HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 141


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, West Java, Indonesia...


“Astagfirullah!”


Mika spontan mengucapkan istigfar, kala ia dibuat terkejut atas kehadiran satu sosok yang tahu-tahu sudah ada dihadapannya sewaktu Mika berbalik badan sehabis mengambil dua macam saos dan sebotol kecap dari dapur rumah Keluarga Cemara, yang kini sudah ada di tangannya.


Adalah Arya, sosok yang sudah berdiri tegak dihadapan Mika saat ini-yang tidak Mika sadari jika Arya mengekorinya, saat si sadboy melihat Mika sedang melangkah ke arah dapur.


“Kok, lo masih disini? –“ ucap Mika seraya bertanya. “Bukannya rombongan yang mau pulang ke Kediaman sudah berangkat?”


“Iya emang udah ....”


Arya pun langsung menjawab.


“Nah terus lo, kenapa masih disini, Sadboy?” ucap Mika lagi seraya bertanya pada Arya.


“Karena ada yang mau gue omongin sama lo, Mi ....”


Mika sedikit mengernyit atas ucapan Arya. “Tentang?” Mika lantas bertanya.


“Ada deh pokoknya,” jawab Arya.


“Dih, gimana sih lo? Katanya mau ada yang diomongin sama gue, tapi malah bilang begitu?” sergah Mika dan Arya mendengus geli.


“Iya nanti ngomongnya-“ kata Arya kemudian. “Lo mau makan bakso dulu kan?”


“Iya, sih-“ Mika mengiyakan pertanyaan Arya.


“Lagian saos udah ditungguin tuh.”


“Heemm-“ sahut Mika dengan berdehem pelan.


“Ya udah-“


Deg ....


Ada hati yang berdentum kecil, kala kepalanya diusap pelan.


Berikut pelaku pengusapan yang mengulas senyuman.


“Lo makan dulu, abis itu kita ngomong-“


Arya berucap.


“Gue sih yang mau ngomong sama lo.”


“I, iya ....”


Mika menyahut kikuk, namun sebisa mungkin ia menjaga sikapnya didepan Arya.


“Sini gue yang bawain itu saos ....” tawar Arya. Sambil ia mengambil dua botol saos beda varian dari tangan Mika.


‘Hati, please deh, ga usah lebay!’ Mika memperingati hatinya.



“Lo nginep juga disini kan, Sadboy? ....” tanya Nathan kala ia dan para adik berikut Via berkumpul di ruang tengah rumah Keluarga Cemara sambil menikmati bakso beranak yang dibeli dari kedai bakso langganan mereka, asal sedang berkunjung ke rumah Ake dan Enenya yang ada di Bekasi itu.


“Nginep aja Kak .... Kak Arya bisa pake kamar yang biasa dipakai Aro, Rery dan Ares.”


“Iya Kak Arya, nginep disini aja bareng kita orang,” celetuk Aro. “Begadang kitaa.”


Arya pun mendengus geli.


“Kalo ada yang ga keberatan sih, mau-mau aja gue nginep.”


Arya melirik pada Mika yang nampak woles aja menikmati bakso di mangkoknya.


Yang membuat Arya sedikit heran, karena si judes yang selalu sentimen padanya itu tak mengeluarkan protes atas ucapannya yang mengiyakan untuk menginap di rumah Keluarga Cemara secara tidak langsung. Yah meski Mika nampak masa bodoh juga sih.


“Lo keberatan ga Mika?” tanya Arya secara frontal namun dengan bernada santai. Dan yang disebut namanya pun menoleh.


Arya langsung menggerakkan kepalanya pada Mika saat Mika menoleh padanya itu.


“Kenapa lo tanya gue? Hak elo itu sih ....”


Mika balik bertanya serta berucap malas.


“Ya lo kan biasanya alergi sama gue? ....”


Mika hanya mendengus saja kemudian selepas mendengar ucapan Arya yang barusan.


Lalu Mika meneruskan lagi menyantap bakso bagiannya.


Sementara Arya mesam-mesem saja, sambil juga kembali melanjutkan menikmati bakso bagiannya.


“Udah jinak kayaknya dia sama lo sadboy. Udah ga alergi lagi kan lo sama si Arya Narendra ini. Ya, May?” celetuk Nathan.


Mika hanya mengendik malas sambil tetap menikmati bakso bagiannya. Sementara yang didekat Nathan, Mika dan Arya hanya mesam-mesem saja.


“Udah jinak, soalnya kan mau coba jalanin sama Kak Arya, ya May? ....”


Dan,


“Uhuk! Uhuk!”


Celetukan Drea membuat Mika sampai tersedak bakso yang sedang ia kunyah.



Mika menebalkan telinganya setelah mendengar riuh cie-cie-an dari para saudara dan saudarinya selepas Drea mengatakan sebaris kalimat yang membuat Mika sampai tersedak.


“Wah, sepertinya memang ada tanda-tanda Mika mau memulai hubungan dengan Kak Arya nih ya? –“


Val berkomentar.


Mika langsung berdecak. “Ga usah usil mulut,” tukas Mika kemudian.


“Loh buktinya kamu ga protes waktu Kak Drea bilang ‘Udah jinak, soalnya kan mau coba jalanin sama Kak Arya’? ....”


Val lagi berkomentar.


“Karena aku sedang malas menanggapi mulut usil kalian.”

__ADS_1


“Masa?” ledek Val. “Atau kamu diam, karena didalam hati mengiyakan ya mau pacaran dengan Kak Arya?”


“Ish!” desis Mika, sambil menarik sedikit rambut Val yang orangnya malah ngekeh. “Rese!” desis Mika lagi setengah sinis pada Val.


“Kak Arya emang udah nembak Kak Mika? –“


“Bocil ga usah ikut-ikutan ... sok tau nembak-nembak! ...”


Mika dengan cepat menoyor kepala Ares yang iseng ikut nyeletuk itu.


Dimana pemilik kepala yang Mika barusan toyor itu hanya ngekeh aja.


Sementara sisanya mendengus geli, sementara Mika hendak bangkit dari duduknya karena bakso bagiannya telah habis ia makan.


“Sini Non Mika mangkoknya-“ seorang ART di rumah Keluarga Cemara mengulurkan tangannya pada Mika.


“Ga apa Mba Sifa, biar aku sendiri yang meletakkan mangkok sama gelas bekas aku ke wastafel... Mba Sifa sama Bi Nini bukannya istirahat aja,”ucap Mika pada kedua ART Ake dan Ene Keluarga Cemara itu. Dua ART itupun tersenyum.


“Kan Mba Sifa sama Bibi Nini dan Mang Ateng sama laennya juga abis pada makan Non-“


Salah satu ART menjawab pada Mika.


“Jadi entaran dulu istirahatnya,” sambung ART yang bernama Sifa itu.


“Iya Non, ini kan juga sekalian bawa bekas makan minum aden-aden sama non-non yang laen-“


Satu ART yang biasa dipanggil Bi Nini itu pun ikut bersuara, dan Mika pun mengangguk pada akhirnya sambil ia memberikan mangkok dan gelas bekasnya pada Bi Nini.


“Makasih ya Mba Sifa, Bi Nini,” ucap Mika santun pada keduanya, seraya Mika tersenyum.


“Sama-sama Non....”


Kedua ART di rumah Keluarga Cemara itupun membalas ucapan terima kasih Mika pada mereka, kemudian berlalu dari hadapan Mika menuju dapur.


Mika memang judes. Setidaknya kesan itu yang akan ditangkap darinya jika dari luar. Tapi tetap Mika akan bersikap santun pada para pekerja dalam lingkup keluarganya.


Kadang memang Mika suka bicara dengan ketus, namun tidak sampai merendahkan para pekerja dalam lingkup keluarganya. Para pekerja dalam lingkup keluarga Mika pun sudah paham sifat masing-masing tuannya.


Nona Mikaela yang ketus itu, seringnya hanya sekedar ketus, namun tidak serius jika memang dia sedang sebal akan sesuatu. Memang pembawaan Mika seperti itu.


Namun begitu, Mika sama seperti para wanita lain dalam keluarganya yang berhati dermawan dan ringan tangan dalam arti yang baik. Juga tidak serta merta berat untuk melakukan pekerjaan rumah terkecuali memasak, karena Mika yakin dia tidak memiliki bakat untuk itu.


Kalau pekerjaan rumah, dari Abang Varen sampai Ares-meskipun mereka memiliki bejibun ART, tetap masing-masing diperkenalkan sama yang namanya pekerjaan rumah tangga. Dari mulai merapihkan kamar sendiri, sampai mencuci piring, walau dapat dihitung dengan jari Varen dan adik-adiknya melakukan hal tersebut.


Karena ada ART yang sigap untuk melakukan ragam pekerjaan rumah tangga di tempat tinggal pribadi dalam lingkup keluarga mereka.


Hanya saja, Varen dan adik-adiknya, memang sengaja digembleng dengan sedemikian rupa, agar kemandirian Varen sampai Ares miliki untuk pegangan mereka.


Karena hidup itu kan seperti ban mobil yang berputar kalo pas mobilnya jalan.


Begitu, kiranya kata para orang tua, yang memang tahu bagaimana melakukan pekerjaan rumah tangga.


Jangankan para wanita dari mulai Gamma sampai Mom Ichel, para sultan dari Daddy R sampai Papa Lucca bahkan, bisa mengerjakannya.


Bahkan Gappa yang diperlakukan bak bangsawan dari ia kecil, namun Gappa tidak buta pada pekerjaan rumah tangga, karena dulu sering membantu satu ibu kandung dan dua ibu angkatnya.


Hal itupun dicopy oleh Poppa yang walaupun ia terlahir kaya sejak embrio, Poppa tetap pernah hidup sendiri di apartemen saat kuliah tanpa ada seorang ART yang standby di apartemennya. Satu, karena Poppa bukan seorang Tuan Muda yang manja, mengingat dia lebih suka berada di jalanan-istilahnya.


Tak usah heran, jika mental Poppa sekokoh baja, seirama dengan otot di tubuh dan kekuatan yang ia punya.


Kedua Poppa punya prinsip, ‘Tidak ada yang orang lain bisa lakukan tapi dia tidak bisa’.


Para Dad yang lain pun, kurang lebih sama.



Lain para Dad, lain Varen.


Satu Tuan Muda ini pun sama diperlakukan layaknya bangsawan oleh para orang tua dan kakek neneknya.


Namun begitu, Varen tetap juga terima saat diperkenalkan dengan yang namanya pekerjaan rumah tangga, yang pada akhirnya memang berguna saat ia kuliah di tempat yang jauh dari keluarga.


Well, Varen juga punya prinsip mutlak dalam hidupnya selain mencintai Little Starnya sampai nafas terakhir.


Sama lah seperti para Dadnya yang bucin stadium akut itu pada para Momnya.


Dan prinsip Varen yang kedua, ‘Tidak ada yang para Dadnya bisa lakukan, tapi Varen tidak bisa.’


Simpel saja alasannya, Varen tidak mau kalah dengan para Dadnya-selain Varen mengagumi mereka.


Well, yang dialami oleh Poppa dan para Dadnya sebagai Tuan Muda-serta juga Varen, juga diterapkan pada adik-adik dari mulai Drea juga sampai Aina dan Ares.


Setidaknya, akan terpatri di otak mereka, apa yang dapat dilakukan sendiri, maka jangan minta orang lain untuk melakukannya, apalagi menyangkut hal-hal yang enteng.


Mencuci bekas makan sendiri contohnya.


Ada hari dimana para pewaris muda-sebelum Varen, Drea dan Nathan menikah, nama mereka beserta para adik akan tertulis dalam satu daftar pekerjaan rumah tangga. Hanya satu macam saja tiap anak, itupun ga sering-sering amat.


Tapi yang jelas, para pewaris muda itu tidak manja yang berlebihan. Tidak hanya tahu yang namanya dilayan. Karena sekali lagi, hidup di depannya bagaimana, tidak ada yang tahu, walau harta keluarga mereka rasanya tidak akan habis sampai belasan turunan.


Ya, asal ga cuma ongkang-ongkang kaki aja kerjanya. Karena sebanyak apapun harta yang kita punya kalau tidak dikelola untuk dipertahankan dengan sebaik-baiknya, akan habis dengan cepat bukan?. (sah elah).


Jadi ya begitulah kira-kira, para tetua dan orang tua mengajarkan anak-anak mereka untuk bisa mandiri selain tangguh sedari dini. Bagaimana nanti mereka menerapkannya dalam hidup anak-anak mereka itu masing-masing, setidaknya para orang tua telah rasanya memberikan ragam nasehat pada anak-anak mereka tersebut.


Pendidikan agama pun tidak lupa diberikan dengan secukup-cukupnya, walau para orang tua, The Dads utamanya, masih menganggap diri mereka bukanlah umat yang baik. Walau, ibadah wajib sudah enggan untuk dilewatkan. Tapi tetap terkadang ada silap yang terselip.


Noted, Main perempuan.


Satu kesilapan, yang para pria The Adjieran Smith tidak akan pernah lakukan.



Meninggalkan sekilas info tentang bagaimana para Pewaris Muda The Adjieran Smith dididik oleh para orang tua mereka, kini kembali kepada dia yang tadi hendak membawa bekas makannya sendiri ke dapur rumah Keluarga Cemara, dan kini Mika sudah bergabung dengan para cewe-cewe yang memisahkan diri dari para cowo-cowo, termasuk satu engkong dan dua aki-aki wannabe yang tetap menginap di rumah Keluarga Cemara, karena istri dari dua aki wannabe itu adalah anak kandungnya Ake Herman dan Ene Bela.


“Drea, Via, ini susunya Putra sama Gadis mana? –“ celetuk Momma. “Disini ga ada stoknya udah –“


“Ya ampun!” Dua mamah muda yang disebut Momma tadi sama-sama memekik kecil.


Dimana picingan tajam Momma mengarah kepada dua mamah muda yang sama-sama memekik kecil dan menepak jidat mereka masing-masing dengan nampak kompak.


Kemudian Drea dan Via sama-sama nyengir kuda sambil memandang pada Momma.


“Susunya Put-Put yang dibawa ke SIN pas banget habis. Dan Drea lupa, padahal inget tadi mau beli pas dijalan arah kesini mau mampir beli.”


“Susu Gadis lupa di turunin tadi dari mobil. Via baru ngeh Momma.”


“What a habit (Kebiasaan)!” tukas Poppa.

__ADS_1


“Ya namanya juga orang lupa, Pop.”


Drea menyahut sambil bibirnya mengerucut.


“Heh!”


Poppa menanggapi dengan sinis pembelaan diri putri sulung kandungnya itu.


Drea kembali nyengir kuda, kini pada Poppa. “Lalu kenapa kalian berdua masih berdiri disini, bukannya membelikan susu kedua cucuku itu?”


Poppa berucap.


“Kalau ada fashion terbaru, kalian macam The Flash!”


Mencibir kemudian.


“Hoy! Dua bocah tengik yang sudah beristri!”


Poppa beralih kepada Varen dan Nathan. Dimana Poppa yang hendak merepet itu menjeda sesaat repetannya, karena mendapat kepretan dari Momma.


“Ish! Jangan teriak-teriak kenapa?” protes Momma. “Kamu nafas aja udah ngebas, D!”


“Siapa yang teriak-teriak oh my sweetheart?—“ ucap Poppa. “Suara aku sudah lembut sekali ini ...”


Yang mendengar cekikikan.


“Segitu die bilang lembut? ...” Mami Prita menggumam geli.


“Wasaibut!” tukas Momma dan Poppa terkekeh kecil.


“Hoy Alvarend Aditama dan Jonathan Alton Smith! Kalian tuli?!”


“Iyaaa Pooppp!!! ....” sahut kedua orang yang disebut namanya oleh Poppa barusan, yang sedang asik mabar game online bersama para cowo-cowo lain kecuali Ake Herman, Poppa dan Papi John-yang memilih bercengkrama dengan kedua cucu dan istri, serta mertua.


“Kalian urus ini istri kalian yang lupa membelikan susu dua cucuku!”


Dan Poppa pun merepet.


“Jangan mentang-mentang kalian menyusu langsung dari pabriknya terus lepas tanggung jawab sebagai ayah!”


Poppa ish!.



“Minta tolong saja Mang Ateng atau siapa yang belikan sih Pop-“


Suara Varen terdengar menanggapi Poppa.


“Para terminator juga ada, tinggal minta tolong aja apa susah?-“


“Ho oh!” timpal Nathan.


“Hoh! Baik.” Poppa pun menanggapi dua anak lelakinya yang masih woles mabar game online itu. “Bagaimana kalau kalian berdua aku ceraikan dari Drea dan Via lalu kunikahkan mereka dengan para terminator yang lebih siaga dari kalian?-“


Enteng saja Poppa berbicara.


“Heits!”


Dan dua orang yang diancam Poppa itupun langsung saja bangkit dari duduknya dan memandang pada Poppa.


“Enak saja anda berbicara Tuan Besar Andrew Smith,” ucap Varen kemudian dan langsung diangguki oleh Nathan.


Poppa hanya mendengus sinis. Sementara penonton mendengus geli. “Sudah sana belikan susu kedua cucuku!”


“Iya, iya!”


“Sini aku aja yang belikan susunya Putra dan Gadis-“


Mika hadir ke tengah dua pihak yang bertikai unfaedah itu.


“Yang bener nih Dek Mikaela?-“ celetuk Nathan dan Mika pun mengangguk.


“Ada yang mau aku beli juga di minimarket.”


“Ye jangan Mika, itu minimarket rada jauh dari sini. Suruh si Ateng apa siapa kek yang pergi beliin itu susunya Putra sama Gadis.”


“Ga apa Ne, sekali-sekali.”


“Ye ini udah malem, terus kalo naek mobil entar pulangnya kudu muter dulu, macet pas puteran malem minggu gini.”


“Naik motor kalau begitu Ne.”


“Eh itu lebih bahaya lagi. Cewek cakep sendirian naek motor, biar belom malem-malem amat juga.”


“Sama aku aja kalo gitu.”


Mika langsung menoleh pada dia yang baru saja menawarkan diri untuk menemani dirinya.


“Nah kalo sama Arya silahkan dah.” Tukas Ene Bela. “Sekalian malem mingguan pan yak?”


Mika pun mendelik.


“Ih apa sih Ne? ..”


Lalu Mika menyergah.


“Ga ape-ape, kenape emang?.... Udeh pacaran kan kalian?”


“Ih siapa yang pacaran-“


Namun belum sempat Mika melanjutkan ucapannya, si Sadboy keburu nyamber.


“Ya udah jadiin aja gimana?. Yok pacaran yok?!”


“Ih!”


“Atau mau langsung kupinang kau dengan Bismillah?”


“Pepet terus Sadboy itu Neng Mika, jangan kasih kendor!”


*


Bersambung....


Jangan lupa jejak dukungan kalian jika berkenan memberikan.


Ma acih.

__ADS_1


Loph Loph,


Emaknya Queen.


__ADS_2