HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
MISI CINTA


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Little Star Island, Isola, Italia...


“Gue udah ga cinta sama lo, Ar..” adalah kalimat yang Mika katakan pada Arya yang sedang menatap intens padanya.


“Munafik..” yang Arya ucapkan sebagai responsnya atas kalimat Mika padanya itu, setelah Arya mendengus remeh. “Udah ga cinta sama gue tapi ini masih lo pakai?” kata Arya lagi seraya tersenyum miring, sambil memegang bandul dari kalung yang sedang Mika kenakan di lehernya.


Kalung yang Arya tahu persis storynya.


Karena Arya sendirilah yang memberikannya pada Mika sebagai simbol tanda jadi mereka sebagai sepasang kekasih.


“I – ini karena, gue.. gue suka sama modelnya..”


“Bacod lo, Mi –“


“He – mmphh..”


Mika yang hendak menyergah ucapan Arya yang terdengar merutukinya itu, tak sampai untuk berkata atau melayangkan protes, atau memastikan pendengarannya.


Sebab Arya membungkam bibir Mika dengan bibirnya.


Mika membeku seketika.


Ini bukan ciuman pertamanya dengan Arya.


Tapi sudah lama sekali fase ini tidak Mika rasa.


Fase dimana Arya mel*mat bibirnya lembut. Dan Mika menikmatinya..


‘Oh ya ampun!’



“Jaga batasan lo Arya!”


Mika berseru setelah ia tersadar dari rasa yang membuai dirinya saat Arya menciumnya.


Arya tersenyum miring saja, dari sejak Mika mendorong sedikit kasar dadanya. Bahkan Arya seolah mengejek Mika dengan menjilat bibirnya sendiri.


“Masih sama rasanya –“


“Keluar!” sambar Mika sambil melotot pada Arya dan mengarahkan telunjuknya ke arah pintu kamarnya dengan tajam.


“Sorry, tapi gue masih betah disini –“


“Arya!” Mika berseru lagi, kali ini sedikit terdengar seperti menghardik.


Kepada Arya yang mengabaikan seruan Mika sebelumnya, dimana menyuruh Arya keluar dari kamarnya.



“Suka ga suka, gue akan berada di sini selama gue mau.”


Arya bicara sekenanya, sambil ia memutarkan tubuhnya dengan pelan, memperhatikan seisi kamar Mika.


Membuat Mika jadi sedikit kesal. “Keluar Arya –“


“Ck!”


Arya berdecak. Sambil Arya menghempaskan tangan Mika yang mencengkram lengannya untuk menyeretnya keluar dari kamar Mika itu.


“Ini kamar gue dan gue ga ijinkan lo ada disini!” seru Mika lagi.



“Arya!“


Mika menarik sedikit kasar lengan Arya hingga pria yang nampak masa bodoh dengan seruannya itu menghadap padanya.


“Gue ga butuh ijin lo.”


Arya berucap datar dengan sikapnya yang terlihat tak peduli.


Lalu Arya tersenyum miring, memandang pada Mika yang nampak memandanginya dengan kesal itu.


“Lo ijin ga sama gue, waktu seenak udel lo ngancurin hati, mimpi dan hidup gue yang jadi kacau balau?..”



“Hm? –“


“Gue –“


“Ijin ga?!”


Ekspresi tengil Arya tadi, kini telah berubah menjadi serius.


Mika bungkam. Bingung hendak menjawab Arya dengan kata – kata yang bagaimana.


“Ya terus kalo lo stay disini mau apa? Lo udah dapat jawaban dari pertanyaan lo kan?”


Namun tak lama Mika angkat suara, dengan suaranya yang tak lagi meninggi.



“Sekali lagi gue minta maaf..”


Mika lanjut bicara, setelah ia menarik panjang nafasnya dan ia hembuskan dengan berat. Dan kini Mika bicara dengan tatapan memelas pada Arya.


“Maaf udah berlaku egois karena kenaifan gue yang sudah mengecewakan bahkan menghancurkan hati lo.”


“.......”

__ADS_1


“Tapi Ar, seperti yang gue bilang tadi, yang udah terjadi, udah terjadi. Toh lo juga udah move on kan Ar, udah tunangan –“


“Lo budek?..” tukas Arya dengan sarkasme. Sambil mencondongkan wajahnya tepat ke wajah Mika yang spontan mundur. “Lo ga denger tadi gue bilang kalau pertunangan gue itu udah gue batalkan?” ucap Arya. “Ciuman gue tadi masih kurang cukup buat lo ngerti???”



“Kita balikan mulai sekarang.”


Arya berucap, dan Mika terkesiap.


“Itu ga mungkin, Ar –“


“Gue ga minta pendapat lo.”


Arya memangkas ucapan Mika.


“Suka atau engga, gue anggap kita balikan sekarang..” tuntut Arya.


“Terserah!..” sergah Mika. “Tapi bagi gue, kita udah selesai. Dan akan seperti itu seterusnya –“


“Gue ga ngerti kenapa lo memilih tersiksa hati. Gue salut sama rasa sayang lo ke Val. Tapi apa Val bisa terima keputusan lo yang mengorbankan perasaan dan bahagia lo ini karena dia?..”


Arya angkat suara.


“Karena gue tau lo masih mencintai gue..”


“Cinta ga harus memiliki, Ar,” cetus Mika. “I’m sorry.. tapi gue ga ingin memiliki hubungan cinta sebelum Val kembali sadar dan pulih, lalu ia merasakan lagi kebahagiaan atas sebuah cinta seperti mimpinya. Dan gue ga akan membiarkan lo stuck di sisi gue, karena gue ga bisa kasih lo kepastian atas sebuah hubungan di masa depan.”


“Oke kalo gitu –“


“So please, tinggalkan gue –“


“Oke.”


Arya langsung menyahut.


“Ar – Arya..” Mika tergugu.


Dimana setelah ia memohon pada Arya untuk meninggalkannya sendiri, Mika berbalik badan untuk melangkah ke arah pintu dan membukanya sebagai kode usiran serius pada Arya.


Namun baru beberapa langkah, Mika berhenti karena ia merasa Arya tidak mengikuti langkahnya walau sang mantan terindah dan tercinta Mika itu mengiyakan permintaan Mika yang menegaskan jika Mika tidak ingin menjalin hubungan lagi dengan Arya.


“Lo – lo.. nga – pain?..”


Mika tergagap, menegang di tempatnya.


Bukan karena Arya memojokkannya sebelum Arya mencium bibirnya tanpa permisi.


Arya bahkan cukup berjarak dari Mika. Duduk di pinggir ranjang Mika, dengan memegang sesuatu di tangannya.


Yang mana sesuatu itulah yang membuat Mika menegang.


Sebuah pisau lipat--yang mirip dengan yang dimiliki olehnya dan para saudara – saudari Mika, serta para anak kerabat yang sudah para Dad Mika itu anggap anak.


Dimana pisau lipat tersebut diberikan oleh The Dads of The Adjieran Smith pada anak – anak mereka, termasuk para anak kerabat yang sudah dianggap sebagai anak sendiri, untuk modal menjaga diri.


“Arya!” Mika berseru, karena Arya tidak menjawabnya.


Arya hanya duduk dengan menopangkan sikunya di atas kedua paha, sambil memperhatikan gagang pisau lipat yang belum ia acungkan mata tajamnya.


“Pi – sau itu –“


“Cendera mata dari The Dads –“


“Gue tau asal pisau itu!”


Mika menukas tajam, sedikit panik.


“Ta – tapi buat apa lo keluarkan begitu –“


“Waktu gue packing saat mau ikut serta nemenin Kak Kaf yang diajak Abang buat nemuin Val, entah kenapa saat lihat pisau ini, gue tergerak mau bawa..”


Arya baru lagi berbicara, tapi tetap ia tidak menoleh pada Mika yang masih terpaku di tempatnya.


“Tumben.. karena ini pisau gue simpan di kotak kaca pajangan biasanya –“


“Letakkan pisau itu –“


“Tapi tau – tau pengen gue bawa, mungkin buat saat ini kali ya?”


Arya tersenyum miring di tempatnya. Lalu baru ia menoleh pada Mika.


“Pada akhirnya gue ada di posisi hopeless macam Kak Kaf. Bodoh karena cinta..”


“Ar – ya –“


“Gue ga akan maksa lo lagi, janji –“


“Letak – kan, itu pisau, Arya –“


“Disini..”


Arya mengabaikan ucapan Mika yang kini sudah bukan lagi panik, namun nampak takut.


“Atau disini.. cepetan mana matinya?” sambung Arya setelah memegang dada kirinya, kemudian menyentuh kulit di atas nadi pada tangan kirinya.


“Arya! –“


“Whateverlah..”


Arya menggumam.


Lalu hati Mika dilanda ketakutan yang tak terkira, saat Arya kemudian menggerakkan gagang pisau lipat lalu mata tajamnya langsung mengacung dengan pongah.


“Aryaa! –“

__ADS_1



“Did you guys hear that ( Apa kalian mendengar itu )? –“


“Apa? –“


“Seems I heard May screaming ( Sepertinya aku mendengar May berteriak )?..”


“Sedang latihan drama dengan Arya,” celetuk Daddy Dewa cengengesan.



“Kenapa masih bengong di sini? Sana pergi ke kamar, karena itu satu bucin bodoh sudah hendak pergi ke kamar kalian.. Kau kan harus menemaninya agar dia tetap waras.” – Poppa.


“Iya, Pop –“ – Arya.


“Pasti sedang memikirkan cara meluluhkan hati, May.” – Papa Lucca.


“Hehehehe –“ – Arya.


“Aku katakan padamu, jika May akan sulit untuk kau luluhkan keras hatinya. Karena ia akan sangat keras kepala jika menyangkut keputusannya atas hubungan kalian walaupun nampak jelas dia masih mencintaimu.” – Poppa.


“Maka itu, Pop, aku bingung harus bagaimana merangkai kata yang bisa menyentuh hatinya untuk seengganya merubah cara berpikirnya itu –“ – Arya.


“Kau ikuti saja cara si bodoh Kaka itu..” – Papa Lucca.


“Heu?..” – Arya.


“Aro!” – Daddy Dewa.


“Yes, Dad? –“ Aro.


“Kau bawa pisau lipatmu di saku? –“ Daddy Dewa.


“Bawa.” – Aro.


“Berikan padanya.” – Daddy Dewa.


“Aku ngiris nadi, begitu?..” – Arya.


“Hem.” – The Dads.


“Ah masa harus sampai begitu? –“ – Arya.


“Stupido!” – Papa Lucca.


“Gertak sambal, bodoh! –“ – Daddy Jeff.


“Kami terpikir cara itu setelah melihat Kaka.” – Poppa.


“Kalau semua yang kau ucapkan pada May tidak berpengaruh, rasanya cara Kaka yang mengiris nadi itu bisa kau coba –“ – Papa Lucca.


“Kau paham maksud kami tidak? –“ Daddy Dewa.


“I – iya paham.” – Arya.


“Nah ya sudah, kau kantongi itu pisau lipatnya Aro.” – Daddy Jeff.


“Nah kalo aku udah sampe ngancem mau bunuh diri depan Mika, terus Mikanya diem aja, trus ini nadi keburu kesayat?” – Arya.


“Ya antara kau mati atau sekarat – “ Papi John.


“Eh buset!” – Arya.


“Takut?” – Dad R.


“Dikit!” – Arya.


“Jadi dipake ga nih piso?” – Aro.


“Jadi! Mudahan ga ada setan lewat nyenggol ini tangan pas megang ni pisau lipet deket urat nadi eike nanti.” – Arya.



Mika yang memekik itu juga dengan cepat melangkah ke tempat Arya setelah pisau lipat di tangan Arya mengacung sempurna.


“Lo jangan gila!“


Telah juga menahan tangan Arya yang sudah menggerakkan pisau itu ke arah nadi di pergelangan tangan kirinya.


“Lo yang bikin gue gila –“


“Jauhkan itu pisau! –“


“Ngapain lo peduli gue hidup atau mati, hah?!” ucap Arya yang masih memegang pisau lipat di tangannya, meski Mika telah mengguncang tangan Arya agar pisau lipat yang dipegang si Recehboy itu segera terlepas dari tangan Arya.


“Karena gue cinta sama lo!.."


Mika menyahut dengan cepat dan spontan.


"Dan gue ga rela sampai lo melakukan hal yang bodoh! Cukup gue aja yang bodoh, egois, naif.. lo.. jangan..”


Mika berucap lagi, dengan tangannya yang mencengkeram tangan Arya dengan pisau lipat dalam genggaman si Recehboy itu.


“Le, pas..” Mika kian melirih dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, menatap pada Arya dengan pandangan memelas.


“Pisaunya.. atau lo? –“


“Le,paskan pisaunya.. dan kita sama – sama lagi –“


‘Yes!’ batin Arya. ‘Berhasil! Berhasil! Berhasil! Hore!’


Jika dilihat dengan mikroskop lima dimensi yang bisa menembus lapisan kulit, kiranya akan terlihat mikroba dalam tubuh Arya yang sedang bernyanyi dan menari macam Dora yang telah berhasil dalam misinya.


♥♥♥

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2