sama Val, macam Abang ke Kak Drea, makanya Kakak mengatakan butuh pertimbangan ya? ..”


“Aduh Dad R, panjang lebar aku dan lainnya berbicara, malah kesan itu yang dia tangkap. Haish ..”


Mommy Ara berkesah seraya menggumam sambil geleng-geleng. Kadang-kadang Mommy Ara juga hilang kata menghadapi Val yang benar-benar dahsyat kekukuhannya jika berhubungan dengan Kafeel.



“Kak ..”


Val memandang pada Kafeel.


“Ya, Val? ..”


“Kira-kira berapa lama itu Kakak mau mempersiapkan, memikirkan dan mempertimbangkan untuk melamar dan menikahi Val?”


‘Ah, ya ampun ini perawaannn!! ..’


Kafeel berkesah dalam hatinya.


Namun begitu, Kafeel tetap menampakkan senyumnya pada Val.


“Val ---“


“Jangan lama-lama Kak.” Val segera menyambar sebelum Kafeel yang hendak menanggapi ucapan Val itu lengkap berbicara.


“I ---“ Kafeel hendak lagi menanggapi.


“Soalnya kan Kak Kafeel sudah tua?” namun Val keburu menyambar lagi.


Dimana Kafeel menatap Val tak percaya karena dikatakan tua oleh Val.


“Ya bukan apa ---” Val lanjut bicara. “Kalau Val sih sampai kapan juga akan sabar menunggu Kak Kafeel siap untuk melamar dan menikahi Val .. Tapi justru Val mengkhawatirkan Kakak.”


“Kenapa gitu? ...”


Kafeel sontak bertanya.


“Ya Val kasihan pada Kakak, nanti kalau sampai dicibir orang-orang---“


Val dengan wajah tanpa dosanya.


“Yang mengatakan, Masa istrinya cantik dan muda, tapi suaminya tua begitu?—“


♥♥♥


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2