
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Mika CS telah selesai dari urusannya.
Urusan soal mengulurkan tangan, untuk sekedar meringankan beban pada sesiapa yang Mika CS kehendaki dengan beberapa pertimbangan-selain penilaian tentang pantas atau tidak pantasnya seseorang jika memang seseorang itu mereka bantu.
“Eh iya by the way May, kenapa kita tidak ajak saja ibu tadi dan dua anaknya itu Ke Mall ini untuk memberi pakaian dan sebagainya? ...”
“Bukannya aku ga mau, Val ...”
Mika pun merespon.
“Bukan juga karena malu mengajak mereka dengan penampilan mereka itu, tapi justru aku memikirkan mereka jika kita membawa mereka ke Mall itu .... mereka akan merasa tidak nyaman .... Ga semua orang Val, bisa menerima kehadiran orang macam ibu tadi di tengah mereka. You know lah-“
“Iya sih ...” tukas Val.
“Dan lagi, kebijakan Mall kan berbeda-beda Val. Siapa tahu, Mall itu, tidak memperbolehkan orang seperti ibu tadi dan anaknya masuk, walaupun datang dengan kita.”
Mika masih lanjut bicara, dan mereka yang berada di dekat Mika fokus mendengarkan serta memperhatikan si gadis judes itu.
“Jika dipintu masuk mereka dihadang ...” imbuh Mika. “Itu, sedikit banyak, akan menyakiti hati ibu tadi... dan aku ga mau seperti itu. Aku juga sudah berencana kok, mengajak ibu itu dan anaknya ke Mall tadi. Tapi nanti setelah aku mengirimkan pakaian bersih untuk mereka, setelah kita juga bertemu Ake, baru aku akan mengajak mereka ke Mall untuk sekedar berbelanja serta mengajak dua adik tadi main ....Aku hanya tidak tega, jika mendengar mereka dicerca, yang mana pasti ada diantara pengunjung Mall yang merendahkan orang lain, hanya karena penampilannya ....”
Kalau bagi Val, Aro, Kafeel serta Bram dan Dika, ucapan Mika mereka tanggapi dengan anggukan kepala.
Tanda, jika kelima orang tersebut sepaham dengan pemikiran Mika. Namun bagi seseorang yang matanya baru benar-benar terbuka dan melihat sisi Mika yang lain dari apa yang selama ini terlihat di matanya, selain ia malu hati-seseorang itu merasa takjub pada gadis judes nan hedon dalam pandangannya itu..
Terenyuh mendengar penuturan Mika yang ia kenal judes dan hedon itu, sampai memikirkan kenyamanan perasaan orang lain yang ia tolong-yang benar seperti yang Mika bilang, jika diajak ke suatu tempat yang dinilai tidak sesuai dengan penampilan-dalam hal ini si ibu yang Mika tolong dan dua anaknya, kiranya, satu dua, pasti ada pengunjung lain yang mencibir ibu itu dan kedua anaknya. Dan Mika sampai memikirkan perasaan ibu tersebut.
'Mikaela Finn Adjieran Smith, rasanya gue pengen peluk elo sekarang ....'
Itu bisik hati seseorang yang kini sedang terkagum-kagum pada Mika. Arya.
‘Damned hati. Lo kenapa dug-dug-an gini? ....’ Arya merasakan hatinya sedikit bergetar.
♥
Tak butuh waktu lama untuk Mika CS sampai ke rumah Keluarga Cemara, sebutan untuk rumah tergolong mewah dalam kawasan daerah tempat Ake Herman dan Ene Bela tinggali-di suatu kota yang tak begitu jauh dari Jakarta.
Baik mobil yang ditumpangi Mika CS, serta Rery CS - berikut mobil yang digunakan para bodyguard para pewaris muda generasi adik tersebut, kini telah berada di halaman depan rumah Keluarga Cemara yang cukup luas itu.
“ASSALAMU’ALAIKUM! ANAK-ANAK SHOLEH DAN SHOLEHAH DATAAANNG .... YUHUUUU ....”
Suara Isha yang langsung memecah nyaring saat ia dan rombongan – kecuali para bodyguard dan supir, telah sampai di ambang pintu masuk utama rumah Keluarga Cemara.
“What a voice!”
Papa Lucca yang sontak nyeletuk sambil geleng – geleng dan terkekeh setelah suara putri kandungnya Papi John dan Mami Prita terdengar menggelegar di ruang tamu rumah Keluarga Cemara, dimana sebagian dari para anggota keluarga yang sedang menjenguk Ake Herman itu ada dan sedang duduk - duduk di ruangan tersebut.
Lalu Papa Lucca terkekeh, diikuti kekehan dari mereka yang bersama Papa Lucca karena kelakuan satu putri mereka yang paling ceriwis itu. Persis kek emaknya waktu muda dulu.
Sebenarnya Drea juga sama ceriwisnya macam Isha. Namun sejak menikah, perlahan sikap Drea lebih dewasa dalam bersikap, terlebih setelah menjadi ibu. Tapi tetap ada keceriwisan di dalam diri Drea macam Momma.
“APAKAH KALIAN MERINDUKAN KAMI WAHAI PARA AYAHANDA DAN IBUNDA SERTA PARA GRANDPA DAN GRANDMA YANG KAMI DOAKAN PANJANG UMUR SENANTIASAA ....”
Masih Isha mengoceh kocak dengan cerocosan tanpa titik dan koma.
“BERISIK!” Ibu kandung Isha yang menimpali kelakuan anaknya yang sekarang sedang cekikikan itu.
Yang orangnya ga sadar, kalau kata ‘Berisik’ yang ia lontarkan pada Isha atas suara anaknya yang menggema barusan itu sebenarnya berbalik juga padanya.
Karena suara Mami Prita yang menyergah kelakuan anaknya itu, juga sama pecahnya seperti Isha.
Membuat yang melihatnya mendengus geli dan terkekeh. “Ga heran si Isha suaranya cetar membahenol begitu kan?” celetuk Oma Anye, yang membuat mereka yang bersamanya terkekeh kecil.
“Masuk bukannya ngucapin salam! –“
Mami Prita buka suara lagi. Mendelik pada Isha.
“Idih, Isha udah ngucapin si tadi pas masuk. Mami aja yang ga denger.”
Isha membela diri, sambil meraih tangan sang ibu kandung untuk menyalim takdzim pungung tangan ibu kandungnya tersebut.
“Nyaut aja kalo dibilangin!” tukas Mami Prita, sambil menoyorkan wajah Isha saat putri kandungnya itu sedang menyalim takdzim padanya.
Isha kembali cekikikan saja, lalu menyambangi lainnya yang berada di ruang tamu untuk menyalim takdzim dan diikuti oleh mereka yang datang bersama Isha, setelah lebih dulu menyalim takdzim pada Mami Prita yang berdiri tak jauh dari pintu masuk utama rumah Keluarga Cemara.
♥
“Yang lainnya mana?”
Ini Aina yang bertanya.
“Gappa dan Gamma, serta Nene Yuna lagi istirahat di kamarnya. Sebagian di teras atas, sebagian lagi nyari jajan,” Via yang menjawab.
“Di? ....” tanya Aina lagi.
“Kak Drea lagi pengen pancong balap yang di deket kali pas arah ke rumah Keluarga Cemara dulu waktu Poppa sama Momma nikah.”
“Kak Drea lagi ngidam? ---“
Val bertanya.
“Mungkin? ---“
♥
“Ake mana? ....” tanya Mika pada mereka yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
“Di kamar-“ Daddy Dewa yang menjawab pertanyaan putri kandungnya itu.
“Sedang tidur?” gantian Rery yang bertanya.
“Engga sih kayaknya, tadi lagi ngobrol sama Papa Bear, Papi, Daddy R dan Poppa.“
Kembali Daddy Dewa yang menjawab pertanyaan. Lalu Mika, Rery dan para saudara – saudarinya yang lain pun manggut – manggut.
“Ya udah, kami ke atas dulu ya?” pamit Aro mewakili para saudara – saudarinya.
♥
Para pewaris muda The Adjieran Smith generasi adik itu menyambangi mereka yang sedang berada di teras atas rumah Keluarga Cemara, untuk menyalim takdzim pada mereka yang nampak bercengkrama di tempat tersebut.
“Akenya mana?..”
“Belum lama masuk kamar.”
Para pewaris muda itupun langsung manggut – manggut, setelah mendengar jawaban dari Papi John.
Termasuk juga Arya dan Kafeel yang memang mengekori para pewaris muda tersebut sedari masuk ke dalam rumah Keluarga Cemara, untuk menyalami para orang tua dan tetua The Adjieran Smith yang ada di rumah, yang mereka sebut sebagai rumah ketiga mereka.
Rumah pertama adalah kediaman di London yang mereka sebut sebagai The Great Mansion, sementara yang kedua adalah kediaman mereka yang berada di Jakarta, yang mereka sebut sebagai Kediaman Utama.
Yang mana sama saja artinya, hanya disesuaikan dengan bahasa kedua tempat itu berada.
“Ya sudah, kalau begitu kami temui Ake dulu ya?..”
♥
“Assalamu’alaikuuumm!!-“
Bak kelompok paduan suara, para pewaris muda generasi adik di bawah Varen, Nathan dan Drea itu mengucapkan salam dengan serempak ke kamar salah satu kakek dan nenek mereka.
Kafeel dan Arya yang juga mengekori para pewaris muda The Adjieran Smith generasi adik itu menyusul mengucapkan salam kemudian.
“Wa’alaikumsalam ...” Balasan salam pun terdengar dari mereka yang berada di dalam kamar.
Kamar pribadinya Ake Herman dan Ene Bela.
Mika CS langsung berhambur mendekat pada mereka yang ada di dalam kamar Ake dan Ene itu untuk menyalim takdzim, memberi pelukan kecil dan cipika – cipiki, lalu langsung menuju ranjang dimana sang Ake sedang duduk bersandar disana, dengan Momma dan Mommy Ara yang berada didekat Ake Herman.
“Akee!!...” Lagi – lagi suara Mika CS terdengar kompak memanggil Ake Herman bak kelompok paduan suara, saat mendekati sang Ake yang sedang kurang fit kondisinya itu.
“Cucu – cucu Ake yang blaem – blaem nyampe juga,” ucap Ake Herman pada Mika CS yang langsung menyalim takdzim tangannya, memeluk lalu menciumi pipi Ake Herman bergantian.
Setelah sebelumnya melakukan hal yang sama pada Momma dan Mommy Ara serta Ene Bela, seperti halnya yang Mika CS lalukan pada keluarga mereka lainnya yang sudah ditemui lebih dulu.
Dan memang, hal itu sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga The Adjieran Smith, yang selalu berinteraksi hangat satu dengan yang lainnya, selain rame.
“Pegimane rasanya pake pesawat biasa?” tanya Ake Herman pada para cucu yang kemudian membentuk formasi sendiri – sendiri untuk berada di dekat Ake Herman – terkecuali Kafeel dan Arya yang berdiri di dekat ranjang, sampai tiga orang yang sebelumnya ada di dekat si Ake lebih dulu, jadi beringsut secara otomatis.
Lalu pertanyaan – pertanyaan soal Ake kenapa kok bisa sakit?, Ake emang sakit apa?, Ake udah ke dokter kan?..
“Pokoknya Ake pesen nih ya sama semua nih, kalian-kalian, wahai cucu-cucu Ake yang blaem-blaem pada... Tetep terus pada akur begini ..... jangan pada berantem, jangan pada musuhan,” kata Ake Herman pada para cucu yang amat ia cintai itu tanpa membedakan mana cucu yang sama darah dengannya atau tidak.
“Iya Ake ..”
Para cucu itu pun menyahut dengan kompak.
“Ake seneng banget dah bisa ngeliat ini cucu-cucu Ake pada gede. Pada cakep, pinter, pada akur, patuh ama orang tua ... Mudah-mudahaan ye, Ake bisa ngeliat kalian ini cucu-cucu Ake pada nikah..” cerocos Ake Herman.
“Aamiin ...” sahut Mika CS serempak. “Ake juga sehat – sehat ya? ...”
“Insya Allah iya, Ake sehat terus biar bisa sama – sama cucu – cucu Ake yang pada blaem – blaem ini.“
“Aamiin ...” Mika CS termasuk lainnya yang mendengar ucapan Ake Herman itu mengaminkan dengan serempak doa si Ake.
“Eh iye, katanya Val udeh dilamar, ini sama si AA?” tanya Ake Herman sambil memandang pada Val dan Kafeel. Dimana Val langsung mengangguk antusias.
“Iya, Kek –“ Kafeel menjawab. “Aku udah melamar Val waktu di Singapura kemarin.” Imbuhnya.
“Alhamdulillah.” Ake Herman berucap penuh syukur.
“Maaf ya Kek, aku tetap melanjutkan lamaran ke Val waktu di Singapura, karena aku pikir semua akan ada disana,” tukas Kafeel. Sambil Kafeel mengusap lengan Ake Herman dengan kasih.
“Ngapain minta maap si?-“
Ake Herman menyahut.
“Justru Ake ama Ene seneng bukan maen waktu denger katanya kamu mau ngelamar Val ..”
“Alhamdulillah kalo gitu Kek.”
Kafeel tersenyum lega.
“Terus kapan nikahnya?-“
Nene Bela menyambar.
“Seminggu lagi kek Momma sama Poppa noh?”
“Kalau bisa sekarang juga, Val mau Ne!-“ tukas Val.
Dimana ucapan Val tersebut mengundang para saudara dan saudarinya kompak berdecak malas.
“Gatal!”
Dan tangan Mommy Ara dengan cepat menoyor kepala putri kandungnya itu.
__ADS_1
Lalu kekehan pun menyelimuti kamar Ake Herman dan Ene Bela, di rumah pribadi mereka tersebut.
“Untuk menikah, aku akan melaksanakannya dengan segera, Kek,” ucap Kafeel. “Tapi sebelum itu, aku akan melamar Val secara resmi dulu dihadapan semua keluarga.”
Kafeel berucap lagi, sambil memandang tak hanya pada Ake Herman seraya ia tersenyum, dan senyuman Kafeel berbalas dari mereka yang Kafeel pandangi satu per satu bergantian.
Terlebih saat melihat sikap Kafeel yang terlihat sangat mencintai Val dari pancaran mata pria itu yang setelah berucap dan memandangi keluarga Val yang ada didekatnya, Kafeel kemudian membelai lembut kepala Val dan tersenyum teduh kepada kekasih kecilnya itu yang juga balas tersenyum bahagia pada Kafeel.
“Agar setelahnya pembicaraan resmi tentang pernikahan kami bisa lebih nyaman dibicarakan dan diatur sedemikian rupa, sesuai keinginan satu cucu Kakek Herman ini ini,” tutur Kafeel. “Cucu Kakek Herman dan Nenek Bela yang amat aku cintai-“ imbuh Kafeel.
“Terbang lah si ulat bulu!” celetuk Mika.
“Iri nih ye?...”
Val menukas cepat. Dan kekehan terdengar lagi.
“Pokoknya, Ake, Ene bakalan ikut bahagia, kalo cucu – cucu Ake sama Ene pada bahagia.”
“Sayaaanngg Akee ...”
Mika CS berhambur memeluk Ake Herman.
Yang melihat pemandangan tersebut tersenyum teduh.
“Udeh, ntar mejret itu engkong – engkong di keroyok begitu!”
Celetukan keluar dari mulut Momma, yang kembali menciptakan kekehan.
“Ya udeh ye, Ake mau istirahat dulu,” ucap Ake Herman kemudian. “Ake mau titip pesen sama kalian kalo boleh,”
Dimana wajah – wajah yang tadi mengembangkan senyuman berubah menjadi serius. “Ake apaan sih? ...”
Mika menyergah dengan wajahnya yang nampak sendu, begitu juga mereka yang berada di dekat Mika.
“Iya Ake apa sih pakai titip pesan segala?? ...” timpal Val, yang bahkan matanya sudah berkaca – kaca. “Tidak mau, kami tidak mau dititipkan pesan.”
Suara Val sedikit bergetar. Ada rasa takut dan was – was yang menyelusup di hatinya.
Sama seperti semua orang yang berada bersamanya, yang kini sedang menatap serius pada Ake Herman.
“Ya udeh kaga ape – ape kalo emang Ake ga boleh titip pesen. Ake mau tidur dulu ya?—“ ucap Ake Herman sambil memejamkan matanya.
Mika CS langsung saling tatap satu sama lain.
Dimana Momma dan Ene Bela serta Mommy Ara juga ikut saling tatap.
“Akee? –“
“Paahhh? –“ Mereka yang berada di kamar pribadi Ake Herman dan Ene Bela terdengar melirih kemudian.
“Akee ...”
Sesaat kemudian ratapan terdengar dari Mika CS dengan mata mereka yang sudah basah.
Momma, Mommy Ara dan Ene Bela segera mendekat.
“Papaahh –“ ikut meratap juga.
“AKEE!! ...”
Ratapan Mika CS jadi mengencang, dengan sebagian mengguncang lengan Ake Herman.
Membuat mereka yang berada di luar kamar pribadi Ake Herman dan Ene Bela itu sontak segera berhambur kesana karena mendengar pekikan kencang Mika CS.
Sementara itu ...
Setelah Mika CS memekik kencang dengan mata yang sudah basah,
“Het dah! Ake mau tidur ini, ngantuk beut abis minum obat! –“
Yang sedang ditangisi membuka mata dengan malas – malasan saking matanya udah lengket.
“Malah diuncang – uncang! Teriak lagi? Budek dah nih Ake!”
Yang matanya pada basah pun seketika terdiam. “A – ke, ga apa – apa? ...” ucap Ares yang tergugu. “Ake jangan pergi ...”
“Lah sape yang mau pergi? kaga liat ape? ini Ake lagi di tempat tidur? mau kemane emang? ... Dikata ngantuk!” cerocos Ake Herman dengan matanya yang terpejam. “Pada minggir dah yak? Ake mau rebahan ini ...”
“Tapi tadi Ake –“ Aro tergugu.
“Kan tadi Ake bilang, Ake ngantuk, abis minum obat.”
“Tapi Ake kenapa ga nyaut waktu kita panggilin?” lirih Isha.
“Ake udah eles,” sahut Ake Herman. “Malah pada uncang – uncang badan Ake segala teriak lagi.”
“Habis kami khawatir Ake –“ Rery ikut bersuara. “Ake tahu – tahu memejamkan mata terus tidak menyahut saat kami panggil – panggil.”
Dan ucapan Rery itupun di aminkan oleh lainnya.
“Iya, Ake ... Ake juga tadi hendak titip pesan kan? ...”
“Ya Ake meremin mata, karena emang Ake ngantuk ini tiap abis minum obat ngantuk beut mata, bukan lima watt lagi, tapi se – watt.”
Ake Herman berucap.
“Ake titip pesen tuh, ntar kalo si Varen ama si Drea pulang, pancong balap sisain. Abis bangun tidur biasanya perut Ake minta diisi cemilan -”
“Het dah engkong – engkong bikin orang pada jantungan!” Momma dan Ene Bela menggerutu.
__ADS_1
♥♥
To be continue .....